
Pagi hari.
Setelah sholat subuh, Asyila sudah disibukkan oleh pekerjaan rumah. Pertama-tama ia menyapu lantai dan kemudian mengepel lantai. Setelah itu, ia mulai memasak di dapur untuk sarapan orang rumah.
Lalu apa tugas Rahma? Rahma saat itu sedang sibuk membersihkan halaman depan yang sedikit berantakan.
Asyila melakukan pekerjaan rumah dengan penuh semangat, ia berharap masakan yang ia buat membuat keluarga kecilnya senang.
“Tinggal menggoreng tempe,” tutur Asyila bermonolog.
Wanita muda itu sangat bersemangat menggoreng hingga ia tak sengaja terkena cipratan minyak panas dan untungnya hanya mengenai punggung tangannya saja.
“Aw...” Asyila merintih kesakitan dan cepat-cepat membilasnya dengan air.
“Kamu kenapa Asyila?” tanya Rahma yang tiba-tiba muncul.
“Ini Mbak, tadi saya menggoreng dan tidak sengaja terkena cipratan minyak,” jawab Asyila.
“Biar menggoreng tempe aku yang melanjutkannya, kamu sekarang duduk saja.”
“Terima kasih, Mbak Rahma,” tutur Asyila dan memilih untuk menata piring di meja makan.
Pyaaarrr! Bunyi piring pecah dan dengan cepat Rahma menoleh ke arah Asyila.
Rahma mematikan kompor gas dan tak lupa meletakkan tempe yang sudah ia goreng di piring kosong.
“Asyila, kamu kenapa?” tanya Rahma khawatir dan membantu Asyila memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai.
“Saya tadi tiba-tiba merasa pusing dan akhirnya seperti ini,” jawab Asyila yang wajah terlihat memucat.
Arsyad dan Ashraf berlari ke dapur karena mendengar suara piring pecah.
“Kenapa bisa pecah, Bunda?” tanya Arsyad.
“Iya sayang, Bunda tidak sengaja memecahkannya. Arsyad dan Ashraf untuk sementara jangan kemari ya sayang! Bunda tidak mau kalian terluka karena pecahan piring,” ucap Asyila selembut mungkin.
Arsyad menuruti apa yang dikatakan oleh Bundanya, bocah itu kemudian menggandeng tangan adiknya dan membawa adiknya pergi menjauh dari ruang makan.
“Syila, sebaiknya hari ini kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah. Biarkan aku saja, kamu terlihat kurang sehat dan wajahmu sangat pucat,” ucap Rahma yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi Asyila.
“Mbak Rahma jangan terlalu memikirkan kondisi saya, insya Allah saya baik-baik saja,” balas yang Asyila dengan menampilkan senyum manisnya.
Asyila dari dulu tidak ingin membuat orang disekitarnya khawatir dengan kondisi kesehatannya. Sebenarnya, saat itu Asyila ingin sekali beristirahat. Semenjak suaminya mengalami kecelakaan, Asyila sudah merasakan bahwa tubuhnya sangat berbeda. Ia pun berpikiran bahwa sakitnya itu adalah karena kelelahan yang berkepanjangan.
“Kamu jangan berbohong dengan aku, jelas-jelas kamu sedang tidak enak badan. Sekarang beristirahatlah! Toh, semuanya sudah beres.”
“Maaf, karena telah merepotkan Mbak Rahma,” tutur Asyila.
__ADS_1
“Aku yang seharusnya meminta maaf sekaligus berterima kasih karena kamu dan keluargamu begitu baik terhadapku. Aku berjanji akan selalu berhutang Budi kepadamu serta keluargamu,” ucap Rahma dengan sangat serius.
Asyila tak membalas ucapan Rahma, ia memilih untuk diam karena tak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Rahma. Bagaimanapun, dari awal ia menolong Rahma benar-benar dari hatinya yang paling dalam dan tak ingin mendapat imbalan apalagi hutang Budi yang baru saja diucapkan oleh Rahma.
Pecahan piring yang berserakan dilantai akhirnya sudah berhasil dikumpulkan dan telah dibuang oleh Rahma.
“Mbak Rahma, tolong kemari sebentar!” panggil Asyila agar Rahma bisa segera duduk didekatnya dan dapat berbicara empat mata dengannya.
“Iya Asyila, ada apa? Apa kepalamu masih sakit?” tanya Rahma.
“Mbak Rahma, saya dan keluarga benar-benar menolong Mbak Rahma dengan sangat ikhlas. Kami sedikitpun tidak mengharapkan imbalan apalagi hutang budi dari Mbak Rahma. Justru, kami ingin Mbak Rahma bisa bangkit lagi setelah mengalami keterpurukan yang bisa dikatakan sangat menyedihkan. Mbak Rahma sekarang sudah resmi bercerai dengan pria kejam itu dan kini waktunya Mbak Rahma untuk bangkit. Sekarang, bisakah Mbak Rahma ceritakan bayangan Mbak Rahma kedepannya?” tanya Asyila penasaran.
“Bayangan kedepannya, maksud kamu tentang bayangan hidupku selanjutnya?” tanya Rahma balik.
Dengan cepat Asyila mengiyakan pertanyaan dari Rahma.
“Sebenarnya, aku ingin kembali lagi ke rumah dan membuka usaha di rumah. Hanya saja, aku terkendala biaya,” terang Rahma.
“Biaya? Mbak Rahma butuh berapa? Saya akan memberikan uang untuk Mbak Rahma membuka usaha dirumah,” sahut Asyila yang bersungguh-sungguh ingin membantu Rahma untuk membuka usaha.
“Jangan, aku sudah terlalu merepotkan dengan tinggal disini. Kalau sampai kamu benar-benar memberikan aku uang secara cuma-cuma, itu artinya akulah yang tidak tahu diri,” jelas Rahma yang merasa bahwa dirinya sangat merepotkan Asyila.
“Kenapa Mbak Rahma berpikiran seperti itu?”
“Aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu, Asyila. Begini saja, biarkan aku menjadi pembantu disini dan ketika uangku sudah cukup, aku akan membuka usaha di rumah. Atau, bisakah kamu mencarikan aku pekerjaan bagian apa saja yang sekiranya bisa aku kerjakan.”
“Apapun itu, aku pasti menerimanya. Aku sangat percaya padamu dan orang-orang yang berada disekitar kamu pastilah orang baik-baik. Terima kasih Asyila, bolehkah aku memelukmu?”
“Tentu saja boleh, Mbak Rahma,” balas Asyila dan merentangkan tangannya dengan senyum yang sangat tulus.
Dengan mata berkaca-kaca, Rahma memeluk tubuh Asyila yang sangat baik terhadap dirinya.
“Kamu orang baik, Asyila. Aku berjanji akan selalu mendo'akan kebahagiaan kamu dan juga keluargamu. Aku pun akan selalu mendo'akan kesembuhan untuk suamimu, Pak Abraham. Pak Abraham sangat beruntung memiliki kamu, Asyila. Dan aku pun beruntung bisa dipertemukan dengan wanita sebaik kamu, andai saja malam itu kamu tidak menolongku, mungkin aku sudah tertidur di tanah selamanya,” terang Rahma mengenang kejadian beberapa Minggu yang lalu, kejadian yang sungguh membuat siapapun ketakutan karena pada malam itu nyawa Rahma bisa saja menghilang dari bumi untuk selama-lamanya.
“Mbak Rahma jangan lagi membahas kejadian malam itu, sungguh saya tidak ingin mendengar apalagi membahas mengenai kejadian malam menegangkan itu.”
“Apapun itu alasannya, aku sangat berterima kasih kepadamu Asyila. Kamu adalah wanita yang sangat baik, aku berharap kedepannya aku bisa sekuat kamu.”
“Insya Allah, Mbak Rahma bahkan bisa lebih kuat dari saya, saya yakin itu,” balas Asyila.
Rahma melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya yang masih membasahi pipinya.
“Mbak Rahma sekarang tidak boleh bersedih, akan lebih cantik jika Mbak Rahma berhijab. Saya ada beberapa hijab dan mungkin bisa Mbak Rahma kenakan, apakah Mbak Rahma mau?”
Rahma menundukkan kepalanya, ia merasa malu dengan dirinya sendiri.
“Mbak Rahma kenapa?” tanya Asyila sambil mengangkat kepala Rahma yang sebelumnya menunduk kebawah.
__ADS_1
“Aku malu, Asyila. Ibadahku masih berantakan dan rasanya aneh jika aku mengenakan hijab, sedangkan amalku masih sangat sedikit dan bisa dikatakan miskin agama,” jawab Rahma dan menangis histeris.
“Apa karena itu Mbak Rahma merasa malu? Justru, saya sangat senang mendengar kejujuran Mbak Rahma. Masalah ibadah, Mbak Rahma bisa memulainya dari yang terkecil. Contohnya saja, dengan Mbak Rahma sholat lima waktu itu sudah termasuk hal yang sangat luar biasa. Diluar sana, banyak umat muslim yang belum bisa menyempurnakan sholat mereka. Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin. Ketika Allah mengatakan Kun fayakun, jadilah maka jadilah. Sekarang, Mbak Rahma mau mengenakan hijab?” tanya Asyila dan berharap Rahma setuju.
Rahma terdiam sejenak, ia sadar bahwa sebagai seorang muslimah wajib hukumnya untuk menutup aurat.
“Bismillahirrahmanirrahim, aku mau Asyila,” jawab Rahma dengan penuh keyakinan.
Asyila dengan semangat mengucapkan Alhamdulillah, wanita muda itu sangat senang mendengar bahwa Rahma setuju serta mau mengenakan hijab.
“Mbak Rahma tunggu sebentar disini, saya akan membawakan beberapa hijab yang bisa Mbak Rahma gunakan!”
Wanita muda itu berlari kecil dengan penuh semangat, ia sangat senang hingga tak bisa berkata-kata lagi.
“Mas Abraham, pagi ini Asyila sangat senang. Mas tahu tidak?”
“Tidak,” celetuk Abraham.
“Asyila belum selesai bicara, Mas Abraham,” ucap Asyila sambil memasang wajah ngambek.
“Iya, Maaf. Sekarang beritahu Mas kenapa Asyila sangat senang!”
Asyila pun menceritakan tentang Rahma yang akhirnya ingin mengenakan hijab. Abraham yang mendengarkan keterangan istri kecilnya tersebut sangat bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Sang istri. Lagi-lagi, Asyila membuat Abraham terpukau sekaligus bangga karena menjadi suami dari sosok wanita yang luar biasa hebatnya.
“Terima kasih, istriku. Sekali lagi, istri Mas ini membuktikan bahwa suamimu ini sangatlah beruntung,” tutur Abraham.
“Asyila yang seharusnya berkata seperti itu, Mas. Menjadi istri Mas Abraham adalah sesuatu hal yang sangat luar biasa indahnya, terima kasih karena telah memilih Asyila untuk menjadi pendamping hidup Mas, sekaligus menjadi Ibu dari anak-anak Mas,” terang Asyila.
Abraham terus saja mengatakan hal yang membuat Asyila berbunga-bunga dan lupa waktu dengan apa yang keluar dari mulut Abraham. Sampai akhirnya, Asyila teringat bahwa Rahma tengah menunggu dirinya.
“Mas, Asyila keluar dulu ya. Asyila ingin memberikan beberapa hijab Asyila agar bisa segera digunakan oleh Mbak Rahma. Barulah setelah itu, Asyila membawa Mas keluar kamar dan kita bersama-sama sarapan diruang makan.”
“Iya Syila ku!” seru Abraham.
Asyila cepat-cepat keluar dari kamar dan tersenyum lebar ketika melihat Rahma sudah berganti pakaian dengan pakaian tertutup.
“Aneh ya?” tanya Rahma malu-malu.
“Mbak Rahma terlihat sangat cantik, sekarang ambillah ini!” Asyila dengan semangat menyerahkan hijab miliknya kepada Rahma.
“Ini untukku?” tanya Rahma.
“Tentu saja, Mbak Rahma sekarang pilih salah satu dari hijab tersebut dan gunakanlah! Semoga Mbak Rahma suka dan terus mengenakannya.”
Rahma lagi-lagi menangis terharu, meskipun ia lebih tua dari Asyila. Namun, pemikirannya Asyila mampu mengalahkannya usia dari seorang Rahma. Dalam penglihatan Rahma, Asyila terlihat sangat dewasa, baik dalam pikirannya maupun tindakannya.
“Sekali lagi terima kasih, Asyila. Surga merindukan sosok seperti kamu,” tutur Rahma sambil terus menatap Asyila dengan penuh kekaguman.
__ADS_1