Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Koma


__ADS_3

Arumi memeluk keduanya dan terpaksa berbohong kalau Bunda mereka tengah pergi karena ada sesuatu yang penting.


“Kalian berhentilah menangis, Bunda kalian sedang pergi karena ada urusan penting. Sekarang tidurlah, Nenek akan tidur bersama kalian.”


“Arsyad tidak mau tidur, Arsyad mau ketemu Bunda,” tegas Arsyad.


“Tolong Arsyad, kamu sebagai kakak harusnya tidak cengeng seperti ini. Kalian cepat tidur atau Nenek akan pergi dan mengunci kalian disini berdua saja?” tanya Arumi yang terpaksa bertindak tegas dengan memberikan sebuah ancaman agar keduanya berhenti menangis.


Arsyad dan Ashraf seketika itu berhenti menangis. Meskipun, mereka masih sesegukan.


“Sekarang cuci muka dan setelah itu naik ke tempat tidur!” perintah Arumi.


Keduanya dengan ketakutan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah mereka, kemudian setelah itu keduanya naik ke tempat tidur dan berusaha memejamkan mata mereka. Meskipun, kedua saat itu tidak bisa tidur.


“Jangan ada yang membuka mata!” perintah Arumi.


Setelah mengatakan hal itu, Arumi bersandar di pintu dan kembali menangis. Bagaimana bisa, putri kesayangannya yang lembut itu merelakan diri untuk ia dan yang lainnya.


Kenapa kamu senekat itu, Nak? Seharusnya kamu tetap berada di dalam kamar menemani suamimu, kenapa harus merelakan diri dan mempertaruhkan nyawa demi melindungi kami? Ya Allah, berikan kuasa-Mu untuk keluarga kami. Selamatkan lah putri kami yang malang.


***


Pagi hari.


Abraham tersadar dan terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya sudah berada di rumah sakit.


“Istriku? Dimana Asyila? Dimana istriku?” Abraham menyadari bahwa istri kecilnya tidak berada disampingnya dan ia pun teringat dengan apa yang terjadi.


Abraham berusaha mendudukkan dirinya dengan sekuat tenaga, kemudian dengan hati-hati ia turun dengan menggunakan sebelah kakinya yang normal untuk turun dari ranjang. Lalu, ia menarik kursi roda miliknya agar bisa mendekat dan akhirnya Abraham bisa duduk di kursi roda itu.


Disaat yang bersamaan, Dokter Faisal datang dan mencoba menahan Abraham untuk tidak keluar dari ruangannya dengan cara memegangi kursi roda tersebut.


“Lepaskan aku! Jangan halangi Aku untuk menemui istriku!” perintah Abraham.


“Tuan Abraham, jangan melakukan hal yang gegabah. Diam lah diruangan ini dan tunggu sampai saya mengetahui kondisi Nona Asyila,” ucap Dokter Faisal.


“Tidak!” teriak Abraham, “Bagaimana bisa aku berdiam diri disini, sementara istriku saat ini sedang tidak baik-baik saja. Aku harus memastikan bahwa istriku baik-baik saja, sekarang antar aku menemui Asyila atau aku akan membuat keributan di rumah sakit ini,” tegas Abraham.


Abraham mendorong tubuh dokter Faisal dan hampir membuat Dokter itu terjatuh.


“Asyila sedang koma,” ucap Sang dokter yang terpaksa memberitahukan kondisi Asyila yang sebenarnya


Deg! Abraham terdiam mematung dan seketika itu juga ia meneteskan air matanya.

__ADS_1


Kata koma, sudah sangat menakutkan dan menyakitkan hati seorang Abraham.


“Aku mohon, antar kan aku menemui Asyila!” pinta Abraham.


Dokter Faisal bisa merasakan kesedihan Abraham mendengar cara Abraham berbicara. Pria yang selama ini terlihat keren dimata Dokter Faisal, ternyata adalah pria yang lemah ketika dihadapkan dengan kenyataan yang ada.


Tak ingin membuat Abraham semakin sedih, akhirnya dokter Faisal membawa Abraham ke ruangan Asyila. Sesampainya di depan ruangan Asyila, polisi langsung menghentikan Abraham.


“Kenapa aku dihentikan? Cepat minggir, istriku saat ini membutuhkan ku.”


“Kami tidak bisa melanggar perintah dari atasan, mohon agar Tuan Abraham bisa mengerti dan lebih sabar lagi untuk tidak menemui Nona Asyila,” terang salah satu polisi yang berjaga di depan ruangan Asyila.


“Apakah aku sebagai suaminya, juga tidak boleh menemui istriku sendiri?”


“Maaf, Tuan Abraham. Kami tidak bisa melanggar perintah dari atasan.”


Abraham menundukkan kepalanya dan tanpa malu, ia menangis karena tak tahan dengan apa yang telah terjadi. Disatu sisi Abraham ingin menemui istri kecilnya dan memeluk Sang istri dengan sangat erat dan disisi lain ia menghakimi serta menyalahkan dirinya sendiri yang tidak becus dalam menjaga sang istri.


Dokter Faisal tak bisa melihat Abraham yang sedang terguncang hatinya, Dokter itu pun kembali membawa Abraham ke ruangannya.


“Menurutlah untuk beberapa saat, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Untuk saat ini, Nona Asyila memang tidak boleh bertemu dengan siapapun, termasuk anda. Jika sudah waktunya, kalian berdua bisa kembali bersatu lagi,” ucap Abraham yang telah merebahkan Abraham di ranjangnya.


Dokter Faisal pun pergi, meninggalkan Abraham yang tengah menangis.


Lalu, bagaimana dengan ketiga peneror itu?


Ketiganya saat itu masih dalam kondisi kritis, mereka bertiga kehilangan banyak darah dan salah satu dari mereka bertiga telah dinyatakan cacat di bagian tangan kiri.


Kemungkinan, untuk sembuh sangatlah mustahil. Karena saraf pusat yang berada ditangan sudah mati alias tak berfungsi lagi. Dan akhirnya, dokter terpaksa mengamputasi tangan kiri salah satu pelaku teror.


***


Polisi yang bertugas untuk penanganan tempat kejadian perkara terus saja wara-wiri di rumah itu. Membuat Arsyad dan Ashraf terlihat risih, keduanya terus saja merengek agar segera dipertemukan dengan kedua orangtuanya yang entah berada di mana.


Arumi dan Herwan sampai detik itu tidak makan apapun, rasanya dunia sudah gelap karena Asyila maupun Abraham tidak ada di rumah.


Arumi masih terbayang-bayang dengan mimpinya, mimpi yang begitu menyeramkan dan membuatnya tidak bisa tidur.


“Nek, ayo bawa kami bertemu Bunda!” pinta Arsyad.


Seharusnya Arsyad pagi itu sekolah, akan tetapi ia tidak sekolah karena kondisi rumah dan para orang tua yang begitu menyedihkan.


“Arsyad, tolong jangan merengek seperti anak bayi!” pinta Arumi yang tak bisa berpikir jernih.

__ADS_1


Arsyad terdiam dan akhirnya menarik tangan adiknya menuju ruang keluarga. Diruangan itu, keduanya menangis bersama. Mereka terngiang-ngiang kejadian semalam dan juga teriakkan dari Bunda mereka yang terdengar kesakitan. Belum lagi, suara pria yang terdengar menyeramkan dari dalam kamar mereka.


“Kakak...” Ashraf menangis histeris.


Arsyad kemudian mendekap tubuh adiknya dan merekapun menangis semakin histeris.


“Bagaimana kondisi putri kami? Apakah Asyila baik-baik saja?” tanya Arumi pada salah satu polisi yang berdiri tak jauh dari mereka.


Karena tak tega, polisi itu mengatakan bahwa Asyila tengah koma.


Arumi terkejut dan kembali tak sadarkan diri, wanita berumur setengah abad lebih itu merasa sangat tertekan.


Herwan tak bisa berkata-kata, ia sangat syok dan terkulai lemas di lantai. Ujian demi ujian datang silih berganti, entah kapan kebahagiaan benar-benar menghampiri mereka.


Abraham belum sembuh dan kini putri kesayangan mereka pun mendapatkan hal yang sangat mengerikan.


“Pak Herwan sebaiknya berdiam diri di dalam kamar, jika sudah waktunya kalian boleh pergi ke rumah sakit.”


Herwan mengangkat tubuh istrinya dan membawa sang istri masuk ke dalam kamar dengan tatapan kosong.


Ia berharap ada keajaiban dari Sang pencipta untuk putri kesayangannya.


Arsyad dan Ashraf akhirnya tertidur dengan posisi saling memeluk, salah satu polisi yang melewati ruang keluarga terkejut melihat dua bocah kecil tidur dengan posisi saling memeluk.


“Kalian masih sangat kecil dan ternyata sudah merasakan hal berat seperti ini. Semoga saja kedua orang tua kalian baik-baik saja,” ucap Sang polisi dan dengan hati-hati mengangkat tubuh mereka secara bergantian. Kemudian, meletakkan mereka di sofa ruang keluarga.


Beberapa saat kemudian.


Arumi terkejut mendapati bahwa kedua cucunya mengalami panas, tanpa pikir panjang Arumi meminta polisi yang berjaga di rumah menantunya untuk segera membawa kedua bocah itu ke rumah sakit terdekat.


Polisi dengan sigap membawa kedua bocah itu, termasuk Arumi dan Herwan yang nantinya akan menjaga cucu-cucu mereka yang tengah sakit.


“Bunda.. Ayah...” Dengan keadaan yang menyedihkan, Arsyad terus saja memanggil kedua orangtuanya.


Sontak saja, hal tersebut membuat Arumi dan Herwan semakin sesak. Coba terus saja datang tanpa ada henti-hentinya.


“Arsyad sayang, maafkan Nenek ya. Arsyad harus sembuh, agar bisa bertemu dengan Ayah dan Bunda,” bisik Arumi.


Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung dimasukkan ke ruangan khusus anak-anak.


Arumi dan Herwan terlihat sangat gusar karena kedua cucu mereka sakit secara bersamaan.


“Ya Allah, kenapa ujian yang Engkau berikan langsung datang sebanyak ini?” tanya Arumi sambil menoleh ke atas seakan-akan tengah menghadap kepada Sang pencipta.

__ADS_1


__ADS_2