Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Abraham Milikku Dan Bukan Milikmu


__ADS_3

Usai menikmati mie ayam, Abraham tak langsung pulang ke rumah. Ia ingin membawa istri kecilnya ke suatu tempat yang mungkin belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.


“Mas, kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju Perumahan Absyil,” tutur Asyila yang berpikir bahwa suaminya lupa jalan pulang.


“Syila tenang saja, ada tempat yang harus kita kunjungi dan Mas berharap Asyila suka tempat itu,” balas Abraham dengan suara sedikit keras agar bisa di dengar oleh istri kecilnya.


Asyila sangat penasaran dengan tempat yang dimaksud oleh suaminya. Ia pun tersenyum dan memeluk perut suaminya dengan sangat erat.


Disaat yang bersamaan, seorang wanita yang tengah mengendarai mobil mengikuti pasangan Abraham dan Asyila yang tengah berkencan.


“Tidak. Abraham milikku dan bukan milikmu!” Wanita itu berteriak sekeras mungkin di dalam mobil dengan terus membuntuti motor tepat di depannya.


Abraham mempercepat laju motornya agar segera sampai di tempat tujuan.


“Mas, jangan ngebut!” pinta Asyila semakin mempererat pelukannya.


“Tenang saja, Syila pegangan yang kencang. Kurang dari 5 menit kita akan sampai di tempat tujuan,” sahut Abraham.


“Baiklah, Mas,” balas Asyila yang kini memejamkan matanya dengan terus memeluk suaminya.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang hampir mirip seperti pasar malam dan ternyata tempat tersebut dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang menghabiskan malam Minggu mereka bersama orang terkasih.


“Mas, apa kita masih pantas ke tempat seperti ini? Maksud Asyila, yang datang kesini adalah para muda-mudi dan sepertinya tidak cocok dengan kita yang sudah berumur,” terang Asyila.


“Berumur yang bagaimana? Maksud Asyila, Mas yang sudah berumur?” tanya Abraham sembari menunjuk dirinya sendiri.


Asyila tertawa lepas sembari memukul dada suaminya berulang kali.


“Mas ini bisa saja, ternyata menyadari juga kalau Mas sudah tua,” sahut Asyila dan memeluk suaminya agar tidak ngambek. “Mas masih cocok kalau dikatakan umur sekitar 28 tahun,” imbuh Asyila.


“Benarkah? Kalau Asyila yang mengatakan, Mas 100% percaya,” ujar Abraham.


“Mas ini pintar ya, ayo kita jalan-jalan sebentar!” ajak Asyila.


Keduanya berjalan dengan saling menggenggam erat tangan satu sama lain, layaknya sepasang pengantin baru.


“Mas, terima kasih sudah mengajak Asyila kemari.”


“Bagaimana, apakah Asyila suka? Mas berharap Asyila suka dengan kencan kita ini, meskipun Mas sudah tidak muda lagi.”


“Mas kenapa bicara seperti itu? Lihatlah, para wanita di sekeliling kita. Dari tadi mereka itu memperhatikan Mas Abraham, apakah Mas tidak sadar?”


“Apakah Asyila juga tidak sadar, kalau para pria sedang memperhatikan Asyila?” tanya Abraham.


Asyila mengernyitkan keningnya dan menggelengkan kepalanya.


“Untuk apa mereka memperhatikan Asyila?” tanya Asyila terheran-heran.


“Karena Asyila cantik,” jawab Abraham.


Asyila tertegun dan seketika itu mendongak menatap wajah suaminya.


“Mas jangan membuat Asyila menjadi salah tingkah, Asyila malu Mas,” tutur Asyila sembari menutup wajahnya dengan hijab panjang miliknya.


“Jangan ditutup, kalau ditutup bagaimana Mas bisa melihat wajah Asyila yang cantik?” tanya Abraham.


“Ya nanti di rumah Mas bisa melihat wajah Asyila sepuasnya,” balas Asyila.


Abraham tertawa kecil mendengar balasan dari istri kecilnya yang semakin membuat Abraham gemas ingin mencium wajah Sang istri tercinta.

__ADS_1


“Mas, Asyila kebelet pipis. Toilet dimana ya Mas?” tanya Asyila.


Saat itu juga Abraham panik dan menoleh ke arah sekitar barangkali ada toilet terdekat.


“Sepertinya disana,” ucap Abraham menunjuk ke sisi selatan.


“Mas Abraham diam disini ya, Asyila akan pergi ke toilet!”


Abraham dengan patuh mengiyakan permintaan istri kecilnya dan akan menunggu Sang istri sampai kembali padanya.


Asyila berlari kecil dan ternyata bukan toilet yang ia datangi. Melainkan sebuah warung yang sudah tutup.


“Haduh, dimana ya?” Tan Asyila bermonolog sembari menoleh ke arah sekitar.


Asyila terus berjalan dan terus berjalan, sampai akhirnya ia melihat sebuah toilet yang jaraknya cukup jauh.


Ia pun berlari kecil untuk segera membuang air kecil.


Beberapa menit kemudian.


Asyila tersenyum lega karena akhirnya ia bisa membuang air kecil. Ia pun melenggang pergi untuk segera menemui suaminya yang sedang menunggu dirinya.


Saat Asyila hendak berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang mendekap dirinya dan perlahan ia kehilangan kesadaran setelah mencium obat bius.


“Teteh, Aa' tolong bantu kembaran saya pingsan!” pinta wanita yang berpura-pura panik, seakan-akan Asyila pingsan karena suatu hal.


“Ini kenapa bisa pingsan?” tanya sah satu dari mereka sembari membantu mengangkat Asyila masuk ke dalam mobil.


“Biasa, saudara kembar saya ini punya penyakit serius,” ujarnya.


Wanita itu tak lain tak bukan adalah Salsabila alias Ratih. Wanita pasien sakit jiwa yang sangat terobsesi dengan sosok Abraham Mahesa.


Disaat yang bersamaan, Abraham mulai merasa khawatir karena hampir 20 menit istri kecilnya tak kunjung kembali. Abraham mencoba menghubungi nomor telepon istri kecilnya, ternyata ponselnya tak dibawa karena yang menerima sambungan telepon itu adalah Keponakannya, Dyah.


“Hallo, Assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam, ada apa Paman?” tanya Dyah.


Saat itu juga Abraham mengakhiri sambungan telepon dan berlari secepat mungkin menuju toilet untuk menjemput istri kecilnya.


Abraham telah sampai ke toilet pertama dan ternyata tidak ada siapapun. Ia pun berlari mencari toilet lain barangkali istri kecilnya berada disana.


Abraham semakin panik ketika tak menemukan istri kecilnya, tak kehilangan akal ia pun meminta kepada pengelola tempat tersebut untuk mencari keberadaan istri tercintanya.


Hampir 30 menit lamanya, keberadaan Sang istri belum juga ditemukan.


Saat itu juga Abraham menyadari bahwa istri kecilnya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Abraham meminta para petugas untuk memeriksa cctv dan dugaan Abraham sangat tepat. Bahwa istri kecilnya tengah diculik dan yang membuat Abraham tak habis pikir ternyata yang menculik istri kecilnya adalah wanita yang paling dibenci oleh Abraham.


Wanita itu tak ada kapoknya, bagaimana bisa dia keluar dari rumah sakit jiwa?


Abraham berlari menuju area parkir untuk melaporkan penculikan tersebut kepada pihak berwajib sembari memikirkan tempat yang menurut Abraham bisa disinggahi oleh Salsa alias Ratih tersebut.


Beberapa jam kemudian.


Plak!!!! Sebuah tamparan keras melayang tepat diwajah Asyila dan membuat Asyila seketika itu sadar dari pingsannya.


Asyila perlahan membuka matanya dengan kepala yang masih pusing karena bius yang ia hirup.

__ADS_1


“Bagus, ternyata kamu sudah bangun,” ucap Salsa.


“Bu-bukankah kamu Salsa? Yang begitu terobsesi dengan wajahku,” tutur Asyila ketika menyadari bahwa wanita dihadapannya adalah penyebab dirinya trauma dengan laut sekaligus wanita yang hampir membuat dirinya serta bayi yang dikandungnya saat itu mati tenggelam.


“Cukup!” teriak Salsa seperti orang kerasukan. “Kamu yang terobsesi dengan wajah cantikku ini!” teriak Salsa kembali.


Asyila menoleh ke arah sekitar dan melihat dua orang pria yang sedang berdiri sembari memperhatikan dirinya yang tengah terikat.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau ingin mengambil suamiku? Selamanya kau tidak akan mampu!” tegas Asyila.


Plak!!!! Lagi-lagi Salsa memberikan tamparan keras atas apa yang dikatakan oleh Asyila.


“Kalian berdua cepat keluar dari sini, aku ingin menyiksa wanita ini!” Perintah Salsa.


Kedua pria suruhannya pun bergegas pergi meninggalkan Salsa bersama dengan Asyila.


“Apa yang kau inginkan dengan menculik serta membawaku kesini?” tanya Asyila dengan pipi yang panas akibat tamparan keras dari Salsa.


“Apa yang aku inginkan tentu saja kamu tahu. Aku tegaskan sekali lagi, Abraham milikku dan bukan milikmu,” tegas Salsa.


“Apakah penyakitmu begitu parah, sampai-sampai kamu berusaha merusak kebahagiaan orang lain? Mau bagaimanapun, Mas Abraham tetaplah suaminya dan Ayah dari anak-anak kami,” tegas Asyila yang sama sekali tidak takut dengan wanita dihadapannya.


“Kalau saja kamu mati, sudah pasti aku dan Abraham telah menikah!”


“Kau pengecut, kau hanya bisa mengikatku seperti ini. Jika kamu berani, lepaskan ikatan ini dan biar aku tunjukkan bagaimana cara memukul yang benar,” tutur Asyila.


“Aku Salsa dan kamu Asyila. Hahaha... Haha... Mau bagaimanapun, kamu akan kalah di tanganku. Hanya karena kamu berhasil lolos dari maut, tak menutup kemungkinan bahwa malam ini malam terakhir untukmu!” teriak Salsa.


“Salsa, kamu terlalu banyak bicara. Bisakah kamu membuktikannya?” tanya Asyila memancing Salsa agar segera melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.


“Sebelum aku melepaskan kamu, sebaiknya aku memberikan pelajaran dulu,” balas Salsa.


Salsa mencengkram dagu Asyila dengan tersenyum jahat. Kemudian, dengan paksa Salsa melepaskan hijab yang dikenakan oleh Asyila. Setelah itu, merobek hijab milik Asyila menjadi dua.


“Apa yang kamu lakukan?” Asyila bertanya dengan setengah berteriak. “Seharusnya kamu tidak melakukan hal sehina ini, bagaimana bisa kamu melepaskan hijab yang jelas-jelas menutup aurat ku,” imbuh Asyila seakan-akan ia merasa telah ditelanj*ngi serta dipermalukan.


“Kenapa? Mau nangis? Menangis lah yang kencang, sekencang mungkin barangkali Abraham datang dan merasa jijik dengan kamu. Setelah Abraham jijik, dia akan menyukai aku yang cantik ini,” ujar Salsa dengan penuh percaya diri.


“Kamu ingin aku mati? Kalau begitu, lepaskan aku!” pinta Asyila yang tak sabar ingin memberikan pelajaran kepada Salsa.


Salsa tertawa lepas dan menarik Ciput ninja yang masih bersarang di kepala Asyila untuk menutupi rambutnya.


“Tidak secepat itu Asyila. Aku masih ingin bermain-main denganmu. Setelah aku selesai bermain-main denganmu, aku akan melepaskan tali itu,” sahut Salsa dengan terus menyeringai lebar.


Salsa mengangkat sebelah alisnya dan mengambil sebuah tali pinggang yang sebelumnya sudah disediakan oleh Salsa untuk menyiksa Asyila.


“Kamu tahu ini apa? Sepertinya akan sangat seru kalau tali pinggang ini aku arahkan kepada kamu,” ucap Salsa dan lagi-lagi ia tertawa.


“Kamu memang sudah gila, Salsa. Tidak seharusnya kamu menjadi gila seperti ini,” ujar Asyila.


“Diam!” perintah Salsa dengan berteriak. “Sudah aku bilang, Abraham milikku dan bukan milikmu. Jadi, yang gila itu kamu dan bukan aku hahaha.. hahaha...”


Asyila meneteskan air matanya, ia ingin segera pulang karena tak ingin suaminya khawatir, terlebih lagi dia masih punya bayi yang harus disusui.


Tassss!!!!! Tasssss!!!! Tasssss!!! Suara tali pinggang yang memecut tubuh Asyila.


Asyila berusaha untuk tak berteriak, karena pecutan tersebut tidak terlalu sakit. Mungkin, karena gamis yang Asyila kenakan cukup tebal sehingga mengurangi rasa sakit dari apa yang dilakukan oleh Salsa terhadap dirinya.


“Oh, masih kuat ya rupanya. Aku jamin setelah ini, kamu akan memohon-mohon agar aku tidak menyiksa kamu,” tutur Salsa.

__ADS_1


__ADS_2