Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Akhirnya Kejahatan Salsa Terungkap


__ADS_3

Disaat yang bersamaan, Dyah datang dan sekali lagi memberikan tamparan keras di wajah Salsa.


Plak!!! Kali ini suara tamparan yang diberikan oleh Dyah sangat keras hingga suara tamparan tersebut memenuhi ruangan.


“Aaakkhh Apa yang kamu lakukan?” tanya Salsa sambil berteriak kesakitan dan seketika itu menangis dihadapan semua orang yang berada di ruang tamu.


“Salsabila alias Ratih, benarkan itu namamu?” tanya Dyah.


Mata Salsa seketika itu melotot tajam. Ia sangat terkejut ketika mendengar Dyah menyebutkan nama aslinya.


“Ba-bagaimana kamu tahu bahwa...”


“Tentu saja aku tahu. Seorang wanita liar sepertimu tidak akan bisa menutupi kebohongan busuk itu!” teriak Dyah dan sekali lagi memberikan tamparan keras ke wajah Salsa.


Salsa memasang wajah penuh kepolosan, seakan-akan ia tak mengerti maksud dari Dyah.


“Mas Abraham, tolong hukum Dyah. Bagaimana bisa dia memperlakukan calon Aunty-nya seperti ini?” tanya Salsa sambil bersembunyi di belakang punggung Abraham.


Abraham segera bergeser dan meminta Salsa untuk tak mendekat kepadanya.


Arumi datang menghampiri mereka dan mendorong tubuh Salsa hingga Salsa tersungkur ke lantai.


“Wanita jahat, wanita kejam!” teriak Arumi meluapkan kemarahannya kepada Salsa.


Salsa bangkit dan ia pun tak bisa menahan diri untuk tidak membalas perbuatan mereka.


“Kalian ini apa sudah gila? Seenaknya menampar dan mendorongku. Satu lagi, bukankah kalian berempat ada polisi? Kenapa tidak membantuku menghukum dua wanita gila ini?” tanya Salsa.


Disaat itu juga, Ema dan Yogi masuk ke dalam rumah untuk menyaksikan pertunjukan hebat di rumah tersebut.


“Saudari Salsa alias Ratih. Anda kami tangkap atas tindakan pembunuhan berencana yang anda lakukan kepada Nona Asyila dan juga identitas palsu yang anda buat!” teriak Dayat dan seketika itu juga memborgol kedua pergelangan tangan Salsa.


Salsa sangat syok, kejahatannya ternyata sudah terbongkar setelah usahanya selama ini untuk masuk ke dalam kehidupan Abraham Mahesa.


“Tidak. Kalian salah tangkap, bagaimana bisa kalian menuduh saya seperti ini? Lagipula, atas dasar apa saya melenyapkan Asyila? Kalian tidak ada bukti dan cepat lepaskan saya!” teriak Salsa mencoba untuk membela diri.


Saat itu, Ashraf maupun Kahfi tidak ada di ruangan itu. Kedua bocah kecil itu sedang berada di kediaman Ema dan Yogi.


Ema yang geram seketika itu berlari ke arah Salsa dan menjambak rambut Salsa dengan begitu kuat.


“Wanita kurang ajar, wanita berhati iblis! Matilah kamu!” teriak Ema dan melampiaskan semua amarahnya kepada Salsa yang ternyata dalang dibalik meninggalnya sang sahabat tercinta.


Salsa mencoba untuk melawan. Akan tetapi, ia tidak bisa karena kedua tangannya diborgol. Alhasil, Ema dengan brutal menjambak rambutnya yang panjang itu.


Arumi menangis histeris, dadanya begitu sakit karena wanita dihadapannya adalah pelaku dari kematian putri kesayangannya.

__ADS_1


“Hentikan, Adik!” Yogi dengan sekuat tenaga memisahkan istrinya dari Salsa dan memeluk tubuh istrinya kuat-kuat agar tak lagi menjambak rambut Salsa.


Abraham mendekat dan terlihat jelas kemarahan di matanya.


“Dari awal aku sudah mencurigai kehadiranmu. Akan tetapi, sangat sulit untuk mengungkap kasus atas kematian istriku, Asyila. Harus ku akui, kaki tanganmu begitu setia bahkan saat sekarat pun mereka tetap bungkam. Hingga akhirnya, aku menemukan lembar kertas identitas mu yang memang sengaja kamu jatuhkan. Benar, bukan?” tanya Abraham sambil menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan terhadap Salsa.


Abraham mundur selangkah karena tak ingin jika dirinya lepas kendali menyakiti Salsa. Bagaimanapun, Abraham tak ingin memukul seorang wanita.


“Ini wajah aslimu!” teriak Abraham sambil mengambil beberapa foto disaku celananya dan melemparkannya ke wajah Salsa.


Foto-foto itu berserakan ke lantai dan seketika itu juga membuat yang lainnya terkejut. Kemudian, memungut foto-foto itu untuk melihat wajah asli dari seorang Salsa alias Ratih.


“Sudah ku duga, wajahmu ini adalah hasil dari operasi plastik,” ucap Ema dan sekali lagi menjambak rambut Salsa.


“Cukup!” teriak Salsa sambil berderai air mata dan di detik berikutnya ia tertawa lepas layaknya orang yang tengah kerasukan.


“Hahaha... Hahaha.. hahaha..” Salsa terus saja tertawa dan membuat yang lainnya terheran-heran.


“Kalian tahu apa tentang diriku? Apa salah jika aku mencintai pria itu?” tanya Salsa alias Ratih sambil menunjuk ke arah Abraham yang berdiri diantara Dayat serta Edi.


Salsa mencoba mendekat dan Abraham seketika itu menjauh.


“Seharusnya akulah yang menjadi istri dari Abraham dan bukan wanita busuk yang sudah mati di laut!” teriak Salsa.


“Hentikan! Jangan sekali-kali kamu menghina istriku,” tegas Abraham.


“Persetan dengan yang namanya wanita baik. Bagiku, wanita busuk itu adalah iblis. Dengan wajah sok polosnya, ia merayu Abraham untuk dinikahi,” balas Salsa yang lagi-lagi menghina Asyila.


Abraham tak tahan lagi untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya ia menampar wajah seorang wanita.


Plak!!!!!


Tamparan Abraham begitu keras hingga Salsa tersungkur tak sadarkan diri.


“Cepat bawa pergi wanita ini, selamanya aku tidak ingin melihatnya dimana pun dia berada!” perintah Abraham.


Dayat dan Edi bergegas mengangkat tubuh Salsa. Kemudian, membawanya masuk ke dalam mobil untuk segera dimasukkan kedalam sel dingin.


“Terima kasih atas bantuan kalian dan kumpulkan semua bukti-buktinya segera. Besok pagi, aku dan yang lainnya akan ke kantor polisi untuk menuntaskan kasus ini,” tutur Abraham yang tubuhnya saat itu masih gemetar karena telah menampar Salsa hingga wanita itu pingsan.


Dayat, Edi serta dua yang lainnya bergantian memeluk Abraham. Mereka berempat menyemangati Abraham karena telah berhasil mengungkapkan identitas Salsa alias Ratih yang sebenarnya.


Ke-empatnya pun pamit untuk segera memasukkan Salsa ke penjara.


Setelah para sahabatnya pergi, Abraham pun pingsan seketika itu juga.

__ADS_1


Herwan yang masih bercucuran air mata, berlari secepat mungkin untuk membawa masuk Abraham yang pingsan tepat di depan pintu.


Ruangan tersebut, saat ini tengah dipenuhi dengan Isak tangis.


Mereka menangis histeris dan kembali mengingat kejadian dimana Asyila meninggal dunia.


“Wanita jahat, wanita biadab!” teriak Arumi yang sangat dendam dengan apa yang telah dilakukan oleh Salsa, “Lihat saja, besok aku akan membunuhmu!” teriak Arumi lagi.


Dyah dan Ema seketika itu memeluk Arumi. Ketiganya menangis bersama-sama dan meratapi kepergian Asyila untuk selama-lamanya.


Ashraf dan Kahfi tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Hal tersebut, dikarenakan Ema tak kunjung pulang menemani mereka menonton televisi.


“Kalian ngapain kemari?” tanya Ema dan seketika itu membawa keduanya kembali kerumahnya.


Ashraf dan Kahfi saling tukar pandang ketika melihat para orang tua yang tengah menangis.


“Mama kenapa menangis? Nenek sama Kak Dyah kenapa ikut menangis?” tanya Ashraf penasaran.


Ema terus saja berjalan sambil menggandeng tangan Ashraf dan juga Kahfi.


Ketika sudah masuk ke dalam rumah, barulah Ema menceritakan alasan mengapa para orang tua menangis.


“Ashraf tenang saja, kami sedang latihan menangis. Soalnya, ada lomba menangis dan yang menang boleh makan sepuasnya,” ucap Ema yang memilih untuk berbohong.


“Asik! Ashraf ikut juga ya Ma!” Pi Ashraf yang tergiur dengan banyaknya makanan.


“Anak kecil tidak boleh ikut lomba. Yang boleh hanya orang dewasa. Kalau kami menang, kami akan membaginya untuk Ashraf dan Kahfi. Setuju!”


“Setuju!” seru mereka.


“Kalau begitu, kalian diamlah di rumah dan jangan kemana-mana. Saat kami sudah selesai berakting, Mama akan cepat pulang menemui kalian. Kalian mengerti maksud Mama?” tanya Ema pada Ashraf dan juga Kahfi.


“Mengerti, Mama,” balas mereka kompak.


“Bagus. Itu baru anak-anak Mama, ya sudah Mama kembali lagi ke rumah Bunda Asyila. Assalamu'alaikum!”


“Wa’alalaikumsalam,” jawab keduanya.


Ema berlari menuju rumah samping dengan air mata yang kembali mengalir.


“Abang..” Ema menangis dipelukan suaminya dengan begitu menyedihkan.


Yogi tak bisa menahan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Melihat istri serta yang lainnya menangis, membuat Yogi hati Yogi tersayat.


Di dalam kamar, Abraham membuka matanya perlahan dan kembali mengingat alasan dirinya tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Ya Allah, bisakah Engkau kembali istri hamba, Asyila? Kami sangat merindukan sosok Asyila, Ya Allah.”


Abraham memukul dadanya sendiri dan sangat berharap Allah dapat menghidupkan istrinya yang telah tiada.


__ADS_2