Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Sedih Karena Harus Kembali Berpisah


__ADS_3

3 hari Kemudian.


Siang hari.


Asyila menitikkan air matanya ketika ia harus kembali berpisah dengan kedua orangtuanya dan juga putra keduanya, Ashraf.


Hari itu, Arumi, Herwan dan juga Ashraf harus kembali ke Jakarta. Dikarenakan, Ashraf masih harus sekolah karena tahun depan Ashraf akan masuk sekolah dasar atau disingkat SD.


“Bunda jangan nangis, yang boleh nangis itu adik bayi,” ucap Ashraf ketika melihat Bundanya menangis.


“Ashraf SD mau di Bandung apa di Jakarta?” tanya Asyila penasaran sambil berusaha menahan air matanya agar tak jatuh dari pelupuk matanya.


Ashraf hanya menggelengkan kepalanya, ia belum bisa menentukan sekolah mana yang diinginkannya.


“Iya sayang, apapun itu kami akan menuruti keinginan Ashraf. Asal Ashraf sekolah yang pintar,” tutur Asyila.


Arumi dan Herwan sudah berada di dalam mobil, tinggal Ashraf yang belum juga masuk ke dalam mobil.


“Bunda, sering-sering telepon Ashraf ya!” pinta Ashraf.


Asyila tersenyum manis dan mencium kening putra keduanya itu.


“Tentu sayang, Ayah, Bunda dan adik Akbar pasti sangat merindukan Ashraf. Oleh karena itu, kami akan selalu menghubungi Ashraf. Ok!"


“Ok, Bunda!” seru Ashraf.


Ashraf mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian dan kemudian, mencium kedua pipi adik kecilnya itu.


“Adik bayi, jangan nakal ya,” ucap Ashraf pada adik bayinya dengan sangat serius.


“Iya Kak Ashraf,” balas Abraham menirukan suara anak kecil.


Ashraf mengucapkan salam dan perlahan ia masuk ke dalam mobil.


Ashraf dan kedua orang tua Bundanya tercinta melambaikan tangan ke arah Sepasang suami istri tersebut.


“Hati-hati di jalan,” tutur Abraham dan Asyila yang tak henti-hentinya melambaikan tangan.


Setelah mereka sudah tak terlihat, Asyila tiba-tiba menangis di bahu suaminya.


Abraham mengerti dengan kesedihan Sang istri tercinta yang kembali berpisah dengan orang tua serta buah hati mereka.


“Syila, sudah jangan menangis. Tidak baik kalau terus-menerus menangis seperti ini. Kasihan bayi kita,” tutur Abraham karena kalau istri kecilnya sedih dan stres, itu sangat berpengaruh dengan ASI Sang istri.


Asyila perlahan berhenti menangis karena ia tidak boleh egois dengan dirinya sendiri.


“Ayo masuk, diluar sangat panas. Kasihan Akbar kalau lama-lama diluar,” tutur Abraham yang saat itu tengah menggendong putra keempat mereka.


Keduanya pun masuk dan memutuskan untuk bersantai-santai di ruang keluarga.


Ketika Abraham menoleh ke meja, ia teringat dengan acara pernikahan Kevin dan Rahma yang akan berlangsung pada hari Jum'at besok pagi.


“Besok kita akan berangkat ke acara pernikahan Kevin dan juga Rahma,” tutur Abraham yang baru saja ingat dengan acara pernikahan Kevin dan juga Rahma.


Asyila hanya mengiyakan dan tak berkomentar apapun.


Asyila bersandar di sofa dan rumah itu kembali sepi.


“Sekarang hanya kita bertiga ya Mas. Ibu, Ayah dan Ashraf sudah tidak disini lagi,” ucap Asyila yang terlihat sangat sedih.

__ADS_1


“Ya mau bagaimana lagi, Ashraf juga harus sekolah dan rumah itu tidak mungkin ditinggalkan kosong begitu lama. Bukankah dua Minggu lagi kita akan ke Jakarta? tanya Abraham.


“Memangnya ada apa Mas?” tanya Asyila penasaran sekaligus lupa bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan.


Abraham tersenyum sembari menciumi pipi istri kecilnya berulang kali.


“Mas, ayo dijawab pertanyaan Asyila!” pinta Asyila setengah mendesak.


“Bukankah sebentar lagi umat Islam akan bertemu dengan namanya bulan kemuliaan. Apakah Syila lupa?”


“Astaghfirullahaladzim, kenapa Asyila sampai lupa,” ucap Asyila geleng-geleng kepala.


Melihat ekspresi wajah Asyila yang sangat terkejut, membuat Abraham seketika itu tertawa. Bahkan, tawa Abraham menyebabkan bayi Akbar terbangun dari tidurnya. Dan untungnya bayi mungil itu tak sampai menangis karena ulah Ayahnya.


“Anak Ayah dan Bunda bangun ya? Haduh... Maafin Ayah ya sayang,” tutur Abraham meminta maaf kepada bayi mungil yang terus menatap ke Abraham.


Bayi mungil itu hanya diam sambil menggerakkan mulutnya seakan-akan tengah menikmati ASI.


Melihat buah hatinya yang seperti itu, Abraham pun memberikan bayi mungil itu kepada Sang istri.


“Sepertinya Akbar haus,” tutur Abraham.


Asyila tersenyum dan perlahan menggendong bayi kecilnya.


“Sayang, Bunda hari ini sedang sedih. Akan tetapi, melihat wajah Akbar yang lucu ini Bunda tidak lagi sedih. Terima kasih sayang, sudah hadir di kehidupan Ayah dan Bunda.”


“Syila, Mas ke kamar dulu ya. Mau mengambil laptop,” tutur Abraham.


“Baik, Mas,” jawab Asyila.


Sembari menunggu suaminya kembali ke ruang keluarga, Asyila pun memutuskan untuk menonton televisi.


“Apa masih banyak pekerjaan kantor yang belum selesai?” tanya Asyila penasaran karena suaminya hampir setiap malam pasti tidur larut malam karena sibuk dengan laptop tersebut.


“Insya Allah hari ini selesai,” jawab Abraham sambil berkutat dengan laptop miliknya.


“Aamin, semoga cepat selesai ya Mas.”


“Aaminn, terima kasih istriku,” tutur Abraham dan memberikan kecupan manis di pipi kiri Sang istri.


Asyila tersipu malu dengan kecupan manis yang diberikan oleh suaminya.


Malam hari.


Asyila tersenyum lebar ketika melihat banyaknya kain dengan berbagai macam warna ada dihadapannya. Kain-kain tersebut ternyata Abraham beli untuk Sang istri yang ingin kembali membuka usaha dalam bidang pakaian muslim.


“Masya Allah, terima kasih Mas Abraham,” tutur Asyila yang begitu bahagia dengan kain-kain dihadapannya.


“Bagaimana, apakah Syila menyukainya?” tanya Abraham penasaran.


Asyila berbalik dan seketika itu melompat ke dalam pelukan suaminya.


“Asyila sangat suka Mas. Sangat suka, terima kasih ya Mas. Asyila pasti akan bersemangat untuk membuat pakaian-pakaian muslim,” sahut Asyila dengan penuh semangat.


“Meskipun begitu, jangan lupa dengan bayi kita yang sangat membutuhkan sosok Bundanya,” balas Abraham mengingatkan Sang istri.


“Mas tenang saja, insya Allah Ashraf tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dari Asyila. Saat Asyila sedang sibuk, Asyila tidak akan berjauhan dari Ashraf. Sekali lagi terima kasih ya Mas!”


Abraham memeluk istrinya dengan penuh cinta dan berbisik di telinga istri kecilnya dengan kata-kata semangat agar Sang istri bisa terus berkarya meskipun hanya di rumah dan sedang mempunyai bayi mungil.

__ADS_1


Asyila menangis terharu dan kembali mengucapkan terima kasih atas dukungan dari suaminya.


“Sekarang Syila naik ke atas, kasihan bayi Akbar sendirian di dalam kamar!” perintah Abraham.


“Lalu, bagaimana dengan semua kain-kain yang baru datang ini?” tanya Asyila.


“Soal kain-kain ini biar jadi urusan Mas. Sekarang Syila naik lah ke atas!”


“Baik, Mas. Asyila naik dulu ya.”


Abraham memandangi punggung istri kecilnya yang perlahan tak terlihat lagi. Lalu, ia dengan telaten menata kain-kain tersebut yang akan digunakan oleh istri kecilnya dalam membuat pakaian muslim.


“Selamanya, suamimu ini pasti akan mendukungmu Syila ku,” tutur Abraham bermonolog.


Di dalam kamar, Asyila kembali menitikkan air matanya.


Baru saja dirinya berkumpul dengan keluarga, sekarang sudah kembali berpisah.


“Sayang, Bunda cengeng ya? Jangan heran ya sayang, mungkin karena terlalu lama berpisah dan sekalinya berkumpul cuma sebentar,” tutur Asyila pada Akbar yang saat itu belum juga tertidur.


Bayi itu menggerakkan kaki serta tangannya secara bersamaan. Seakan-akan ingin mengatakan bahwa Bundanya harus semangat dan tak boleh bersedih lagi.


“Akbar mau bilang sesuatu sama Bunda? Akbar mau mengatakan kalau Bunda tidak boleh bersedih, begitu sayang?” tanya Asyila dan lagi-lagi Akbar mengerakkan kaki serta tangannya secara bersamaan.


Asyila tertawa kecil dan mengatakan kepada bayi mungilnya kalau ia tidak akan menangis lagi.


“Lihat, Bunda sudah tidak menangis lagi. Akbar kalau tidak di bedong bergerak terus, senang ya sayang kalau tidak di bedong?” tanya Asyila dan menciumi pipi bayi mungilnya dengan sangat gemas.


Beberapa menit kemudian.


Abraham akhirnya masuk ke dalam kamar setelah menata semua kain-kain milik istri kecilnya ke dalam ruang kerja Sang istri.


Pria itu tidak langsung mendekati istri dan juga buah hati mereka. Akan tetapi, masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan serta kakinya agar aman jika bersentuhan dengan kedua orang yang sangat dicintainya.


Usai mencuci tangan dan kaki, Abraham memutuskan untuk mengganti pakaiannya dan setelah itu kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil air wudhu.


Melihat suaminya yang bolak-balik kamar mandi, Asyila terheran-heran dan sedikit tertawa.


Akhirnya Abraham keluar dan ia pun merebahkan diri di tempat tidur.


“Ada yang aneh ya dengan wajah Mas?” tanya Abraham sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri.


“Tidak ada, hanya Mas sedikit lucu karena wara-wiri masuk kamar mandi,” tutur Asyila.


“Oh, jadi itu alasannya,” sahut Abraham geleng-geleng kepala.


Asyila memanyunkan bibirnya ketika mendengar sahutan dari suaminya yang begitu singkat dan terdengar cuek.


Abraham tersenyum dan mengerti alasan dari manyunnya Sang istri.


“Sini Mas peluk.”


Abraham melingkarkan kedua tangannya dan memeluk istri kecilnya dengan sangat erat.


“Mas genit banget,” celetuk Asyila.


“Biarin. Begini-begini juga Asyila suka,” balas Abraham.


Abraham ❤️ Asyila

__ADS_1


__ADS_2