
Susu jahe keinginan Asyila telah siap. Abraham pun bergegas untuk memberikannya kepada sang istri tercinta yang tengah menemani buah hati mereka untuk tidur.
Ternyata, Ashraf masih belum tidur. Membuat Abraham sedikit frustasi karena keinginannya untuk cepat-cepat berduaan dengan sang istri akhirnya tertunda.
“Lebih baik menunggu saja di kamar,” ucap Abraham bermonolog dan masuk ke dalam kamarnya.
Asyila mencoba menidurkan Ashraf dengan cara menepuk bokong putra kecilnya pelan-pelan. Akan tetapi, Ashraf terus saja mengoceh tak jelas dan membuat Asyila semakin kasih dengan suaminya yang sedang menunggu dirinya.
“Sayang, sudah malam. Tidurlah!” pinta Asyila membujuk Ashraf untuk segera tidur.
Ashraf tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Bundanya. Ia malah sibuk memperhatikan jari jemarinya yang kecil dibandingkan Bundanya.
Asyila akhirnya memiliki ide untuk membuat Ashraf tenang dan perlahan tertidur. Yaitu, Asyila melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang ia hafal.
Pelan tapi pasti akhirnya Ashraf tertidur juga. Dan ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul 21.20 WIB.
“Selamat tidur, kesayangan Ayah dan Bunda. Mimpi indah ya sayang,” ucap Asyila berbisik di telinga Ashraf dan dengan langkah mengendap-endap seperti pencuri, Asyila akhirnya berhasil keluar dari kamar Ashraf.
Ketika Asyila berbalik, Asyila terkejut mendapati suaminya sudah berdiri dihadapannya.
“Ya Allah, Mas. Hampir saja Asyila menjerit,” ucap Asyila sambil mengelus-elus dadanya yang hampir saja copot karena ulah suaminya.
“Asyila tahu, tidak?”
“Tidak,” celetuk Asyila.
“Mas belum selesai bicara,” ucap Abraham dan merapatkan tubuh istri kecilnya ke tubuh Abraham.
Wajah Asyila seketika itu merona ketika merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibalik celana suaminya.
Karena sangat malu, Asyila berlari menuju kamar mereka.
Abraham kemudian mengejar istri kecilnya yang masuk ke dalam kamar mereka.
“Mas!” Asyila terkejut ketika sang suami menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
“Kenapa kabur begitu saja?” tanya Abraham yang kini telah berada di atas tubuh Asyila.
Asyila menggelengkan kepalanya dan memilih diam daripada harus menjawab alasan yang sebenarnya.
Abraham tersenyum dan perlahan melepaskan hijab yang dikenakan istri kecilnya.
Kemudian, kedua tangannya Abraham menyentuh kedua buah dada Asyila dari luar.
“Bunda...”
Samar-samar Abraham dan Asyila mendengar suara panggilan Ashraf. Abraham berharap kalau itu hanya perasaan mereka saja.
“Bunda...”
Abraham menjatuhkan tubuhnya ke samping dan membiarkan Istri kecilnya keluar dari kamar mereka.
Rasanya Abraham ingin membawa istri kecilnya pergi jauh agar kegiatan mereka tidak diganggu oleh Ashraf.
“Perbanyaklah bersabar Abraham,” ucap Abraham memenangkan dirinya sendiri.
Asyila masuk ke dalam kamar Ashraf dan segera bergabung dengan Ashraf yang saat itu tengah merengek.
“Sayang, kenapa bangun?” tanya Asyila sambil menghapus air mata putra kecilnya.
Ashraf perlahan menghentikan tangisannya dan memeluk erat tubuh Bundanya. Ia tidak ingin Bundanya pergi meninggalkannya dirinya seorang diri dikamar.
__ADS_1
“Ashraf mimpi buruk sayang?” tanya Asyila.
Ashraf mengangguk kecil dan segera memejamkan matanya.
“Tidak apa-apa, sayang. Bunda sekarang disini, Ashraf sekarang tidak usah takut lagi,” tutur Asyila.
Beberapa saat kemudian.
Asyila mencium pipi tembam Ashraf dan perlahan turun dari tempat tidur. Asyila berharap putra kecilnya tidak kembali mengalami mimpi buruk.
“Selamat tidur sayang,” ucap Asyila dan dengan hati-hati menutup pintu agar tak menimbulkan suara.
Wanita muda itu cepat-cepat masuk kamar menyusul suaminya yang ternyata sudah tertidur.
Kasihan Mas Abraham. Ya sudahlah, mungkin setelah tahajjud bisa dilanjut lagi.
Asyila mengambil susu jahe yang dibuatkan oleh suaminya. Dan perlahan menghabiskannya hingga tak tersisa.
“Istri pintar,” puji Abraham yang ternyata tidak benar-benar tidur.
“Pintar apa Mas?” tanya Asyila sambil meletakkan gelas yang sudah kosong di atas sebuah meja kecil yang berada di kamar.
“Pintar karena sudah menghabiskan susu jahe buatan Mas. Bagaimana rasanya? Apakah Asyila suka?”
Asyila tersenyum mengiyakan pertanyaan suaminya.
“Sini berbaring diatas Mas!” Abraham segera menarik tubuh Asyila ke atas tubuhnya, “Yogi tadi mengirim pesan dan memberitahukan bahwa mereka besok pagi akan tiba,” imbuh Abraham.
“Benarkah? Alhamdulillah, Ashraf pasti senang mendengarnya,” ucap Asyila kegirangan.
“Alhamdulillah, ayo berwudhu. Malam ini kita harus berolahraga biar sehat!” ajak Abraham.
Asyila tertawa kecil dan merekapun masuk ke dalam kamar mandi untuk segera berwudhu.
Pagi hari.
Abraham, Asyila serta Ashraf tengah menikmati waktu pagi mereka dengan duduk bersantai di teras depan rumah sembari menikmati tempe dan pisang goreng buatan Asyila.
“Bunda, mau lagi!” pinta Ashraf setelah menghabiskan sepotong tempe.
“Mau tempe apa pisang, sayang?”
“Hhmmm... Pisang Bunda,” jawab Ashraf.
Asyila dengan hati-hati memberikannya kepada Ashraf, “Makan yang pelan-pelan ya sayang.”
Ashraf mengiyakan dan duduk manis sembari menikmati tempe goreng.
Disaat yang bersamaan, rupanya mobil Yogi tiba. Ashraf yang mengetahui bahwa itu mobil orang tua dari Kahfi, langsung berjingkrak kesenangan.
“Kahfi!” teriak Ashraf dan berlari menghampiri mobil yang baru saja berhenti tepat di depan rumah sahabat kedua orang tua Ashraf.
Abraham dan Asyila geleng-geleng kepala melihat tingkah Ashraf yang begitu senang.
“Ashraf!” Kahfi keluar dari mobil dengan penuh semangat.
Mereka benar-benar seperti anak kembar yang sudah lama tak bertemu.
“Ayo kesana!” ajak Abraham.
Abraham memeluk tubuh sahabatnya, begitupun Asyila yang juga memeluk tubuh sahabatnya, Ema.
__ADS_1
“Untunglah kau segera kembali,” ucap Abraham lega.
Yogi mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Abraham. Yogi pun tersenyum lebar ke arah sahabatnya.
Ema mengajak Asyila untuk masuk ke dalam rumah dan membiarkan suaminya serta Abraham berdiri disisi mobil.
Sementara itu, Ashraf dan Kahfi asik main kejar-kejaran.
“Ya ampun, aku hampir saja lupa. Ini untukmu dan Pak Abraham, lalu yang ini khusus untuk Ashraf!” Ema memberikan dua paper bag yang ukurannya cukup besar.
“Kenapa harus repot-repot membawakan kami oleh-oleh, ngomong-ngomong terima kasih sahabatku,” ucap Asyila dan menerima paper bag tersebut.
Ema mempersilakan Asyila untuk masuk ke dalam rumah yang hampir seminggu tidak ia tempati.
“Sepertinya besok aku harus ke pasar, bisakah kamu menemaniku?” tanya Ema penuh harap.
“Insya Allah,” jawab Asyila.
“Asyila, kemarin sore aku lihat Romi dengan wanita lain. Sepertinya wanita itu bukan Delania, apa mungkin Romi berselingkuh?”
Asyila mengangkat kedua bahunya, ia tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga orang lain.
“Sssuuutt, jangan bicara seperti ini. Lebih baik do'akan yang terbaik saja untuk Romi dan Delania,” ucap Asyila.
Ema segera menyentil mulutnya yang selalu saja tidak ada remnya jika berbicara.
Abraham dan Yogi masuk dalam, kemudian Abraham meminta Asyila untuk pulang ke rumah mereka.
“Kami pulang dulu, assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam!”
Abraham merangkul pinggang istri kecilnya dengan begitu bahagia. Siapapun yang melihat mereka, pasti akan mengira bahwa keduanya adalah pengantin baru.
“Karena Ashraf sedang bermain, Mas ingin kita berduaan di rumah. Ada sesuatu yang ingin Mas tunjukkan kepada Syila!”
“Apa Mas?” tanya Asyila penasaran.
“Rahasia. Syila akan tahu kalau sudah melihatnya.”
“Baiklah,” balas Asyila singkat.
Didalam rumah.
Abraham meminta Asyila untuk menutup kedua matanya, Asyila yang sangat penasaran mau tak mau segera menutup kedua matanya dengan tangan.
“Mas jangan lama-lama, Asyila sangat penasaran,” ucap Asyila yang tidak sabar ingin melihat kejutan apa yang sedang disiapkan oleh suaminya.
Abraham segera mengeluarkan hadiah tersebut dan meminta Asyila membuka matanya.
Asyila terkesima melihat hadiah yang diberikan oleh suaminya. Sebuah gelang tangan yang begitu cantik dan dengan penuh cinta Abraham memasangkannya di pergelangan tangan Asyila.
“Bagaimana? Apakah Syila menyukainya?” tanya Abraham.
Asyila mencium bibir suaminya dan mendekapnya dengan penuh semangat.
“Mas kapan membeli gelang cantik ini? Asyila sangat menyukainya, Mas. Terima kasih!”
Pria itu sangat senang karena Asyila menyukai gelang yang ia beli. Rasanya leganya berkali-kali lipat ketika sahabatnya telah kembali ditambah istri kecilnya menyukai gelang tersebut.
“Hal yang selalu ingin Mas lakukan adalah membuat Asyila bahagia, semoga Asyila selalu bahagia berada disisi Mas,” terang Abraham.
__ADS_1
“Jangan berbicara seakan-akan Mas tidak percaya telah membuat Asyila bahagia. Selama ini Mas selalu memberikan Asyila kebahagiaan lahir dan batin,” jelas Asyila, “Terima kasih. suamiku!”
Abraham 💖 Asyila