Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Kagum Dengan Sosok Abraham Mahesa


__ADS_3

“Mas, boleh Asyila minta tolong lagi?” tanya Asyila dengan tatapan sayu.


“Minta tolong apa Syila? Apapun itu, insya Allah Mas akan mengabulkan permintaan Asyila,” sahut Abraham dengan terus membantu istri kecilnya menggendong bayi mereka.


“Asyila mau makan sayur daun katuk Mas,” terang Asyila.


“Baiklah, Mas nanti akan memasak daun katuk keinginan Asyila. Tambah jagung juga?”


Asyila tersenyum dan mengangguk perlahan.


“Syila tenang saja, Mas akan berusaha menjadi dokter terbaik untuk Asyila. Kalau Asyila ingin minta sesuatu, jangan sungkan-sungkan ya. Justru, Mas senang jika pasiennya adalah Asyila,” tutur Abraham.


“Itu artinya, Asyila tidak boleh sembuh dong Mas?” tanya Asyila.


“Kok Asyila bicara seperti itu, bukan maksud Mas seperti itu,” balas Abraham dengan ekspresi terkejut.


Asyila tertawa kecil dan menyentuh pipi kiri suaminya.


“Asyila tahu kok Mas, terima kasih sudah melakukan banyak hal untuk Asyila,” ujar Asyila dengan memberikan tatapan penuh cinta.


“Ssuuttss... Apapun yang Mas lakukan, itu semuanya tulus dari hati Mas yang paling dalam,” terang Abraham.


“Masya Allah, suamiku ini pintar sekali puitis,” sahut Asyila.


Abraham berdehem dan mencium lembut pipi istri kecilnya.


“Mas, bayi kita sudah tidur. Tolong taruh kembali di ranjang bayi ya,” pinta Asyila dengan suara yang sangat pelan.


Abraham mengangguk kecil dan perlahan membawa buah hati mereka ke keranjang bayi.


“Cuaca pagi ini sangat dingin ya Mas, sepertinya akan turun hujan.”


“Sepertinya begitu, semoga saja hujan yang Allah turunkan berkah untuk kita semua,” pungkas Abraham.


“Aamiin Allahumma Aamin,” ucap Asyila.


Abraham mengambil ponsel miliknya di nakas untuk segera menghubungi Eko, sopir pribadinya.


“Hallo, Assalamu'alaikum.”


“Wa’alaikumsalam, iya Tuan Abraham!”


“Eko, kamu sekarang pergi ke pasar dan belilah beberapa ikat daun katuk, jagung serta cemilan untuk orang-orang rumah!” perintah Abraham lewat telepon.


“Baik, Tuan Abraham. Saya akan berangkat sekarang,” balas Eko.


Abraham mengiyakan dan mengakhiri sambungan telepon mereka berdua.


Asyila tertawa kecil melihat suaminya yang berbicara lewat telepon, padahal Eko sendiri ada di depan rumah.


“Ada yang lucu ya?” tanya Abraham terheran-heran.


“Ada,” jawab Asyila.


“Memangnya apa yang lucu?” tanya Abraham penasaran.


“Mas Abraham yang lucu, karena berbicara dengan Pak Eko lewat telepon. Kenapa Mas tidak keluar dan berbicara langsung saja dengan Pak Eko?”


Abraham menggelengkan kepalanya dan duduk berdekatan dengan Sang istri di tempat tidur.


“Mas hanya tidak ingin meninggalkan Asyila di dalam kamar,” ungkap Abraham dengan tatapan serius dan penuh cinta.


Deg! Deg! Deg!


Apa yang Abraham katakan membuat Asyila salah tingkah. Bahkan, untuk bernapas saja membuat jantung Asyila berdebar-debar tak karuan.


“Wajah Asyila kenapa memerah?” tanya Abraham. “Wajah Asyila juga terasa hangat,” imbuh Abraham.


“Mas, sudah jangan menyentuh wajah Asyila,” pinta Asyila yang tak berani menatap mata suaminya secara langsung, takut bila dirinya semakin salah tingkah dan suhu badan semakin panas karena debaran jantung Asyila.


“Baiklah, Mas ke kamar mandi dulu ya,” tutur Abraham yang ingin buang air kecil.


“Iya Mas, cepatlah masuk ke kamar mandi,” balas Asyila.

__ADS_1


****


Dyah sedang bersenda gurau bersama suami serta putri kecil mereka di ruang keluarga. Mereka tertawa lepas ketika Asyila kecil menampilkan ekspresi lucu ketika Fahmi berpura-pura sedang bersin.


Bela yang juga berada di ruang keluarga ikut tertawa lepas melihat ekspresi bayi yang kini berusia 6 bulan tersebut.


“Mbak Dyah!” Tiba-tiba Mbok Num datang menghampiri Dyah.


“Iya, Mbok Num. Ada apa?” tanya Dyah.


“Itu, gasnya habis,” jawab Mbok Num yang sedang membuat kue kacang bersama Ibu Juminah.


“Mbok Num tenang saja, saya akan keluar membeli dan mengganti tabung gasnya,” sahut Fahmi dan seketika itu berjalan melangkah menuju dapur.


Dyah tersenyum lega karena untungnya ada suaminya yang dapat diandalkan. Sehingga, membantu Aunty serta Pamannya yang sedang mengalami musibah.


“Bela, tolong ambilkan dot susu adik Asyila!” pinta Dyah sembari menunjuk ke arah meja.


Bela mengiyakan dan cepat-cepat mengambil botol susu tersebut. Kemudian, memberikannya kepada putri kecilnya.


Isi di dalam botol tersebut tentu saja ASI dan bukan susu formula. Dyah sengaja Pumping agar mempermudah putri kecilnya untuk menyusu, apabila sewaktu-waktu ada orang datang dan Dyah tak perlu lagi masuk kamar untuk menyusui putri kecilnya.


“Dyah, Mas pergi dulu ke warung. Dyah atau Bela mau dibelikan apa?” tanya Fahmi.


“Kalau ada gorengan ya Mas!” pinta Dyah yang ingin sekali makan gorengan.


“Kalau Bela mau Mas Fahmi belikan apa?” tanya Fahmi pada Bela.


“Kalau boleh, Bela mau buku cerita baru,” jawabnya.


“Baiklah, nanti Mas Fahmi belikan. Ya sudah, Mas berangkat dulu, wassalamu'alaikum!”


“Wa’alaikumsalam,” balas Dyah dan juga Bela.


“Hati-hati Suamiku sayang,” tutur Dyah dengan terus melambaikan tangannya.


Fahmi menoleh sekilas dan membalas lambaian tangan dari istrinya, Dyah.


Abraham pun mengiyakan karena masalah tersebut harus secepatnya diselesaikan agar kedepannya tidak ada lagi yang bisa menyakiti istri kecilnya.


“Ada apa, Mas? Kenapa wajah Mas Abraham mendadak serius begitu?” tanya Asyila.


“Ini, Mas mendapatkan pesan kalau nanti ada beberapa polisi yang datang ke rumah untuk meminta keterangan dari Asyila. Asyila bersedia?” tanya Abraham.


“Tentu saja Asyila bersedia, Mas. Bagaimanapun, mereka harus dihukum seberat-beratnya atas apa yang telah mereka lakukan,” terang Asyila.


“Maaf, seharusnya malam itu Mas tetap menemani Asyila. Mas salah dan Mas memang pantas disalahkan.”


“Mas bicara apa? Bukankah Malam itu Asyila yang memang tidak ingin Mas temani? Sudahlah, Mas tidak usah lagi membahas kejadian yang sudah terjadi. Asyila sekarang baik-baik saja karena ada Mas yang merawat Asyila, Asyila sangat beruntung karena dirawat oleh dokter Abraham Mahesa,” ujar Asyila sembari menyentuh kedua pipi Sang suami tercinta.


“Asyila ini bisa saja merayu Mas,” celetuk Abraham tersipu malu.


“Yang merayu Mas siapa? Mas terlalu narsis,” sahut Asyila dan tertawa kecil.


Beberapa saat kemudian.


Eko akhirnya sampai juga setelah berbelanja seorang diri di pasar sayur. Untuk kesekian kalinya, ia harus berbelanja seorang diri dengan cukup kewalahan.


“Assalamu’alaikum, Tuan Abraham saya sudah sampai dengan belanjaan yang Tuan Abraham minta,” ucap Eko yang berbicara lewat telepon.


Tak butuh waktu lama, Abraham keluar dan memberi perintah pada Eko untuk memasukkan semua barang belanjaan ke dapur.


Eko mengiyakan dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk meletakkan semua belanjaannya di dapur.


“Sudah saya letakan semuanya di dapur, Tuan Abraham,” ucap Eko.


“Terima kasih, ini untukmu,” tutur Abraham sembari memberikan beberapa lembar uang kertas kepada sopir pribadinya.


“Alhamdulillah, terima kasih Tuan Abraham,” ucap Eko ketika mendapatkan uang dari Tuannya dengan nominal berkali-kali lipat dari uang yang ia belanjakan.


Abraham melenggang pergi menuju dapur untuk segera menyiapkan sarapan Sang istri tercinta.


“Paman Abraham mau ngapain?” tanya Fahmi yang baru saja selesai memasangkan tabung gas.

__ADS_1


“Mau memasak, apakah tabung gasnya tadi habis?” tanya Abraham pada Fahmi.


“Iya, Paman. Tapi tenang saja, Fahmi sudah membelinya,” jawab Fahmi.


“Berapa harganya? Biar Paman ganti uangnya.”


“Tidak perlu, Paman. Paman ini seperti sama siapa saja, ya sudah Fahmi permisi mau menemani Dyah dan putri kami di ruang keluarga,” tutur Fahmi yang cepat-cepat melenggang pergi meninggalkan dapur untuk segera ke ruang keluarga.


Melihat Abraham yang tengah memisahkan daun katuk dengan batangnya, Mbok Num pun mendekat dengan niat ingin membantu Abraham memasak daun katuk tersebut.


“Maaf, Tuan Abraham. Sini biar Mbok Num bantu Tuan Abraham memasak,” ucap Mbok Num.


“Mbok Num teruskan saja membuat kue kacang, soal memasak biar saya saja. Lagipula, sebelumnya saya sering memasak makanan untuk Asyila,” terang Abraham.


Mbok Num dan Ibu Juminah seketika itu menatap kagum sosok Abraham yang begitu perhatian serta menyayangi Asyila dengan begitu besar. Sampai-sampai Abraham mau turun tangan langsung memasak sayur katuk untuk Asyila yang sedang sakit.


“Mbok Num dan Ibu Juminah tidak perlu terkejut seperti itu. Paman kesayangan Dyah ini dari dulu memang seperti ini, apalagi saat Paman dan Aunty menikah. Kalau diceritakan, pasti Mbok Num dan Ibu Juminah menangis terharu karena perjuangan Paman yang begitu besar untuk mendapatkan hati seorang Aunty Asyila,” ungkap Dyah sambil menepuk-nepuk punggung Pamannya yang sedang memisahkan jagung dari bonggol jagung.


“Dyah, jangan banyak bicara!” perintah Abraham yang sebenarnya dalam hatinya, Abraham bangga dengan apa yang dikatakan oleh Dyah mengenai dirinya.


“Paman tidak usah malu-malu, Dyah adalah saksi kunci dari perjuangan Paman untuk mendapatkan Aunty kesayangannya Dyah,” sahut Dyah.


Mbok Num dan Ibu Juminah kompak bertepuk tangan karena mereka berdua sangat kagum dengan sosok Abraham.


“Mbok Num dan Ibu Minah tidak perlu sampai bertepuk tangan seperti itu,” tutur Abraham yang berusaha tetap terlihat cool meskipun di dalam hatinya ia salah tingkah.


Dyah tertawa lepas melihat telinganya Pamannya memerah, ia pun ikut bertepuk tangan dan tepuk tangannya itu paling kencang diantara yang lain.


Asyila tiba-tiba datang menghampiri suaminya dengan langkah kecil. Abraham, Dyah, Mbok Num serta Ibu Juminah terkejut melihat Asyila yang sudah berada di dapur.


“Syila kenapa kemari? Ayo Mas antar Asyila ke kamar lagi,” ucap Abraham yang nampak panik.


Dari Abraham memperlakukan istri kecilnya seperti itu, Mbok Num dan Ibu Juminah sudah tahu bahwa Abraham Mahesa takluk dengan sosok Asyila yang baik hati serta cantik tersebut.


“Mas, biarkan Asyila disini. Asyila mau duduk di kursi sembari melihat Mas Abraham yang sedang memasak untuk Asyila,” balas Asyila.


“Begitukah? Baiklah, Asyila duduk diam disini dan cukup melihat Mas saja, mengerti!”


“Mengerti, Mas Abraham,” balas Asyila.


“Mbok Num dan Ibu Minah bisa lihat sendiri, 'kan? Lihat, bagaimana Paman begitu mengistimewakan Aunty Asyila!”


“Dyah, apakah kamu harus terus berbicara seperti ini? Sana pergi ke ruang keluarga dan untuk Mbok Num serta Ibu Minah, fokuslah membuat kue kacang!” perintah Abraham.


Mbok Num dan Ibu Minah saat itu juga bergeser menjauh untuk kembali fokus dengan pekerjaan mereka.


“Oya, ini ada cemilan. Tolong taruh di piring dan dibagi rata ya Mbok Num!” perintah Abraham.


“Baik, Tuan Abraham!” seru Mbok Num dan cepat-cepat mengeluarkan cemilan yang Eko beli untuk bagi rata.


Asyila terus memperhatikan setiap apa yang suaminya lakukan. Semakin lama cinta keduanya semakin besar satu sama lain dan siapapun tentu saja tidak akan bisa memisahkan hubungan keduanya, kecuali maut yang memisahkan mereka.


“Mas, Asyila mau yogurt!” pinta Asyila.


“Asyila mau yogurt? Tunggu sebentar, Mas akan mengambilkannya,” sahut Abraham dan berlari kecil menuju kulkas untuk mengambil yogurt keinginan Sang istri tercinta.


Mbok Num menyenggol lengan Ibu Juminah agar ikut melihat bagaimana Abraham begitu perhatian dengan istri kecilnya.


“Yogurt keinginan istri tercinta sudah datang,” tutur Abraham dan memberikan yogurt tersebut kepada istri kecilnya.


“Terima kasih, Mas Abraham,” balas Asyila dengan memberikan senyum terbaiknya.


Melihat senyum cantik istri kecilnya, membuat Abraham lupa bahwa dirinya sedang berada di dapur dan sedang menjadi tonton dua wanita yang tengah membuat kue kacang.


“Muacchh...” Abraham dengan semangat mencium kening serta bibir istri kecilnya.


Melihat Abraham yang tengah mencium istrinya, Asyila. Mbok Num dan Ibu Juminah cepat-cepat memalingkan wajah mereka ke arah lain.


Abraham dan Asyila seketika itu kompak menoleh ke arah dua wanita yang juga berada di dapur dan untungnya dua wanita itu tak melihat keromantisan sepasang suami istri tersebut.


“Mas, lain kali kalau mau mencium Asyila harus pintar-pintar membaca situasi. Untungnya, Mbok Num dan Ibu Minah tidak melihat kita,” ucap Asyila dengan berbisik ditelinga suaminya.


“Iya, Maaf. Mas refleks karena terlalu senang melihat senyum Asyila yang cantik,” balas Abraham.

__ADS_1


__ADS_2