Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Jangan Pergi!


__ADS_3

Malam hari.


Ditengah hutan Asyila berlari kesana-kemari untuk menemukan suaminya, Abraham.


Ia terus berlari dan terus berlari berharap sang suami segera ditemukan.


“Mas! Mas Abraham!” panggil Asyila dengan terus berlari.


“Aaaakkkhhh!” Asyila terjatuh karena tak sengaja tersandung akar pohon.


Ia menoleh ke atas dan betapa terkejutnya Asyila ketika dihadapannya ada sebuah pohon beringin besar serta menyeramkan. Asyila sangat ketakutan, ia merasa seakan-akan sedang diawasi oleh banyak mata yang tak terlihat.


“Hiks... hiks... Ya Allah, Mas Abraham dimana?” tanya Asyila dan berusaha bangkit.


Pakaian putih Asyila kotor dipenuhi tanah basah dan kedua lututnya mengeluarkan darah segar. Kini, Asyila tidak bisa berlari. Kedua lututnya membuat ia hanya bisa berjaln tertatih-tatih.


Samar-samar Asyila melihat suaminya dari kejauhan sedang menggendong anak kecil yaitu, buah hati mereka, Ashraf.


“Mas! Tunggu Asyila Mas!” panggil Asyila dan sekuat tenaga berusaha menghampiri suaminya dan juga buah hati mereka.


Abraham sama sekali tak menoleh, ia terus berjalan sembari menggendong tubuh Ashraf yang saat itu tengah tertidur di gendongannya.


“Mas, tolong jangan tinggalkan Asyila sendirian Mas!” pinta Asyila.


Abraham terus berjalan menjauh dan tiba-tiba ada kabut yang begitu tebal menutup jalan yang akan dilalui oleh Asyila. Asyila kembali terjatuh tersandung batu dan kini kedua telapak tangannya pun terluka.


Wanita muda itu menangis ketakutan, suaminya bahkan tak menoleh ketika ia memanggil suaminya berulang kali.


“Mas, apakah Mas tidak mendengar panggilan Asyila? Atau Mas sengaja menjauh dari Asyila?”


Ia menangis ketakutan sambil memeluk kedua lututnya. Wanita muda itu tak habis pikir dengan perubahan suaminya yang sangat dingin.


Duaaaarrr! Tiba-tiba suara kilatan petir terdengar dan membuat Asyila terkejut.


“Aaaaakkkhhh!” Asyila menjerit ketakutan dan berharap suaminya datang untuk mencari dirinya.


Hujan pun tiba-tiba turun dengan cukup deras, disaat yang bersamaan Arsyad datang menghampiri Asyila yang tengah menangis.


“Bunda!” Arsyad mendekat dan menyentuh bahu bundanya.


Asyila mendongakkan kepalanya dan menarik tubuh putra pertamanya ke dalam pelukannya dengan sangat erat.

__ADS_1


“Ya Allah, kamu kenapa disini sayang?” tanya Asyila dengan penuh khawatir.


“Bunda kenapa sendirian disini? Ayo ikut Arsyad pulang!” ajak Arsyad sambil membantu Asyila berdiri.


“Iya sayang.” Asyila mencoba bangkit dan mengikuti langkah kaki putra pertamanya, Arsyad. Akan tetapi, Arsyad berjalan dengan begitu cepat hingga Asyila tidak bisa mengejarnya.


Bruk! Asyila kembali terjatuh dan berusaha memanggil Arsyad agar berhenti. Namun sayangnya, Arsyad terus saja berjalan dan akhirnya tak terlihat lagi.


“Ya Allah, tolonglah hamba mu ini. Kenapa mereka meninggalkan hamba sendirian disini?” tanya Asyila di tengah guyuran hujan deras.


Pakaian Asyila yang awalnya putih bersih kini berusaha menjadi kotor dan sangat kotor terkena lumpur dari tanah. Rasanya sangat sulit untuk Asyila bangkit, tenaganya sudah habis dan ia pun berharap ada seseorang yang datang membantunya pulang.


Perlahan pandangan Asyila buram dan akhirnya semuanya menjadi gelap. Asyila pun pingsan tak sadarkan diri di bawah guyuran hujan deras di tengah hutan.


***


Pagi hari.


Asyila terbangun dengan tubuh yang hampir seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia merintih kesakitan ketika merasakan kedua lututnya serta kedua telapak tangannya yang perih karena jatuh tersandung batu.


“Mas, Ashraf, Arsyad! Kalian dimana?” tanya Asyila yang masih berada ditengah hutan belantara.


Asyila semakin terkejut ketika melihat Arsyad dan juga Ashraf berlari keluar rumah menghampiri Abraham serta wanita itu.


Dada Asyila begitu sesak ketika melihat Arsyad dan Ashraf dengan senangnya mencium perut wanita hamil itu.


“Selamat pagi Ayah, selamat pagi bunda dan selamat pagi adik kecil!” sapa Arsyad dan Ashraf.


Sakit. Satu kata yang tergambar jelas di hati Asyila, Asyila memukul dadanya dan menangis seketika itu juga.


Bagaimana bisa, wanita itu mengambil semua orang yang Asyila sayang. Suami dan kedua anak terlihat begitu bahagia.


“Mas!” teriak Asyila.


“Arsyad, Ashraf! Ini Bunda sayang!” teriak Asyila.


Panggilan Asyila sama sekali tak didengar oleh Abraham maupun kedua putra mereka. Seolah-olah ada dinding pembatas yang memisahkan Asyila untuk mendekati keluarganya.


“Mas, tolong jangan lakukan ini kepada Asyila, tolong Mas!” pinta Asyila memohon kepada suaminya.


Abraham mengajak wanita hamil itu serta kedua putranya untuk masuk ke dalam rumah. Setelah mereka masuk, perlahan rumah itu menghilang tertutup kabut dan semakin membuat Asyila syok.

__ADS_1


“Tidak! Kalian tidak boleh meninggalkan Bunda disini, Mas Abraham tolong jangan pergi dan melupakan Asyila. Asyila disini sangat takut Mas, sangat takut!” teriak Asyila.


Ia kembali terjatuh dan disaat itu juga ada seekor ular korban berukuran cukup besar siap menggigitnya.


“Tolong!” teriak Asyila dan dengan sekuat tenaga ia berjalan menjauh karena tenaganya tak kuat lagi untuk berlari.


Asyila menoleh ke arah rumah yang samar-samar terlihat, akan tetapi ia tahu dirinya tak bisa pergi ke sana dikarenakan sekitar rumah itu terdapat tanaman berduri tajam. Seakan-akan Asyila tak boleh mendekat menghampiri suami serta dua buah hatinya.


Ya Allah, ujian-Mu kali ini sungguh berat. Tolong yang Allah, berikanlah hamba keajaiban meskipun hanya sedikit.


“Asyila!”


Asyila segera menoleh dan ia pun langsung menangis sejadi-jadinya.


“Ibu...” tutur Asyila lirih.


“Kamu kemana saja sayang? Kami dari kemarin mencari mu?” tanya Arumi khawatir sekaligus panik.


“Ibu! Mas Abraham, Arsyad dan Ashraf sudah pergi meninggalkan Asyila. Asyila berulang kali memanggil mereka agar tidak meninggalkan Asyila, akan tetapi mereka tetap saja tak mendengar,” jelas Asyila.


“Sudah nak, ayo kita pulang!” ajak Arumi sambil merangkul pinggang Asyila untuk membantu Asyila melangkah sedikit demi sedikit.


“Ibu, dimana Ayah?” tanya Asyila.


“Ayahmu sedang menunggu di rumah, tidak seharusnya kamu pergi kemari sayang,” ucap Arumi.


Asyila tidak bisa fokus, ia terus saja menangis. Hatinya masih sangat sesak, rasanya ia ingin sekali memukul suaminya dan meminta penjelasan.


“Ibu, apakah Mas Abraham masih sayang dengan Asyila?” tanya Asyila.


Arumi tak menjawab, ia hanya diam sembari membantu putri kesayangannya untuk keluar dari hutan. Arumi begitu kasihan dengan Asyila yang terlihat berantakan. Akan tetapi, Arumi memutuskan untuk tidak bertanya dikarenakan keadaan Asyila yang terlihat begitu malang.


Mereka berjalan melewati jembatan gantung yang dibawahnya ada sungai dengan aliran air yang begitu deras. Arumi dan Asyila dengan hati-hati melewatinya sampai akhirnya angin tiba-tiba datang membuat jembatan gantung itu bergoyang-goyang.


“Awas nak!” teriak Arumi dan mendorong Asyila agar tak terjatuh.


Byurrrr! Asyila menoleh kebelakang dan berteriak histeris melihat Ibunya sudah tercebur ke dalam sungai.


“Ibu!” teriak Asyila.


Arumi sudah tenggelam dan sudah terbawa oleh arus deras sungai tersebut.

__ADS_1


__ADS_2