Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Asyila Kecil


__ADS_3

Bandung.


Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, Dyah sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Betapa bahagianya Dyah karena hari-harinya akan diwarnai oleh wajah lucu buah hatinya.


“Alhamdulillah, akhirnya kita sudah boleh pulang ya sayang. Putri Mama yang cantik, terima kasih sudah hadir di kehidupan Mama dan Papa.


Mama sangat berharap, Asyila tidak rewel,” tutur Dyah.


Dyah dan Fahmi memutuskan memberikan nama mereka dengan nama Asyila. Dyah ingin nama Aunty-nya terus bersinar di dalam keluarganya dan berharap bahwa semua kepribadian Aunty-nya menurun ke putri kecilnya yang sangat cantik.


“Ayo kita pulang,” ajak Fahmi dan menuntun istrinya keluar dari rumah sakit.


Sementara bayi mereka digendong oleh Yeni.


Awalnya Yeni bertanya-tanya mengapa cucunya diberi nama Asyila.


Namun, setelah mendengar penjelasan dari Dyah dan juga Fahmi. Yeni pun setuju dan berharap semua kepribadian dari Asyila menurun ke cucu pertamanya.


“Asyila kecil kesayangan Nenek. Nama yang sangat cantik seperti Nenek mu, istri dari Kakek Abraham,” tutur Yeni mengajak cucu pertamanya berbicara.


Temmy yang gemas pun meminta agar Icha memberikan padanya untuk digendong.


“Kalau begini, sepertinya Asyila kecil akan pusing karena kedua Neneknya memperebutkan dia. Dyah, cepat-cepat buat lagi ya!” pinta Yeni menggoda Dyah yang tengah dituntun oleh Fahmi.


“Satu dulu ya Ma, Fahmi tidak ingin pingsan lagi,” jawab Fahmi sambil senyum-senyum.


“Lagian kamu juga, istri sedang berjuang melahirkan. kamu malah pingsan,” ledek Yeni.


Merekapun bersama-sama melangkah keluar dari rumah sakit menuju area parkir.


Setibanya di perumahan Absyil, Dyah sudah disambut oleh senyuman hangat dari Pamannya yang memberikannya kejutan yang tak terduga.


Rumahnya terlihat sangat indah ketika dinding ruang tamunya di hias dengan sangat kecil.


Kejutan dari Abraham tak berhenti sampai disitu, ketika Dyah memasuki kamar bayinya, lagi-lagi Dyah terpukau karena kamar bayinya yang awalnya biasa saja kini berubah menjadi sangat cantik.


“Masya Allah, ini siapa yang mendekorasinya, Paman?” tanya Dyah dengan tatapan terpukau.


“Kesepuluh jari inilah yang mendekorasi kamar ini,” jelas Abraham sambil memperlihatkan jemari tangannya yang masih ada bekas cat warna.


Mereka semua kompak bertepuk tangan karena keahlian Abraham yang lainnya.


“Hiks... Hiks.. Paman curang. Bagaimana bisa Paman melakukannya lebih baik dari Ibu kandung Asyila kecil?” tanya Dyah dengan sangat cengeng.


“Dasar cengeng, sudah punya anak masih saja cengeng. Kasihan Asyila kecil kalau besarnya nanti tahu mengenai Ibunya yang cengeng seperti ini,” ledek Abraham.


“Sebelumnya Dyah mengucapkan banyak terima kasih. Terima kasih atas dekorasi kamar ini dan terima kasih karena Paman mengizinkan Dyah memberikan nama putri Dyah dengan nama istri Paman,” terang Dyah yang masih terus saja menangis.


“Paman yang seharusnya berterima kasih kepada Dyah dan juga Fahmi. Terima kasih telah menghidupkan Asyila lewat buah hati kalian,” bisik Abraham ditelinga Dyah agar tak di dengar oleh mereka.


“Abraham, ayo gendong cucumu ini!” pinta Yeni.


Abraham tertegun sejenak dan dengan hati-hati ia menggendong tubuh mungil dari bayi yang namanya sama dengan sang istri.


“Apa kabar Asyila? Ini kakek Abraham, Asyila kangen tidak dengan Paman? Paman sungguh merindukan Asyila,” ucap Abraham yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu.


Abraham tak sanggup menggendong bayi Asyila dan kembali memberikannya kepada Yeni.

__ADS_1


“Ada apa dengan Abraham?” tanya Yeni terheran-heran.


Dyah, Fahmi, Ema dan Yogi saling menatap satu sama lain.


Mereka sangat tahu alasan mengapa Abraham menangis dan pergi begitu saja.


Ya Allah, kenapa rindu harus sesakit ini? Paman sangat merindukan Aunty Asyila dan hamba pun sangat merindukan Aunty Asyila. Pertemukan lah kami ya Allah, walaupun hanya di dalam mimpi


Dyah menangis histeris sambil memeluk suaminya. Ternyata, tidak hanya Dyah saja yang menangis. Fahmi, Ema dan juga Yogi menangis histeris mendengar ucapan rindu Abraham kepada Asyila kecil yang sebenarnya kerinduan itu dikhususkan untuk istri kecilnya, Asyila.


Yeni dan Temmy saling memandang satu sama lain. Mereka berdua begitu terheran-heran dengan mereka yang tengah menangis tersedu-sedu.


“Kalian ini kenapa pada menangis? Tolong ceritakan permasalahan kalian kepada Mama!” pinta Yeni yang terlihat sangat memaksa karena rasa penasarannya yang cukup besar.


Dari hari pertama Dyah di rumah sakit dan sampai pulang ke rumah. Yeni selalu melihat mereka menangis dan tangisan itu jelas-jelas bukan tangisan kebahagiaan. Akan tetapi, tangisan kesedihan yang sangat mendalam serta menyakitkan.


“Jawab Mama, Dyah. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari kami. Mama tahu bahwa kalian sedang menangis sesuatu yang sangat menyakitkan. Tolong beritahu Mama!” pinta Yeni.


Dyah lagi-lagi berbohong dan memutuskan untuk tetap bungkam mengenai kematian Aunty-nya.


“Baiklah, kalau memang tidak mau menceritakannya juga tidak apa-apa. Akan tetapi, Mama akan selalu menantikan curahan hati Dyah,” tutur Yeni.


Disaat yang bersamaan.


Abraham menangis di dalam kamar dengan perasaan yang begitu sesak.


Saat ini yang bisa Abraham lakukan adalah memeluk foto istrinya. Abraham sangat ingin memeluk tubuh istrinya. Meskipun, hanya dalam mimpi.


“Assalamu’alaikum, istriku. Sudah berbulan-bulan lamanya Syila meninggalkan Mas disini. Akan tetapi, sampai detik ini Mas merasa kalau Asyila masih hidup dan merindukan Mas,” tutur Abraham mengajak gambar diri istrinya berbicara.


Rasa sedih dihati Abraham semakin lama semakin bertambah, bersamaan dengan rindu yang setiap hari menumpuk menjadi sebuah bukit raksasa.


Sekitar satu jam Abraham tertidur, tiba-tiba Abraham terbangun ketika mendengar suara panggilan dari sang istri.


Abraham terbangun seperti orang kesetanan dan berlari keluar kamar untuk mencari keberadaan Istrinya.


“Asyila! Asyila!” panggil Abraham dan berlari kesana-kemari agar bisa menemukan sang istri.


Eko yang tengah tertidur, seketika itu terbangun mendengar suara Abraham yang terus berteriak memanggil nama Asyila.


“Asyila, istriku sayang!” panggil Abraham dengan derai air mata.


Eko keluar kamar dan segera menghampiri Tuan mudanya.


“Tuan Muda kenapa teriak-teriak seperti ini? Sadarlah, Tuan Muda!” ucap Eko berusaha menyadarkan majikannya.


“Apa kau tak mendengarnya? Istriku baru saja memanggilku,” tutur Abraham.


“Sadarlah Tuan Muda, sadarlah. Anda sedang berhalusinasi, sebaiknya anda banyak-banyak mengucapkan istighfar dan mohon lindungan dari Allah,” terang Eko.


Abraham seketika itu tersadar dan mengucapkan istighfar berulang kali.


Cukup lama Abraham melakukannya sampai akhirnya Eko membawa Abraham masuk ke dalam kamar.


Pagi hari.


Abraham telah bersiap untuk pergi ke Bandung. Sebelum subuh, Arumi menghubunginya dan memberitahukannya bahwa ada hal penting yang harus ia sampaikan secara langsung kepada Abraham.

__ADS_1


Abraham sebenarnya sangat sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan dan hobinya yang suka menangkap para penjahat bersama para sahabatnya yang berprofesi sebagai polisi.


“Kita mau kemana, Tuan Muda Abraham? Kol bawa-bawa koper segala?” tanya Eko penasaran.


Abraham tak menjawab pertanyaan dari Eko dan malah meminta Eko untuk memasukkan barangnya ke jok mobil.


“Abraham, kau mau kemana?” tanya Yogi yang baru saja keluar dari rumah, “Ayo ke kantor, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu mengenai Pak Burhan yang korupsi,” terang Yogi.


Abraham sangat tertarik dengan pria bernama Burhan. Bisa dikatakan, Burhan adalah saingan berat.


“Ayo!” seru Abraham dan melupakan rencananya untuk pulang ke Jakarta.


“Jadi, kita mau ke perusahaan?” tanya Eko memastikan.


“Ya,” jawab Abraham singkat dan masuk ke dalam mobil agar segera sampai ke perusahaannya.


Ketika Eko ingin melewati gerbang, Dyah tiba-tiba muncul dan membuat Eko seketika itu mengerem mendadak.


“Ya Allah, hampir saja,” ucap Eko dengan jantung berdebar kencang karena hampir saja menabrak Dyah dan bayinya.


Melihat keponakannya di depan mobil, Abraham pun turun untuk menghampiri Dyah yang kelihatannya ingin menemui dirinya.


“Paman mau kemana?” tanya Dyah.


“Paman ingin pergi ke kantor, Dyah kenapa datang kemari dan kemana Fahmi?” tanya Abraham karena tak melihat sosok Fahmi.


“Mas Fahmi kebetulan tidak ada dirumah dan insya Allah sebelum jam 9, Mas Fahmi sudah pulang,” terang Dyah.


“Terus, dirumah ada siapa? Kemana Mama dan papamu?” tanya Abraham.


“Mama dan Papa sudah pulang ke rumah. Sebenarnya, kedatangan Dyah kesini untuk meminta bantuan Paman membantu Dyah mengurus Asyila kecil selama Mas Fahmi belum pulang. Paman mau ya!” pinta Dyah.


Tanpa pikir panjang, Abraham mengiyakan permintaan Dyah dan mengambil alih menggendong cucunya.


“Bayi mungil seperti ini tidak boleh diberikan susu formula. Selalu berikan ASI seperti yang Aunty mu lakukan. Dulu, Aunty mu sama sekali tidak menggunakan susu formula dan 100% memberikan Arsyad dan Ashraf ASI,” terang Abraham yang banyak pengalamannya di banding Dyah.


“Lalu, bagaimana menangani bayi yang rewel?” tanya Dyah semakin penasaran.


“Kalau itu tergantung dari si Ibu. Bisa jadi si ibu lupa memberikan asi atau mungkin popoknya penuh. Dan selebihnya mungkin anak itu sakit,” jawab Abraham seingat dia.


Dyah mengangguk kecil dan meminta Abraham untuk membuka pintu rumah untuknya karena ia sangat butuh duduk.


Abraham tersenyum tipis melihat mulut Asyila kecil yang buka tutup seperti itu.


“Asyila apa sudah kamu berikan ASI?” tanya Abraham.


“Alhamdulillah, sudah,” jawab Dyah.


“Kalau begitu, Paman ingin membawa Asyila kecil ke kamar dan menidurkannya,” terang Abraham.


“Paman serius? Apa tidak merepotkan Paman? Dyah takut kalau Asyila tiba-tiba rewel,” sahut Dyah yang tidak ingin merepotkan Pamannya.


“Sudah tidak apa-apa, Paman justru sangat senang kalau direpotkan oleh Asyila kecil yang menggemaskan ini,” puji Abraham dan mencium lembut pipi kemerah-merahan cucu barunya.


Abraham berjalan menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati dan berharap bayi yang digendongnya tidak menangis.


“Bayi pintar, kesayangan Kakek Abraham,” ucap Abraham dan meletakkan dengan sang hati-hati bayi mungil itu ke atas tempat tidurnya.

__ADS_1


Abraham menertawakan dirinya sendiri yang ternyata sudah menjadi seorang Kakek.


“Lihatlah istriku! Bayi mungil ini namanya sama dengan Syila. Bagaimana, cantik'kan?” tanya Abraham pada foto istrinya.


__ADS_2