Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Berhasil Meringkus Yudi


__ADS_3

Baru akan melangkah mendekati rumah adik sepupunya, para wanita yang lainnya langsung menghadang jalan Menik.


“Menik, kamu habis bicara apa sama mereka berempat?” tanya salah satu wanita yang usianya terlihat lebih tua dari Menik.


Menik menoleh sekilas ke arah belakang dan segera menggelengkan kepalanya ke arah wanita dihadapannya.


“Tidak bicara apa-apa,” jawab Menik.


“Tidak mungkin kalau kamu tidak bicara apa-apa, sekarang ayo pulang!” ajak wanita itu sambil menarik paksa tangan Menik agar segera ikut bersamanya untuk pulang ke rumah.


Menik segera menepis tangan Vera yang mencoba memaksanya untuk pulang.


“Menik, jangan coba-coba melawan aku!” teriaknya.


“Mbak, saya hanya ingin membawa Tuan-tuan ini untuk menemui Yudi. Hanya itu saja,” tutur Menik pada Vera.


Vera mengernyitkan keningnya dan mencoba untuk mengerti maksud dari perkataan Menik.


Dayat berjalan mendekat dan mengatakan kepada Vera untuk tidak menghalangi jalan mereka.


Vera pun akhirnya menyingkir dan memberikan jalan untuk mereka menemui Yudi.


Ketika sampai di depan rumah yang ditinggali oleh Tiara dan Yudi. Abraham serta yang lainnya saling tukar pandang karena rumah itu terlihat tak layak huni.


“Apakah benar ini adalah rumah Yudi?” tanya Dayat memastikan.


“Ya seperti yang Tuan-tuan lihat, rumah ini ya seperti ini,” jawab Menik.


Ketika Menik akan mengetuk pintu, disaat yang bersamaan Yudi keluar dan seketika itu menarik Menik.


“Aaakkhh!” Teriak Menik ketika lehernya ditekan dan ada pisau tajam mengarah ke arah lehernya.


“Diam!” Yudi berteriak dan seketika itu juga Menik menangis ketakutan.


Para wanita dan juga para pria seketika itu keluar dari rumah mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.


“Kalian berempat, cepat pergi dari desa kami!” Lagi-lagi Yudi berteriak untuk mengusir Abraham serta yang lainnya dari desa.


Para pria yang merasa terusik dengan kedatangan mereka berempat, segera mengusir Abraham serta yang lainnya.


“Jangan mencoba-coba mengusir kami dari sini. Kedatangan kami kesini adalah untuk menangkap Yudi dan jika ada yang mencoba melawan, kalian pun akan bernasib sama seperti Yudi,” tegas Dayat.


Untuk membuat mereka percaya, Dayat seketika itu mengeluarkan senjata apinya.


“Jangan ada yang mencoba melawan, kami dari anggota kepolisian,” terang Dayat.


Melihat senjata api ditangan Dayat, mereka pun ketakutan dan segera menjauh. Akan tetapi, lain halnya dengan Yudi, Yudi malah semakin menjadi-jadi dan tiba-tiba darah segar keluar dari leher Menik.


Melihat darah segar mengalir seperti itu, Abraham langsung mengambil senjata api milik Dayat dan menembakkannya ke arah kaki Yudi.


“Aaakkhhh!” Yudi berteriak dan seketika itu juga Menik mendorong tubuh Yudi.

__ADS_1


Edi dan Sanjaya berlari mendekati Yudi yang sedang kesakitan karena kakinya baru saja ditembak oleh Abraham.


“Lepas!” Yudi mencoba memberontak agar Edi dan Sanjaya tak meringkusnya.


“Penjahat seperti mu wajib kami ringkus,” balas Edi yang terlihat sangat puas dengan ditangkapnya Yudi.


Edi dan Sanjaya menyeret paksa Yudi yang saat itu tengah terluka. Sementara Menik, hanya bisa menangis ketakutan karena hampir saja nyawanya melayang karena pisau tajam yang terus menempel ke lehernya.


Abraham mendekat dan memberikan sejumlah uang kepada Menik.


“Ambillah uang ini dan pakailah untuk berobat. Beberapa hari lagi, saya akan kemari. Terima kasih atas kerja samanya,” tutur Abraham.


“Te-terima kasih, Tuan,” ucap Menik pada Abraham yang baru saja memberikannya uang yang cukup banyak.


Abraham mengangguk dan melirik ke arah sekitar.


“Apakah orang-orang yang tinggal disini ada yang non muslim?” tanya Abraham.


Menik menunduk malu begitu juga yang lainnya.


“Yang tinggal disini semuanya adalah beragama Islam,” jawab Menik dengan sangat malu.


Abraham seketika itu memikirkan sesuatu hal yang cukup serius dan hanya Abraham serta Allah yang tahu.


“Apa ada hal yang sedang Anda pikirkan, Tuan Abraham?” tanya Dayat memastikan.


“Tentu saja, kalau sudah saatnya kamu pun akan tahu apa yang sedang aku pikirkan dan aku rencanakan. Ayo pulang!” ajak Abraham.


Beberapa saat kemudian.


“Ayah!” Ashraf berlari menghampiri Ayahnya yang sedari pagi sudah pergi meninggalkannya, “Ayah kenapa baru pulang?” tanya Ashraf karena saat itu sudah sangat sore.


Abraham tersenyum dan berjongkok tepat dihadapan buah hatinya.


“Ayah tadi ada urusan, Ashraf sudah makan?” tanya Abraham.


Ashraf menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia belum makan.


“Kenapa belum makan? Menunggu Ayah pulang ya?” tanya Abraham sambil menyentuh hidung mancung buah hatinya.


Ashraf dengan polosnya mengangguk kecil.


“Oya, bagaimana lutut Ashraf?” tanya Abraham sambil memeriksa kondisi lutut Ashraf yang sebelumnya terluka.


“Sudah sembuh Ayah,” jawab Ashraf.


Abraham tersenyum senang sambil mengacak-acak rambut buah hatinya.


“Jangan Ayah, sudah disisir sama Kak Dyah,” rengek Ashraf Dan dengan tangannya sendiri, ia mencoba memperbaiki tatanan rambutnya yang dirusak oleh Ayahnya.


“Maafkan Ayah, habisnya Ashraf lucu,” balas Abraham dan menggandeng masuk buah hatinya ke dalam rumah.

__ADS_1


Ketika masuk ke dalam rumah, Abraham tak lupa mengucapkan salam.


“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutur Abraham.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Paman dari mana saja?” tanya Fahmi menghampiri Abraham yang baru saja masuk ke dalam rumah.


“Ada urusan mendesak. Oya, Mertuamu mana?” tanya Abraham karena tak melihat Temmy serta Yeni.


“Mama dan Papa kebetulan sudah pulang sekitar 1 jam yang lalu,” jawab Fahmi.


“Terus, Mertuaku apakah sudah pulang?” tanya Abraham lagi.


“Kakek dan Nenek belum pulang dari pagi tadi. Apa tidak menghubungi Paman?” tanya Fahmi kembali.


Abraham mengernyitkan keningnya dan segera merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel pintarnya.


“Astaghfirullahaladzim, ponsel Paman mati,” tutur Abraham dan berlari kecil menaiki anak tangga untuk segera mencharge baterai ponselnya.


Ashraf yang tertinggal mencoba menyusul Ayahnya yang lebih dulu masuk ke dalam kamar.


“Ayah jahat,” ucap Ashraf yang baru masuk kamar dengan wajah cemberutnya.


Abraham yang merasa bersalah seketika itu meminta maaf dan mencoba membujuk buah hatinya untuk tidak ngambek.


“Ashraf jangan ngambek sama Ayah ya. Bagaimana kalau kita keluar setelah sholat ashar?”


Ashraf yang semula cemberut, perlahan menunjukkan senyum manisnya.


“Nah gitu dong! Ayah mandi dulu habis itu Ayah sholat karena sekarang sudah jam 5 sore,” tutur Abraham dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Sambil menunggu Sang Ayah mandi dan juga sholat, Ashraf pun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur karena tubuhnya cukup lelah setelah seharian bermain dengan Kahfi.


Beberapa saat kemudian.


Abraham telah selesai melaksanakan sholat dan bersiap-siap untuk mengajak buah hatinya keluar rumah mencari makanan.


“Ashraf, ayo bangun!” Abraham mencoba membangunkan buah hatinya yang tengah tertidur pulas.


Ashraf bangun dari tidurnya sambil tersenyum lebar.


“Ayah sudah sholat?” tanyanya dengan begitu menggemaskan.


“Alhamdulillah, sudah. Cepat cuci muka habis itu kita pergi!” perintah Abraham.


Ashraf mengangguk kecil dan dengan hati-hati turun dari tempat tidur. Kemudian, berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang baru saja bangun dari tidur.


Tak butuh waktu lama, Ashraf pun keluar dari kamarnya dan keduanya bergegas keluar dari kamar.


“Ayah, ajak Kahfi juga ya!” pinta Ashraf sambil menoleh ke arah Ayahnya yang saat itu tengah menggandeng tangannya.


“Boleh, kalau begitu kita ke rumah Kahfi dan mengajaknya keluar!” seru Abraham.

__ADS_1


Ashraf melompat kegirangan dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ayahnya.


__ADS_2