Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kembali Kepada Allah SWT


__ADS_3

Setibanya di depan ruang rawat sang Nenek,


Abraham dan lainnya dikejutkan oleh dokter yang terburu-buru keluar dari ruangan pasien.


“Tuan Abraham, kami telah melakukan usaha terbaik untuk Nyonya Erna. Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain. Mohon keluarga yang ditinggalkan ikhlas dan tabah ya, saya permisi!”


Abraham bergegas masuk ke dalam ruang sang Nenek dan melihat Nenek yang sudah tertutup oleh kain.


“Nenek!” Abraham berteriak dan mencoba menggerakkan tubuh Nenek tercintanya.


“Mas Abraham!” Asyila menarik tubuh suaminya dan memeluk tubuh sang suami dengan begitu erat.


Arumi, Dyah, Herwan dan kedua kakak beradik itupun ikut menangis mengetahui bahwa Nenek buyutnya mereka telah berpulang ke Rahmatullah.


“Nek yut! Kenapa Nek Yut pergi secepat ini? Bukankah Nek Yut ingin melihat Dyah menikah?” Dyah menyentuh tangan punya Erna dan menciumnya berkali-kali.


“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.” Arumi dan Herwan bergantian mencium punggung wanita tua itu.


Akhirnya setelah puluhan tahun hidup di dunia, sang Nenek kembali lagi kepada Sang pencipta.


Dada Abraham terasa sangat sesak, Abraham mengingat kembali masa-masa saat dirinya ditinggalkan oleh kedua orangtuanya dan Sang Nenek lah yang membesarkan dirinya hingga Abraham berhasil menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak.


“Yang tenang disana ya Nek! Abraham akan berusaha ikhlas melepaskan Nenek, salam untuk kedua orang tua Abraham di surga,” ucap Abraham berbisik di telinga Sang Nenek.


Duka menyelimuti seluruh ruangan tersebut, mereka kehilangan seseorang wanita tua yang hangat, ceria, baik dan usil seperti Erna.


“Selamat jalan Nek, sekarang rumah akan terasa sangat sepi. Tidak ada lagi yang akan mengganggu Asyila maupun Mas Abraham, Allah lebih sayang Nenek,” ucap Asyila.


Abraham dengan sekuat tenaga merogoh ponselnya di saku celana dan menghubungi orang rumah untuk menyiapkan keperluan jenazah.


“Sini sayang!” panggil Abraham pada Arsyad dan Ashraf yang masih menangis.


“Ayah!” Arsyad dan Ashraf berteriak mendekati Ayah mereka dan menangis di dekapan Abraham.


“Ayah, kenapa Nek Yut tidak bangun-bangun?” tanya Arsyad.


“Perjalanan Nek Yut sudah sampai disini, Nak. Sekarang Nek Yut sudah bahagia bersama Allah,” jawab Abraham.


“Jadi, Nek Yut tidak bahagia sama Arsyad?” tanya Arsyad dan tangisannya semakin menjadi.


“Tidak, sayang. Nek Yut sama Arsyad juga bahagia. Akan tetapi, Nek Yut lebih dan lebih bahagia di surga,” terang Abraham.


“Nek yut.. Nek yut...” Ashraf memanggil Nenek buyutnya berkali-kali.

__ADS_1


****


Abraham datang bersama mobil ambulance, di rumah sudah banyak orang yang berkumpul. Mulai dari tetangga, saudara dan kerabat lainnya datang untuk melihat dan mengantarkan Sang Nenek diperistirahatan terakhir.


“Nyonya besar!” Kedua asisten rumah tangga menangis melihat Nyonya mereka sudah tak bernyawa. Erna sudah mereka anggap seperti keluarga bahkan sudah mereka anggap seperti Ibu mereka sendiri.


“Tolong beri jalan!” pinta perawat yang bertugas mengantarkan jenazah Erna.


Tak ingin berlama-lama, Abraham meminta yang lainnya untuk menyegerakan memandikan jenazah Sang Nenek.


Asyila, Arumi dan Dyah ikut memandikan jenazah Nenek tercinta mereka.


Keluarga dari Bandung berdatangan dan masih tak menyangka jika Sang Nenek benar-benar telah meninggal dunia untuk selama-lamanya.


“Mama, Nek Yut meninggal.” Dyah menghampiri Mamanya dan menangis.


“Iya, Dyah. Kita harus mengikhlaskan kepergian Nenek buyut mu, Allah lebih sayang Nek Yut. Mama dan Papa juga sebenarnya tidak menyangka kalau Nek Yut mu telah meninggal,” balas Yeni.


“Sudah sayang, jangan menangis lagi. Tidak baik seperti ini,” tutur Temmy pada putri tunggalnya.


Pemakaman dilaksanakan setelah melaksanakan sholat ashar. Abraham dan Temmy ikut turun dalam penguburan Sang Nenek di peristirahatan terakhirnya.


Jenazah dimakamkan di tempat pemakaman umum atau TPU terdekat.


Isak tangis dari keluarganya dan kerabat lainnya masih terus bersahutan ketika tanah perlahan menutupi liang lahat Sang Nenek.


Perjuangan hidupmu kini telah usai, giliran generasi muda yang meneruskan perjuangan hidup di dunia ini.


Engkau sesosok wanita tua yang penuh semangat, penuh cinta, kasih dan selalu ada tawa di setiap perkataan mu.


Satu-persatu orang-orang yang melayat perlahan meninggalkan tempat pemakaman umum tersebut.


Dan kini hanya tinggal beberapa saudara dekat dan cucu-cucu Sang Nenek yang masih ingin berada di kuburan Nenek Erna tercinta.


“Nek, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena Nenek telah menyatukan Abraham dan Asyila. Terima kasih untuk semua kenang-kenangan manis dan kenang-kenangan menyebalkan Nenek untuk kami. Akan selalu kami ingat kenangan manis dan kenangan kocak Nenek yang kadangkala membuat Abraham maupun Asyila geleng-geleng kepala,” ucap Abraham dengan sedikit senyum ketika mengingat bagaimana usilnya Nenek tua kesayangannya.


“Nenek tenang saja, Asyila akan berusaha menjadi istri sekaligus Ibu yang baik untuk Arsyad dan juga Ashraf. Tentunya, Asyila dikemudian hari Asyila pun akan menjadi Nenek dan Nenek buyut seperti Nenek,” tutur Asyila sambil menaburkan bunga di kuburan Nenek Erna.


“Nek Yut jangan lupa minum obat ya di surga,” ucap Arsyad.


Abraham dan Asyila saling menatap mendengar perkataan Arsyad yang sangat peduli dengan kebiasaan Sang Nenek yang rutin minum obat.


“Arsyad... Di surga Nek Yut tidak perlu minum obat lagi,” sahut Dyah dengan menyentuh kedua bahu Arsyad.

__ADS_1


“Kenapa Nek Yut tidak minum obat lagi? Memangnya di surga tidak menjual obat?” tanya Arsyad begitu polosnya.


“Bukan tidak menjual obat, Arsyad. Tapi di surga, Nek Yut sudah sembuh,” terang Dyah.


Arsyad mengangguk setuju dan memilih untuk tak bertanya lagi. Mendengar bahwa Nenek buyutnya sudah tidak sakit membuat perasaannya jauh lebih tenang.


“Nak Abraham dan Nak Asyila! Ibu dan Ayah akan kembali ke rumah untuk melayani tamu-tamu yang datang,” ucap Arumi.


“Iya, Bu. Maaf merepotkan Ibu,” balas Abraham.


“Jangan mengatakan seperti itu, Ibu tahu kamu pria yang kuat.”


Arumi dan Herwan pun kembali ke rumah untuk melayani sanak saudara yang ada di rumah.


Abraham merenung sambil terus mencium papan nama nisan kayu milik Sang Nenek dengan air mata yang terus mengalir.


Temmy dan Yeni pun izin pamit untuk membantu Arumi dan Herwan di rumah.


“Dyah, tolong bawa kedua adikmu pulang!” perintah Abraham.


“Baik, Paman!” Dyah mengandeng tangan kedua adiknya dan membawanya pulang.


Kini, tinggal Abraham dan Asyila yang masih berada di kuburan tempat peristirahatan terakhir Sang Nenek.


“Sebenarnya ada sedikit rasa penyesalan dihati suamimu, syila.”


“Penyesalan? Penyesalan seperti apa Mas?”


“Disaat-saat terakhir Nenek, seharusnya Mas ada di samping Nenek dan menemani Nenek. Akan tetapi, Allah menakdirkannya seperti ini,” terang Abraham.


Asyila mengelus-elus lengan suaminya dan memeluk lengan suaminya itu. Asyila hanya bisa memberikan sentuhan-sentuhan hangat kepada sang suami.


“Terima kasih karena selalu ada sisi Mas,” ucap Abraham dan memberikan kecupan hangat di kening Asyila.


“Ini semua berkat Allah lewat perantara Nenek. Terima kasih, Nek,” ucap Asyila dengan senyum manisnya. Asyila kemudian mencium papan nama nisan Nenek dari suaminya.


Langit perlahan mulai gelap dan waktunya bagi Abraham serta Asyila untuk pulang ke rumah. Sebelum meninggalkan kuburan, Abraham dan Asyila mengucapkan terima kasih dan mengucapkan salam diperistirahatan terakhir Erna.


Sepasang kekasih halal itu, berjalan dengan saling bergandengan tangan.


Meski berat, mereka harus melanjutkan hidup mereka di dunia.


Selamat tinggal Nek Yut, selamat tinggal wanita tua dengan sejuta kenangan indah kekonyolan yang ada.

__ADS_1


Abraham 💖 Asyila


Author nangis.. 😭😭😭😭🙏


__ADS_2