Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kesalahan Pihak Rumah Sakit


__ADS_3

Asyila dengan begitu lemas membuka matanya dan seketika itu, dirinya ingat bahwa ia baru saja mendapatkan kabar buruk dari Ibunya, Arumi.


“Mas Abraham!” teriak Asyila dan cepat-cepat turun dari ranjang untuk segera pergi ke Jakarta.


Melihat Aunty-nya yang sudah sadar, Dyah cepat-cepat menghampirinya.


“Aunty mau kemana?” tanya Dyah sambil mencegah Asyila untuk keluar dari ruang rawat Ashraf.


“Aku harus bertemu dengan Mas Abraham, lepaskan aku Dyah!” pekik Asyila agar Dyah segera melepaskannya.


Dyah menggelengkan kepalanya dan terus memegangi tubuh Aunty-nya agar tidak pergi.


“Dyah tahu Aunty sangat sedih atas meninggalnya Paman. Akan tetapi, disini ada Ashraf yang juga membutuhkan Aunty. Sampai sekarang Ashraf belum tahu kalau Paman meninggal dunia, tolong Aunty juga harus mengerti perasaan Adik Ashraf,” ucap Dyah memohon.


“Kamu tahu 'kan, Dyah. Pamanmu sangat mencintai istrinya dan juga kedua anaknya, jadi tidak mungkin kalau Pamanmu semudah itu meninggalkan kami, meninggalkan kita semua. Pamanmu bukan sekali, dua kali mengalami hal seperti ini. Jadi, bisa dikatakan bahwa apa yang dokter katakan itu salah,” tutur Asyila yang masih tidak terima atas kematian suaminya.


Asyila perlahan berjalan mendekati Ashraf dan membangunkan Ashraf untuk segera pulang. Tentu saja, hal itu karena sudah meminta izin dari dokter serta pihak rumah sakit untuk memulangkan Ashraf yang keadaannya 90% membaik dan hanya perlu makan sayur serta buah-buahan yang mengandung banyak vitamin.


“Sayang, ayo kita pulang. Ashraf hari ini sudah boleh pulang,” ucap Asyila dengan berusaha menampilkan senyum palsunya.


Ashraf bangun dan dengan tangan kecilnya ia menghapus sisa-sisa air mata Bundanya.


“Maaf Bunda,” ucap Ashraf mengira penyebab Bundanya menangis adalah dirinya.


Asyila memeluk tubuh putra kecilnya dan menangis histeris. Asyila bingung bagaimana ia melanjutkan hidupnya tanpa adanya Sang suami, menjadi Ibu tunggal sama sekali tak pernah Asyila pikirkan dan untuk membayangkannya saja Asyila tidak pernah.


Ashraf bingung dengan sikap Bundanya yang terus saja menangis.


“Bunda kenapa?” tanya Ashraf yang akhirnya ikut menangis.


“Ashraf harus janji ya sayang, Ashraf harus jadi anak yang penurut. Pokoknya Ashraf harus mendengarkan kata bunda,” tutur Asyila.


Ashraf terus saja menangis sambil mengiyakan apa yang dikatakan oleh Bundanya.


“Aunty, tolong jangan menangis lagi....” Dyah berharap agar Aunty-nya berhenti menangis.


Asyila berusaha menghentikan tangisannya dan meminta Dyah untuk siap-siap karena sebentar lagi mereka akan kembali ke perumahan Absyil.


Beberapa menit kemudian.


Asyila, Ashraf dan Dyah berjalan bersama keluar rumah sakit karena akan kembali ke perumahan Absyil. Dari kejauhan, ternyata sudah ada seorang pria yang telah menunggu mereka bertiga untuk mengantarkan mereka ke perumahan Absyil dengan selamat.


“Nona Asyila?” tanya pria paruh baya itu.


“Iya, Pak. Saya sendiri,” jawab Asyila dengan ekspresi sedih.


Pria paruh baya tak bertanya dan bergegas melakukan tugasnya memasukkan barang-barang penumpangnya ke dalam mobil. Kemudian, merekapun bergegas kembali ke perumahan Absyil.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Asyila banyak melamun dan tatapannya begitu kosong. Kini, tidak ada lagi senyuman ataupun kejahilan suaminya yang selalu membuat Asyila bahagia dan kadangkala kesal dengan suaminya itu.


Di Jakarta.


Arumi terus saja menangis, ia masih belum terima dengan kematian menantu idamannya itu. Sampai akhirnya, seorang dokter datang dengan perawat disampingnya dan langsung meminta maaf kepada Herwan yang lainnya atas kelalaian pihak rumah sakit.

__ADS_1


“Atas nama saya, perawat serta pihak rumah sakit, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tuan Abraham yang kami konfirmasi beberapa jam lalu ternyata bukan Tuan Abraham Mahesa, menantu Bapak dan Ibu. Melainkan, Tuan Abraham lainnya dan lebih tepatnya Tuan Abraham Malik, usia 42 tahun. Maaf atas kesalahan kami dan kami akan bertanggungjawab atas kesalahan ini,” terang Sang dokter dengan terus menundukkan kepalanya.


Arumi seketika itu bernafas lega, ternyata menantu idamannya baik-baik saja.


“Kenapa bisa kalian kecolongan seperti ini? Putri saya pasti sangat syok karena kesalahan kalian. Seharusnya kalian lebih teliti lagi,” ucap Arumi kesal campur lega.


“Kami minta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Tuan Abraham Mahesa. Untuk itu, biaya pengobatan Tuan Abraham dari awal masuk sampai benar-benar sembuh akan kami gratiskan. Kami mohon berita ini jangan sampai menyebar luas!” pinta Sang dokter yang sangat takut jika kesalahan rumah sakit sampai menyebar keluar. Dikarenakan, rumah sakit tersebut adalah rumah sakit yang terkenal elit serta terjamin. Akan sangat merugikan, jika sampai rumah sakit tersebut dicap sebagai rumah sakit yang lalai dan kehilangan kepercayaan dari masyarakat yang ingin berobat ke rumah sakit tersebut.


Arumi tak mempedulikan soal biaya rumah sakit yang gratis tersebut. Sekarang, ia ingin memastikan apakah benar-benar Abraham atau bukan.


“Mari saya antar,” ucap Sang dokter menuntun Arumi, Herwan dan Ema menuju ruang rawat Abraham.


Ema akhirnya bisa bernapas lega, ia pun hampir gila jika benar Abraham telah meninggal dunia. Ema bahkan sangat takut membayangkan bagaimana kehidupan sahabatnya setelah kepergian Abraham.


“Tuan Abraham ada di ruangan ini, sekali lagi kami minta maaf yang sebesar-besarnya,” ucap Sang dokter wanita tersebut.


Arumi cepat-cepat masuk disusul pula oleh Herwan dan juga Ema.


“Ya Allah, Alhamdulillah. Ini benar-benar Abraham, menantu kita Mas,” ucap Arumi menangis terharu dan saking bahagianya, Arumi sampai pingsan tak sadarkan diri.


Ema dan Herwan bergegas membantu Arumi yang tengah pingsan bergeser ke arah tikar. Kemudian, merebahkan Arumi dengan hati-hati.


“Nak Ema, terima kasih sudah selalu menemani Ibunya Asyila,” ucap Herwan.


“Pak Herwan jangan sungkan-sungkan, Asyila sudah seperti saudara kandung bagi saya. Jadi, kalau ada apa-apa panggil saya saja,” balas Ema.


Herwan meneteskan air matanya karena sangat bahagia, akhirnya menantu idamannya baik-baik saja.


Deg!


Ema baru ingat bahwa Asyila belum diberitahu mengenai kesalahan pihak rumah sakit yang menyatakan bahwa orang yang meninggal sebenarnya bukan Abraham Mahesa, melainkan Abraham Malik.


“Pak Herwan, Asyila harus diberitahu sekarang juga,” tutur Ema mengingatkan Herwan.


“Astaghfirullahaladzim, kamu benar Nak Ema. Bapak akan menghubungi Asyila sekarang juga. Tolong jaga Ibu Arumi ya!”


“Baik, pak.”


Disaat yang bersamaan, Asyila dan yang lainnya telah tiba di perumahan Absyil. Usai membayar biaya transportasi, Asyila pun menuntun buah hatinya untuk segera masuk ke rumah.


Ternyata di rumah itu, ada Fahmi yang sedang beres-beres rumah. Sebenarnya, sebelum Abraham pergi, Abraham sudah menitipkan rumah tersebut kepada Fahmi dan meminta Fahmi untuk berjaga-jaga.


Namun, bukan Fahmi namanya jika ia tidak bersih-bersih rumah.


“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila tak bertenaga.


“Wa’alaikumsalam, Aunty dan Ashraf sudah pulang,” balas Fahmi dan dengan ramah mempersilakan pemilik rumah untuk masuk.


Fahmi pun menoleh ke arah luar dan melihat Dyah tengah sibuk membawa barang-barang. Tanpa pikir panjang, Fahmi bergegas membantu Ema.


“Apa kamu sudah dengar?” tanya Dyah pada Fahmi.


“Dengar apa?” tanya Fahmi balik yang sama sekali tidak paham dengan pertanyaan Dyah.

__ADS_1


Dyah ambruk dan menangis, usahanya untuk tidak menangis akhirnya lepas juga. Ia menangis dihadapan Fahmi, calon suaminya.


“Dyah, kamu kenapa menangis? Ada apa, cerita langsung kepada ku.”


“Pa-paman...”


“Maksud kamu Paman Abraham? Ada apa dengan Paman Abraham?” tanya Fahmi panik.


“Paman telah meninggal dunia... hiks... hiks...” Dyah menangis histeris dan tak terima dengan kematian Sang Paman secara mendadak.


Fahmi termangu dan seketika itu ia tidak bisa berkata-kata. Bak petir disiang bolong, pria yang menjadi contoh baginya tiba-tiba berpulang ke Rahmatullah.


Ponsel Asyila di dalam tas berbunyi, dengan terus menangis Dyah mengambil ponsel tersebut dan menerima sambungan telepon dari Herwan.


“Assalamu’alaikum, iya Kakek ini Dyah,” ucap Dyah yang tidak terlalu jelas karena masih menangis.


Herwan langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Dyah, Dyah pun terkejut dan berlari secepat mungkin untuk segera menemui Asyila dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.


“Dyah!” teriak Fahmi dan dengan gerakan cepat, Fahmi berhasil menahan tubuh Dyah yang hampir jatuh dari anak tangga, “Hati-hati,” imbuh Fahmi.


Dyah tersenyum lebar dan kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Fahmi terheran-heran dengan senyum lebar Dyah, beberapa detik yang lalu Dyah menangis histeris dan sekarang malah tersenyum lebar.


“Aunty! Aunty!” teriak Dyah yang tak sabaran ingin memberitahukan kejadian yang sebenarnya.


Asyila sama sekali tak menjawab, ia terus menangis di kamarnya sembari memeluk foto Sang suami.


“Tok.... tok.... tok!!!”


“Aunty, tolong buka pintunya. Ada hal yang mau Dyah katakan!”


Asyila menoleh sekilas dan mempersilakan Dyah untuk masuk ke dalam kamar. Asyila sudah tak peduli lagi jika Dyah melihatnya terus saja menangis, hatinya hancur berkeping-keping. Rasanya sangat sakit ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya.


“Aunty tidak perlu menangis,” ucap Dyah sambil mengambil bingkai foto yang sedang dipeluk oleh Asyila.


Asyila menatap Dyah dengan tatapan tak suka, bagaimana bisa keponakan suaminya mengatakan hal seperti itu.


“Aunty jangan salah paham dulu, sebenarnya...”


Dyah pun mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi mengenai kesalahan pihak rumah sakit karena memberitahukan kematian Abraham. Usai mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Dyah, Asyila belum sepenuhnya percaya dan untuk memastikannya ia menghubungi Ayahnya kembali.


“Assalamu’alaikum, Ayah apakah benar Mas Abraham?” tanya Asyila.


Herwan kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Asyila pun menangis terharu dan bersujud kepada Allah yang masih memberikan kesempatan kepada keluarga kecilnya untuk bahagia.


“Dyah, apa yang aku bilang. Pamanmu tidak segampang itu meninggalkan kita semua,” ucap Asyila dan memeluk erat tubuh keponakan suaminya itu.


Mereka berdua saling berpelukan dan menangis terharu, sebelumnya mereka menangis histeris dan akhirnya mereka bisa bernapas lega karena Abraham Mahesa baik-baik saja.


Mas, tunggu Asyila ya. Sebentar lagi Asyila akan menemui Mas dan kita akan kembali bersatu lagi.


Abraham ❤️ Asyila


Maaf kalian kena prank!!🙏😂

__ADS_1


__ADS_2