
Asyila menangis dan menangis, sampai akhirnya mereka tiba di Perumahan Absyil.
Arumi dan Herwan terheran-heran melihat mobil yang sudah tiba di halaman rumah. Padahal, mereka baru saja berangkat.
Eko turun duluan dengan wajah yang sangat panik. Ia berlari untuk membukakan pintu bagi Asyila agar segera turun.
Akan tetapi, Asyila tidak turun dan malah menangis histeris.
Mendengar suara tangisan putri tunggal kesayangan mereka, Arumi dan Herwan saat itu juga menghampiri Asyila yang masih berada di dalam mobil.
“Asyila, kamu kenapa menangis? Nak Abraham dan cucu kami mana? Kita tidak pulang bersama kamu?” tanya Arumi.
“Mas Akbar, telah diculik,” ungkap Eko.
Arumi terkejut dan lemas seketika mendengar bahwa cucu kesayangannya telah diculik.
Arumi pun tiba-tiba kehilangan kesadarannya dan akhirnya pingsan.
“Ibu!” teriak Asyila dengan sangat panik ketika melihat Ibunya telah pingsan setelah mengetahui bahwa Akbar Mahesa telah diculik.
Herwan mengangkat tubuh istrinya dan bergegas masuk ke dalam.
Perlahan, Herwan merebahkan istrinya di tempat tidur.
“Ayah, bagaimana ini? Akbar telah diculik, Asyila takut terjadi hal yang tidak-tidak kepada Akbar,” ucap Asyila yang tak henti-hentinya menangis.
“Syila, janganlah berpikiran buruk seperti itu. Ayah juga bingung, semoga saja Nak Abraham segera menemukan keberadaan Akbar,” balas Herwan.
Asyila tidak bisa diam begitu saja mengetahui buah hatinya diculik. Ia pun memutuskan untuk kembali menjadi wanita bercadar, setelah hampir 4 tahun dirinya tidak menyamar menjadi wanita bercadar.
Asyila berlari menuju kamarnya untuk mencari pakaian yang dulu pernah ia gunakan dalam menyamar menjadi wanita bercadar tersebut.
Asyila akhirnya tiba di dalam kamar dan mencari koper kecil yang di dalamnya terdapat pakaian serba hitam serta peralatan yang dulu ia gunakan.
“Tidak akan aku biarkan kalian melakukan hal itu terhadap putra kecilku, kalian tidak akan aku ampuni. Setelah hampir 4 tahun aku tidak pernah turun tangan, kali ini aku akan turun untuk menyelamatkan Akbar,” tegas Asyila.
Asyila berlari keluar kamar dan menemui Ayahnya yang tengah menemani Arumi yang belum sadarkan diri.
“Ayah, Asyila ingin di dalam kamar. Tolong jangan ganggu Asyila, Asyila ingin menenangkan diri,” ujar Asyila dengan maksud agar Ayahnya tak mengetahui bahwa dirinya tidak berada di dalam kamar.
“Asyila tenang saja, Ayah dan Ibu akan memberikan waktu untuk Asyila beristirahat sembari menenangkan pikiran,” sahut Herwan.
Asyila mengucapkan terima kasih dan melenggang pergi keluar kamar orangtuanya.
Asyila kembali masuk ke dalam kamarnya dan bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dulu pernah ia gunakan untuk menyamar.
Tak butuh waktu lama, Asyila telah bersiap untuk pergi menyelamatkan buah hatinya.
“Sebelumnya aku pernah memasangkan pelacak di jam tangan Mas Abraham, semoga saja masih berfungsi,” ujar Asyila.
Asyila membuka aplikasi di ponselnya dan ternyata benda yang ia letakkan di jam tangan suaminya untuk melacak keberadaan Sang suami ternyata masih berfungsi dengan baik.
“Mas Abraham, Asyila akan ikut membantu Mas Abraham untuk menyelamatkan putra kecil kita,” ujar Asyila bermonolog.
Wanita itu keluar dari kamarnya dan tak lupa mengunci pintu kamarnya. Kemudian, melenggang menuju garasi untuk mengendarai sepeda motor milik Sang suami.
Asyila menoleh ke arah Eko yang ternyata saat itu tengah duduk dan terlihat tak tenang.
“Pak Eko saat ini berada di dekat gerbang, bagaimana caranya aku untuk lewat?” tanya Asyila kebingungan.
Tiba-tiba Eko beranjak dari duduknya dan melenggang masuk ke dalam rumah. Sepertinya, Eko ingin membuang air kecil di toilet.
Asyila tanpa pikir panjang, langsung melesat pergi keluar dari gerbang untuk segera menyelamatkan Akbar Mahesa.
Asyila mengemudikan motor tersebut dengan kecepatan cukup tinggi.
Disaat yang bersamaan, Abraham serta tim yang lain telah mendapatkan lokasi dimana Akbar dibawa.
“Mereka pasti sangat dendam terhadap kita, terutama kepadaku. Mereka benar-benar pengecut, menggunakan anak kecil,” ucap Abraham.
Ponsel Abraham tiba-tiba berbunyi dan dengan menggunakan private number.
“Siapa?” tanya Abraham.
“Hahaha... Haha... Kau tidak perlu tahu siapa, yang ingin aku sampaikan adalah siapkan uang sebesar 500 juta untuk menebus bocah kecil menggemaskan ini,” ucap pria yang menghubungi Abraham Mahesa.
“Aku peringatkan baik-baik, jangan kalian menyakiti anakku sekecil apapun. Kalau tidak....”
“Kalau tidak, kamu mau apa!” Pria itu berteriak dan kembali tertawa terbahak-bahak seakan-akan tengah mengejek Abraham yang tak bisa melakukan apapun.
__ADS_1
“Ayah!!!” Akbar berteriak kencang dan terdengar sedang menahan rasa sakit.
“Dengarkan baik-baik suara putra kecil mu ini! Kami baru saja memukulnya dengan kayu, ya kira-kira seukuran jempol kaki orang dewasa,” ungkapnya dan setelah itu memutuskan sambungan telepon begitu saja.
Abraham mengepalkan tangannya kuat-kuat, seumur hidupnya ia maupun Sang istri tak pernah sedikitpun main tangan pada buah hati mereka.
“Cepatlah sedikit! Aku ingin memberikan mereka perhitungan yang berkali-kali lipat,” tegas Abraham yang akan memberi mereka pelajaran yang lebih dari yang mereka bayangkan karena telah menyakiti Akbar.
Dayat maupun Edi ikut terpancing emosi dengan mereka yang menculik Akbar Mahesa.
Ban mobil tiba-tiba kehilangan kendali dan ketika di periksa, rupanya ban depan bocor.
Abraham semakin panik, karena mereka hanya membawa mobil tersebut.
Sementara mobil yang lain, masih tertinggal jauh.
Abraham tak ingin menyerah begitu saja, ia berjalan menuju area pemukiman barangkali ada yang mau meminjamkan nya mobil.
“Tuan Abraham, anda mau kemana?” tanya Dayat pada Abraham yang tengah berjalan menjauh dari tim.
“Aku ingin mencari mobil, barangkali ada yang mau meminjamkan nya. Kita tidak ada waktu, bila harus menunggu mobil yang jelas-jelas tertinggal jauh dari kita,” terang Abraham.
“Tuan Abraham, saya ikut,” sahut Dayat.
“Saya juga ikut!” seru Edi.
Mereka bertiga melangkah bersama-sama menuju area pemukiman tersebut untuk meminjam mobil.
Disaat yang bersamaan, Asyila terus mengendarai motor tersebut dan beberapa saat yang lalu, ia sudah mengisi bahan bakar motor sampai penuh.
Jarak antara Abraham dan Asyila tidak terlalu jauh. Mungkin kurang dari 10 km saja.
Asyila merasakan dingin di seluruh tubuhnya, dikarenakan memang cuaca malam itu sangatlah dingin. Meskipun begitu, Asyila tak menyerah dan terus mengendarai motor tersebut.
Abraham, Dayat dan juga Edi tengah bernegosiasi dengan salah satu penduduk desa yang kebetulan memiliki mobil.
“Bapak, tolong percayalah kepada kami. Kalau perlu, bawa KTP saya ini dan ini ada sedikit uang untuk Pak Dadang. Saya akan memberikan uang lebih, setelah saya selesai menggunakan mobil Pak Dadang,” terang Abraham sembari menyerahkan KTP serta uang tunai kepada pria pemilik mobil tersebut.
Dayat dan Edi juga mengeluarkan KTP serta uang tunai mereka untuk diberikan kepada Pria bernama Dadang.
Pak Dadang, yang awalnya tak mempercayai mereka akhirnya menyetujui melihat profesi Dayat dan juga Edi di KTP nya.
Asyila sesekali melirik ke arah ponselnya dan menyadari bahwa suaminya belum juga bergerak.
“Mas Abraham kenapa berhenti disini? Bukankah ini kawasan cukup ramai?” tanya Asyila bermonolog.
Saat Asyila memperhatikan kembali, Abraham akhirnya kembali bergerak dan saat itu juga Asyila kembali mengendarai motornya untuk segera menyusul suaminya.
****
Beberapa saat kemudian.
Akhirnya Abraham serta yang lain tiba di sebuah tempat yang bisa dikatakan beda dari yang lain.
Jika biasanya penculik atau penjahat yang lain akan bersembunyi di tempat-tempat terbengkalai, seperti rumah sakit, sekolah, gedung atau tempat yang sudah lama tak dihuni, lain halnya dengan tempat yang sekarang.
Abraham dan yang lain malah dibuat terheran-heran ketika melihat bahwa tempat dihadapan mereka adalah tempat pembuangan sampah-sampah plastik.
“Ya ampun, apakah kita akan masuk ke dalam tempat seperti ini?” tanya salah satu dari mereka sembari menutup hidung.
“Akbar saat ini pasti sangat kesulitan,” ucap Edi.
Disaat yang bersamaan, Asyila tiba dan terkejut mengetahui bahwa tempat yang ia datangi adalah tempat pembuangan sampah yang sangat bau serta kotor.
Astagfirullahaladzim, mereka begitu tega membawa putra kecilku kemari. Aku tidak akan memaafkan mereka, aku harus membuat perhitungan kepada mereka.
Asyila berjalan perlahan dan segera bersembunyi ketika melihat suami serta yang lain tengah berdiri tepat di depan pintu masuk.
Asyila tidak mungkin menunggu suami serta yang lainnya untuk masuk terlebih dahulu.
Asyila pun mencari jalan lain untuk bisa masuk segera mungkin.
Wanita itu berlari dan terus berlari sembari mencari jalan untuk masuk ke dalam. Senyum Asyila merekah di balik cadarnya ketika melihat sebuah lubang yang cukup dimasuki oleh tubuh kecilnya.
Asyila masuk ke dalam dan akhirnya ia berhasil masuk dengan bermodalkan tubuhnya yang kecil.
Lubang tersebut, sepertinya hanya bisa dilalui oleh Asyila ataupun orang yang tubuhnya kecil. Lubang tersebut, tidak bisa dilalui oleh Abraham serta tim yang lainnya karena lubang itu begitu kecil.
Saat Asyila melangkahkan menelusuri tempat tersebut, ia melihat sebuah rumah gubuk dan tengah dijaga oleh empat orang pria dengan membawa senjata api atau pistol di tangan mereka. Asyila memastikan bahwa di dalam gubuk tersebut, ada putra kecilnya yang tengah disekap.
__ADS_1
“Tunggu Bunda ya sayang, Bunda tidak akan membiarkan Akbar untuk berlama-lama berada di tempat seperti ini,” ujar Asyila bermonolog.
Asyila mengeluarkan ketapel miliknya dan menebaknya ke arah seng sehingga menimbulkan bunyi untuk mengecoh lawan.
Mereka berempat kompak menoleh ke arah seng. Akan tetapi, mereka sama sekali tak bergerak sedikit untuk memastikan bunyi tersebut.
Asyila tak menyerah begitu saja, ia kembali membunyikan seng tersebut dan akhirnya dua dari empat pria berjalan mendekat ke arah seng tersebut.
Asyila saat itu juga berlari mendekati dua orang yang tengah berjalan menuju bunyi seng tersebut.
“Hyaaakkk!” Teriak Asyila mengeluarkan kekesalannya dengan cara memukul leher salah satu pria dengan sebuah kayu. Kemudian, pria tersebut jatuh tak sadarkan diri.
Ketika pria yang satunya ingin membalas Asyila, Asyila lebih dulu menembakkan peluru ke tulang kering PRI tersebut hingga suara tembakan itu terdengar oleh Abraham dan yang lain.
Dua pria yang tengah berjaga, saat itu berlari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika mereka baru sampai, dengan lihainya Asyila menembakkan peluru ke lengan dan juga kaki mereka.
Asyila saat itu, terlihat sangat marah dan ia tak sabar ingin segera menyelamatkan putra kecilnya.
Disaat yang bersamaan, Abraham serta yang lain tengah berlari mendekat ke arah sumber suara tembakan yang sebelumnya mereka dengar.
Dor! Dor!
Lagi-lagi mereka mendengar suara tembakan dibarengi dengan teriakkan suara laki-laki.
Asyila dengan mudahnya mengalahkan empat orang pria yang kini sudah pingsan tak sadarkan diri.
Setelah itu, Asyila berjalan mendekat ke arah gubuk untuk menyelamatkan Akbar Mahesa.
Saat Asyila ingin mendekat, tiba-tiba seorang pria keluar dengan tatapan penuh kemarahan.
Asyila pun tahu bahwa pria dihadapannya adalah ketua dan dalang dari penculikan putra kecilnya.
“Dasar wanita kurang ajar! Beraninya kamu datang kemari, sekarang mendekat lah dan terimalah kematianmu malam ini!” teriaknya sembari berjalan mendekat ke arah Asyila.
Apa yang tengah dilakukan oleh Asyila, kini disaksikan langsung oleh Abraham serta yang lainnya.
Abraham benar-benar terkejut sekaligus tercengang karena wanita bercadar tersebut kini benar-benar kembali.
“Tuan Abraham, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Dayat.
“Sebaiknya kita diam dulu disini, aku ingin melihat bagaimana wanita bercadar itu bisa mengalahkan pria bertubuh besar itu,” ujar Abraham.
“Tuan Abraham, bukankah wanita bercadar itu beberapa tahun yang lalu pernah membantu kita?” tanya Edi.
“Iya, kamu benar. Aneh sekali, sudah beberapa tahun lamanya, akhirnya dia kembali lagi,” pungkas Abraham yang begitu penasaran dengan kembalinya wanita bercadar tersebut.
Asyila tersenyum sinis di balik cadarnya dan dengan gerakan cepat, ia menjatuhkan pria tersebut dan mencekiknya dengan begitu kuat. Apa yang Asyila lakukan tentu saja tidak akan meninggalkan jejak, karena selain menggunakan cadar, ia juga menggunakan sarung tangan yang juga berwarna hitam.
Pria itu tak ingin menyerah begitu saja, ia menendang punggung Asyila dengan lututnya.
Asyila berusaha menahan sakitnya dan memukul wajah pria itu sekuat mungkin.
Perkelahian mereka, saat ini tengah disaksikan secara langsung oleh Abraham, Edi, Dayat serta yang lain.
Mereka kompak memuji keahlian wanita bercadar yang patut diacungi jempol.
Pria yang tengah bertarung dengan Asyila, perlahan melemah. Asyila pun memukul tengkuk leher pria tersebut dengan cukup kuat agar tak sadarkan diri.
“Aaakkhhh!” Teriak pria itu dan perlahan pingsan tak sadarkan diri.
Asyila menghela napasnya yang berantakan dan masuk ke dalam gubuk.
Ketika masuk ke dalam gubuk, Asyila terkejut melihat putra kecilnya sudah bertelanjang dada dengan punggung serta perut yang lebam-lebam.
Asyila melepaskan tali yang mengikat seluruh tubuh putra kecilnya secara perlahan. Kemudian, mengecup putra kecilnya itu sebelumnya meninggalkan tempat tersebut.
Setelah tali yang mengikat tubuh Akbar terlepas, Asyila pun memutuskan untuk segera pergi karena tak ingin diketahui oleh suaminya.
Sebelum benar-benar pergi, Asyila memberi tembakan ke udara sebanyak tiga kali dan setelah itu meletakkan pistol tersebut ke tanah.
Asyila pun berlari secepat mungkin meninggalkan Akbar Mahesa agar Sang suami bisa menemukan Akbar Mahesa dalam keadaan yang begitu menyedihkan.
Asyila berlari dan terus berlari dengan air mata yang terus mengalir deras di balik cadarnya.
Bunda telah membalas perbuatan mereka, Akbar sayang. Tenang saja, mereka tidak mati begitu saja, mereka harus mendapatkan hukuman setimpal di dalam penjara. Bunda pulang ya sayang, sisanya Bunda serahkan kepada Ayahmu.
Asyila naik ke atas motor dan saat itu mengendarai motor dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke Perumahan Absyil.
__ADS_1
Abraham, Edi dan Dayat mereka bertiga berlari menuju gubuk. Sementara yang lain, ditugaskan untuk membawa orang-orang yang terlibat dalam penculikan tersebut.
Abraham benar-benar penasaran dengan wanita bercadar tersebut, seakan-akan wanita bercadar itu adalah malaikat penolong bagi keluarganya.