
Pagi hari.
Abraham dan Asyila menyibukkan diri mereka di halaman belakang dengan membersihkan rumput-rumput di sekitar tanaman anggur milik almarhumah Nenek Erna. Saat itu, buah anggur masih sangat kecil-kecil dan belum masak.
“Mas, sepertinya batang yang ini sudah tidak bagus lagi. Batangnya pun sudah kering begini,” tutur Asyila.
“Sini, biar Mas cabut dan setelah bulan puasa kita cari orang untuk menanam bibit anggur sekaligus merawatnya sampai benar-benar sehat,” tutur Abraham.
“Kenapa tidak nanti sore atau besok saja Mas?”
“Saat ini masih bulan puasa, mengurus kebun tidak bisa sembarangan. Lagipula itu bulan puasa, kasihan kalau mereka bekerja dan malah lemas karena harus mengurusi kebun anggur seluas,” terang Abraham.
“Iya ya, kok Asyila tidak Kepikiran sampai sejauh itu,” sahut Asyila yang nampak seperti anak kecil.
Ashraf datang dengan berlarian menghampiri kedua orangtuanya.
“Ayah, nanti jadi buka puasa bersama diluar?” tanya Ashraf penuh harap.
“Hhmm, jadi tidak ya?” tanya Abraham yang berpura-pura sedang berpikir keras untuk berbuka puasa diluar.
Ashraf memanyunkan bibirnya dan mengadukannya kepada Bunda tercintanya itu.
“Bunda, Ayah melanggar janji. Ayo Bunda, marahin Ayah!” pinta Ashraf meminta Bundanya untuk memarahi Sang Ayah.
Asyila terkekeh geli melihat bagaimana Ashraf mencoba membujuknya agar memarahi suaminya.
“Ayah Abraham, tidak boleh seperti itu dengan anak kita. Ayo bilang kepada Ashraf bahwa kita akan berbuka puasa bersama diluar!” perintah Abraham berkacak pinggang.
Abraham tertawa kecil karena ulah putra kecil mereka, Asyila malah memarahinya. Meskipun, marahnya istri tidaklah bersungguh-sungguh.
“Baiklah, kita akan pergi. Hmmm... Ashraf mau berbuka puasa dimana?” tanya Abraham setengah menunduk.
“Dimana ya Ayah, Ashraf juga bingung. Ashraf maunya makan tumis kangkung,” tutur Ashraf yang memang sangat suka dengan daun-daunan.
“Tumis kangkung? Dimana ya?” tanya Abraham sembari mengingat-ingat tempat yang menjual tumis kangkung dengan rasa yang enak.
“Asyila sepertinya tahu tempat yang dimaksud oleh Ashraf. Tempat yang pernah kita lalui, kalau tidak salah rumah makan tradisional itu Mas. Mas ingat?” tanya Asyila.
“Oh, di dekat pusat perbelanjaan itu? Benar, 'kan?” tanya Abraham memastikan.
“Tepat sekali, selain menu sayur-mayur disana juga ada seafood juga Mas,” balas Asyila.
“Horeeee! Asik, makan enak!” seru Ashraf dengan penuh semangat.
“Ashraf sangat senang?” tanya Asyila dengan tatapan penuh cinta.
“Iya, Bunda. Ashraf sangat senang,” jawabnya dan saking senangnya ia bertepuk tangan dengan penuh semangat.
“Ashraf masuk ke dalam ya sayang, Ayah dan Bunda mau lanjut bersih-bersih kebun anggur,” tutur Abraham meminta putra keduanya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Ashraf mengiyakan dan berlari kecil meninggalkan halaman belakang rumah.
“Mas, tiba-tiba Asyila kangen dengan putra pertama kita. Arsyad kapan pulang ya Mas?” tanya Asyila sambil mencabut rumput-rumput liar di antara tanaman anggur.
“Kalau itu Mas juga belum tahu jadwal putra kita, Insya Allah nanti Mas akan menanyakan kepada pihak pesantren mengenai libur anak-anak pondok pesantren,” balas Abraham yang juga tengah mencabut rumput-rumput liar.
Melihat putri serta menantu kesayangannya sibuk mencabut rumput serta bersih-bersih, Arumi akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung.
“Ibu mau ngapain?” tanya Abraham ketika melihat Ibu mertuanya yang ingin berjongkok.
“Ya tentu saja mau membantu kalian,” jawab Arumi yang bersiap-siap untuk mencabuti rumput-rumput liar.
“Tidak boleh, Ibu hanya boleh diam di dalam rumah saja. Urusan kebun anggur biar menjadi urusan kami,” sahut Abraham yang tak ingin membuat Ibu mertuanya kelelahan.
“Asyila sayang, tolong bujuk suamimu agar mengizinkan Ibu membantu kalian!” pinta Arumi.
“Asyila setuju dengan perkataan Mas Abraham, Ibu. Lebih baik Ibu di dalam saja, kalau Ibu disini siapa yang akan menjaga Bayi Akbar? Dan lagi, kamu tidak ingin sampai Ibu kelelahan,” terang Asyila.
Arumi akhirnya mengurungkan niatnya untuk membantu suami istri itu, ia pun melenggang pergi meninggalkan area halaman belakang rumah.
__ADS_1
“Huh, apa kita ini sudah tua ya Mas?” tanya Arumi pada suaminya yang sudah berada di ruang tamu.
“Iya memang kita sudah tua, sudah punya cucu empat,” balas Herwan yang saat itu tengah menimang-nimang cucu kesayangannya yang masih bayi.
“Ah, Mas ini sama saja seperti Nak Abraham dan putri kita,” celetuk Arumi sedikit kesal.
“Memangnya apa yang mereka lakukan?” tanya Herwan penasaran.
“Tadi itu, aku mau membantu mereka Mas. Membantu mereka mencabuti rumput, tetapi baru saja berjongkok, Abraham sudah melarang aku dan putri kita pun ikut-ikutan,” jelas Arumi.
Mendengar penjelasan dari istrinya, Herwan seketika itu tertawa lepas.
“Mas kok malah tertawa?” tanya Arumi semakin kesal.
“Ya bagaimana tidak tertawa, kalaupun Mas jadi Nak Abraham dan putri kita, sudah pasti Mas juga melarang mu untuk mencabuti rumput. Ingat! Kita sudah tua, kalau mereka bilang tidak boleh ya kita harus menurutinya. Bagaimanapun, ini juga demi kebaikan kita bersama,” terang Herwan memberi pengertian kepada istrinya, Arumi.
Arumi seketika itu tersadar, tidak seharusnya ia tersinggung dengan perkataan menantu dan juga putri mereka.
“Astaghfirullahaladzim, tidak seharusnya Ibu begini,” ucap Arumi sambil mengelus-elus dadanya agar kembali tenang.
“Sekarang sudah paham?” tanya Herwan sambil menatap wajah istrinya.
“Iya, Mas. Insya Allah sudah paham,” jawab Arumi dengan terus menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Arumi pun beranjak dari sofa yang ia duduki dan bergegas menemui Abraham serta Asyila untuk meminta maaf.
“Ibu kenapa datang kesini lagi?” tanya Asyila pada Ibunya yang tiba-tiba muncul menghampiri dirinya dan suami.
“Ibu mau minta maaf, tadi Ibu sedikit tersinggung dengan perkataan kalian berdua. Tetapi, sekarang sudah tidak lagi karena ini hanyalah kesalahan pahaman saja,” tutur Arumi.
“Ibu ini ada-ada saja, tangan Asyila saat ini sedang kotor. Kalau tangan Asyila sudah bersih, Asyila pasti akan memeluk Ibu,” tutur Asyila.
“Maafkan kami juga ya Ibu!”
“Sudah tidak apa-apa, Ibu pergi masuk lagi ya! Ayah kalian pasti sedang menunggu Ibu di ruang tamu.”
Sore hari.
Arumi, Herwan, Ashraf dan Bela sudah berada di teras depan rumah, saat itu mereka berempat tengah menunggu Abraham beserta istri dan bayi mungilnya yang belum juga keluar dari rumah.
“Ashraf, coba lihat Ayah dan Bunda di kamar!” perintah Arumi.
Ashraf mengiyakan dan berlari kecil menyusul orang tuanya.
“Tok... Tok!”
Ashraf berulang kali mengetuk pintu agar penghuni kamar segera keluar.
“Ayah! Bunda! Ayo berangkat!” ajak Ashraf setengah berteriak.
“Iya sayang, ayo kita berangkat. Ayah dan Bunda sudah siap untuk pergi!” seru Abraham yang telah membuka pintu kamarnya.
Ashraf tersenyum lebar dan menggandeng tangan Ayahnya menuju teras depan.
“Bayinya Bunda mau jalan-jalan ya,” tutur Asyila pada bayi mungilnya yang tengah terlelap dengan begitu nyaman.
Karena semuanya sudah siap, Pak Udin pun langsung membukakan pintu mobil untuk mereka.
Karena tak ingin Bela kembali mabuk perjalanan, Asyila pun memerintahkan Bela untuk duduk di kursi depan dan dengan jendela mobil yang terbuka setengah.
“Bela yang rileks ya, perjalanannya hanya setengah jam. Lagipula, AC mobil tidak kami hidupkan,” tutur Asyila.
Bela mengiyakan dan mencoba rileks sesuai dengan penuturan Asyila.
Setelah semuanya sudah masuk ke dalam mobil, Pak Udin perlahan mengemudikan mobil tersebut keluar dari halaman rumah.
Disepanjang perjalanan menuju lokasi, Ashraf terus saja mengoceh. Abraham maupun Asyila sampai terheran-heran dengan sikap Ashraf yang pada saat itu banyak bicara.
“Ayah, habis makan kita keliling-keliling ya Ayah!” pinta Ashraf.
__ADS_1
“Baiklah, apapun keinginan Ashraf Ayah turuti. Khusus hari ini saja,” sahut Abraham.
“Horeeee! Terima kasih Ayah,” ucap Ashraf.
“Berterima kasihlah pada Bunda juga!” perintah Abraham sembari melirik ke arah istri kecilnya yang ternyata tengah melirik dirinya juga.
Ashraf menoleh ke arah Bundanya dan mengucapkan terima kasih karena sudah mengabulkan keinginannya.
Pak Udin melirik sekilas ke arah jam tangannya yang kurang dari 40 menit lagi adalah waktu berbuka puasa. Sementara jalan raya saat itu cukup macet karena di jam seperti itu banyak orang yang keluar.
“Sepertinya kita tidak akan sampai tepat waktu,” ucap Herwan ketika melihat ke arah luar dengan kondisi yang macet parah.
“Insya Allah kita sampai tepat waktu, Pak Herwan,” balas Pak Udin sambil berpikir apakah ada jalan pintas agar cepat sampai ke lokasi tujuan.
“Iya Pak Udin, semoga saja,” sahut Herwan.
Beberapa menit kemudian.
Akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah makan yang cukup terkenal, Ashraf terlihat sangat senang hingga ia melompat kegirangan.
“Ayah, gendong!” pinta Ashraf.
Abraham, Asyila serta yang lainnya terlihat sangat terkejut mendengar bahwa Ashraf ingin digendong.
“Ashraf sayang, yakin mau digendong sampai ke dalam sana?” tanya Abraham memastikan.
“Iya Ayah, Ashraf mau gendong!” pinta Ashraf memperjelas keinginannya.
“Ya sudah, ayo sini ayah gendong!”
Merekapun akhirnya memasuki rumah makan tersebut dan mengambil tempat duduk lesehan.
Baru saja duduk, mereka sudah dihampiri oleh dua pelayan rumah makan tersebut.
“Permisi, mau pesan apa?” tanya dua pelayan rumah makan tersebut dengan buku kecil ditangan mereka masing-masing.
Abraham meminta putra keduanya untuk memilih menu makanan dan dengan semangat Ashraf menyebutkan makanan keinginannya yang totalnya ada 5 menu.
“Haaa? Apa tidak kebanyakan sayang?” tanya Asyila terheran-heran.
“Kalau tidak habis, nanti bisa kita bawa pulang Bunda,” jawabnya yang sangat pintar membuat Asyila tak lagi berkata-kata.
“Oh gitu ya? Ya sudah deh, terserah Ashraf saja,” jawab Asyila yang masih dengan ekspresi terheran-heran.
Setelah menu makanan Ashraf dicatat, barulah menu keinginan Bela dan seterusnya.
“Baik, kalau begitu tunggu sebentar. Permisi,” ucap pelayan rumah makan tersebut dan melenggang pergi.
Bayi Akbar mulai tak bisa diam, ia menggerakkan tubuhnya dan karena tak ingin bayi mungilnya menangis, Asyila pun meminta suaminya untuk meletakkan selimut di sampingnya dan setelah itu, Asyila meletakkan bayi mungilnya di atas selimut.
“Panas ya sayang?” tanya Asyila pada bayi mungilnya.
Bayi mungilnya itu terlihat mulai tenang dan perlahan kembali tertidur.
“Sepertinya kita biarkan saja dulu bayi Akbar seperti ini, mungkin panas juga kalau kelamaan digendong,” tutur Abraham.
“Iya, Mas. Sekarang malah tidur,” sahut Asyila menoleh ke arah suaminya dengan senyum manisnya yang membuat Abraham tak bisa memalingkan pandangannya pada Sang istri tercinta.
Adzan Maghrib pun berkumandang yang artinya umat Islam harus segera membatalkan puasa mereka.
“Ayo minum dulu!” Abraham memberikan satu-persatu gelas Aqua agar segera membatalkan puasa mereka.
Bela merasa sangat beruntung karena berada diantara keluarga yang benar-benar baik. Bela berharap keluarga tersebut selalu menyayangi dirinya yang memang sangat butuh kasih sayang. Meskipun, selama ini dirinya tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
“Bela tidak boleh melamun ya sayang,” tutur Arumi sambil menyentuh bahu Bela.
Bela tersenyum dan seketika itu memeluk Ibu dari Asyila.
Arumi serta yang lainnya sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh Bela.
__ADS_1