
Abraham menatap wajah putra kecilnya yang begitu menyedihkan. Kalau saja sang istri masih berada disisi mereka, Ashraf tidak akan semurung ini.
“Ayah, perih,” ucap Ashraf dengan ekspresi wajah meringis kesakitan.
“Ayah tiup ya sayang, biar perihnya berkurang,” tutur Abraham dan meniup luka Ashraf dengan sangat hati-hati.
Ashraf tersenyum tipis ketika luka di lulutnya samar-samar merasa agak geli.
“Ayah, sudah. Geli,” tutur Ashraf.
“Geli? Tidak sakit lagi?” tanya Abraham.
Ashraf menggelengkan kepalanya tanda bahwa luka tersebut tidaklah perih.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham lega, “Ashraf mau makan?” tanya Abraham.
“Mau,” jawab Ashraf.
“Ok! Kalau begitu, Ashraf diam disini. Ayah akan turun dan membawakan makanan untuk Ashraf. Ashraf setuju!”
“Setuju!” seru Ashraf.
Sebelum meninggalkan Ashraf di dalam kamar seorang diri. Abraham terlebih dulu mencium kening Ashraf.
Di dapur.
Ketika Abraham baru saja tiba di dapur, Salsa yang saat itu tengah duduk sambil berkutat dengan ponselnya seketika itu terkesiap.
“Pak Abraham mau apa? Biar saya saja yang mengambilkannya,” ucap Salsa yang berbicara dengan semanis mungkin.
“Saya bisa sendiri,” tegas Abraham dan mulai mengambil piring untuk putra kecilnya, Ashraf.
“Pak Abraham yakin? Saya bisa kok melakukan apapun asal itu perintah dari Pak Abraham,” ucap Salsa yang suaranya benar-benar membuat Abraham jijik.
“Cukup!” tegas Abraham dan seketika itu juga Salsa terkejut, “Saya peringatkan kamu untuk segera menjauh dari hidupku,” tegas Abraham sekali lagi memperjelas ucapannya.
Salsa menggigit bibirnya sendiri dan pergi meninggalkan Abraham dengan begitu kesal.
Bagaimana bisa dia menolak ku secara terang-terangan seperti ini?
Aku harus bagaimana lagi agar Abraham bisa membuka hatinya untukku.
Salsa berjalan menuju teras depan rumah dan berusaha memikirkan cara agar Abraham bisa ia dapatkan secepat mungkin.
Disaat yang bersamaan, Abraham menghela napasnya dan kembali fokus untuk menyiapkan makanan buah hatinya.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Abraham masuk ke dalam kamar untuk segera menyuapi buah hatinya.
“Sayang, ayo makan,” ucap Abraham sambil menutup kembali pintu kamar.
Ketika Abraham menoleh ke arah Ashraf, rupanya Ashraf sudah terlelap sambil memeluk bingkai foto Bundanya tercinta.
Abraham meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja dekat ranjangnya. Kemudian, mendekati putra kecilnya.
Disaat itu juga, Abraham menangis melihat Ashraf yang tengah terlelap sambil terus memeluk istri kecilnya.
“Kamu pasti merindukan Bunda ya sayang? Maafkan Ayah ya sayang, maafkan Ayah karena tak becus menjaga Bunda. Sekali lagi Ayah meminta maaf,” ucap Abraham lirih.
Abraham segera menghapus air matanya, manakala Ashraf berusaha menggerakkan tubuhnya menggeser ke sudut kirinya.
Ashraf membuka matanya seketika itu juga ketika mengetahui bahwa Ayahnya berada didekatnya.
“Ayah, kenapa?” tanya Ashraf lirih sambil menyentuh pipi Ayahnya yang masih basah karena air mata.
“Tadi Ayah habis cuci muka, Nak. Ashraf kalau mau tidur, tidurlah lagi saja,” ucap Abraham sambil menghapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
Ashraf menggelengkan kepalanya dan meminta agar Sang Ayah segera menyuapinya makanan.
Abraham mengiyakan dan turun dari tempat tidur untuk segera menyuapi putra kecilnya.
Rencana Abraham yang ingin pergi bersama Dayat serta Edi akhirnya pun diundur.
Usai menyuapi makanan, Abraham kembali menuju dapur untuk mencuci alat makan tersebut.
“Iya Ayah, ada apa?” tanya Abraham menghampiri Ayah mertuanya.
“Kamu jadi keluar?” tanya Herwan memastikan.
“Tidak. Memangnya kenapa Ayah?” tanya Abraham penasaran.
“Kalau begitu syukurlah, soalnya Ayah dan Ibu ingin keluar sebentar. Karena ada yang harus dibeli,” jawab Herwan.
Abraham tak bertanya lagi, ia pun pamit untuk segera ke dapur mencuci alat makan tersebut.
Disaat yang bersamaan, Salsa keluar dari kamarnya dengan mata sembab.
Abraham sama sekali tak menoleh ke arah Salsa yang terus saja memperhatikannya.
Salsa merasa sangat putus asa dan juga frustasi karena sikap dingin Abraham yang begitu keterlaluan padanya.
Ia pun nekad mengambil pisau dan tanpa pikir panjang mengiris pergelangan tangannya.
“Pak Abraham!” teriak Salsa sambil memperlihatkan darah segar yang mengucur pergelangan tangannya.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” Abraham berteriak karena sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Salsa.
“Biarkan saja saya mati, Pak Abraham. Percuma saya hidup kalau Pak Abraham saja tidak pernah menoleh ke arah saya,” ucap Salsa yang terlihat mulai pucat.
Arumi, Herwan dan Fahmi datang bersamaan menuju dapur ketika mendengar suara teriakkan dari Abraham.
Ketiganya terkejut melihat Salsa yang sudah bersimbah darah.
“Kenapa bisa begini?” tanya Arumi panik.
“Abraham akan menjelaskannya nanti. Wanita ini tidak boleh mati secepat ini,” balas Abraham.
Salsa perlahan kehilangan kesadarannya dan akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri.
Abraham sama sekali tak ingin menyentuh Salsa. Herwan yang akhirnya menggendong tubuh Salsa dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Rumah Sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Salsa langsung mendapatkan perawatan intensif dari pihak rumah sakit.
Arumi yang saat itu terlihat sangat syok dengan apa yang telah dilakukan oleh Salsa.
“Wanita itu benar-benar nekad. Ibu lelah jika harus bersandiwara lagi, Nak Abraham,” ucap Arumi yang sangat terpaksa untuk melakukan semua akting tersebut.
“Bertahanlah sebentar ya Bu, demi Abraham dan juga Asyila,” tutur Abraham.
Fahmi mengernyitkan keningnya mendengar pembicaraan Arumi dan juga Abraham.
“Ini sebenarnya ada apa? Apakah Fahmi melewatkan sesuatu?” tanya Fahmi penasaran.
Abraham memberikan isyarat tangan kepada Fahmi untuk diam.
Fahmi pun mengangguk kecil dan terpaksa menyetujui perintah dari Abraham.
Ketika Fahmi ingin mendaratkan bokongnya di kursi, ia dikejutkan oleh nada dering ponselnya sendiri.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Fahmi sambil mengelus-elus dadanya sendiri karena terkejut dengan bunyi ponsel miliknya.
Fahmi bergeser sedikit menjauh dan menerima telepon dari istrinya.
“Hallo, Assalamu'alaikum. Mas kemana? Ini kenapa rumah sepi tidak ada orang?” tanya Dyah kesal.
Tanpa basa-basi lagi, Fahmi langsung menceritakan alasan mengapa mereka pergi meninggalkan rumah dan tak sempat memberitahukannya Dyah yang sedang tidur di dalan kamar sembari menyusui Asyila kecil.
“Apa? Sebenarnya apa yang diinginkan oleh wanita itu? Sejak pertama kali dia datang, Dyah sudah sangat membencinya. Wajahnya saja yang agak mirip dengan Aunty Asyila. Akan tetapi, sikapnya jauh berbeda,” ucap Dyah panjang lebar yang terdengar sangat geram dengan sosok Salsa.
Sebelum istrinya semakin meledak-ledak, Fahmi pun memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya secara sepihak.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, Dyah meletakkan kembali ponsel di atas nakas dengan begitu kesal.
“Istri lagi bicara malah dimatikan bergitu saja, ah menyebalkan. Itu kenapa Salsa pakai acara mengiris pergelangan tangan segala? Dasar gila,” ucap Dyah yang sangat kesal dan juga marah terhadap sikap Salsa yang seperti itu.