
“Tidak!” teriak Asyila.
Abraham berusaha membangunkan istri kecilnya sembari terus menepuk-nepuk kedua pipi sang istri agar segera bangun.
“Syila, sadarlah!” Abraham mencoba menggoyang-goyangkan tubuh istri kecilnya dan berharap Asyila segera terbangun.
“Tidak!” teriak Asyila dan seketika itu ia terbangun dari mimpi buruknya.
Asyila menyentuh kedua lututnya dan melihat telapak tangannya yang sebelumnya terluka.
“Syila kenapa?” tanya Abraham panik, “Apakah Syila mengalami mimpi buruk?” tanya Abraham.
Asyila terdiam dengan cukup lama seperti orang kerasukan. Ia terdiam dengan tatapan kosong.
Abraham mengusap seluruh wajah istri kecilnya dengan air dan membaca do'a ayat kursi ditelinga istri kecilnya.
Asyila tersadar dan memeluk erat tubuh suaminya, benar-benar erat sampai-sampai Abraham merasa sesak.
Wanita muda itu, kemudian meludah sebanyak tiga kali sembari menoleh ke arah kiri. Ia pun membaca do'a mimpi buruk dalam hati.
Huwallahu, allahu rabbi, la syarika lahu. A‘udzu bikalimatillahit tammati min ghadhabihi wa min syarri ibadihi wamin hamazatis syayatini wa an yahdhuruni.
“Sudah tidak apa-apa, ada Mas disini,” ucap Abraham menenangkan istri kecilnya.
Keringat dingin bercucuran di kening Asyila, bahkan Abraham bisa merasakan keringat dingin yang dikeluarkan oleh Asyila. Abraham tak bertanya mengenai mimpi buruk Asyila, begitu pula dengan Asyila yang tak ingin menceritakan mimpi buruknya itu.
“Mas, jangan tinggalkan Asyila,” ucap Asyila sambil menahan air matanya. Asyila tidak ingin suaminya itu semakin khawatir dengan keadaannya.
“Bahkan, untuk memikirkannya saja Mas tidak pernah. Syila yang tenang ya, ayo ambil air wudhu!” ajak Abraham dan membantu istri kecilnya bangkit.
Kaki Asyila mendadak mati rasa, ia hampir saja terjatuh jika sang suami tidak menahan tubuhnya.
“Syila minum dulu,” tutur Abraham dan mendudukkan istri kecilnya di kursi. Kemudian, Abraham mengambil segelas air minum dan meminta Asyila untuk menghabiskannya.
Asyila mengucapkan bismillah dan meminumnya sampai habis. Asyila sangat berharap bahwa itu hanya mimpi buruk dan tidak akan terjadi apa-apa dikemudian hari.
“Mas, bolehkah Asyila menghubungi Arsyad sekarang? Oya, dimana Ashraf? Bukankah Ashraf tadi tidur dengan Asyila,” ucap Asyila dengan begitu tak berdaya.
Abraham mencoba menghubungi Ibu mertuanya, meskipun saat itu masih jam 1 pagi, Abraham berharap Ibu mertuanya mau menerima sambungan panggilan videonya.
“Assalamu’alaikum, Ibu,” ucap Abraham.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Nak Abraham?” tanya Arumi.
“Maaf mengganggu tidur Ibu,” ucap Abraham meminta maaf.
“Tidak sama sekali, Ibu bahkan baru saja memasak makanan untuk persiapan sahur kami,” balas Arumi jujur.
__ADS_1
Abraham langsung memberikan ponselnya kepada Istri kecilnya.
“Ibu, hiks... hiks..” Asyila tiba-tiba langsung menangis dan membuat Abraham terkejut.
Abraham mencoba menenangkan istri kecilnya karena takut Ibu mertuanya salah paham padanya.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Arumi yang terlihat khawatir.
“Asyila kangen dengan Ayah, Ibu dan Arsyad. Kapan kalian bisa kemari? Atau Asyila yang akan kesana untuk menemui Ayah, Ibu dan Arsyad,” terang Asyila.
“Sayang, apakah kamu mimpi buruk? Kami disini juga merindukan kalian di sana, tapi untuk sementara waktu kami belum bisa ke sana,” terang Arumi.
Asyila mengangguk mengerti dan meminta Ibunya untuk memperlihatkan wajah putra pertamanya yang tengah tertidur.
“Selamat malam kesayangan Bunda!” sapa Asyila dan seketika itu juga hati Asyila merasa damai.
Cukup lama Asyila memandangi wajah Arsyad, sampai akhirnya mereka mengakhiri sambungan panggilan video.
Setelah itu, keduanya bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Pagi hari.
Asyila masih terngiang-ngiang dengan mimpinya, ia berharap mimpi buruknya tidak menjadi kenyataan.
“Pagi-pagi begini Ibu hamil tidak boleh melamun,” ucap Abraham menggoda istri kecilnya yang tengah duduk melamun sembari menoleh ke arah pantai melalui jendela.
Asyila tersenyum tipis dan menuntun tangan suaminya agar memeluk tubuhnya dari belakang.
“Ya kalau begitu kita buat sampai Asyila hamil,” sahut Abraham dan tertawa kecil.
“Tok... tok!” Bunyi ketukan pintu mengangetkan Abraham dan Asyila.
Asyila yang saat itu tengah berpakaian cukup terbuka bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera mengganti pakaiannya. Sementara Abraham, membuka pintu.
“Selamat pagi Paman!” sapa Dyah yang saat itu tengah mengandeng Ashraf, “Aunty mana?” tanya Dyah karena tak melihat Asyila.
“Ada di kamar, kenapa sepagi ini kamu datang kemari? Bukankah seharusnya kamu banyak istirahat,” ucap Abraham.
“Dyah kesini itu karena mau liburan, Paman. Lagipula, suasananya dingin dan sangat nikmat untuk menghirup udara segar didekat pantai,” terang Dyah.
Asyila keluar dari kamarnya dan Ashraf dengan cepat berlari menghampiri Bundanya.
“Bunda..” Ashraf terlihat sangat menempel dan tak ingin lepas dari pelukan Asyila.
Asyila kembali teringat dengan mimpi buruknya, ia pun mempererat pelukannya dan menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Dyah terkejut melihat air mata Aunty yang terus mengalir deras.
__ADS_1
“Paman... Aunty kenapa menangis?” tanya Dyah.
“Sssuuuttt...” Abraham hanya memberikan isyarat agar Dyah diam.
Dyah pun mengangguk kecil sembari terus memperhatikan Asyila yang tengah menangis sambil memeluk Ashraf.
“Bunda jangan nangis,” ucap Ashraf sambil menghapus air mata Bundanya dengan tangan kecilnya.
Asyila tersenyum tipis dan membantu buah hatinya menghapus air mata.
“Bunda sudah tidak menangis lagi sayang, sini cium Bunda!” pinta Asyila sambil menunjuk ke arah pipi kanan dan kiri.
“Muacchh... Muaacchhh!” Ashraf dengan semangat mencium pipi kanan dan kiri Bundanya.
“Terima kasih sayang,” ujar Asyila.
Asyila pun terkesiap dan mendekati Dyah sembari menggandeng tangan putra kecilnya, Ashraf.
“Bagaimana kabarmu, Dyah?” tanya Asyila.
“Alhamdulillah baik, Aunty apa kabar?” tanya Dyah balik.
“Insya Allah Aunty-mu ini baik-baik saja,” jawab Asyila.
Dyah sedikit bingung sembari melirik ke arah Pamannya. Abraham hanya bisa tersenyum dan merangkul pinggang istri kecilnya.
“Hari ini kita mau sarapan apa?” tanya Abraham.
“Mas, Asyila masak ya?” tanya Asyila yang tiba-tiba ingin masak makanan supaya ia memiliki kegiatan dan tidak bersedih lagi.
Abraham dengan cepat mengiyakan, bagaimanapun ia ingin istri kecilnya kembali ceria dan tak ingat-ingat lagi mimpi buruk yang dialami oleh istri kecilnya. Meskipun Abraham tidak mengetahui mimpi buruk Asyila, Abraham percaya bahwa mimpi buruk hanyalah mimpi buruk.
“Mas, tolong belikan Asyila cumi-cumi dan lainnya sayur apa saja!” pinta Asyila.
“Heemmm... Cumi-cumi segar atau tidak? Sepertinya Mas akan kesulitan memilih cumi-cumi yang baik,” ucap Abraham yang berpura-pura bingung agar istri kecilnya mau ikut pergi bersamanya ke pasar ikan.
“Kalau begitu Asyila ikut saja ya Mas!” pinta Asyila.
Abraham bernapas lega dan mengucapkan syukur karena istri kecilnya mau ikut dengannya pergi mencari cumi-cumi di pasar ikan.
“Dyah ikut ya!” pinta Dyah.
“Ashraf juga ya!” seru Ashraf.
Abraham dan Asyila kompak mengiyakan, merekapun bergegas pergi ke pasar ikan dengan mengendarai mobil milik Temmy, Papa dari Dyah.
“Paman mau kemana?” tanya Fahmi yang saat itu tengah duduk.
__ADS_1
Abraham memiliki ide dan dengan cepat mengajak Fahmi untuk ikut bersama mereka pergi ke pasar ikan. Dyah sebenarnya tak senang karena Fahmi ikut, akan tetapi ia juga tidak bisa melarangnya.
Abraham ❤️ Asyila