
Keduanya melenggang masuk ke dalam rumah sembari mengucapkan salam sebelum memasuki rumah. Hal pertama yang mereka berdua lakukan ada berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil bayi mereka yang tengah dijaga oleh Mbok Num dan juga Bela.
“Mbok Num, Bela! Terima kasih sudah menjadi bayi Akbar,” tutur Asyila sembari menggendong buah hatinya ke dalam gendongannya untuk segera dibawa masuk ke dalam kamar.
“Iya, Nona Asyila. Alhamdulillah Mas Akbar sama sekali tidak rewel, malah dari tadi tidur terus,” terang Mbok Num dan mempraktekkan bagaimana bayi Akbar memejamkan matanya.
“Alhamdulillah, kalau begitu kami langsung istirahat ya Mbok. Mbok Num dan juga Bela langsung istirahat, sudah jam segini,” tutur Asyila.
Abraham dan Asyila pun melenggang pergi meninggalkan ruang tamu untuk bisa bergegas masuk ke dalam kamar tidur mereka.
Setibanya di dalam kamar, Asyila langsung meletakkan bayi mungil mereka secara perlahan di ranjang bayi. Setelah itu, Asyila mendekap tubuh suaminya dengan erat karena besok Sang suami telah pergi untuk menyelesaikan misi.
Abraham mengatur napasnya yang terasa sedikit sesak dan perlahan mengelus-elus punggung Sang istri.
“Asyila sayang dan cinta dengan Mas Abraham, bagaimanapun Mas Abraham harus bisa menyelesaikan misi tersebut yang Asyila sendiri tidak tahu apa misi yang akan Mas kerjakan,” terang Asyila yang memang tidak tahu misi apa yang akan suaminya kerjakan.
“Syila tenang saja, misi ini tidak terlalu susah dari biasanya. Insya Allah Mas bisa pulang dengan cepat,” tutur Abraham agar Sang istri tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
“Mas, ayo kita tidur. Asyila mau tidur di pelukan Mas Abraham,” terang Asyila dengan senyum manisnya.
“Ayo, kita wudhu dulu!” ajak Abraham untuk segera mengambil air wudhu.
Asyila melepaskan hijab miliknya dan mengganti pakaiannya dengan piyama, begitu juga dengan Abraham.
Setelah mengganti pakaian, merekapun masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mengambil air wudhu.
*****
Keesokan paginya.
Asyila tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan suami serta yang lainnya sarapan. Pagi itu, Asyila juga menyiapkan bekal untuk suaminya jika nanti suaminya lapar ketika perjalanan menuju Surabaya.
“Nona Asyila, ini bekal untuk siapa?” tanya Mbok Num penasaran ketika Asyila sedang sibuk menyiapkan bekal tersebut sembari tersenyum.
“Oh, ini untuk Mas Abraham, Mbok. Hari ini Mas Abraham akan pergi ke Surabaya, oleh karena itu Asyila ingin menyiapkan bekal makanan untuk Mas Abraham,” jawab Asyila.
Mbok Num tak bertanya lagi, mendengar bahwa itu bekal khusus untuk Abraham sudah cukup baginya.
Asyila yang telah menyiapkan sarapan, saat itu juga melenggang menuju kamar untuk mengajak suami tercintanya sarapan bersama.
Saat Asyila baru saja memasuki kamar, tiba-tiba sepasang tangan mendekapnya dan mengangkat tubuhnya.
Kali ini Asyila tidak protes, justru Asyila sangat senang dan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. Kemudian, mengecup bibir suaminya secara perlahan dengan penuh cinta.
Abraham sangat senang mendapatkan kecupan bibir sepagi itu dari Sang istri tercinta.
“Mas, ayo kita sarapan! Asyila juga sudah menyiapkan bekal makanan untuk Mas, jangan lupa dimakan dan dihabiskan. Asyila tidak ingin Mas sampai kelaparan,” ucap Asyila dengan terus memberikan tatapan penuh cinta kasih kepada Sang suami.
“Syila tenang saja, Mas akan menghabiskan bekal yang telah Asyila siapkan untuk Mas. Kalau perlu, sepuluh bekal pun akan Mas habiskan,” sahut Abraham dengan terus mengendong tubuh Sang istri.
“Mas ini bisa saja, kalau membawa sepuluh bekal yang ada Mas malah menjadi gendut,” ucap Asyila yang malah meledek suaminya.
Abraham tertawa geli ketika membayangkan dirinya gemuk.
“Lalu, perut Mas Abraham buncit seperti wanita hamil 7 bulan,” ucap Asyila lagi yang semakin meledek suaminya.
“Syila mau Mas seperti itu? Berbadan gemuk dan perut buncit seperti wanita hamil 7 bulan?”
Asyila seketika itu menggelengkan kepalanya.
“Kalau Mas seperti itu, Asyila tidak mau lagi dengan Mas,” celetuk Asyila dengan terus geleng-geleng kepala tak kuasa membayangkan bentuk tubuh suaminya bilang menjadi gemuk.
Abraham tertawa lepas dan menciumi seluruh wajah istri kecilnya berulang kali.
“Syila tenang saja, bukankah Mas sering berolahraga?” tanya Abraham.
Asyila mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan dari suaminya.
“Memangnya kapan Mas sering berolahraga?” tanya Asyila penasaran.
“Bukankah setiap malam bersama Asyila?” tanya Abraham dengan berbisik di telinga istri kecilnya.
__ADS_1
“Mas genit ya, kalau itu namanya bukan olahraga. Sekarang turunkan Asyila, ayo kita sarapan! Bukankah sebentar lagi Mas akan berangkat?” tanya Asyila sembari menyentuh pipi suaminya dengan tersenyum manis semanis mungkin.
Abraham mengangguk kecil dan menurunkan istri kecilnya dari gendongannya. Kemudian, mereka keluar dari kamar untuk segera berkumpul di meja makan.
“Mbok Num, kok masih berdiri disitu? Ayo duduk kemari, kita sarapan bersama!” panggil Asyila.
Mbok Num pun duduk tepat disamping Bela.
“Mbok Num, minta do'anya ya untuk Mas Abraham agar pekerjaan Mas Abraham cepat selesai!” pinta Asyila pada Mbok Num.
Mbok Num mengiyakan permintaan dari Asyila.
“Bela juga ya sayang, minta do'anya untuk Paman Abraham!” pinta Asyila pada Bela.
“Baik, Aunty,” balas Bela sembari tersenyum ke arah Asyila serta Abraham.
“Karena kita sudah berkumpul, ayo segera sarapan!”
Abraham mengangkat kedua tangan untuk memimpin Do'a sebelum menikmati hidangan dihadapan mereka masing-masing.
Asyila mengambil nasi dan mengisi piring tersebut dengan lauk pauk kesukaan suaminya.
Keduanya, saling suap-suapan dengan tatapan penuh cinta sekaligus kesedihan karena akan berpisah.
Usai menikmati sarapan, akhirnya Abraham harus pergi meninggalkan istri dan juga bayi mereka untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Asyila memeluk suaminya dengan erat dan meminta suaminya untuk kembali dengan selamat tanpa terluka sedikitpun.
“Syila, Mas berangkat dulu. Syila harus semangat ya dan juga jangan lupa makan tepat waktu,” tutur Abraham mencium kening, pipi serta bibir istri kecilnya.
Setelah menciumi istri kecilnya, Abraham bergantian mencium bayi Akbar yang saat itu tengah terjaga.
Abraham menciumi seluruh wajah buah hati mereka berulang kali.
Abraham mengucapkan salam dan melambaikan tangannya sembari masuk ke dalam mobil.
****
Saat itu, Abraham serta yang lain sedang membahas bagaimana menangkap dan memusnahkan seluruh narkoba yang tentu saja beratnya berton-ton.
Jika misi mereka berhasil, berita tersebut akan membuat Abraham serta yang lainnya terkenal dan menjadi pahlawan bagi Indonesia karena berhasil menangkap sindikat narkoba besar-besaran.
Abraham memperhatikan bekal makanan miliknya dari Sang istri tercinta. Entah kenapa, Abraham ingin sekali mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai istri kecilnya itu tepat di hadapan Sang istri.
Dayat serta yang lainnya menyadari bahwa Abraham sejak tadi memperhatikan bekal makanan tersebut, tanpa Abraham bilang pun mereka sudah tahu bahwa bekal makanan itu dari Asyila, istri yang sangat dicintai oleh sosok Abraham Mahesa.
“Tuan Abraham, apakah anda sudah siap untuk masuk ke dalam kapal itu?” tanya salah satu tim untuk memastikan kembali.
“Tentu saja, aku akan masuk seorang diri,” jawab Abraham.
“Tuan Abraham, biarkan saya ikut!” seru salah satu dari mereka yang bernama Wibowo.
Saat Abraham ingin membuka mulut untuk menolak permintaan Wibowo.
Wibowo pun langsung berdiri sembari memukul dadanya dengan cukup keras.
“Tolong izinkan saya ikut dengan Tuan Abraham!” pintanya secara tegas seakan-akan ingin memberitahukan bahwa dirinya juga berani berdiri bersama Sosok Abraham Mahesa.
Abraham menoleh ke arah tim yang lain dan merekapun mengangguk setuju.
“Baiklah, hanya kita berdua saja yang akan menyelinap masuk ke dalam kapal tersebut,” terang Abraham mempertegas bahwa hanya dirinya dan Wibowo saja yang akan menyelinap masuk ke kapal laut tersebut.
Malam hari.
Abraham dan Wibowo telah bersiap untuk menyelinap ke kapal laut tersebut.
Sementara Dayat serta yang lain mengintai dari kejauhan agar para sindikat tidak mencurigai kehadiran Abraham dan juga Wibowo.
Sebelum beraksi, mereka semua terlebih dulu membaca do'a menurut kepercayaan mereka masing-masing sebelum mereka berpisah.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Abraham dan Wibowo.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan mendekat ke arah salah satu kapal yang diduga sebagai kapal yang akan melakukan pertemuan antar sindikat narkoba yang lain.
Mereka berjalan dan terus berjalan mendekat dengan langkah santai agar tak dicurigai oleh awak kapal yang lain.
“Hei kalian berdua, apakah kalian awak baru?” tanya salah satu dari awak kapal yang ingin dimasuki oleh Abraham dan juga Wibowo.
Abraham memberi isyarat kepada Wibowo agar diam tak bersuara.
Sementara, Abraham yang akan mengatasi pria yang baru saja bertanya pada mereka berdua.
Tugas menyamar seperti itu, sudah menjadi kebiasaan bagi Abraham. Sehingga, Abraham tidak terlalu takut untuk menyelinap seperti yang sekarang ini dia lakukan.
“Aku menjawab, kenapa kalian malah diam?” tanya pria itu lagi dan ingin memukul kepala Abraham.
Abraham dengan cepat menangkis tangan dari pria tersebut.
“Ya, kami adalah orang baru disini. Tolong maafkan kami,” tutur Abraham seakan-akan dirinya begitu ketakutan dengan pria dihadapannya.
“Haha.. haha.. begitu saja sudah takut, ayo cepat naik! Kita tidak punya waktu lagi, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Tuan besar ditengah laut,” terang sembari menarik Abraham dan juga Wibowo secara paksa untuk segera naik ke kapal.
Sekitar 10 menit mereka diatas kapal, akhirnya kapal itu pun bergerak ke tengah laut.
Abraham memperhatikan secara detail gerak-gerik awak kapal laut tersebut, sementara Wibowo yang awalnya begitu berani, perlahan mulai menciut karena ternyata yang ada di kapal tersebut tidaklah sedikit, sekitar 50 orang termasuk dirinya dan Abraham.
“Kamu!” panggil salah satu dari mereka menunjuk ke arah Abraham.
“Sa-saya,” sahut Abraham berlagak seperti orang bodoh.
“Iya kamu, kemari!” panggilnya.
Abraham berlari kecil dan berpura-pura bahwa ia tersandung oleh sesuatu, sehingga ia jatuh begitu saja.
“Ma-maaf, Tuan saya tidak sengaja,” ucap Abraham.
Pria itu tertawa lepas melihat Abraham yang dengan mudahnya jatuh.
“Kamu pergilah ke gudang bawah dan ambil beberapa minum alkohol, setelah bawa ke hadapan kami, cepat!” teriak pria tersebut kepada Abraham.
Abraham mengiyakan dengan ketakutan dan mengajak Wibowo untuk pergi mengambil beberapa botol bir untuk orang-orang yang berada di kapal tersebut.
Abraham berjalan dengan langkah lebar, sementara Wibowo berlari kecil karena tak bisa mengimbangi kaki panjang Abraham.
“Tuan, saya diperintahkan kepada orang berpakaian hitam dan mata sebelah kiri yang ada bekas lukanya, untuk mengambil beberapa botol bir. Tolong tunjukkan dimana arahnya!” pinta Abraham.
“Kamu ini pasti anak baru, kamu lurus saja kebawah dan belok kiri, nanti ada sebuah ruangan kecil kamu masuklah karena disitu stok botol bir berada,” terangnya.
“Tuan tidak mau menemani saya?” tanya Abraham.
“Apa-apaan kamu ini, pergi sana!” teriak nya.
Abraham mengiyakan dengan terbata-bata, kemudian berlari menuruni anak tangga untuk segera sampai ditempat yang dimaksud oleh pria itu.
“Kau berjaga lah di depan pintu, aku akan masuk ke dalam!” perintah Abraham pada Wibowo.
Wibowo mengiyakan dan terlihat mulai panik.
Abraham pun masuk ke dalam ruangan yang berisi banyak botol-botol bir yang masih utuh.
Perlahan, Abraham mengeluarkan sebuah botol kecil yang sebelumnya ia siapkan. Kemudian, dengan hati-hati Abraham memasukkan sesuatu ke dalam setiap botol bir yang akan diminum oleh awak kapal.
Setelah botol kecil milik Abraham kosong karena sudah ia campur ke dalam botol bir, Abraham pun memanggil Wibowo untuk membantunya menbawa beberapa botol bir tersebut untuk diberikan kepada yang lain.
“Kau jangan terlalu tegang begitu, santai lah seperti tidak ada apa-apa!” pinta Abraham pada Wibowo.
Wibowo saat itu juga memuji keberanian Abraham, ternyata apa yang Abraham lakukan begitu banyak resiko. Wibowo pun memutuskan untuk tidak ikut menyamar lagi bersama Abraham, karena apa yang mereka lakukan resikonya sangat besar. Bisa saja mereka ketahuan dan dilempar hidup-hidup ke laut lepas.
“Dasar lambat, ambil minuman ini saja kalian lama sekali,” hardik pria yang sebelumnya memerintahkan Abraham untuk mengambil beberapa botol bir.
Abraham tak membalas perkataan kasar tersebut, ia diam seakan-akan tidak bisa melawan.
“Sekarang menjauh lah dariku, kalian berdua tidak diizinkan untuk menikmati alkohol ini,” tegasnya.
__ADS_1