Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Arsyad Dan Ashraf Tak Bersemangat


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Waktu bagi Arsyad berlibur di hari lagi akan berakhir. Dan saat itulah Abraham akan kembali berpisah dengan kedua buah hatinya bersama Sang istri.


Rumah yang dulu dipenuhi dengan kebahagiaan, sebentar lagi akan menjadi sangat sunyi dan tak berarti.


Setiap harinya, Abraham berharap agar kedepannya ia bisa melanjutkan hidup dan membimbing anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Meskipun, kadangkala Abraham takut melewatinya seorang diri tanpa ada sosok penyemangat yaitu, sang istri tercinta.


Belum lagi saat Arsyad dan Ashraf yang kini tiba-tiba menjadi anak pendiam. Keduanya tidak seperti dulu yang begitu semangat dan sangat periang. Kini, yang terlihat hanyalah dua anak kecil yang kerjaannya hanya duduk, makan, menonton televisi tanpa adanya canda tawa dari mereka berdua.


Sebenarnya, Abraham sudah berulang kali mencoba menghibur keduanya. Akan tetapi, hasil tetaplah sama. Mereka tetap saja diam dan tak berisik seperti yang lalu.


“Assalamu’alaikum,” ucap Kahfi sambil membawa sebuah rantang stainless yang entah isinya apa.


Abraham yang mendengar ucapan salam tersebut, segera menghampiri suara itu.


“Wa’alaikumsalam, loh ada Kahfi. Masuk sayang!” Dengan senyum lebar, Abraham mempersilakan Kahfi untuk masuk.


Kahfi dengan semangat masuk ke dalam dan menyerahkan rantang stainless tersebut kepada Abraham.


“Apa ini Nak?” tanya Abraham sambil menerima rantang tersebut.


“Bubur kacang hijau sama semur jengkol dari Mama,” jawab Kahfi sambil tersenyum malu-malu ketika mengatakan semur jengkol.


Abraham tertawa kecil dan membelai lembut rambut Kahfi.


“Terima kasih ya sayang. Ayo Kahfi duduk dulu, Ayah akan mencuci rantang ini terlebih dahulu biar bersih,” ucap Abraham sambil terus tersenyum ramah kepada Kahfi, buah hati dari Ema dan juga Yogi.


“Tidak usah Ayah. Kata Mama Ayah Abraham tidak usah mencucinya,” balas Kahfi mengikuti perintah dari Mamanya agar Abraham tak perlu mencuci rantang stainless itu.


“Masya Allah,” puji Abraham dan tetap melanjutkan keinginannya untuk mencuci rantang stainless tersebut agar Ema tak perlu mencucinya kembali.


Kahfi yang tengah duduk di ruang tamu, saat itu ingin sekali menemui Arsyad dan juga Ashraf. Tak berpikir panjang, bocah itu beranjak dari duduknya dan mencoba mencari keberadaan Arsyad serta Ashraf.


Ia terus berjalan menaiki anak tangga dan akhirnya menemui keduanya yang saat itu tengah duduk bersandar di dinding sambil memandangi sebuah frame foto.


Kahfi menunduk sedih dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendekati keduanya.


Ketika Kahfi menuruni anak tangga, Abraham memergoki Kahfi yang terlihat sedih.


“Kahfi dari atas? Kenapa sedih?” tanya Abraham dan menggendong tubuh Kahfi.


Kahfi tak banyak bicara, ia hanya mengatakan bahwa dirinya sedih karena tak bisa main dengan Arsyad dan juga Ashraf.


Hal tersebut bukan karena Abraham melarangnya bermain. Akan tetapi, karena kedua buah hatinya masih berduka dan belum bisa sepenuhnya menerima kematian Bunda kesayangan mereka.


“Kahfi jangan sedih lagi ya. Ayah akan berusaha membuat mereka bisa bermain lagi dengan Kahfi. Kahfi setuju?”


Kahfi tersenyum dan mengiyakan perkataan Abraham.


“Bagus, kalau begitu Ayah kasih ini untuk Kahfi!” Abraham tersenyum lebar dan memberikan es krim dengan rasa strawberry kepada Kahfi.


Kahfi tersenyum lebar dan tak lupa mengucapkan terima kasih atas es krim pemberian Abraham untuknya.


“Sekarang Kahfi jangan sedih lagi dan terima kasih untuk bubur kacang serta semur jengkol nya. Ayah, Kak Arsyad dan juga Ashraf pasti akan menghabiskannya,” tutur Abraham.


Kahfi tersenyum dan pamit pulang.


“Assalamu’alaikum,” ucap Kahfi dan berjalan meninggalkan kediaman Abraham.


“Wa’alaikumsalam,” balas Abraham sambil terus melambaikan tangannya.

__ADS_1


Setelah Kahfi benar-benar tak terlihat lagi, Abraham pun memutuskan untuk segera menemui kedua putra kecilnya yang tentu saja masih bersedih.


“Arsyad, Ashraf! Ayo turun, kita makan siang sama-sama!” ajak Abraham.


Arsyad menoleh ke arah Ayahnya dan mengangguk kecil.


“Sini, biar foto Bunda Asyila Ayah yang bawa,” ucap Abraham dan mengambil foto tersebut. Kemudian, meminta kedua anaknya untuk menunggunya di ruang makan.


Beberapa menit kemudian.


Abraham tersenyum melihat kedua buah hatinya sudah duduk santai di kursi mereka masing-masing.


“Lihat, ada bubur kacang hijau dan juga semur jengkol. Hayo tebak, siapa yang mengantarkan bubur kacang hijau dan juga semur jengkol?” tanya Abraham dan berharap kedua buah hatinya merespon pertanyaan darinya.


Bukannya menjawab, Arsyad dan Ashraf malah kompak menggelengkan kepala mereka.


“Ayo dong, dijawab!” pinta Abraham dan sekali lagi keduanya menggelengkan kepala.


Abraham akhirnya menyerah dan meminta keduanya untuk segera makan siang.


“Ya sudah kalau kalian tidak mau menjawabnya. Tapi, Ayah beritahu ya. Tadi, yang kesini itu adalah Kahfi. Kalian apa tidak kangen bermain bersama Kahfi?” tanya Abraham.


Arsyad dan Ashraf kembali menggelengkan kepala mereka.


“Arsyad dan Ashraf kenapa tidak bersemangat seperti dulu lagi? Apakah kalian ingin terus-menerus seperti ini? Apakah kalian ingin melihat Ayah setiap hari bersedih memikirkan kalian yang tak bersemangat seperti ini?” tanya Abraham mencoba meminta pengertian dari kedua buah hatinya.


Abraham tertunduk lesu dan seketika itu pergi meninggalkan kedua buah hatinya.


Melihat Ayahnya yang sangat sedih, Arsyad hanya bisa diam dan mengajak adiknya untuk segera makan.


Mereka berdua makan dengan porsi yang sangat sedikit, tidak lebih dari 3 sendok makan.


“Ayo kita ke kamar!” ajak Arsyad dan menggandeng tangan adiknya untuk segera pergi ke kamar mereka.


Dilain sisi, Abraham menangis di dalam kamar yang biasa ia tempati bersama Sang istri.


Ia menangis sambil terus mengenang masa-masa ketika Sang istri berada di sisinya. Abraham pun mengerti, bahwa mengurus anak tidaklah mudah. Hanya Sang istrilah yang bisa membujuk anak-anak mereka ketika Arsyad maupun Ashraf sulit untuk ditangani.


Ketika Abraham tengah menangis, ponsel milik Abraham berbunyi dan dengan cepat Abraham menyeka air matanya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham.


“Wa’alaikumsalam, kau menangi?” tanya seorang pria di telepon yang tak lain adalah Yogi.


“Tidak, ada apa kau menghubungi ku?” tanya Abraham.


“Ada masalah di kantor, kau datanglah kemari!” pinta Yogi yang memilih percaya dengan apa yang dikatakan oleh Abraham.


“Baiklah, aku akan pergi kesana 1 jam lagi,” balas Abraham.


Yogi mengiyakan dan mengakhiri obrolan mereka di telepon.


Usai menerima sambungan telepon dari sahabatnya, Yogi. Abraham pun memutuskan untuk menemui kedua buah hatinya dan meminta mereka untuk tetap berada di dalam rumah selama dirinya berada di kantor.


Arsyad dan Ashraf hanya mengangguk patuh tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Ayah mereka.


Sebelum pergi, Abraham menghubungi Dyah agar bisa menjaga kedua buah hatinya. Akan tetapi, Dyah tidak berada di perumahan Absyil melainkan tengah berada di rumah orang tuanya.


Mau tak mau Abraham akhirnya meninggalkan buah hatinya berdua saj di rumah dan berharap keduanya mematuhi perintah darinya untuk tak keluar dari rumah.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Abraham telah bersiap-siap untuk pergi ke perusahaannya dan meminta kedua buah hatinya untuk tetap berada di dalam rumah.


“Ingat pesan Ayah. Kalian tetap berada di dalam rumah dan tak boleh keluar. Nanti Ayah akan menghubungi Mama Ema agar menemani kalian, ok! Sekarang Ayah harus pergi dan insya Allah secepatnya Ayah pulang,” tutur Abraham panjang lebar.


Arsyad mengiyakan dan seketika itu Abraham tersenyum karena putra pertamanya akhirnya mengiyakan ucapan, bukan mengangguk seperti sebelum-sebelumnya.


“Bagus, kalau begitu Ayah pergi dulu. Assalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” jawab Arsyad dan Ashraf dengan sangat lirih.


Abraham masuk ke dalam mobil dan tak lupa menutup gerbang rumah agar lebih aman. Kemudian, ia pun pergi meninggalkan perumahan Absyil menuju perusahaannya.


Selepas kepergian Sang Ayah ke perusahaan, Arsyad pun mengajak adiknya masuk ke dalam rumah. Saat ini, adiknya adalah tanggung jawab untuknya dan sebagai Kakak dirinya harus menjaga adiknya agar tak keluar dari rumah.


“Kok dikunci, Kak?” tanya Ashraf melihat Kakaknya mengunci pintu.


“Ingat kata Ayah, kita tidak boleh keluar,” jawab Arsyad.


Arsyad menggandeng tangan adiknya dan membawa adiknya masuk ke dalam kamar. Awalnya Ashraf menolak karena dirinya tidak mengantuk. Akan tetapi, Arsyad mencoba membujuknya dan akhirnya Ashraf mau masuk ke dalam kamar.


Setibanya di dalam kamar, Arsyad memilih untuk membaca kitab suci Al-Qur'an. Sementara Ashraf, memilih memandangi gambar diri Ibunya yang sedang menggendong seorang bayi kecil yang bernama Ashraf.


Ashraf memandangi gambar dirinya yang masih bayi. Tak terasa, air mata Ashraf mengalir dan perlahan ia terlelap sembari memeluk frame foto tersebut.


Hampir setengah jam Arsyad membaca kitab suci Al-Quran, sampai akhirnya ia selesai membaca dan memutuskan untuk tidur siang.


******


Sore hari.


Ashraf berlari kecil menuju ruang keluarga untuk menonton kartun kesukaannya yang pada waktu itu sudah tayang.


Akan tetapi, remote control yang biasa berada di atas meja saat itu menghilang tak tahu kemana.


Ia pun mencari-cari remote control tersebut dan tetap tidak menemukannya.


“Arsyad cari apa?” tanya Arsyad yang baru tiba di ruang keluarga dan tengah melihat adiknya yang sibuk mencari sesuatu.


“Remote televisi,” jawab Ashraf tanpa menoleh ke lawan bicaranya.


Arsyad mengernyitkan keningnya dan ikut mencari remote control.


Cukup lama mereka mencari dan akhirnya Arsyad menemukannya di bawah bantal.


“Ini remote nya, Ashraf!”


Ashraf tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


Keduanya pun bersama-sama menonton kartun kesukaan mereka.


Ketika sedang asik menonton kartun, Ashraf tiba-tiba mendengar suara berisik dari depan rumah. Tanpa pikir panjang, berjalan menuju ruang tamu dan mengintipnya dari jendela.


Ashraf terkejut ketika melihat banyak anak-anak seusianya yang dengan berani membuka pagar rumahnya secara kompak.


Ketika Ashraf ingin berteriak memanggil Kakaknya, matanya tiba-tiba menangkap sesosok wanita yang sangat ia kenali.


“Bundaaaaaa!” teriak Ashraf histeris.


Ashraf terus saja berteriak dan seketika itu membuka pintu untuk mendatangi wanita yang baru saja dipanggilnya Bunda.


Whaaat?? Siapa kira-kira yang dilihat oleh Ashraf?

__ADS_1


__ADS_2