
“Bunda, ayo bobok!” pinta Akbar yang ingin segera tidur, karena sakit dibutuhkan semakin menjalar.
“Iya sayang, Bunda juga ingin tidur,” sahut Asyila dan menggandeng tangan Akbar menuju kamar.
Abraham memperhatikan langkah Sang istri yang entah kenapa seperti menahan rasa sakit. Akan tetapi, Abraham cepat-cepat menghilangkan pikirannya itu mengenai Asyila yang terlihat sedang menyembunyikan bahwa dirinya tengah sakit.
“Paman, apakah Paman tak ingin mengetahui siapa wanita bercadar itu? Dyah, ingin sekali bertemu langsung dengannya,” tutur Dyah.
“Sebelum Dyah mendekat, mungkin saja tangan Dyah sudah dipatahkan oleh wanita bercadar itu,” celetuk Abraham.
“Paman, kok Paman malah bicara seperti itu? Apakah Bela dirinya begitu hebat? Sampai-sampai Paman berbicara seperti itu,” sahut Dyah menanyakan keahlian Bela diri wanita bercadar tersebut sembari menyentuh tangannya seakan-akan tangannya itu akan dipatahkan oleh wanita misterius tersebut.
“Hhhmmm... Kalau diperhatikan, sepertinya sama kuatnya dengan Paman. Atau mungkin, bisa lebih kuat dari Paman,” terang Abraham.
“Tidak jadi deh, Paman. Mendengar cerita dari Paman saja sungguh menakutkan, apalagi jika Dyah sampai berhadapan langsung dengan wanita bercadar itu, menyeramkan sekali,” sahut Dyah setengah berteriak.
“Dyah yakin tidak ingin bertemu?” tanya Abraham memastikan dan terkekeh geli melihat ekspresi Dyah yang begitu takut.
“Tidak deh, Paman. Dyah takut saat bersalaman, yang ada tangan Dyah tak sengaja dipatahkan oleh wanita misterius itu,” sahut Dyah.
Abraham tertawa lepas begitu juga dengan yang lainnya.
Dyah memanyunkan bibirnya dan melenggang pergi bersama dengan Asyila menuju kamar.
Fahmi terkejut melihat istrinya yang tiba-tiba ngambek, Fahmi pun pamit meninggalkan ruang keluarga untuk membujuk Dyah yang tengah kesal.
Abraham geleng-geleng kepala melihat Dyah yang gampang sekali ngambek.
“Ayah, Ibu! Abraham juga pamit ya mau ke kamar,” tutur Abraham.
“Iya, Nak Abraham. Cepatlah tidur, Ayah tahu bahwa kamu sangat lelah,” balas Herwan.
Abraham permisi dan bangkit dari sofa untuk segera menyusul istri dan buah hatinya yang sudah lebih dulu berada di kamar.
Di dalam kamar, Asyila menangis sembari mengoleskan salep ke punggung putra kecilnya.
Asyila menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, karena tak mau jika sampai Akbar mengetahui bahwa Bunda yang paling ia sayangi menangis karena dirinya yang tengah terluka.
Abraham masuk ke dalam kamar dan menyadari bahwa Sang istri tengah menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Asyila menyeka air matanya dan kembali mengolesi punggung Akbar dengan salep yang diberikan oleh dokter.
“Akbar, sakit tidak?” tanya Asyila penasaran.
“Tidak, Bunda,” jawab Akbar dan terdengar suara meringis menahan sakit.
Asyila tak kuat mengoleskan salep tersebut dan akhirnya Abraham lah yang mengambil posisi istri kecilnya untuk mengoleskan salep di punggung buah hati mereka.
Abraham tahu betul, bahwa Sang istri memiliki hati yang begitu lembut.
Seandainya dikemudian hari, Abraham tahu siapa wanita bercadar itu? Bagaimana respon Abraham saat tahu bahwa Sang istri melewati banyak tantangan, rintangan serta bahaya untuk menyelamatkan keluarga kecilnya.
“Bunda, sudah ya. Akbar ngantuk,” ujarnya dan berbalik badan untuk segera tidur.
“Akbar, untuk sementara waktu Akbar tidurnya miring dulu ya agar obatnya meresap,” tutur Asyila pada Akbar.
Akbar mengiyakan dan tidur dengan posisi miring menghadap ke kanan.
Asyila memeluk suaminya dan berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Ketika Abraham menyentuh punggung istri kecilnya, Asyila tiba-tiba bergerak seperti tengah merasakan sakit.
__ADS_1
“Syila kenapa?” tanya Abraham panik.
“Asyila tidak kenapa-kenapa, Mas. Ayo Mas, kita juga harus segera tidur,” balas Asyila dan bangkit dari duduknya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Abraham mengernyitkan keningnya, gerakan tubuh istri kecilnya begitu jelas bahwa Sang istri sedang menahan sakit.
Di dalam kamar mandi, Asyila mengangkat pakaiannya untuk melihat punggungnya yang ternyata sudah membiru.
Ternyata memang sudah membiru, kalau begini Mas Abraham bisa tahu. Lalu, aku harus memberi alasan apa kepada Mas Abraham?
“Asyila! Asyila!” panggil Abraham karena tak mendengar suara air dari dalam kamar mandi.
Saat itu juga, Asyila bergegas mengambil air wudhu dan keluar dengan senyum manisnya.
“Kenapa masuk duluan? Biasanya kita wudhu bersama,” ujar Abraham.
“Maaf, Mas. Asyila lupa, Asyila langsung tidur ya Mas,” balas Asyila dan segera naik ke tempat tidur.
Beberapa menit kemudian.
Abraham keluar dari kamar mandi setelah berwudhu, ia berjalan perlahan menuju tempat tidur dan ternyata Sang istri telah tidur sembari membelakangi dirinya.
Abraham merasa bahwa ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh istri kecilnya. Akan tetapi, Abraham juga tidak bisa memaksa keinginannya untuk mengetahui apa yang sengaja disembunyikan oleh Sang istri.
Pria itu pun merebahkan tubuhnya dan tak lupa membaca do'a sebelum tidur.
Asyila sebenarnya belum tidur, hanya saja ia harus berpura-pura telah tidur karena tak ingin jika suaminya mengajaknya berbicara.
“Uhuk... Uhuk...” Asyila tiba-tiba terbatuk dan seketika itu ia beranjak dari tidurnya untuk segera minum air.
Saat itu juga, pakaian yang Asyila kenakan sedikit naik ke atas dan secara kebetulan Abraham melihat punggung Sang istri yang telah membiru.
“Asyila!” panggil Abraham setengah berteriak dan membuat Akbar yang telah tertidur, akhirnya terbangun dari tidurnya.
“Mas kenapa? Lihat, Akbar malah menangis. Pasti Akbar saat ini sangat terkejut,” ucap Asyila mencoba memeluk Akbar agar berhenti menangis.
“Maafkan Ayah, Akbar. Ayah sama sekali tidak sengaja, sekali lagi maafkan Ayah ya sayang,” ujar Abraham yang merasa bersalah karena telah membuat Akbar menangis.
Akbar menangis di pelukan Bundanya dengan cukup lama, ia menangis dan Asyila terus mencoba menenangkan buah hatinya itu.
Sekitar 20 menit kemudian, Akbar akhirnya tertidur. Abraham dan Asyila pun akhirnya bernapas lega.
“Mas kenapa tadi berteriak memanggil Asyila?” tanya Asyila terheran-heran.
Abraham tak langsung menjawab, ia mengambil salep dan menuntun Asyila untuk duduk di sofa.
“Jawab pertanyaan suamimu ini, kenapa punggung Asyila membiru seperti itu?” tanya Abraham dengan tatapan serius, sampai Asyila tak berani menatap suaminya.
Asyila terus saja menunduk tak berani menjawab pertanyaan dari suaminya.
“Syila, apa Asyila sempat terjatuh dan sengaja menyembunyikan lebam di punggung Syila?” tanya Abraham.
Tanpa pikir panjang lagi, Asyila langsung mengangguk mengiyakan.
“Syila kenapa tidak memberitahukan Mas?” tanya Abraham. “Apakah Syila, tidak ingin membuat Mas khawatir?” tanya Abraham lagi.
Asyila kembali mengangguk kecil tanda mengiyakan.
“Ya Allah, istriku. Kalau istriku ini tidak memberitahukan kepada suamimu ini, lalu bagaimana Suamimu ini bisa tahu kalau Asyila sedang sakit? Sini, biar Mas yang mengobati punggung Asyila,” ucap Abraham panjang lebar dan perlahan mengoleskan salep milik Akbar di punggung Sang istri.
Sekali lagi, maafkan Asyila ya Mas. Asyila tidak bermaksud membohongi Mas Abraham. Akan tetapi, Asyila takut untuk mengungkapkan identitas Asyila dan Asyila juga tidak ingin identitas Asyila sampai terbongkar.
__ADS_1
Yang hanya mengetahui identitas Asyila hanya putra kedua kita, Ashraf Mahesa.
“Syila, apakah sakit?” tanya Abraham dengan terus mengoleskan salep ke punggung istrinya.
“Tidak sama sekali, Mas. Maaf ya Mas Abraham!”
“Sudah, tidak apa-apa. Syila jangan menyalahkan diri Syila sendiri, sekarang sudah selesai. Ayo kembali tidur!” ajak Abraham agar mereka berdua segera tidur.
“Terima kasih, Mas Abraham,” sahut Asyila dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.
Asyila memejamkan matanya untuk segera tidur, sementara Abraham sedang memandangi wajah istri kecilnya.
Keesokan paginya.
Abraham beraktivitas seperti biasanya, ia bahkan sholat subuh di masjid tanpa memperlihatkan kesedihannya karena istri dan buah hatinya tengah sakit.
Disaat yang bersamaan, Asyila serta yang lain melaksanakan sholat subuh berjama'ah di ruang sholat.
Usai melaksanakan sholat subuh, Asyila memberitahukan kepada Ibunya kalau pagi itu dirinya tidak membuat sarapan. Arumi mengiyakan dan menggantikan posisi Asyila untuk menyiapkan sarapan.
“Aunty, kapan ya Bela kesini? Dyah sangat rindu dengannya,” ucap Dyah.
Bela sendiri, telah memutuskan untuk tinggal di tempat salah satu guru TK yang dulu pernah ia lihat, guru TK tersebut belum juga punya buah hatinya dan dua tahun yang lalu, guru TK bernama Khadijah datang ke Perumahan Absyil dan terang-terangan meminta Bela untuk menjadi anak angkatnya.
Abraham dan Asyila menyerahkan keputusan tersebut kepada Bela dan ternyata Bela mengiyakan permintaan dari Ibu Khadijah untuk dijadikan sebagai anak angkat.
“Dyah, beberapa hari yang lalu bukankah Bela datang kemari dan menginap disini selama dua hari, apakah kamu sudah rindu dengannya?” tanya Asyila.
“Aunty, bagaimanapun Bela itu sudah seperti adik bagi Dyah. Kalau Dyah rindu, bukankah itu wajar?” tanya Dyah.
“Tentu saja, rindu itu memanglah berat,” sahut Asyila.
Asyila mendengar suara salam dari suaminya, saat itu juga ia berjalan menuju ruang depan.
“Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” balas Asyila.
“Syila, sebaiknya Asyila beristirahat. Mas tidak ingin Asyila banyak bergerak,” ujar Abraham.
“Mas tenang saja, Asyila sudah meminta Ibu untuk menyiapkan sarapan,” balas Asyila.
“Lain kali, Asyila harus berhati-hati. Mas tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi, apakah Ayah, ibu atau yang lainnya tahu?”
Asyila dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Mas. Ketika Asyila jatuh, tidak ada yang tahu.”
“Asyila memang jatuh dimana? Kenapa bisa selebar itu dan sebiru itu?” tanya Abraham.
“Mas, Asyila langsung ke kamar ya,” sahut Asyila dan cepat-cepat melenggang menuju kamar untuk menghindari pertanyaan dari suaminya.
Abraham menghela napasnya, sepertinya Sang istri memang tidak ingin menceritakan perihal masalah lebam di punggung istri kecilnya itu.
“Mama, mau es krim,” pinta Asyila, putri dari Dyah.
“Asyila, ini masih terlalu pagi. Nanti kalau sudah diatas jam 10,” balas Dyah.
“Tapi, Mama....”
“Asyila mau nurut sama Mama atau tidak?” tanya Dyah sembari berkacak pinggang.
__ADS_1
Dyah memang seperti itu kepada putrinya, ia tidak bisa sesabar dan seramah Aunty-nya.
Asyila kecil langsung menunduk tanpa berani menatap mata Dyah yang sipit itu.