
Arsyad mendongakkan kepalanya dan berjalan mendekati adiknya yang menangis karena ulahnya.
“Adik Ashraf, maafkan Kak Arsyad ya. Kak Arsyad tidak akan membuat Ashraf menangis lagi, Ashraf mau, 'kan? Memaafkan Kakak!” Arsyad mengulurkan tangannya dan berharap adiknya mau memaafkan dirinya.
Ashraf menggembungkan pipinya dan menerima permintaan maaf dari kakaknya, Arsyad.
“Jangan diulangi lagi ya Kak Arsyad!” pinta Ashraf.
Arsyad mengiyakan dan merekapun membuat janji kelingking agar kedepannya tak terjadi hal seperti itu lagi.
Abraham tersenyum senang dan meminta keduanya untuk kembali duduk berdekatan dengannya.
“Nah, sekarang sudah berbaikan. Ayo kita memancing, siapa yang paling banyak akan Ayah beri hadiah,” tutur Abraham pada kedua buah hatinya.
“Hadiahnya apa Ayah?” tanya Ashraf yang terlihat mulai semangat kembali setelah sebelumnya ia menangis histeris.
“Kalau itu tentu saja rahasia, yang penting sekarang kita memancing dan kita lihat nanti siapa yang paling banyak dapat ikannya itulah pemenangnya,” terang Abraham.
“Pasti Ashraf yang menang,” sahut Ashraf dengan penuh percaya diri.
“Kak Arsyad pun ingin menang, adik Ashraf,” sahut Arsyad yang juga penuh percaya.
“Sudah jangan ribut, ayo kita mulai. 1, 2, 3 Mulai!!!”
Abraham, Arsyad dan juga Ashraf dengan kompak melempar umpan mereka dengan sangat bersemangat.
Disaat yang bersamaan, Herwan berteriak kegirangan karena umpan miliknya telah disambar oleh ikan lele.
“Ayah, Kakek dapat ikan,” ucap Arsyad menunjuk ke arah Kakeknya yang berhasil mendapatkan ikan Lele yang ukurannya cukup besar.
“Ayah juga tidak mau kalah, pokoknya Ayah harus mendapatkan ikan yang banyak,” pungkas Abraham dan terlihat sangat serius menatap ke arah kolam.
“Ashraf juga tidak mau kalah!” seru Ashraf yang juga fokus menatap ke arah umpan miliknya.
“Arsyad juga harus menang!” seru Arsyad yang tidak ingin kalah.
Disaat yang bersamaan, Asyila dan bayi mungilnya tengah berada di dalam kamar. Entah kenapa Asyila merasa sangat mengantuk, kemungkinan karena dirinya kurang turun semalam dan harus bolak-balik menyusui bayi mungilnya.
“Sayang, kok Bunda tiba-tiba ingin tidur ya? Bunda tidur sebentar ya sayang, setengah jam saja,” tutur Asyila dan perlahan ia memejamkan matanya untuk segera tidur. Meskipun, hanya sebentar saja.
Bayi mungilnya yang berada di samping Asyila hanya diam sambil menggerakkan tangan serta kakinya secara bersamaan. Sekitar 5 menit kemudian, bayi itupun terlelap disamping Sang Bunda tercinta.
“Bela sedang ngapain disini?” tanya Arumi melihat Bela yang sedang duduk seorang diri di halaman belakang rumah.
“Bela hanya ingin duduk disini, Nek,” jawab Bela dengan tersenyum lebar.
“Bela, sebentar lagi lebaran. Nenek akan membelikan pakaian yang bagus untuk Bela,” tutur Arumi yang sudah berada di samping Bela dan tengah menyentuh kedua bahu Bela.
“Sungguh?” tanya Bela memastikan dengan tatapan penuh harap.
“Tentu saja sayang, Nenek akan membelikan pakaian keinginan Bela,” jawab Arumi dan tersenyum lebar.
“Alhamdulillah, terima kasih Nenek Arumi!”
“Berterima kasihnya nanti saja, kalau Nenek sudah membelikan Bela pakaian baru. Oya, Nenek ikut duduk disini ya menemani Bela. Sepertinya seru juga duduk disini,” ujar Arumi yang ingin menemani Bela agar gadis kecil yang duduk tepat disampingnya tak ada pemikiran sedih sama sekali.
“Iya, Nek,” balas Bela yang sangat senang ditemani oleh Arumi.
Arumi merangkul lengan Bela dengan penuh kasih sangat.
__ADS_1
“Jadi, begini ya rasanya disayang sama Nenek,” tutur Bela yang selama ini tak pernah mengetahui sosok Nenek dan Kakeknya.
“Kalau Bela mau, Bela anggap saja Nenek Arumi seperti Nenek kandung Bela!”
“Boleh, Nek? Apa tidak kena marah Arsyad dan juga Ashraf?” tanya Bela dengan tatapan ragu.
“Tentu saja Boleh, merekapun pasti senang karena cucu Nenek bertambah satu lagi,” jawab Arumi.
Bela menangis terharu, ia benar-benar sangat bahagia sampai tak bisa berkata-kata lagi dengan apa yang sudah ia dapatkan dari keluarga tersebut.
Perhatian, kebahagiaan, kenyamanan dan kasih sayang akhirnya sudah ia dapatkan.
Dalam hatinya, ia tak akan pernah melupakan kebaikan dari Abraham, Asyila serta yang lainnya yang telah menerima dirinya dengan senang hati.
“Bela sayang, sini peluk Nenek!” pinta Arumi dan menarik tubuh Bela kedalam pelukannya.
“Bela sayang sama Nenek,” tutur Bela mengungkapkan isi hatinya.
“Nenek pun sangat sayang dengan Bela,” balas Arumi yang juga mengungkapkan isi hatinya.
Tak jauh dari mereka, Herwan menyaksikan bagaimana kedekatan istri dan gadis kecil tersebut.
Herwan berharap, bahwa hidup Bela kedepannya menjadi lebih baik lagi dari sekarang.
Herwan pun menepuk dahinya sendiri dan bergegas untuk kembali ke pemancingan ikan Lele.
Beberapa saat kemudian.
Asyila terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara adzan, ternyata ia sudah tertidur selama 1 jam lebih.
Asyila terduduk dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan menoleh sekilas ke arah bayinya yang kebetulan saat itu masih terlelap.
Asyila turun dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar terlihat segar.
Setelah cukup lama di dalam kamar mandi, Asyila pun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan disaat itu juga Abraham masuk ke dalam kamar.
“Mas sudah pulang ternyata, bagaimana hasil pancingannya?” tanya Asyila pada Suamimu yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Abraham melangkahkan kakinya mendekati kamar mandi sebelum dirinya menjawab pertanyaan dari istri tercintanya itu.
“Alhamdulillah, ikan Lele yang kami dapat cukup banyak. Mas ke kamar mandi dulu ya, tubuh Mas bau ikan,” tutur Abraham dan seketika itu masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian, menutup serta mengunci rapat-rapat pintu kamar mandi agar istri kecilnya tak mencium bau amis ikan.
Asyila menutup hidungnya saat bau amis samar-samar tercium oleh hidungnya.
“Pantas saja Mas Abraham cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi,” celetuk Asyila.
Asyila mengatur napasnya dan memutuskan untuk keluar dari kamar. Akan tetapi, sebelum keluar dari kamar Asyila merapikan rambutnya terlebih dahulu. Kemudian, mengenakan hijab miliknya.
“Bela sayang, Arsyad dan Ashraf mana?” tanya Asyila ketika tak sengaja berpapasan dengan Bela.
“Hhmm... Arsyad dan Ashraf sedang mandi, Aunty,” jawab Bela.
“Bela mau ngapain sayang? Ayo temani Aunty menonton televisi!” ajak Asyila karena merasa bosan di dalam kamar dan membutuhkan sedikit hiburan.
“Baik, Aunty!” seru Bela dan mengikuti langkah kaki Asyila menuju ruang keluarga.
Arumi tiba-tiba menghampiri Asyila dengan wajah sedikit kesal.
“Ibu kenapa cemberut begitu?” tanya Asyila ketika melihat wajah Ibunya, Arumi.
__ADS_1
“Nak Abraham, Arsyad dan juga Ashraf sudah kembali. Akan tetapi, Ayahmu dan Pak Udin belum juga kembali dari pemancingan. Apa mereka tidak tahu kalau setengah jam lagi akan memasuki sholat Dzuhur, beginilah kalau para pria sudah asik memancing. Mereka pasti lupa waktu,” terang Arumi.
Arumi tak tahu, bahwa suaminya telah kembali dan sedang berada di depan tengah mencuci tangan serta kaki.
“Assalamu’alaikum,” ucap Herwan dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Ibu jangan kesal begitu, lihatlah Ayah sudah datang,” tutur Asyila.
Arumi pun melenggang pergi menghampiri suaminya yang baru saja pulang dari pemancingan.
“Ayo Bela, kita ke ruang keluarga!” ajak Asyila.
Setibanya di ruang keluarga, Asyila meminta Bela untuk menghidupkan televisi dan merekapun menonton acara kartun seperti biasanya.
Bela tertawa lepas ketika melihat adegan yang begitu lucu dan patut untuk ditertawakan.
Ya Allah, melihat Bela tertawa seperti ini saja sudah membuat Hamba senang. Tolong Ya Allah, semoga Bela terus seperti ini hingga ia dewasa nanti.
Arsyad dan Ashraf yang baru selesai mandi bergegas mengenakan pakaian mereka. Kemudian, mereka dengan penuh semangat keluar dari kamar untuk memberitahukan hasil memancing mereka yang cukup banyak.
“Bunda!” panggil Arsyad dan juga Ashraf.
“Bunda di ruang tamu, Nak!” seru Asyila setengah berteriak agar terdengar oleh keduanya.
Kakak beradik tersebut dengan cepat berlari menghampiri Bunda mereka di ruang keluarga.
“Bunda, tadi Ashraf memancing ikan dan ikannya banyak sekali,” terang Ashraf.
“Arsyad juga Bunda dan ikan yang paling banyak memancing adalah Ashraf, Bunda. Karena Ashraf yang paling banyak, besok adik Ashraf akan mendapatkan hadiah dari Ayah,” sahut Arsyad yang menceritakan hasil memancing Ashraf.
“Arsyad tidak iri dengan adik Ashraf karena mendapatkan hadiah dari Ayah?” tanya Asyila memastikan.
“Tidak, Bunda. Bagaimanapun Arsyad harus sportif,” jawab Arsyad dengan sangat santai.
“Sini sayang, cium pipi Bunda!” pinta Asyila.
Arsyad mendekat dan menciumi pipi kiri serta kanan Bundanya.
“Sekarang hasil kalian memancing mana?” tanya Asyila penasaran.
“Ada Bunda, dibelakang. Ayah yang meletakkannya di belakang,” jawab Arsyad dengan senyum cerianya.
“Nanti Bunda ingin melihat ikan hasil pancingan kalian, sekarang duduk disini dan temani Bunda menonton kartun!” pinta Asyila.
Arsyad dan Ashraf pun duduk dengan saling bersebelahan satu sama lain.
Disaat yang bersamaan, Abraham telah selesai membersihkan dirinya dan setelah itu ia mengenakan baju Koko serta sarung untuk bersiap-siap melaksanakan sholat Dzuhur di Masjid.
“Arsyad, Ashraf! Ayo ke masjid!” ajak Abraham.
Keduanya dengan kompak memanyunkan bibir mereka karena kedatangan Ayahnya sedikit merusak suasana.
“Kenapa wajahnya malah kelihatan sebal begitu?” tanya Abraham terheran-heran.
Keduanya dengan kompak tak menjawab pertanyaan dari Ayah mereka, kemudian berjalan mendekat untuk segera berangkat menuju Masjid.
“Arsyad dan Ashraf lupa ya tidak pamit dengan Bunda?” tanya Asyila yang mencoba mengingatkan keduanya.
Arsyad dan Ashraf seketika itu juga berbalik untuk berpamitan sekaligus mencium punggung tangan Bunda mereka sebelum pergi ke Masjid.
__ADS_1