
Abraham terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara alarm ponselnya berbunyi, ia perlahan membuka matanya dan mematikan alarm tersebut.
“Syila sayang, ayo bangun. waktunya sholat tahajjud,” ucap Abraham berbisik di telinga Sang istri.
“Mas, Asyila lagi libur,” sahut Asyila dengan suara parau tanpa membuka matanya.
Abraham mengiyakan dan mengecup lembut pipi Sang istri sebelum ia turun dari tempat tidur. Abraham berjalan masuk menuju kamar mandi untuk mandi agar segar dan tak mengantuk.
Asyila perlahan membuka matanya ketika mendengar suara gemericik air, ia pun turun dari tempat tidur dan menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh suaminya.
Setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya yang sedang mandi, Asyila kembali naik ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurnya sembari merangkul perut Ashraf.
Beberapa menit kemudian.
Abraham telah selesai membersihkan dirinya dan tersenyum lebar melihat pakaian yang sudah ada di atas sofa. Abraham tahu bahwa pakaian tersebut istri kecilnya lah yang menyiapkan.
Abraham mengambil pakaian tersebut dan buru-buru mengenakannya karena setelah mandi, ia merasakan dingin di seluruh tubuhnya.
Usai mengenakan pakaiannya, Abraham bergegas melaksanakan sholat tahajjud seorang diri karena Sang istri sedang datang bulan.
****
Pagi hari.
Untuk merayakan kebahagiaan keluarga tersebut, Abraham memutuskan untuk membuat acara syukuran dan hanya dihadiri oleh penghuni Perumahan Absyil saja.
“Mas, kita harus memesan apa? Asyila bingung karena tidak ada persiapan,” ujar Asyila.
“Syila tidak perlu bingung, kita pesan catering saja. Hitung-hitung membantu mereka juga,” balas Abraham.
“Kalau begitu, Asyila pesan ya Mas. Mas mau berapa menu makanan?” tanya Asyila pada suaminya.
“Kalau soal itu Mas ikut Asyila saja,” jawab Abraham.
Hari itu, para karyawati diliburkan bekerja dan Asyila meminta para karyawatinya untuk datang meramaikan acara syukuran Ashraf Mahesa.
“Assalamu’alaikum,” ucap para karyawati yang bekerja pada Asyila.
“Wa’alaikumsalam, Ya Allah. Kenapa datang sepagi ini?” tanya Asyila terheran-heran.
“Kami datang karena ingin membantu Nona Asyila melakukan persiapan, seperti bersih-bersih atau membersihkan alat makan untuk acara nanti,” terang Ibu Lastri.
“Ya Allah, kalau begini saya yang malah merepotkan Ibu Lastri dan teteh-teteh yang lain,” sahut Asyila.
“Tidak, Nona Asyila. Justru kami sangat senang, Nona Asyila selama ini sudah banyak membantu kami,” sahut wanita yang biasa dipanggil Teteh Uci.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih, mari masuk!” Asyila dengan sangat ramah mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam.
Ashraf keluar dari kamarnya dan melihat lantai bawah yang begitu ramai.
“Bunda!” panggil Ashraf sembari menuruni anak tangga. “Kenapa ramai sekali Bunda?” tanya Ashraf yang tak tahu mengenai acara syukuran untuk dirinya.
“Sayang, nanti setelah sholat Dzuhur kita akan mengadakan makan-makan bersama untuk merayakan Ashraf yang lulus tes. Ashraf senang?” tanya Asyila sembari setengah membungkuk dan menyentuh pipi buah hatinya.
“Terima kasih, Bunda!” Ashraf mengucapkan terima kasih dan memberikan kecupan manis di pipi Bundanya.
“Kok hanya Bunda saja? Ayah juga dong!” pinta Abraham yang tiba-tiba muncul sembari berjalan menghampiri istri serta buah hati mereka.
Ashraf menyipitkan matanya sembari memanyunkan bibirnya ke arah Sang Ayah.
“Ashraf sayang, ini juga ide Ayah. Jadi, Ashraf harus mencium pipi Ayah,” terang Abraham dengan sedikit membungkuk agar bisa di cium oleh Ashraf, putra kecilnya.
“Muaacchhh!” Ashraf mencium pipi Sang Ayah sampai basah. Kemudian, ia berlari menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
Abraham mengernyitkan keningnya merasakan basah di bagian pipinya.
“Lihatlah, apa yang dilakukan oleh buah hati kita,” ujar Abraham sembari memperlihatkan pipinya yang basah karena ulah dari Ashraf.
Asyila seketika itu tertawa geli melihat pipi suaminya yang basah.
Abraham geleng-geleng kepala dan melenggang pergi menuju kamar.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Dyah, Fahmi dan juga putri kecil mereka datang dengan membawa nugget yang cukup banyak.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Dyah dan juga Fahmi.
Arumi yang mendengar ucapan salam tersebut, bergegas menuju ruang depan.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, akhirnya kalian datang juga. Nenek kira, setelah sholat subuh tadi kalian pergi, kalian tidak akan kemari lagi,” ujar Arumi. “Mari masuk!” imbuh Arumi mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam.
“Nenek, kami pulang karena ada urusan dan Paman memberitahukan kami bahwa ternyata hari ini acara syukuran Ashraf. Oleh karena itu, kami membawa ini!” Dyah memberikan sebuah ranjang yang di dalamnya banyak sekali nugget untuk digoreng nanti.
“Ya Allah, apa ini? Kenapa berat sekali?” tanya Arumi ketika menerima keranjang tersebut.
Herwan datang dan membantu istrinya mengangkat keranjang tersebut.
“Di dalamnya ada nugget, bisa di goreng nanti untuk anak-anak. Bukankah, anak-anak Perumahan Absyil banyak?” tanya Dyah.
“Ya ampun, Dyah. Terima kasih Dyah dan Nak Fahmi, ayo kita ke ruang keluarga!” ajak Arumi.
Dyah berlari kecil menghampiri Aunty-nya yang tengah duduk sembari menata buah jeruk ke piring.
“Aunty!” panggil Dyah sembari melambaikan tangannya pada Asyila.
“Hei, Dyah!” seru Asyila yang juga melambaikan tangannya ke arah Dyah. “Ayo duduk sini, lihatlah banyak buah jeruk,” imbuh Asyila.
“Wah, warnanya cantik sekali. Dyah boleh mencobanya?”
“Dyah, ya coba saja. Makanlah sepuas kamu juga tidak apa-apa,” jawab Asyila sembari tersenyum ke arah Dyah.
Dyah tersenyum lebar dan mengambil dua buah jeruk yang terlihat sangat menggoda.
“Mas Fahmi, ayo duduk sini!” panggil Dyah pada suaminya yang saat itu tengah menggendong putri kecil mereka.
“Tadi kalian kesini jalan kaki atau membawa mobil?” tanya Asyila.
“Pakai mobil, Aunty. Mungkin, sekitar setengah jam lagi Mas Fahmi pergi ke kedai,” jawab Asyila.
“Fahmi, jangan lupa untuk segera pulang karena kita akan makan-makan bersama,” tutur Asyila pada Fahmi, suami Dyah.
“Insya Allah, Aunty,” balas Fahmi sembari mengangguk kecil.
“Asyila sayang, ini untuk Asyila,” tutur Dyah sembari memberikan jeruk kepada putri kecilnya.
Senyum Asyila kecil begitu manis ketika menerima jeruk dari Mamanya, Dyah.
***
Pukul 11.15 WIB.
Catering yang Asyila pesan akhirnya tiba juga, Asyila mengucapkan terima kasih dan memberikan uang tunai kepada mereka.
“Maaf, Mbak Asyila. Ini uangnya lebih,” ujar seorang wanita yang bekerja di catering tersebut.
“Iya memang saya lebih,” sahut Asyila.
Mereka dengan kompak mengucapkan terima kasih dan setelah itu mereka bergegas pergi meninggalkan Perumahan Absyil.
Disaat yang bersamaan, Abraham tengah bersiap-siap untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjama'ah di masjid, sekaligus memberitahukan kepada yang lain untuk datang ke rumah karena akan ada acara syukuran Ashraf.
“Teteh, tolong ya ini di taruh ke dalam tempat lauk. Saya mau ke kamar dulu,” tutur Asyila.
Asyila tersenyum dan berlari kecil menuju kamar.
“Mas sudah mau berangkat?” tanya Asyila pada suaminya yang telah selesai mengenakan sarung.
“Iya Syila, nanti Mas akan memberitahukan para jamaah yang lain dan memberi pemberitahuan kepada Penghuni Perumahan Absyil untuk datang ke rumah. Apakah catering makanannya sudah datang?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah, sudah Mas!”
“Mas ke masjid dulu, ingatkan yang lain untuk melaksanakan sholat Dzuhur,” ujar Abraham dengan tatapan penuh cinta.
“Baik, Mas. Mas tenang saja, Asyila akan mengingatkan mereka,” balas Asyila dengan senyum manisnya.
Abraham pamit kepada Sang istri, kemudian melenggang keluar dari kamar untuk bergegas menuju masjid depan rumah.
__ADS_1
Asyila saat itu tidak langsung keluar dari kamar, ia memilih untuk menyusui bayinya terlebih dahulu agar nanti bayi Akbar tidak rewel saat orang-orang mulai berdatangan.
“Akbar sayang, hari ini ada acara syukuran untuk Kakak Ashraf. Besok, Kak Ashraf sudah tidak disini lagi dan besok juga Kak Arsyad datang kemari. Setelah itu, Kak Arsyad kembali lagi pondok pesantren. Dan selanjutnya, rumah akan sepi,” tutur Asyila berbicara apa bayi Akbar yang saat itu tengah menyusu.
Asyila perlahan memejamkan matanya bersama dengan bayi Akbar yang saat itu telah tertidur.
Beberapa saat kemudian.
Asyila terbangun dari tidurnya dan saat itu juga, ia beranjak dari tempat tidur dan meletakkan kembali bayi Akbar yang tengah terlelap ke ranjang bayi. Kemudian, ia berlari kecil untuk memberitahukan yang lainnya agar segera melaksanakan sholat Dzuhur dan meninggalkan sementara waktu pekerjaan yang sedang mereka tangani.
“Ibu-ibu dan Teteh-teteh semua, pekerjaannya di tinggal dulu ya. Waktunya sholat Dzuhur,” tutur Asyila.
Mereka dengan kompak mengiyakan dan bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat di ruang sholat. Sementara, ada beberapa yang tidak sholat karena tengah datang bulan, mereka melanjutkan pekerjaan mereka dengan santai.
Asyila tersenyum ramah dan melangkahkan kakinya menuju kamar Ashraf.
“Ashraf sayang!” panggil Asyila dan tak menemukan buah hatinya. “Kalau Ashraf tidak ada disini, berarti Ashraf sudah pergi ke masjid. Syukurlah,” ujar Asyila bermonolog.
Asyila menutup kembali kamar Arsyad dan Ashraf. Kemudian, ia berjalan menuruni anak tangga untuk melihat apakah ada yang kurang untuk acara syukuran tersebut ataukah tidak.
“Dyah juga sedang datang bulan?” tanya Asyila ketika melihat Dyah tengah menyusui Asyila kecil di ruang keluarga.
“Iya Aunty, kebetulan baru hari ini,” jawab Dyah dan menyudahi aktivasinya menyusui putri kecilnya yang saat itu tengah terlelap.
Asyila mengangkat piring yang berisi jeruk ke ruang depan untuk segera di tata.
Dyah pun ikut mengangkat piring tersebut untuk menata di ruang depan.
“Dyah, suamimu kenapa belum pulang?” tanya Asyila.
“Dyah juga tidak tahu, Aunty. Mungkin saat ini sedang dalam perjalanan,” jawab Dyah.
Saat mereka berdua tengah menyusun piring berisi jeruk-jeruk tersebut, Ema dan keluarganya datang.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
Asyila dan Dyah seketika itu juga menoleh ke arah pintu.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut Asyila dan juga Ema.
“Mari masuk!” Asyila mempersilakan sahabat serta keluarga Sahabatnya untuk segera masuk ke dalam rumah.
“Asyila, maaf karena kami baru datang,” ujar Ema.
“Sudah santai saja, melihat kamu dan keluargamu datang saja aku sudah senang. Ayo duduk, sembari menunggu yang lain,” sahut Asyila.
Mereka berbincang-bincang sejenak, hingga satu-persatu penghuni Perumahan Absyil datang untuk ikut merayakan syukuran Ashraf.
Abraham, Ashraf dan yang lainnya pun tiba di rumah.
Asyila sangat senang dan berharap penghuni Perumahan Absyil akan selalu kompak sampai kapanpun.
30 menit kemudian.
Abraham mulai membuka pembicaraan dan mengumumkan bahwa Ashraf telah menjadi santri di salah satu pondok pesantren yang cukup terkenal di Indonesia.
Mereka bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Ashraf serta kedua orang tua Ashraf yaitu, Abraham Mahesa dan Asyila.
Fahmi pun tiba dan memutuskan untuk masuk melewati pintu samping, karena pintu depan rumah sudah penuh oleh Para penghuni perumahan Absyil.
“Syukurlah Mas Fahmi sudah datang,” ucap Dyah pada suaminya.
Do'a bersama pun dimulai, Abraham lah yang memimpin Do'a tersebut.
Tak sedikit dari mereka yang membawa hadiah untuk Ashraf.
Setelah Do'a bersama, Abraham mempersilakan mereka untuk menikmati hidangan yang telah disajikan.
Asyila tersenyum bahagia dan meneteskan air matanya ketika melihat wajah Ashraf.
Ashraf pun membalas senyuman dari Sang Bunda dan menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Asyila segera menghapus air matanya.
Asyila mengangguk kecil dan perlahan menyeka air matanya itu.
__ADS_1
“Syila, jangan menangis di depan Ashraf,” ucap Abraham berbisik di telinga Sang istri.
“Iya, Mas Abraham,” sahut Asyila dan tersenyum manis ke arah Ashraf.