
Setelah mengatakan hal itu, Arumi memutuskan untuk ikut tidur dan berharap ketika bangun rasa sedih dihatinya berkurang.
Herwan yang mengintip istri serta cucunya tidur bersama merasa sangat senang. Herwan sangat berharap, istrinya akan selalu sabar untuk menghadapi cucu mereka yang akhir-akhir ini sangat rewel.
“Pak Herwan,” ucap Pak Udin dengan sangat lirih sambil menepuk bahu Herwan.
Herwan menoleh sambil menyentuh dadanya.
“Ada apa Pak Udin?” tanya Herwan penasaran karena tidak biasanya Herwan masuk ke dalam rumah dan menemui secara mendadak seperti itu.
“Maaf sebelumnya, siang ini saya ada urusan penting. Boleh saya minta izin semalam saja? Insya Allah besok pagi sebelum jam 7, saya sudah ada disini,” ungkap Pak Udin.
“Pak Udin tidak perlu sungkan-sungkan, kalau memang begitu pergilah. Disini sudah ada 4 orang yang menjaga rumah. Insya Allah kami aman, Pak Udin jangan lupa jaga diri,” balas Herwan.
Setelah berpamitan, Pak Udin bergegas meninggalkan kediaman Abraham dengan menggunakan motornya.
Sore hari.
Ashraf dan Herwan baru saja pulang dari masjid, keduanya terlihat bahagia ketika Kakek dan Cucu bermain kejar-kejaran.
“Cepat, Kek! Tangkap Ashraf,” ucap Ashraf menantang kakeknya untuk segera menangkap dirinya.
“Kakek pasti akan menangkap Ashraf!” seru Herwan menerima tantangan dari cucunya itu.
Keduanya terus saja berlari dan sesuatu hal yang tak diinginkan hampir saja merenggut nyawa bocah kecil itu.
“Ashraf!” teriak Herwan.
Ashraf menoleh dan berteriak sekeras mungkin.
Bughh!!!
Ashraf dan seorang wanita berguling-guling di tanah setelah berhasil menghindari mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi.
“Berhenti!” teriak Herwan yang sangat geram dengan pengendara mobil yang ugal-ugalan tersebut.
Wanita itu bangkit dan bergegas memeriksa kondisi Ashraf.
“Adik tidak apa-apa?” tanya wanita itu.
“Bunda!” panggil Ashraf.
Herwan seketika itu menoleh ke arah wanita yang baru saja di panggil Bunda oleh cucunya.
__ADS_1
Herwan tertegun seketika itu juga, wajah wanita itu benar-benar sangat mirip dengan Asyila.
Yang membedakannya adalah wanita dihadapannya tidak mengenakan hijab, tubuhnya sedikit berisi dan kulitnya tidak seputih kulit putrinya, Asyila.
“Ka-kamu, ba-bagaimana wajahmu bisa...” Abraham menampar wajahnya sendiri, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Wanita itu tersenyum manis ke arah Herwan dan beralih pada Ashraf yang terus memandangi dengan mata berkaca-kaca.
“Adik kecil, lain kali jangan main lari-larian di jalanan. Kalau kakak tidak cepat-cepat menghampiri adik, entah apa yang terjadi,” ucapnya.
“Bunda!” Ashraf menangis dan memeluk erat wanita yang mirip dengan Bundanya.
“Apakah aku setua itu? Panggil aku kak salsa,” ucapnya yang ternyata wanita itu bernama Salsa.
Salsa melepaskan pelukan Ashraf dan menghampiri Herwan yang baru saja menampar pipinya sendiri.
“Bapak tidak apa-apa?” tanya Salsa.
“Tidak, kamu bukan Asyila. Akan tetapi, bagaimana kamu memiliki wajah yang hampir mirip dengan putriku?” tanya Herwan.
Salsa memasang wajah kebingungan, dengan pertanyaan Herwan.
“Maksud Bapak apa? Maaf, saya ada urusan penting. Saya permisi,” ucap Salsa dan pergi dengan mengendarai motornya.
“Bunda!” panggil Ashraf.
“Ashraf, itu bukan Bunda Asyila. Ashraf tidak boleh memanggil orang lain dengan sebutan seperti itu,” tegas Herwan dan menggendong tubuh kecil Ashraf pulang ke rumah.
Mendengar suara tangisan Ashraf, Arumi cepat-cepat keluar rumah untuk mengetahui penyebab cucunya menangis.
“Ada apa ini, Mas?” tanya Arumi pada suaminya.
Bukannya langsung menjawab, Herwan malah tenggelam dalam lamunannya. Pria itu terus saja memikirkan wanita yang bisa mirip dengan putrinya, meskipun hanya 80%.
“Mas!” Arumi yang geram dengan suaminya, seketika itu juga menepuk lengan suaminya dan membuat Herwan tersadar dari lamunannya.
“Ya Allah,” celetuk Herwan.
“Mas kenapa? Ditanya sama istrinya, bukannya menjawab malah bengong. Ini Ashraf kenapa, Mas? Ada apa?” tanya Arumi yang sangat khawatir mengenai tangisan dari cucunya.
Herwan lagi-lagi tak langsung menjawab pertanyaan dari istrinya. Ia lebih dulu meminta salah satu bodyguard untuk membawa Ashraf menjauh dari mereka dan meminta bodyguard itu untuk menenangkan Ashraf yang masih saja menangis memanggil Bundanya.
“Apakah ada hal yang sangat serius, Mas?” tanya Arumi semakin penasaran.
__ADS_1
Herwan menggandeng tangan istrinya dan membawa sang istri untuk duduk bersamanya.
“Cepat Mas, ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Kenapa wajah Mas terlihat sangat panik seperti itu? Seperti habis melihat hantu,” omel Arumi yang entah akhir-akhir Arumi menjadi lebih cerewet dari sebelumnya.
Sebelum menjelaskan tentang wanita yang mirip putri mereka, Herwan perlahan mengatur napasnya agar ketika ia menjelaskan nantinya, ia tidak kesulitan bernapas.
“Mas kenapa diam saja? Cepat katakan!” pinta Arumi mendesak suaminya agar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ini benar-benar tidak masuk akal dan bisa dikatakan tidak mungkin. Akan tetapi, Mas sendiri menyaksikan wujud dari wanita itu,” ucap Herwan yang belum menjelaskan secara detail mengenai Salsa.
“Mas kalau berbicara yang jelas, jangan berbicara seakan-akan tengah main tebak-tebakan,” tutur Arumi.
“Tadi, ketika dalam perjalanan pulang dari masjid, Mas dan Ashraf main kejar-kejaran,” ucap Herwan menggantungkan ucapannya.
Arumi kembali mendesak dan Herwan seketika itu menjelaskan secara detail mengenai wanita yang mirip dengan putri mereka.
Setelah mendengar keterangan dari suaminya, Arumi malah tertawa. Dan membuat Herwan geram dengan respon sang istri.
“Mas kalau mau bercanda, jangan serius-serius begini,” tutur Arumi.
“Yang bercanda siapa? Apakah wajah Mas terlihat seperti orang yang tengah bercanda?” tanya Herwan.
Arumi menghentikan tawanya seketika itu juga. Kemudian, menggigit bibirnya sendiri.
“Apakah yang Mas katakan adalah fakta?” tanya Arumi memastikan.
“Terserah kalau Ibu tidak percaya, sampai detik ini pun Mas masih belum percaya dengan apa yang Mas lihat,” terang Herwan.
Arumi termenung sejenak untuk memikirkan mengenai wanita yang bersama Salsa.
Kemudian, menoleh ke arah suami dan bergantian menoleh ke arah Ashraf yang kini sudah tak menangis lagi.
Salsa? Apakah ini hanya kebetulan saja?
Arumi beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri cucunya yang tengah bermain air bersama salah satu bodyguard.
“Sudah sore, Ashraf tidak boleh main air. Ayo masuk!” ajak Arumi sambil menggandeng tangan cucunya.
Ashraf hanya diam sambil mengikuti langkah Neneknya yang membawanya masuk ke dalam.
Bocah kecil itu berusaha menahan tangisnya, wajah Bundanya terus saja terbayang-bayang dipikirannya dan berharap Bundanya bisa segera muncul dihadapan serta memeluknya seperti yang biasa Bundanya lakukan.
“Nenek, tadi Ashraf lihat Bunda. Kenapa Bunda tidak pulang kesini?” tanya Ashraf.
__ADS_1
“Wanita itu bukanlah Bunda Asyila. Ashraf tidak boleh sembarangan memanggil wanita lain dengan sebutan Bunda,” tegas Arumi yang merasa risih dengan apa yang dikatakan oleh suami serta cucunya.