Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Keinginan Ema Memberikan Adik Untuk Kahfi


__ADS_3

Malam hari.


Ema dan Kahfi memutuskan untuk tidur di rumah Abraham dan Asyila. Dikarenakan, Yogi tidak pulang karena harus lembur di kantor.


“Assalamu’alaikum,” ucap Ema dan juga Kahfi.


Asyila yang tengah menggendong bayi mungilnya dan mendengar suara salam dari sahabatnya, saat itu juga melenggang menuju ruang depan.


“Wa’alaikumsalam, Ema! Ayo masuk ke dalam, tumben malam-malam datang kemari,” tutur Asyila.


“Asyila, malam ini aku dan Kahfi menginap disini ya. Soalnya, Abang Yogi lembur dan baru besok pagi pulangnya,” terang Ema.


“Ya ampun, aku sangat senang kalau kamu dan Kahfi menginap disini. Rumahku akan semakin ramai dengan kehadiran kalian, ayo masuk ke dalam!” ajak Asyila agar Ema serta Kahfi bisa langsung bergabung dengan keluarga yang lain yang berada di ruang keluarga.


Dyah terkesiap ketika melihat Ema dan Kahfi datang malam-malam.


“Ema, tumben kamu datang kesini?” tanya Dyah yang terlihat sangat senang dengan kedatangan Ema.


Ashraf melihat sahabatnya datang, langsung mengajak Kahfi duduk sembari menikmati pop corn yang dibuat oleh Ayahnya, Abraham.


“Aku malam ini tidur disini,” jawab Ema.


“Benarkah? Kalau begitu, kamu tidurlah dengan ku. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu,” ujar Dyah.


“Bayimu bagaimana? Aku takut mengganggu tidur bayimu,” sahut Ema.


“Kau tenang saja, bayiku tidak rewel. Dan masalah Kahfi, biar Kahfi tidur saja dengan Ashraf,” tutur Dyah sembari menoleh ke arah Ashraf.


“Iya, Kak Dyah. Kahfi biar tidur sama Ashraf saja,” sahut Ashraf yang sangat senang bilang Kahfi tidur bersamanya.


Kahfi sangat senang karena dirinya bisa tidur dengan Ashraf.


“Kenapa masih berdiri, ayo duduk!” ajak Asyila pada Ema.


Ema tersenyum canggung dan duduk di dekat putra kesayangannya, Kahfi.


“Syila, Pak Abraham mana? Apakah aku diizinkan menginap disini hanya semalam saja?” tanya Ema yang tak melihat batang hidung suami dari sahabatnya, Asyila.


“Kamu ini bicara apa? Tentu saja Mas Abraham senang kalau kamu tidur disini, sekarang Mas Abraham sedang memasak seblak seperti kemarin,” ungkap Asyila.


“Benarkah? Wah, aku sangat senang Seblak buatan Pak Abraham. Bahkan, kemarin saja Abang Yogi memintaku untuk membuat seblak seperti buatan Pak Abraham. Kau sendiri tahu, kalau aku tidak mahir dalam memasak makanan,” terang Ema sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


“Meskipun Mas Abraham pintar membuat seblak, aku sendiri sebagai istrinya masih ragu-ragu bila memasak seblak. Takut tak sesuai ekspektasi,” ujar Asyila jujur dari hati yang paling dalam.


Ema tertawa dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan sahabatnya.


“Ema, aku tinggal ke belakang dulu ya. Aku mau melihat barangkali Mas Abraham telah selesai membuat seblak, ini bayiku aku titipkan pada mu sebentar,” pungkas Asyila dan memberikan bayi mungilnya ke dalam gendongan Ema.


Ema memandangi wajah bayi Akbar dan berharap ditahun ini dirinya diberikan kepercayaan kembali untuk mengandung.


“Ema, bukankah sangat lucu cucu Ibu?” tanya Arumi sembari menyentuh punggung Ema.


Ema menoleh dan tersenyum pada Arumi.


“Iya, Ibu. Bayi Akbar sangat lucu, Ema minta do'anya ya supaya tahun ini Ema kembali mengandung!” pinta Ema dengan mata berkaca-kaca.


Arumi mengangguk perlahan dan mengecup lembut kening Ema.


“Pasti, Ibu pasti akan mendo'akan Nak Ema agar kembali diberikan kepercayaan untuk memiliki anak lagi. Kahfi pasti sangat senang bila memiliki adik,” sahut Arumi.


Di dapur.

__ADS_1


Asyila berlari kecil dan mendekap tubuh suaminya dari belakang.


“Hhmm... Harum sekali seblak buatan suami Asyila,” ucap Asyila sembari menghirup aroma seblak buatan Abraham.


“Asyila sangat suka dengan seblak yang Mas buat?” tanya Abraham memastikan kembali selera suaminya.


“Harus berapa kali Asyila menjawab pertanyaan Mas ini? Kalau Mas memasak seblak tiap hari pun Asyila tidak akan bosan. Asyila sangat suka seblak yang Mas buat, bahkan tidak hanya Asyila. Ayah, Ibu, Dyah, Ema, serta yang lain sangat suka dengan seblak yang Mas buat. Kalau Mas mau, bagaimana kalau Mas menjual seblak saja?” tanya Asyila dengan penuh keyakinan.


Abraham mengernyitkan keningnya dan tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan dari istri kecilnya.


“Mas, jangan tertawa. Asyila ini serius bertanya, kalau Mas menjual seblak sudah pasti seblak buatan Mas laris keras,” tutur Asyila yang semakin mempererat dekapannya.


Abraham menghentikan tawanya dan berbalik badan menghadap langsung pada istri kecilnya.


“Mas tidak suka memasak untuk orang luar. Mas lebih suka kalau masakan Mas dinikmati oleh Asyila serta keluarga yang lain. Termasuk juga Yogi serta keluarga kecilnya. Lagipula, Mas harus melakukan pekerjaan yang lain selain memasak seblak,” ungkap Abraham dan mengecup lembut bibir istri kecilnya yang menganga lebar.


“Astaghfirullahaladzim!” teriak Dyah yang tak sengaja melihat Pamannya mencium Aunty kesayangannya. “Haduh, kenapa aku disini ya?” tanya Dyah berpura-pura tak melihat keduanya yang tengah bermesraan.


“Dyah, kamu ngapain disini?” tanya Abraham yang baru saja tertangkap basah dan bersikap dingin seakan-akan tak terjadi sesuatu. Sementara Asyila, sudah terlanjur malu karena perbuatan suaminya.


“Dyah tidak melihat Paman mencium Aunty. Iya, benar-benar tidak melihat,” jawab Dyah dan berlari secepat mungkin meninggalkan Keduanya.


Asyila memanyunkan bibirnya dan memukul dada suaminya berulang kali.


“Mas genit, lihatlah Dyah sekarang! Bagaimana Asyila bisa berhadapan langsung dengan Dyah kalau begini jadinya?” tanya Asyila dengan wajah memerah karena malu telah tertangkap basah.


“Ya mau bagaimana lagi? Kita sudah tertangkap basah, Mas juga tidak bisa memutar waktu,” sahut Abraham.


“Mas menyebalkan,” celetuk Asyila dan berlari menuju kamarnya untuk bersembunyi dibalik selimut.


Abraham terkekeh geli melihat reaksi istri kecilnya. Ia ingin mengejar Sang istri, akan tetapi ia harus menyelesaikan masakannya terlebih dahulu.


“Mbok Num, 5 menit lagi tolong matikan ini kompor dan setelah itu masukkan seblaknya ke dalam mangkuk ya,” tutur Abraham pada Mbok Num.


Saat itu juga Abraham berjalan dengan langkah lebar menuju kamar untuk membujuk istri kecilnya agar tidak ngambek.


“Asyila sayang, sudah tidak apa-apa. Dyah sudah menikah, pastinya dia juga pernah melakukannya dengan Fahmi,” ujar Abraham.


Saat itu juga Asyila melepaskan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


“Tapi, Asyila malu Mas.”


“Asyila malu? Ya sudah, pura-pura saja tidak tahu. Ayo keluar! Seblak Mas sudah jadi!”


****


Setelah menikmati seblak, Asyila dan Ema memutuskan untuk berbincang-bincang sejenak di ruang tamu berduaan saja. Sementara Dyah tengah sibuk menidurkan putri kecilnya.


“Asyila, bolehkah aku iri terhadap mu?” tanya Ema dengan tatapan sedih.


“Iri kepada ku? Maksudmu?” tanya Asyila penasaran sekaligus terheran-heran.


“Kamu telah dikaruniai 4 orang anak. Meskipun, salah satu bayimu keguguran. Sementara aku, sampai sekarang belum diberikan lagi. Kadangkala, aku kasihan melihat Kahfi bermain seorang diri saat kalian berlibur di Jakarta. Aku ingin sekali memberikan Kahfi seorang adik agar Kahfi tidak kesepian,” ungkap Ema yang kini telah meneteskan air mata.


Asyila merasa tak enak dan perlahan menyeka air mata sahabatnya.


“Ema, sebagai manusia kita hanya bisa meminta itu semua kepada Sang pencipta kita, Allah. Mungkin, untuk sekarang Allah belum berikannya kepada mu. Insya Allah, dirahim mu akan ada janin yang sangat lucu ketika waktu yang tepat. Kuncinya cuma satu, teruslah berdo'a,” jelas Asyila dan perlahan memeluk sahabatnya.


“Terima kasih, Asyila. Tolong do'akan aku ya agar bisa segera memberikan adik untuk Kahfi!” pinta Ema.


“Pasti. Aku akan selalu mendo'akan kamu, Ema,” balas Asyila.

__ADS_1


Dyah terkejut melihat Aunty serta Ema yang saling berpelukan dan menangis. Dyah pun duduk di sofa dengan terus menggendong putri kecilnya.


“Ema, kau kenapa?” tanya Dyah penasaran.


Ema melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arah Dyah.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Ema pada Dyah.


“Bohong, kamu tidak jujur padaku,” sahut Dyah dengan memasang wajah sedih.


“Dyah, berikan waktu pada Ema untuk mengatakannya ya,” ujar Asyila yang tak ingin melihat sahabatnya semakin bersedih.


“Aku tidak apa-apa, Dyah. Akan tetapi, aku sangat menginginkan memiliki bayi. Aku ingin memberikan Kahfi seorang adik, untuk itu aku menjadi menangis seperti ini. Aku minta tolong padamu, tolong sisipkan namaku di dalam Do'a mu agar aku bisa diberikan kepercayaan lagi oleh Allah,” ungkap Ema yang berusaha untuk tidak meneteskan air matanya.


Dyah saat itu juga mengiyakan permintaan dari Ema.


“Kamu jangan bersedih, aku pasti akan mendo'akan kamu agar diberikan kepercayaan lagi untuk memiliki bayi,” balas Dyah.


Kahfi berlari ke ruang tamu dan mendekat pada Mamanya, Ema.


“Ma, Kahfi tidur sama Ashraf ya,” ucap Kahfi dengan tatapan menggemaskan.


“Iya sayang, langsung tidur ya. Dan jangan lupa baca Do'a,” balas Ema.


Kahfi mengiyakan dan sebelum tidur bersama Ashraf, bocah kecil itu terlebih dulu mendekat ke arah Dyah yang tengah menggendong putri kecilnya, Asyila.


“Kahfi boleh cium adik Asyila?” tanya Kahfi meminta izin terlebih dulu.


“Boleh dong!” seru Dyah.


Kahfi tersenyum malu-malu dan mencium sekilas pipi putri kecil Dyah. Kemudian, Kahfi berlari meninggalkan ruang tamu.


Ema tertunduk sedih, begitu inginnya Kahfi memiliki seorang adik.


“Ema, ayo semangat! Aku tahu kamu bukan wanita yang gampang menyerah apalagi putus asa,” tutur Asyila dengan tersenyum lebar penuh semangat.


Ema mengiyakan dan tersenyum lebar ke arah Asyila serta Dyah secara bergantian.


Abraham tiba-tiba datang menghampiri istri kecilnya dan meminta Sang istri untuk segera beristirahat.


Asyila pun mengiyakan dan ia pamit lebih untuk segera beristirahat.


Di dalam kamar, Asyila meminta suaminya untuk membuka resleting pakaiannya yang tak dapat di raih oleh tangannya.


Abraham mengiyakan dan perlahan membuka resleting pakaian istri kecilnya. Senyum Abraham merekah sempurna ketika melihat punggung mulus putih Sang istri.


“Sudah belum, Mas?” tanya Asyila pada suaminya.


“Sudah,” jawab Abraham dan mengecup secara perlahan punggung istri tercintanya itu.


“Mas, jangan seperti itu. Punggung Asyila jadinya geli,” terang Asyila dan cepat-cepat mengganti pakaiannya di depan suaminya.


Setelah mengganti pakaiannya, Asyila bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


“Syila, sekalian wudhu ya. Mas kangen,” ucap Abraham tepat di depan pintu kamar mandi.


Asyila di dalam kamar mandi, tersipu malu mendengar ucapan dari suaminya.


“Asyila sayang!” panggil Abraham karena Sang istri tak kunjung merespon ucapannya.


“Iya, Mas. Ini Asyila mau berwudhu,” sahut Asyila dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Abraham melompat kegirangan dan cepat-cepat ia merapikan tempat tidurnya.


Asyila yang telah selesai berwudhu, cepat-cepat mengenakan mukenanya. Sementara Abraham, masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu melaksanakan sholat sunah dua raka'at.


__ADS_2