
Seperti yang telah dijanjikan oleh Dayat dan Edi. Keduanya pun datang untuk membantu Abraham mendapatkan keadilan untuk Nenek Inem.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Dayat dan Edi penuh semangat.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Abraham dan memberikan pelukan hangat untuk keduanya secara bergantian.
“Bagaimana kabar kalian setelah beberapa bulan tidak bertemu?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah, kami baik,” jawab Edi.
“Dimana Nona Asyila yang cantik?” tanya Dayat.
Mendengar pertanyaan Dayat, membuat Abraham seketika itu mendelik tajam ke arah sahabatnya.
Dayat dan Edi tertawa geli melihat reaksi galak dari Abraham.
“Saya hanya bercanda saja, Tuan Abraham,” tutur Dayat sambil tersenyum canggung.
“Istriku ada di dalam bersama dengan Nek Inem, kalian tidak perlu sungkan. Oya, mari masuk!” ajak Abraham.
Mereka bertiga kemudian duduk di sofa ruang tamu dan berbincang-bincang sejenak masalah pekerjaan mereka.
Di dapur, Asyila dan Nek Inem tengah sibuk membuatkan kopi untuk kedua sahabat Abraham.
“Ini kenapa kopinya hanya ada dua?” tanya Nek Inem.
Asyila tersenyum manis dan mengatakan bahwa suaminya tidak menyukai kopi.
“Mas Abraham lebih suka dengan air putih daripada kopi, Nek,” jelas Asyila.
Nenek Inem mengangguk kecil sambil terus memperhatikan wajah Asyila yang cantik itu.
“Nenek ingin pulang ke rumah,” tutur Nek Inem yang tidak bisa lama-lama meninggalkan rumah peninggalan suaminya.
“Nek Inem tenang saja, setelah semuanya membaik dan Nek Inem mendapatkan keadilan. Insya Allah Nek Inem pulang secepat mungkin. Untuk sementara waktu ini, Nek Inem tinggal lah disini dulu!” pinta Asyila.
“Kalau boleh jujur, Nek Inem sangat takut dengan mereka. Nenek takut kalau rumah Nenek dihancurkan karena...”
“Nek Inem jangan takut, suami saya insya Allah bisa membantu Nenek dan membuat mereka tidak akan bisa bertindak semena-mena terhadap Nenek,” ucap Asyila.
Kopi buatan Asyila pun telah siap, tanpa pikir panjang Asyila mengantarkan dua cangkir kopi dan satu gelas air minum untuk suaminya.
Sementara Nek Inem, membawa cemilan yang sebelumnya sudah dibuat oleh Asyila dengan tangannya sendiri.
“Silakan dinikmati!” Dengan ramah Asyila meletakkan nampan berisi kopi dan juga air minum di atas meja.
Dayat dan Edi terkesiap melihat Asyila serta Nek Inem. Keduanya pun mengucapkan terima kasih atas kopi dan juga cemilan.
__ADS_1
Karena sudah ada Nek Inem di ruangan tersebut, Abraham pun meminta Nek Inem untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan perlakuan apa saja yang telah didapatkan oleh Nek Inem selama ini.
Dayat dan Edi yang mendengar keterangan Nek Inem, seketika itu menjadi geram. Bagaimana bisa orang yang harus membantu masyarakat kesusahan, malah menindas orang-orang yang lemah serta miskin.
“Nek Inem tenang saja, siapapun dia dan apapun jabatannya, kami selalu pihak berwajib akan mencari keadilan untuk Nek Inem,” ucap Dayat yang terlihat tak sabaran untuk melihat anak-anak muda yang nakal itu, terlebih lagi orang tua mereka dan juga ketua RT RW yang tak bisa melindungi warganya dengan baik.
Beberapa saat kemudian.
Abraham dan lainnya tengah siap-siap untuk berangkat ke daerah dimana Nek ini tinggal. Akan tetapi, sebelum pergi Asyila memutuskan untuk menceritakan tentang hal yang akan membuat Abraham terkejut.
“Mas...”
“Iya, Syila!” seru Abraham yang tengah memperbaiki kerah kemeja miliknya.
“Sebenarnya ada satu hal yang Asyila sembunyikan dari Mas Abraham,” ucap Asyila dengan ragu-ragu.
“Sembunyikan? Memangnya apa yang Syila sembunyikan dari Mas?” tanya Abraham yang kini sudah berada di hadapan Asyila dengan tatapan penasaran.
“Se-sebenarnya...”
“Iya, sebenarnya kenapa?” tanya Abraham yang sangat ingin mendengarkan perkataan selanjutnya dari Sang istri.
“Sebenarnya ke-lima anak-anak muda itu, jarinya Asyila patahkan,” jawab Asyila dan seketika itu menundukkan kepalanya.
Abraham terdiam sejenak mendengar jawaban dari sang istri tercinta. Di detik berikutnya, Abraham tertawa sambil memegangi kedua tangan sang istri.
Abraham yang semula tertawa, kini perlahan menatap istrinya dengan tatapan serius. Ia bisa melihat ekspresi wajah sang istri yang sedikitpun tak terlihat adanya kebohongan.
“Asyila bisa melakukannya?” tanya Abraham sambil menyentuh dagu istri kecilnya agar tak menunduk ketika Sang istri menjawab.
“Bi-bisa, Mas.”
Mata Asyila perlahan mulai mengeluarkan air matanya, ia takut jika suaminya marah terhadap dirinya karena telah mematahkan salah satu jari-jari dari anak-anak muda yang bertindak semena-mena terhadap Nenek Inem.
Antara percaya dan tidak percaya, Abraham pun memilih memeluk tubuh istri kecilnya dan meminta Sang istri untuk tidak ikut. Bukan apa-apa, Abraham tidak ingin jika nantinya Sang istri melihat perdebatan apalagi keributan yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya ketika berada di lokasi.
Asyila yang awalnya ingin ikut, akhirnya mengalah karena perintah dari suaminya yang memintanya untuk tetap tinggal. Meskipun begitu, Asyila meminta suaminya untuk tetap melindungi Nek Inem jika ada orang yang ingin mendekat mencelakai Nek Inem.
“Syila tenang saja, ada Dayat dan juga Edi yang berada disisi Nek Inem. Mas berjanji, sebelum malam kami akan kembali dan memberi perhitungan terhadap orang-orang yang terlibat. Bahkan, jika memang sudah melewati batas, Mas tidak akan segan-segan membawa mereka ke kantor polisi,” tutur Abraham.
Abraham mencium kening serta bibir sang istri sebelum pergi. Kemudian, Abraham melenggang pergi keluar dari kamar untuk segera pergi ke daerah dimana Nek Inem tinggal.
Asyila melihat kepergian mereka dari jendela kamar lantai atas, berulang kali Asyila memanjatkan Do'a agar Nek Inem bisa mendapatkan keadilan yang sangat pantas.
Ditengah perjalanan, Abraham serta lainnya berbincang-bincang.
Sementara Nek Inem, terlihat sangat tegang karena akan bertemu dengan para orang tua yang anak-anaknya selalu mengganggu dirinya. Bahkan, anak-anak mereka sering mengambil paksa uang hasil kerja keras yang didapatkannya dari pekerjaan mencuci piring.
__ADS_1
“Nek Inem tidak perlu takut, kami pasti akan memberikan keadilan untuk Nek Inem,” ucap Abraham.
Nek Inem mengangguk kecil dan dalam hatinya ia selalu berdo'a agar semuanya baik-baik saja. Tidak banyak yang diinginkan oleh Nek Inem, ia hanya ingin bekerja dan tinggal di rumah peninggalan suaminya yang telah wafat.
Dayat dan Edi bergantian menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut. Mereka sangat kasihan melihat wajah lelah dari Nek Inem.
Sesampainya di depan rumah Nek Inem, Dayat, Edi, Abraham dan Nek Inem terkejut melihat beberapa orang yang sudah menunggu di depan rumah yang tampilannya seperti berandal.
“Nek, mereka itu siapa?” tanya Abraham.
“Me-mereka adalah anak buah Pak Woto, Bapak dari salah satu anak yang suka merampas uang Nenek,” terang Nek Inem.
Seketika itu juga Dayat, Edi dan Abraham turun dari mobil untuk menangkap dan menginterogasi mereka.
“Apa-apaan ini?” tanya salah satu pria yang ditangkap oleh Dayat.
“Siapa kalian?” tanya Dayat.
Pria yang ditangkap oleh Edi dan Abraham mencoba memberontak sekaligus melawan. Akan tetapi, mereka tidak bisa dikarenakan pegangan Edi dan juga Abraham sangatlah kencang.
“Lepaskan kami!” teriak pria yang tangannya dipegang oleh Abraham.
Abraham terlihat sangat santai memegangi tangan pria itu.
“Kalian tidak akan pernah kami lepaskan, dengan kalian merusak kediaman Nek Inem, sudah dapat dipastikan bahwa kalian akan masuk ke dalam penjara dengan waktu yang cukup lama,” tegas Abraham.
“Kalian ini siapa? Sok-sokan ingin membawa kami ke dalam penjara,” jawabnya yang terlihat begitu meremehkan Abraham dan rekannya.
Dayat mengeluarkan borgolnya dan tanpa pikir panjang memborgol tangan pria yang sudah ditangkapnya. Begitu juga dengan Edi dan Abraham yang sebelumnya telah menyiapkan beberapa borgol jika ada hal yang mendesak.
“Apa-apaan ini?” tanya mereka yang terlihat mulai panik.
“Kalian akan kami lepaskan, setelah masalah Nek Inem terselesaikan,” jawab Dayat dan membawa masuk mereka bertiga ke dalam mobil.
Nek Inem yang berada di dalam mobil bergegas keluar setelah ketiganya masuk ke dalam mobil.
Umpatan-umpatan kasar terus saja terlontar dari mulut mereka. Abraham dan yang lainnya sangat terkejut ketika umpatan jahat itu ditunjukkan untuk Nek Inem yang sudah tua itu.
Nek Inem menangis ketakutan, ia sangat takut kalau ke-tiganya balas dendam terhadap dirinya.
“Nek Inem tenang saja, mereka tidak akan bisa melakukan hal yang bisa mencelakai Nek Inem,” ucap Abraham.
Keributan itu membuat para tetangga serta yang lainnya datang untuk menyaksikan secara langsung apa yang terjadi. Beberapa dari mereka ada yang langsung mendekati Nek Inem sembari menangisi Nenek Inem yang begitu malah dan beberapa yang lain bahkan ada yang menghujat Nek Inem.
Sungguh sangat ironis, Abraham dan kedua sahabatnya benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran mereka yang seperti itu.
Pantas saja Nek Inem tidak pernah mendapatkan keadilan, dikarenakan kebanyakan para tetangganya acuh tak acuh terhadap wanita paruh baya itu.
__ADS_1