Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Sangat Terkejut Dengan Keinginan Arumi


__ADS_3

Abraham terus memperhatikan wajah bayi mungil itu dan tak terasa waktu sudah mendekati pukul 09.00 WIB.


Dyah tertidur di sofa dan terkejut mendapati buah hatinya tidak berada disampingnya. Selang beberapa detik, barulah ia ingat bahwa bayi mungilnya sedang berada di kamar bersama dengan Paman kesayangannya.


Ketika Dyah ingin menaiki anak tangga, Abraham sudah lebih dulu keluar dari kamar dan meminta Dyah untuk segera turun dari anak tangga.


Setelah Dyah turun, barulah Abraham memberikan Asyila kecil ke gendongan Dyah.


“Terima kasih, Paman,” ucap Dyah dengan sangat bahagia karena akhirnya ia bisa tidur karena Asyila kecil dijaga oleh Pamannya.


“Sekarang pulanglah, biar Eko yang mengantarkan kamu dan Asyila pulang!”


Dyah sekali lagi mengucapkan terima kasih dan tak lupa mengucapkan salam sebelum meninggalkan rumah Pamannya.


Ketika Abraham ingin merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, tiba-tiba ponsel di saku celananya berbunyi. Abraham pun merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintarnya.


Abraham mengernyitkan keningnya ketika mengetahui bahwa Ibu mertuanya yang tengah berusaha menghubunginya.


“Sebenarnya apa yang ingin Ibu sampaikan? Kenapa Ibu bersikeras agar aku datang ke Jakarta hari ini?”


Setelah berpikir cukup lama, Abraham pun menerima telepon dari Ibu mertuanya.


“Hallo, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sapa Arumi.


“Wa'aalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham membalas salam dari Ibu mertuanya.


“Nak Abraham apa kabar? Bagaimana hari ini? Nak Abraham jadi'kan, datang ke Jakarta?” tanya Arumi memastikan.


“Insya Allah, Ibu. Kalau boleh tahu, sebenarnya ada hal penting apa yang ingin Ibu sampaikan kepada Abraham? Apa tidak bisa kita bicarakan lewat telepon?” tanya Abraham dengan sangat lembut agar Ibu mertuanya tidak tersinggung dan tidak menganggapnya sebagai menantunya yang angkuh.


“Tidak, Nak Abraham. Akan lebih baik jika Nak Abraham datang langsung kemari karena hal ini benar-benar sangat penting. Ibu tunggu ya Nak Abraham,” tutur Arumi yang sangat menantikan kedatangan menantu kesayangannya.


Dengan ragu-ragu, Abraham mengiyakan permintaan Ibu mertuanya.


“Ya sudah, Ibu tutup dulu karena masih banyak yang harus Ibu kerjakan disini. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Abraham dan seketika itu juga sambungan telepon berakhir.


Abraham mengangkat sebelah alisnya dan kini terlihat begitu serius.


“Baiklah,” ucap Abraham dengan penuh percaya diri dan terlihat senyum tipis.


Eko telah tiba setelah mengantarkan Dyah dan bayinya yang rumahnya tak jauh dari rumah Abraham.


“Eko, kenapa lama sekali?” tanya Abraham pada sopir pribadinya.


“Hehe.. hehe.. Tadi kebetulan ada katak masuk rumah dan saya pun berusaha menangkapnya, Tuan Muda Abraham. Jujur, sebenarnya saya agak geli dengan binatang yang namanya katak. Akan tetapi, saya harus pura-pura berani agar Mbak Dyah tidak menertawakan saya,” terang Eko dengan sejujur-jujurnya.


“Mama Dede!” ucap Abraham.


“Curhat dong Ma!” seru Eko yang tiba-tiba latah dan menampar mulutnya sendiri.


Abraham geleng-geleng kepala melihat tingkah sopir pribadinya dan masuk ke dalam mobil untuk segera melakukan perjalanan ke Jakarta.


Abraham menggerakkan telunjuk tangannya memberi isyarat agar Eko mendekat ke arahnya.


“Iya, Tuan Muda Abraham,” ucap Eko setengah membungkuk agar wajah majikannya terlihat olehnya.


“Kunci lah pintu rumah rapat-rapat. Kemudian, kita pergi ke Jakarta!” perintah Abraham.


“Loh, memangnya kita tidak jadi pergi ke perusahaan?” tanya Eko kebingungan.


“Tidak. Kita pergi ke Jakarta sekarang juga!” perintah Abraham datar.


Eko mengiyakan dan berlari kecil untuk mengunci pintu rapat-rapat. Setelah semuanya aman, Eko pun masuk ke dalam mobil untuk melakukan perjalanan menuju Ibu kota Jakarta yang penuh dengan polusi udara.


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Abraham terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Ada hal yang tengah Abraham pikirkan dan membuatnya terlihat menakutkan.


Disaat yang bersamaan, Arumi tengah memasak berbagai macam masakan kesukaan menantunya dengan dibantu oleh Salsa wanita yang mirip dengan putrinya, Asyila.


“Ibu, ini semua masakan kesukaan Pak Abraham?” tanya Salsa dengan melebarkan senyumnya secantik mungkin dihadapan Arumi.

__ADS_1


“Tentu saja, Ibu tahu semuanya ini dari Almarhum putri Ibu,” jawab Arumi.


Seperti yang kalian tahu, Salsa sudah mengetahui bahwa Asyila telah meninggal dunia dari Arumi yang tak lain adalah Ibu kandung Asyila.


“Kalau boleh tahu, Asyila itu bagaimana?” tanya Salsa penasaran.


“Bagi Ibu, Asyila adalah putri yang sempurna sekaligus istri dan ibu yang sempurna untuk keluarga kecilnya. Ketika Asyila tersenyum, hati kita langsung menjadi adem. Dan ketika Asyila berbicara, kita pasti akan mendengarkannya sampai tuntas. Dan terakhir, ketika Asyila sedang tertimpa musibah, Asyila selalu mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Allah. Intinya, tidak ada wanita yang bisa menyamai putri Ibu, Asyila,” terang Arumi dengan mata berkaca-kaca.


“Ibu Arumi jangan sedih, boleh Salsa memelihara Ibu?” tanya Salsa yang bersiap-siap untuk memeluk Arumi.


“Tentu saja, sini peluk Ibu!”


Keduanya saling berpelukan dan terlihat sekali bahwa Arumi begitu nyaman berada dekat dengan Salsa.


“Salsa tidak menyesal'kan, dengan keputusan Salsa kemarin?” tanya Arumi menggoda Salsa yang terlihat malu-malu.


“Ibu, hentikan. Tolong jangan dibahas lagi, bisa-bisa wajah Salsa memerah seperti tomat,” balas Salsa dengan terus menutupi kedua pipinya.


“Kamu ini sangat menggemaskan, Ibu sangat yakin kalau Nak Abraham akan menerima mu sebagai istrinya,” terang Arumi dengan senyum yang begitu berseri-seri.


“Tante Salsa, mau?” tanya Ashraf yang tiba-tiba datang dengan membawa dua butir anggur yang belum matang untuk Salsa.


Salsa tersenyum kaku dan menerima buah anggur pemberian Ashraf yang belum matang itu.


“Ayo dimakan!” pinta Ashraf agar Salsa segera memakan anggur yang susah-susah ia petik di kebun anggur milik almarhumah Erna.


Salsa memejamkan matanya dan mulai memasukkan anggur yang belum matang itu ke dalam mulutnya.


Ya ampun, ini anggur kenapa asem dan sangat tak enak. Ashraf pasti sengaja mengerjai ku. 🥵


Salsa berusaha menikmatinya dan berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan Arumi yang terus saja memandanginya.


“Ya ampun, Ashraf. Rasanya sangat segar, Tante Salsa sangat suka dengan anggur yang diambil oleh Ashraf,” puji Salsa yang tentu saja pujiannya hanyalah kepura-puraan saja.


Ashraf tertawa dan mengeluarkan banyak buah anggur yang ternyata ia simpan di dalam saku celananya.


“Ini masih banyak, Tante Salsa habiskan ya! Soalnya, Ashraf tidak suka rasanya asem dan juga kecut,” terang Ashraf sambil memasang ekspresi ketika dirinya makan buah anggur yang belum matang itu.


Sial*n, anak ini benar-benar mengerjai ku. Awas saja nanti ketika aku sudah menjadi Ibu tirinya. Aku akan memberikan bocah ini perhitungan setelah aku menjadi istri sah Abraham Mahesa.


“Ashraf tidak boleh seperti itu kepada Tante Salsa, sekarang Ashraf main ya diluar. Nenek dan Tante Salsa saat ini sedang sibuk menyiapkan makanan untuk Ayah Abraham,” terang Arumi.


“Ayah? Ayah mau kesini, Nek?” tanya Ashraf yang sangat antusias ketika mendengar bahwa Ayahnya akan datang setelah hampir 2 bulan tidak datang menemuinya.


“Iya sayang, Ayah Abraham akan datang kemari,” jawab Arumi.


“Horeee!! Sama Bunda juga ya Nek. Asik Ashraf ketemu Bunda, Ashraf ketemu Bunda,” tutur Ashraf yang sangat senang.


Arumi ingin sekali memberitahukan Ashraf bahwa yang datang hanyalah Ayahnya. Karena selamanya, Bunda yang Ashraf nanti-nantikan selama ini sudah berbeda alam.


Akan tetapi, Arumi memilih untuk membiarkan perasaan Ashraf yang saat itu seperti kupu-kupu yang terbang bebas.


“Ibu apa akan membiarkan Ashraf menantikan hal yang tidak pasti?” tanya Salsa sedih.


“Mau bagaimana lagi? Ibu tidak tega melihat Ashraf tiba-tiba menangis dan merasa sangat kehilangan. Lagipula Ashraf masih sangat kecil, sedih sedikit saja Ashraf langsung jatuh sakit. Tunggulah sampai beberapa tahun ke depan, insya Allah Ashraf pasti akan mengerti,” ucap Arumi.


Beberapa saat kemudian.


Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu oleh Arumi, Ashraf dan juga Ashraf datang juga.


Abraham tiba dengan sangat gagah dan seketika itu membuat Salsa tersipu malu-malu.


“Kamu kenapa?” tanya Arumi pada Salsa yang saat itu bersembunyi dibelakang tubuhnya.


“Salsa malu, Bu. Bolehkah Salsa pulang sekarang?” tanya Salsa yang bersiap-siap untuk meninggalkan kediaman Abraham.


“Tunggu dulu, Nak Abraham belum tahu apa yang akan kita bicarakan dengannya,” sahut Arumi.


Abraham mendekat dan tak lupa mengucapkan salam serta mencium punggung tangan Ibu mertuanya.


“Ayah!” teriak Ashraf dengan sangat heboh.


“Masya Allah, kesayangan Ayah apa kabar? Ashraf tidak nakal'kan?” tanya Abraham menginterogasi buah hatinya.

__ADS_1


“Tentu saja, tidak. Ashraf selama ini sangat pintar dan juga nurut dengan perkataan Nenek, kakeknya,” sahut Salsa berusaha lebih dekat dengan Abraham.


Salsa tersenyum manis ke arah Abraham dan hal tak terduga pun terjadi. Setelah sekian lama Salsa mencoba mendekati Abraham, ini pertama kalinya Abraham menatapnya cukup lama dan tersenyum manis ke arahnya.


“Ayo masuk ke dalam!” ajak Arumi dan sangat senang ketika melihat Abraham tersenyum pada Salsa.


Abraham menoleh kesana-kemari mencari Ayah mertuanya. Akan tetapi, Ayah mertuanya tak terlihat batang hidupnya.


“Ayah saat ini tidak ada disini, Ayahmu berada di rumah,” ucap Arumi.


Abraham memilih untuk diam dan tak bertanya lagi.


Salsa beranjak dari duduknya dan sibuk membuatkan kopi untuk Abraham Mahesa.


“Ibu, kenapa wanita itu ada disini?” tanya Abraham yang terlihat tak suka dengan kehadiran Salsa.


“Nanti Nak Abraham akan tahu sendiri apa yang sebenarnya ingin Ibu sampaikan kepada Nak Abraham dan membuat Nak Abraham harus datang kemari hari ini juga,” tutur Arumi yang semakin membuat Abraham penasaran dengan pembahasan yang katanya begitu penting untuk dibahas saat itu juga.


Salsa datang dengan membawa kopi hitam untuk Abraham.


Abraham mengernyitkan keningnya, ketika melihat Salsa menyeduh kopi untuknya.


“Sejak kapan aku menyukai kopi?” tanya Abraham datar.


Salsa terkejut dan meminta maaf karena baru tahu bahwa pria yang ia sukai tak suka minuman berkafein.


“Ibu, sekarang katakan apa yang ingin Ibu katakan. Setelah itu, Abraham akan ke Bandung karena harus melakukan perjalanan bisnis dengan rekan kerja yang ada di Lampung,” terang Abraham.


Arumi tersenyum dengan sangat aneh dan membuat Abraham penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Arumi kepadanya.


“Begini, nak Abraham. Sebenarnya, Ibu ingin kamu dan Nak Salsa menikah,” tutur Arumi yang akhirnya mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Abraham dan wanita yang mirip dengan Asyila.


“Apa!!!!” Abraham seketika itu terkejut dan tanpa sadar ia berteriak dengan suara yang cukup keras.


Arumi dan Salsa begitu terkejut mendengar teriakkan Abraham.


“Ma-maksud Ibu apa? Bagaimana Ibu bisa melakukannya hal ini terhadap Asyila?”


Saat itu Abraham terlihat sangat marah, ia tak habis pikir dengan mertuanya yang ingin menikahkan dirinya dengan seorang wanita yang baru beberapa bulan bertemu dengan mertuanya.


“Tidak. Abraham tidak mau menikahi wanita manapun. Meskipun Asyila telah berpindah alam,” tegas Abraham.


Percakapan mereka sama sekali tidak didengar dan diketahui oleh Ashraf. Dikarenakan, Arumi sebelumnya meminta salah satu bodyguard untuk mengajak Ashraf bermain dan bagaimanapun caranya, Ashraf tidak boleh masuk ke dalam rumah. Hal tersebut, semata-mata untuk menjaga kerahasian mengenai Asyila yang telah meninggal dunia dari Ashraf.


“Tolong dengarkan penjelasan Ibu baik-baik. Kamu hanya menikahi Salsa saja dan soal jatuh cinta, itu urusan belakangan. Ibu hanya ingin kedepannya Arsyad dan Ashraf ada yang mengurus. Anggap saja ini permintaan terakhir Ibu sebelum Ibu meninggal menyusul Asyila yang sudah lebih dulu berada di surga,” terang Arumi yang telah berderai air mata.


“Ibu, ini semua tidak benar. Pernikahan harus didasari oleh cinta bukan hanya status,” balas Abraham.


“Lalu, bagaimana pernikahan mu dan Asyila dulu? Bukankah ketika kalian menikah, Asyila sama sekali tak mengenalmu dan juga tak mencintaimu, Nak Abraham. Tolong pahamilah permintaan Ibu ini. Ibu juga menjadi tidak enak kepada Nak Salsa yang hampir setiap hari menemani Ashraf,” terang Arumi yang sangat butuh pengertian dari menantunya.


Abraham seketika itu tertegun mendengar keterangan dari Ibu mertuanya.


Abraham tak habis pikir dengan pemikiran Ibu kandung dari istrinya yang tiba-tiba berubah.


Arumi yang sekarang bukan Arumi yang dulu lagi.


Ada hal yang seketika itu membuat Abraham tak bisa berkata-kata lagi.


Ibu mertuanya yang begitu baik padanya, kini malah menusuknya dari belakang.


“Nak Abraham!”


Arumi menyadarkan Abraham yang tenggelam dalam lamunannya.


“Iya, Ibu,” jawab Abraham yang bingung harus merespon perkataan Ibu mertuanya yang bagaimana lagi.


“Ibu mohon, tolong penuhi permintaan Ibu dan anggap saja ini permintaan Ibu sebelum Ibu meninggal dunia,” tutur Arumi.


“Ibu, tolong beri Abraham waktu untuk memikirkan semua ini. Jujur saja, Abraham benar-benar sangat terkejut dengan apa yang Ibu katakan,” tutur Abraham dan pergi meninggalkan ruang keluarga begitu saja tanpa ada kata izin atau semacamnya.


Melihat Abraham yang pergi, Salsa langsung menangis dipelukan Arumi.


“Ibu, sebaiknya kita batalkan semua ini. Lagipula, Salsa tahu bahwa Pak Abraham tidak suka dengan Salsa karena wajah Salsa yang mirip dengan almarhum Mbak Asyila,” ucap Salsa dengan terus menangis dipelukan Arumi.

__ADS_1


“Nak Salsa tenang saja, Nak Abraham pasti akan menyetujui pernikahan ini. Ibu tahu Nak Abraham adalah pria yang tidak tegaan apalagi dengan Ibu mertuanya,” terang Arumi.


__ADS_2