
Pukul 21.15 WIB.
Ema mulai mengantuk dan memutuskan untuk segera tidur. Ia sangat lelah setelah cukup lama menangis gara-gara suaminya yang mengira dirinya cemburu dan tak mempercayai perkataannya bahwa wanita bernama Salsa ada wanita jahat.
“Asyila, kamu tenang saja disana. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menggantikan posisimu di hati Pak Abraham. Satu, dua, tiga bahkan seribu wanita yang datang ke dalam kehidupan Pak Abraham, aku akan menghadapinya,” ucap Ema sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat dan berjanji akan memberantas semua wanita yang ingin mendekati Abraham Mahesa.
Ketika Ema ingin memejamkan matanya, suara ketukan pintu mengangetkan dirinya.
“Abang mau masuk? Jangan harap Adik membukanya,” ucap Ema mengira bahwa yang mengetuk pintu adalah Suaminya, Yogi.
“Mama, buka pintu. Ini Kahfi,” terang Kahfi dan kembali mengetuk pintu.
Ema yang sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Kecuali, bagian kepalanya seketika itu menghempaskan selimutnya dan bergegas membukakan pintu untuk buah hatinya.
“Ceklek!”
“Loh, kenapa Kahfi datang sendiri? Dimana Ashraf?” tanya Ema karena tak melihat Ashraf.
Kahfi mengucek matanya yang terlihat sangat mengantuk.
“Kahfi tidur sama Nenek, Ma,” jawab Kahfi dan masuk ke dalam kamar dengan mata tertutup.
Bruk!
Kahfi tak sengaja menabrak meja dan dengan cepat Ema menggendong buah hatinya yang ingin menangis.
“Sssuuttt... Jangan menangis ya sayang, ini sudah malam. Ayo tidur,” ucap Ema berbisik di telinga Kahfi.
“Hiks... Hiks... Hiks.. Sakit,” rengek Kahfi kesakitan karena ia menabrak meja cukup keras dan bagian dahinya terbentur meja.
“Sini Mama cium biar cepat sembuh.. Muachh.. Muach... Muachh..” Ema menciumi kening Kahfi berulang kali dan Kahfi pun perlahan menghentikan tangisannya.
Ema meletakkan buah hatinya di ranjang dan terus mengelus-elus kening Kahfi yang baru saja bertabrakan dengan meja.
“Tidur yang nyenyak ya sayang,” bisik Ema pada Kahfi yang belum juga tertidur.
“Mama, cium lagi!” pinta Kahfi karena keningnya masih terasa sakit.
“Kalai sudah Mama cium, Kahfi langsung tidur ya,” balas Ema.
“Iya Mama,” jawab Kahfi.
Ema tersenyum dan menciumi kening Kahfi berkali-kali sampai akhirnya Kahfi tertidur dengan dengkuran halus yang membuat Ema senyum-senyum sendiri.
Cukup lama Ema memandangi wajah buah hatinya yang tengah terlelap, sampai akhirnya Ema pun mengantuk dari perlahan ia pun tertidur.
Disaat yang bersamaan.
Abraham, Herwan dan Yogi tengah dalam perjalanan pulang. Ketiganya baru saja pulang dari rumah Pak Harun dan ketiganya membawa makanan yang memang diberikan oleh Pak Harun untuk setiap orang yang datang mengadakannya Do'a bersama di rumahnya.
“Sudah jam segini, anak-anak pasti sudah tertidur,” ucap Abraham sambil menoleh ke arah langit yang kebetulan bintang-bintang di langit terlihat sangat jelas.
“Istriku pun pasti sudah tertidur,” balas Yogi yang juga menoleh ke arah langit yang sangat cantik pada malam itu.
Setelah melewati gerbang depan rumah, Abraham langsung memberikan makanan tersebut kepada Pak Udin.
Sementara Yogi memberikannya kepada Eko yang kebetulan belum tidur.
“Hhmm... Yang ini untuk Istri Ayah,” ucap Herwan ketika Abraham dan Yogi melirik ke makanan yang dibawa oleh Herwan.
Abraham dan Herwan tertawa melihat ekspresi wajah Herwan yang terlihat sangat lucu.
Ketiganya melanjutkan langkah mereka untuk masuk ke dalam rumah.
Abraham masuk ke dalam kamarnya, Herwan pun masuk ke dalam kamarnya dan hanya menyisakan Yogi yang belum juga masuk ke dalam kamar.
Yogi menatap sedih pintu kamar yang di dalam tengah dihuni oleh istrinya, Ema.
“Ketuk tidak ya? Kalau aku mengetuknya dan ternyata Ema sudah tertidur. Aku pasti akan kena semprot sampai besok pagi dan bisa aku tak diberi jatah lagi,” ucap Yogi yang bingung harus melakukan apa. 😭
Cukup lama Yogi berdiri di depan pintu, sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidur di sofa ruang keluarga.
*****
Adzan subuh berkumandang, Ema pun terbangun dan tak lupa membangunkan Kahfi agar Kahfi terbiasa melaksanakan sholat subuh.
Kahfi pun bangun dan sama sekali tak protes dengan Mamanya yang telah membangunkan tidurnya yang indah.
Dengan mata yang masih mengantuk, Ema menuntun buah hatinya masuk ke dalam kamar mandi dan memandikan Kahfi dengan air hangat.
Sekali lagi, Kahfi sama sekali tak marah karena apa yang dilakukan oleh Mamanya.
“Kahfi sekarang keluar dan ajak Papa sholat subuh di masjid!” perintah Ema pada Kahfi.
__ADS_1
Kahfi yang mengerti mengiyakan dan bergegas keluar dari kamar untuk mencari Ayahnya.
Baru saja keluar dari kamar, Kahfi sudah disambut oleh Papanya.
“Wah, anak Papa sudah ganteng,” puji Yogi dan melirik sekilas ke arah istrinya.
Ema menyipitkan matanya dan menutup pintu itu rapat-rapat.
Kelihatannya Adik masih marah. Ya ampun, susah sekali menangani istri yang cemburuan seperti itu. 😭
Yogi menghela napasnya yang sesak dan membawa buah hatinya keluar rumah. Di depan rumah, sudah ada Abraham, Ashraf dan juga Herwan yang menunggu mereka berdua.
Abraham menoleh sekilas ke arah bodyguardnya yang telah bersiap-siap untuk melaksanakan sholat berjama'ah di rumah.
Sebenarnya, Abraham mengizinkan mereka untuk melaksanakan sholat di masjid. Akan tetapi, mereka memilih untuk sholat di rumah berjama'ah agar pekerjaan mereka pun tak terganggu.
Mau tak mau Abraham pun mengiyakan keinginan para bodyguardnya itu.
“Ayo, Pak Udin! Eko!” ajak Abraham.
Merekapun akhirnya berangkat bersama-sama menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat subuh.
Sepulang dari masjid, Ashraf meminta Ayahnya untuk menemaninya jalan-jalan berkeliling daerah setempat.
Awalnya Abraham menolak keinginan Ashraf. Akan tetapi, akhirnya Abraham mengiyakan keinginan buah hatinya karena tak ingin senyum manis buah hatinya tiba-tiba luntur karena penolakannya.
“Ashraf mau kemana?” tanya Abraham dengan penuh perhatian.
“Kesana ya Ayah!” jawab Ashraf menunjuk ke sisi jalan dekat jalan raya.
Abraham lagi-lagi mengiyakan dan mengikuti setiap langkah buah hatinya dari belakang, sekaligus mengawasi buah hatinya bila mana kejahatan tiba-tiba muncul menyerang mereka berdua.
“Ashraf, jangan lari-lari!” pinta Abraham ketika buah hatinya berlari kegirangan.
Ashraf menoleh sambil terus berlari dan pada akhirnya Ashraf pun terjatuh karena tersandung oleh batu di depannya.
Abraham panik ketika melihat kedua lutut Ashraf mengeluarkan darah segar dengan celana yang sobek di bagian lutut dan pakaian yang sudah dipenuhi oleh debu.
“Huwwaaaa... Huwaaaa!” Ashraf menangis menjerit, rasanya benar-benar sakit dan hanya tangisan yang menggambarkan rasa sakitnya jatuh.
Tanpa pikir panjang, Abraham langsung mengangkat buah hatinya dan membawa pulang buah hatinya dengan cara berlari agar segera sampai.
Pagi itu juga, Abraham lagi-lagi mendapatkan pusat perhatian dari Ibu-ibu dan juga ada beberapa anak gadis yang tersenyum ke arah Abraham karena terpana dengan ketampanan Abraham.
Bahkan, banyak para orang tua yang ingin menikahi putri mereka untuk dijadikan istri dari seorang Abraham Mahesa. Akan tetapi, almarhumah Nenek buyut yaitu Erna, selalu menolak pinangan para orang tua mereka. Dan dengan tegas mengatakan bahwa Abraham Mahesa telah memiliki calon istri.
“Ya Allah Ashraf, Ashraf kenapa bisa begini Nak Abraham?” tanya Arumi melihat cucu kesayangannya mendapatkan luka dan seluruh pakaiannya dipenuhi debu.
“Ayo Ashraf, beritahu Nenek kenapa bisa seperti ini!” perintah Abraham sambil membersihkan luka buah hatinya dengan air mengalir.
Dengan terbata-bata, Ashraf menceritakan apa yang terjadi dan mengakui kesalahannya.
“Lain kali kalau Ayah Abraham katakan, Ashraf harus dengar. Agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Ashraf paham?” tanya Arumi.
Ashraf mengangguk dengan terus menangis karena perih di kedua lututnya.
“Jangan menangis!” perintah Abraham.
Ashraf perlahan menghentikan tangisannya dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Meskipun, air matanya terus saja mengalir.
Ketika Ashraf tengah diobati oleh Ayahnya. Ema, Yogi, Herwan dan Kahfi datang berbondong-bondong untuk menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa Ashraf menangis kesakitan.
Mereka geleng-geleng kepala mengetahui penyebab jatuhnya Ashraf.
Melihat sahabatnya yang terluka, Kahfi menjadi sangat sedih.
“Jangan nangis ya Ashraf,” ucap Kahfi sambil menghapus air mata Ashraf yang terus mengalir.
Ashraf seketika itu benar-benar menghentikan tangisannya. Ia sangat malu dengan apa yang dilakukan oleh Kahfi padanya.
“Sakit sayang?” tanya Abraham ketika memberikan obat merah dibagian lutut yang terluka buah hatinya.
“Tidak, Ayah,” jawab Ashraf yang terlihat tak kesakitan. Padahal, saat itu ia tengah menahan sakit.
“Anak pintar,” puji Abraham.
Setelah membalut lutut Ashraf dengan kain kasa, Abraham pun meminta agar Ashraf tak banyak bergerak agar luka di lutut Ashraf cepat pulih.
“Assalamu’alaikum,” ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang tanpa diundang.
Ema mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara wanita yang tak ia sukai.
“Biar Ema saja yang melihatnya,” ucap Ema dan bergegas ingin mengusir wanita itu sejauh mungkin.
__ADS_1
Ema mengangkat kedua alisnya sambil memperlihatkan tatapan tak suka nya.
“Wa’alaikumsalam, mau apa kamu kesini?” tanya Ema dan kini melotot tajam ke arah Salsa.
“Yang pasti bukan ingin bertemu Mbak,” jawab Salsa sambil tertawa kecil.
“Lebih baik kamu pergi sekarang juga, daripada aku mengacak-acak rambutmu yang keriting itu,” tegas Ema.
Salsa mengernyitkan keningnya ketika mendengar Ema mengejek rambut aslinya.
“Keriting apanya ya Mbak? Rambut saya ini lurus,” balas Salsa.
Ema tertawa mengejek, buka karena rambut keriting Salsa. Akan tetapi, karena kebohongan Salsa.
“Mau kamu rebonding, smoothing atau apalah itu. Tetap saja, rambut aslimu itu keriting. Dan yang pasti, kamu ketahuan berbohong olehku,” jelas Ema.
Abraham serta yang lainnya pun keluar rumah setelah mendengar ada keributan dari luar rumah.
“Ada apa sebenarnya? Kenapa pagi-pagi begini sudah ribut saja,” ucap Arumi yang belum sadar bahwa ada Salsa dihadapannya, “Eh, Nak Salsa. Ada apa, Nak Salsa kemari?” tanya Arumi dengan sangat ramah.
Salsa tersenyum semanis mungkin dan memberikan rantang stainless yang berisi bubur ayam buatannya.
“Maaf, kalau kedatangan saya mengganggu. Saya datang kemari hanya ingin memberikan bubur ayam buatan saya,” terang Salsa malu-malu.
“Ya ampun, kenapa harus repot-repot membawakan kami bubur ayam. Sebelumnya terima kasih ya Nak Salsa,” ucap Arumi sambil menerima rantang stainless pemberian Salsa, “Ayo silakan masuk, Nak!” ajak Arumi.
“Oh, tidak usah Ibu. Saya buru-buru karena harus kerja,” balas Salsa.
“Terus, bagaimana dengan rantang ini?” tanya Arumi sambil menunjuk ke arah rantang yang sedang dipegangnya.
“Ibu tidak perlu terburu-buru memberikannya kepada saya. Kapan-kapan boleh saya mampir kesini?” tanya Salsa.
“Tentu. Tentu saja boleh,” jawab Arumi.
Melihat keakraban yang seperti itu, dada Ema sangat panas. Ingin rasanya Ema menendang bokong Salsa sejauh mungkin.
Salsa tersenyum lebar dan tak sengaja menjatuhkan jepit rambutnya.
Salsa menunduk dan dengan cepat Ema maju membelakangi para pria.
Ema tersenyum dengan penuh kemenangan, ia tahu bahwa Salsa ingin menunjukkan belahan dadanya.
“Hehe.. Bentuknya kecil seperti itu mau dipamerin,” celetuk Ema dan hanya dipahami oleh Salsa yang memang ingin menunjukkan belahan dadanya.
Salsa terlihat sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Ema yang menghina bentuk payudar* nya menurut Ema sangatlah kecil.
“Maaf semuanya, saya permisi. Assalamu'alaikum,” ucap Salsa dan tak lupa mengibaskan rambut panjangnya sebelum ia pergi meninggalkan kediaman Abraham.
“Wa’alaikumsalam!” seru mereka
“Lihatlah cara dia berjalan, sangat memuakkan,” ucap Ema dengan sangat kesal.
Abraham pun masuk terlebih dahulu dan disusul oleh yang lainnya.
Ketika Salsa datang, untungnya saja Ashraf maupun Kahfi tidak keluar. Sehingga suasana rumah itu tidak terlalu panas.
“Ya ampun, kenapa panas sekali?” tanya Ema yang terlihat berkeringat.
“Adik masih cemburu ya?” tanya Yogi pada istrinya.
“Cemburu apanya? Adik mana mungkin cemburu dengan wanita bermuka dua seperti itu,” balas Ema dan lagi-lagi masuk ke dalam kamar dengan penuh kekesalan terhadap suaminya yang menyebalkan itu.
“Wanita itu benar-benar sangat menjijikan. Bisa-bisanya dia memamerkan miliknya yang kecil itu. Untungnya aku sigap dan segera menutupinya, ahhh... benar-benar membuatku jengkel,” ucap Ema yang begitu membenci kehadiran Salsa.
Disaat yang bersamaan, Arumi yang sedang berada di dapur mulai menyajikan bubur ayam buatan Salsa.
Arumi tersenyum dan mencicipi sedikit bubur ayam buatan Salsa.
Ketika memasukkan bubur tersebut ke dalam mulutnya, Arumi terdiam sejenak dan rasa bubur ayam itu begitu tidak asing untuknya.
“Kok bubur ayam buatan Nak Salsa sama persis dengan bubur ayam buatan Pak Dirun? Apa mungkin karena aku sudah lama tidak beli bubur ayamnya Pak Dirun, jadinya mengira bahwa rasanya sama?”
Arumi tidak ingin berpikiran negatif, ia pun menyajikan bubur ayam tersebut ke atas meja dan mengajak mereka untuk menikmatinya bersama-sama.
Dari mereka bertujuh termasuk dua bocah kecil, hanya empat yang menikmatinya.
Yaitu, Herwan, Yogi, Arumi dan juga Kahfi.
“Ashraf kenapa tidak makan?” tanya Abraham yang tengah menemani buah hatinya duduk di ruang keluarga.
“Ayah, Ashraf mau roti bakar yang di dalamnya ada selai cokelat,” pinta Ashraf.
“Baiklah, tunggu sebentar. Ayah akan membuatkannya untuk Ashraf,” balas Abraham dan berlari kecil menuju dapur.
__ADS_1
Sambil menunggu roti bakar keinginan siap dinikmati, Ashraf pun memutuskan untuk menonton kartun kesukaannya yang sudah beberapa hari tidak ia tonton karena menginap di rumah sahabatnya, Kahfi.