
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, Abraham pun tiba dan kedatangannya disambut dengan penuh antusias oleh Menik serta yang lainnya.
“Selamat datang, Tuan Abraham!” sapa mereka.
Abraham tersenyum tipis sembari setengah membungkuk menghormati mereka para wanita.
Abraham bisa melihat perubahan besar pada diri mereka, terutama cara berpakaian mereka yang jauh lebih tertutup dari sebelumnya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Abraham.
“Wa’alalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas mereka dengan sangat kompak.
“Alhamdulillah, ini kedua kalinya saya datang kemari dan banyak hal yang berubah dari tempat ini. Kedatangan saya kali ini ingin berbagi sedikit rezeki untuk kalian semua,” tutur Abraham.
Menik dan lainnya begitu senang mendengar penuturan dari Abraham Mahesa.
Disaat yang bersamaan, Dayat dan Edi tiba di lokasi.
“Assalamu’alaikum,” ucap keduanya.
“Wa'alaikumsalam,” balas Abraham serta yang lainnya.
Karena sudah ada Dayat dan juga Edi, Abraham pun meminta sahabatnya itu untuk membantunya membagikan sedikit rezeki kepada orang-orang yang tinggal di daerah itu.
Menik serta yang lainnya dengan kompak berbaris rapi mengantri rezeki Allah melalui Abraham untuk mereka.
Abraham tidak hanya memberikan beras, minyak serta kebutuhan dapur yang lain, akan tetapi Abraham juga memberikan sebuah amplop yang tentu saja kalian sudah tahu bahwa amplop tersebut berisi uang tunai.
Setelah hampir 30 menit lamanya, akhirnya selesai juga.
“Terima kasih, Tuan Abraham. Kami sangat senang mendapatkan bantuan dari Tuan Abraham,” ucap Menik.
“Alhamdulillah, kedatangan saya kali ini tidak hanya memberikan anda-anda semua ini sembako dan juga uang. Akan tetapi, kedatangan saya kesini adalah untuk meminta izin dengan dibangunnya sebuah Masjid dan tempat usaha agar orang-orang yang tinggal disekitar sini, terlebih lagi yang menganggur segera mendapatkan pekerjaan,” ungkap Abraham.
Menik dan lainnya saling tukar pandang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Abraham.
“Kalian pikirkan dulu baik-baik tentang keinginan kami ini, jangan terlalu buru-buru mengambil keputusan. Karena harus sudah mulai gelap, kami harus pamit dan tolong segera hubungi saya mengenai apa yang saya katakan tadi,” tutur Abraham memberi waktu bagi Menik dan yang lainnya untuk berpikir.
Menik terdiam begitu juga yang lainnya, melihat ekspresi wajah mereka yang tiba-tiba murung, Abraham pun memutuskan untuk segera kembali.
__ADS_1
Abraham serta yang lainnya pamit untuk kembali ke rumah mereka masing-masing dan ketika Abraham ingin masuk ke dalam mobil miliknya, Menik dengan cepat berlari menghampiri Abraham Mahesa.
“Tuan Abraham, kami sebenarnya sangat ingin memiliki tempat ibadah. Akan tetapi, kebanyakan dari kami ini tidak pernah sholat. Apakah kami masih pantas untuk bersujud kepada Allah?” tanya Menik dan kembali menundukkan kepalanya.
Wanita yang lainnya pun perlahan mendekat ke arah Abraham dan mempertanyakan kalimat yang sama kepada Abraham.
“Apakah kalian semua tidak percaya dengan Allah? Mau kita sehina dan sekotor apapun diri kita ini, Allah selalu membukakan pintu maaf bagi siapapun yang bertobat dengan sungguh-sungguh,” tegas Abraham kepada mereka, “Oleh karena itu, kalian tidak perlu merasa kotor ketika berhadapan dengan Allah. Soal sholat, saya sendiri yang akan mendatangkan guru agama untuk kalian,” imbuh Abraham.
Menik dan lainnya seketika itu menangis terharu. Seumur hidup mereka, mereka tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan mereka akan berubah ke arah yang lebih baik.
Dayat dan Edi terlihat sangat bangga dengan apa yang Abraham lakukan. Keduanya benar-benar iri dengan pemikiran serta kebaikan Abraham.
“Sahabat kita ini benar-benar beda dari yang lain,” puji Dayat berbicara kepada Edi.
“Aku setuju!” seru Edi.
Abraham mengucapkan terima kasih atas persetujuan mereka dan kemudian kembali masuk ke dalam mobil untuk segera kembali ke Perumahan Absyil.
Abraham kira ia akan sangat lama berada di tempat itu. Akan tetapi, ia hanya sebentar berada di kampung terpencil tersebut.
“Ayo Pak Udin, kita harus pulang sekarang!”
“Baik, Tuan Abraham!” seru Pak Udin.
“Tuan Abraham pria yang sangat baik dan juga pengertian. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya,” ucap salah satu wanita yang memuji sosok Abraham.
“Jati, jagalah bicaramu itu. Saat ini kita harus merubah diri kita menjadi lebih baik. Satu lagi, pakaian yang sekiranya tidak pantas untuk digunakan segeralah di buang. Kedepannya, kita harus menjadi wanita baik-baik,” ungkap Menik dan melenggang pergi menuju gubuknya.
Sepanjang perjalanan, Abraham terus saja tersenyum dan tak sabar ingin menceritakan tentang keinginannya yang sebentar lagi menjadi kenyataan.
Pak Udin yang melihat dari kaca mobil ikut tersenyum lebar dan mendo'akan keluarga kecil Majikannya agar selalu diberikan kebahagiaan.
“Pak Udin, nanti kita sekalian cari masjid terdekat ya. Sebentar lagi Maghrib dan kita harus melaksanakan sholat Maghrib,” terang Abraham.
“Baik, Pak Abraham!”
Abraham mengangguk kecil dan memutuskan mengirim pesan kepada istri kecilnya.
Disaat yang bersamaan, Asyila tersenyum lebar ketika membaca isi pesan romantis dari suaminya.
__ADS_1
“Mas Abraham dari dulu memang sangat romantis, bahkan membaca pesannya saja sudah membuatku klepek-klepek,” tutur Asyila bermonolog dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur sembari memeluk ponsel pintar miliknya.
Asyila juga mencintai Mas Abraham dan selamanya hati ini Untuk Mas. I Love you Mas Abraham.
“Bunda, Ashraf haus,” tutur Ashraf sambil menyentuh tenggorakan.
Asyila terkesiap dan meminta Ashraf untuk tetap di dalam kamar, sementara dirinya turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum.
“Sebentar ya sayang, Bunda akan ambilkan minum,” tutur Asyila.
Asyila berlari kecil menuju dapur dan ternyata di dapur ada Arumi yang sedang menyeduh teh.
“Kenapa kamu lari-lari?” tanya Arumi pada Asyila.
“Ini Ibu, Asyila mau mengambilkan air minum untuk Ashraf,” jawab Asyila sembari menuangkan air ke dalam gelas.
Setelah gelas terus air, Asyila pun kembali berlari agar segera sampai ke dalam kamar.
Arumi geleng-geleng kepala melihat tingkah putri kesayangannya itu.
Akhirnya Asyila sampai dan dengan hati-hati membantu buah hatinya memegangi gelas.
“Bagaimana sayang? Apakah tenggorokan Ashraf masih sakit?” tanya Asyila.
Ashraf dengan polos menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa haus di tenggorokannya sudah menghilang.
Mendengar hal tersebut, Asyila langsung merasa lega.
“Alhamdulillah, sekarang Ashraf kembali beristirahat ya biar besok main lagi dengan Kahfi,” tutur Asyila.
“Bunda, panggil Kahfi kesini!” pinta Ashraf setengah merengek.
“Sekarang?” tanya Asyila memastikan.
“Iya, Bunda. Ashraf mau Kahfi datang kemari sekarang juga,” jawab Ashraf.
Asyila berpikir sejenak, ia tidak bisa meninggalkan Ashraf maupun Akbar di kamar berlama-lama.
Ia terus berpikir sampai akhirnya ia menemukan cara agar Kahfi bisa datang menemui putra kecilnya.
__ADS_1
“Sebentar ya sayang, Bunda akan menghubungi Mama Ema,” tutur Asyila memberikan isyarat agar putra kecilnya tidak menimbulkan suara sementara, selama dirinya menelpon seseorang.
Abraham ❤️ Asyila