Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Merawat Sang Suami Sebaik Mungkin


__ADS_3

“Pokoknya Mas tidak boleh kemana-mana, sampai itu luka benar-benar sembuh,” tutur Asyila yang baru saja masuk ke dalam kamar dan meletakkan bayi mungilnya di ranjang bayi.


Abraham hanya bisa diam, saat itu dirinya masih mengatur napasnya yang terus memburu karena pesona istri kecilnya yang luar biasa.


“Mas kenapa diam saja? Sini duduk, Asyila mau lihat luka Mas Abraham!” pinta Asyila yang ingin melihat luka suaminya.


Abraham dengan pelan berjalan mendekati Sang istri dan duduk di sofa dengan terus memandangi wajah istri kecilnya itu.


“Asyila mau memeriksa seluruh tubuh Mas Abraham,” tutur Asyila dan seketika itu juga Asyila membuka satu-persatu kancing baju milik suaminya.


Deg! Deg!


Keduanya sama-sama gugup dengan situasi saat itu.


“Mas! Syila!” Keduanya tanpa sengaja memanggil satu sama lain secara kompak.


Deg! Deg!


“Mas duluan! Asyila duluan!” Keduanya kembali mengucapkan kalimat secara kompak dan tentu saja tidak disengaja.


Sepasang suami istri saling menatap dan tertawa lepas karena kekompakan yang tak disengaja.


Ketika sedang asik tertawa, bayi Akbar tiba-tiba rewel dan membuat Asyila seketika itu juga berlari mendekati bayi mungilnya.


Asyila memeriksa popok bayi mungilnya yang ternyata sudah penuh.


“Ya ampun, Maafkan Bunda ya sayang. Bunda lupa menggantikan popok Akbar,” tutur Asyila sambil melepaskan popok bayi yang sudah penuh tersebut.


Abraham yang masih duduk di sofa hanya bisa memperhatikan bagaimana istri kecilnya sibuk mengganti popok bayi mungil mereka berdua.


“Nah, sekarang sudah Bunda ganti,” ujar Asyila dan mencium gemas pipi kemerah-merahan bayi Akbar.


Ketika bayi Akbar sudah kembali tenang, Asyila pun bergegas menghampiri suaminya kembali.


“Maaf ya Mas, Asyila harus memastikan bahwa tubuh Mas tidak meninggalkan memar sedikitpun,” tutur Asyila sembari membuka pakaian yang dikenakan oleh Abraham.


Abraham pasrah dan terlihat sangat menikmati apa yang dilakukan oleh istri kecilnya yang meraba-raba tubuhnya.


“Mas kenapa merem melek seperti itu?’ tanya Asyila mengernyitkan keningnya.


“Enak,” celetuk Abraham.


Asyila terkejut dan geleng-geleng kepala setelah mendengar celetukan dari suaminya itu.


“Alhamdulillah, tubuh Mas sama sekali tidak ada memar. Hanya saja, kaki Mas yang terluka. Kalau boleh tahu, luka ini karena apa Mas?” tanya Asyila penasaran ketika melihat kaki suaminya yang terbalut oleh perban.


Bilang sejujurnya atau tidak ya? Kalau aku bilang sejujurnya, Syila pasti akan sangat sedih. Akan tetapi, aku juga tidak mungkin berbohong.


Abraham melamun memikirkan cara bagaimana menyusun kalimat agar istri kecilnya tidak sedih karena luka dikakinya adalah luka tembakan.


“Mas kok malah diam saja?” tanya Asyila sambil menggoyangkan tangan suaminya agar segera menjawab rasa penasarannya itu.


Abraham langsung menoleh ke arah istri kecilnya yang nampak penasaran dengan luka dikakinya itu.


“Ini adalah luka tembak,” jawab Abraham dengan tersenyum lebar seakan-akan lukanya itu tak dianggap serius oleh Abraham.


“Apa, luka tembak? Ya Allah, kok bisa sampai terkena tembakan Mas? Memangnya Mas tidak bisa menghindari tembakan itu? Kalau tahu begitu, seharusnya Asyila ikut membantu Mas,” terang Asyila yang ternyata sudah menangis.


“Astaghfirullahaladzim, Mas tidak ingin melihat Asyila menangis. Tolong berhentilah menangis, suamimu ini baik-baik saja. Bukankah dulu pun Mas sering mendapatkan luka seperti ini, bahkan jauh lebih parah dari sekedar luka tembak begini,” tutur Abraham mencoba menenangkan istri kecilnya.


“Maksudnya Mas, luka seperti ini hanyalah luka sepele? Lantas, Asyila diam begitu saja melihat Mas seperti ini?” tanya Asyila yang tak setuju dengan perkataan suaminya.


“Ya bukan begitu juga maksud suamimu, istriku,” jawab Abraham dan menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Asyila memejamkan matanya dan menikmati pelukan hangat dari suaminya itu.


“Asyila akan merawat Mas dengan baik,” tutur Asyila.


“Alhamdulillah, terima kasih Syila sayang,” balas Abraham dengan mengecup kening Asyila.


Malam hari.


Asyila baru saja mengganti perban suaminya dan terlihat wajah puas Asyila karena berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik.


Bahkan, Abraham memuji cara kerja Asyila yang pandai mengganti perban tersebut.


“Istriku ini memang sangat pintar,” puji Abraham yang entah sudah berapa kali dirinya mengucapkan kalimat itu.


Asyila tertawa geli mendengar suaminya yang memuji dirinya berulang kali.


“Mas apa tidak lelah memuji Asyila terus-menerus?”


“Tentu saja tidak, untuk apa Mas lelah? Justru Mas senang bila setiap saat memuji Asyila, tentu saja ini bukan hanya sekedar pujian saja,” terang Abraham.


Asyila tersipu mendengar keterangan suaminya yang membuat hatinya seketika itu berbunga-bunga.


“Dasar genit,” celetuk Asyila dan berjalan menuju ranjang bayi mungilnya.


“Syila mau kemana menggendong bayi Akbar?” tanya Abraham ketika melihat istri kecilnya menggendong buah hati ke-empat mereka berdua.


“Tentu saja mau kebawah, Mas Abraham. Lagipula masih jam segini, Bela butuh kita juga. Saat ini pasti Bela sedang menonton televisi seorang diri di ruang keluarga. Ayo kita temani!” ajak Asyila.


“Hampir saja Mas melupakan Bela, ya sudah ayo kita turun ke bawah,” balas Abraham dan perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Setibanya di ruang keluarga, Abraham dan Asyila terkejut melihat Bela yang sudah tertidur sembari memeluk sebuah boneka berukuran cukup besar yang dibelikan oleh Asyila beberapa jam lalu.


“Baru saja melaksanakan sholat isya bersama Asyila, rupanya Bela sudah tertidur. Apa yang harus kita lakukan, Mas? Asyila tidak mungkin membiarkan Bela tidur disini, bagaimana kalau Bela nantinya malah digigit nyamuk?” tanya Asyila yang terlihat begitu perhatian kepada Bela yang jelas-jelas bukan darah dagingnya.


“Mas, tolong gendong Akbar sebentar. Asyila akan mencoba memindahkan Bela ke kamar,” tutur Asyila sambil menyerahkan bayi mungilnya kepada Abraham.


“Syila jangan melakukan hal itu, Syila sudah pasti tidak bisa mengangkat Bela,” balas Abraham ragu dengan apa yang akan dilakukan oleh istri kecilnya.


Asyila tersenyum lebar, mengangkat tubuh Bela baginya adalah hal yang sangat mudah.


Sia-sia saja dirinya berlatih ilmu beladiri kalau hal sepele seperti itu saja dirinya tidak bisa.


Saat Abraham ingin mencegah Asyila, seketika itu juga Abraham terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Asyila.


“Syila, turunkan Bela. Kalau jatuh bagaimana?” tanya Abraham yang nampak sangat panik.


“Mas tenang saja,” balas Asyila dan dengan santainya mengangkat tubuh Bela menuju kamar yang biasa ditempati oleh Dyah.


Saat itu juga Abraham tercengang, istri kecilnya benar-benar terlihat sangat kuat seperti wonder woman.


“Apakah wanita cantik itu masih istriku?” tanya Abraham terheran-heran.


Beberapa menit kemudian.


Asyila kembali menghampiri suaminya yang ternyata tengah melamun.


“Mas, ini sudah malam kenapa masih melamun saja?”


“Apakah tangan Asyila tidak sakit?” tanya Abraham yang malah balik tanya.


“Sakit apanya? Ayo kita naik ke kamar lagi, Bela sudah tidur.”


Abraham mengangguk kecil dan berjalan dengan langkah kecil menuju kamar mereka.

__ADS_1


“Mas, biar Akbar yang gendong Asyila. Mas hati-hati ya, kalau tidak kuat lebih baik Mas diam saja di kamar,” tutur Asyila sembari menaiki anak tangga bersama dengan suaminya.


Setibanya di dalam kamar, Asyila meminta suaminya untuk segera berbaring. Asyila ingin suaminya bisa secepatnya beristirahat agar luka di kaki suaminya bisa cepat sembuh.


“Mas berbaringlah, Asyila akan menyusui bayi kita dulu. Setelah itu, Asyila akan kembali fokus merawat Mas Abraham. Oya, Mas Abraham mau Asyila buatkan apa?” tanya Asyila.


Abraham mengernyitkan keningnya, ketika mengetahui bagaimana istri kecilnya begitu cerewet hanya karena masalah kakinya yang terluka.


“Mas kenapa melamun lagi? Apakah kaki Mas sakit? Mau ganti perban lagi?” tanya Asyila yang sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya.


“Syila tenanglah, Suamimu ini sungguh baik-baik saja.”


“Mas jangan berkata seperti itu, sekarang katakan apa yang Mas inginkan. Asyila pasti akan membuatkan makanan untuk Mas,” balas Asyila yang sangat antusias untuk mendengar keinginan suaminya.


Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Mas sedang tidak lapar, kalau Syila sudah selesai menyusui Akbar, segeralah datang kemari dan peluk suamimu ini!” pinta Abraham.


“Dasar,” celetuk Asyila.


Cukup lama Asyila menyusui bayi mungilnya itu yang kini sudah tidur terlelap. Kemudian, Asyila menyudahinya dan meletakkan bayi mungilnya di ranjang bayi.


Setelah itu, Asyila memutuskan untuk mendekati suaminya dan memijat lengan suaminya dengan penuh kelembutan.


“Apa yang Asyila lakukan?” tanya Abraham yang merasa tak enak hati dengan apa yang dilakukan oleh Sang istri.


“Saat ini Mas Abraham sedang sakit, Asyila hanya ingin merawat Mas Abraham sebaik mungkin. Tubuh Mas pasti pegal-pegal, maka dari itu biarkan Asyila memijat Mas Abraham dan Asyila mohon jangan meminta Asyila untuk berhenti!”


Abraham pun pasrah dan mengiyakan apa yang ingin dilakukan oleh seorang Asyila.


“Mas, kapan kita ke Jakarta?” tanya Asyila yang terus memijat lengan suaminya.


“Insya Allah lusa kita sudah berada di Jakarta,” jawab Abraham.


Asyila tersenyum manis mendengar bahwa lusa mereka akan pergi ke Jakarta.


“Asyila sudah tidak sabar ingin tidur bersama Ashraf,” tutur Asyila yang merindukan buah hati ke-dua mereka.


“Kalau Syila tidur dengan Ashraf, lalu bagaimana dengan Mas?” tanya Abraham sembari menunjuk dirinya sendiri.


Asyila tertawa kecil melihat ekspresi wajah suaminya.


“Mas cemburu dengan anak kita?” tanya Asyila yang kini malah tertawa geli.


“Tentu saja, pokoknya Syila hanya milik Mas seorang,” tegas Abraham.


“Mas ini benar-benar ya, tentu saja Asyila milik Mas dan juga anak-anak kita. Sekarang Mas diam, Asyila ingin fokus memijat,” tegas Asyila yang kini berpindah ke bagian paha suaminya.


Abraham pasrah dan tak lupa mengucapkan terima atas perhatian dari Sang istri.


“Mas...”


“Iya, ada apa Syila?” tanya Abraham penasaran.


“Apa Mas selamanya akan membantu mereka dalam menangkap musuh?” tanya Asyila penasaran.


“Insya Allah, Mas hanya bisa memasrahkan diri ini kepada Allah. Kalau Allah memang menakdirkan Mas untuk terus membantu mereka ya kenapa tidak? Selagi suamimu ini masih kuat, insya Allah Mas akan terus membantu mereka,” jelas Abraham apa adanya.


Asyila merenung sejenak dan ia pun memutuskan untuk membantu suaminya selama dirinya masih mampu.


“Apa yang sedang Asyila pikirkan?” tanya Abraham melihat ekspresi wajah istri kecilnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Hmmm.. tidak ada,” jawab Asyila dan malah memijat paha suaminya dengan cukup keras.


“Aaww, pelan-pelan Syila!” pinta Asyila.

__ADS_1


Bukannya pelan-pelan, Asyila malah semakin semangat memijat suaminya itu.


__ADS_2