
Asyila menghela napasnya dan beranjak dari pria yang sudah pingsan tak sadarkan diri di lantai. Kemudian, Asyila duduk tak jauh dari tempat suaminya berbaring. Asyila duduk sembari memandangi wajah suaminya yang begitu menyedihkan.
Abraham pun menoleh ke arah wanita bercadar tersebut. Akan tetapi, ia tidak bisa fokus karena kondisi tubuhnya yang begitu menyakitkan.
Ya Allah, limpahkanlah kebaikan, Rahmat, kebahagiaan, kesejahteraan dan kesehatan untuk wanita bercadar itu.
Abraham mendo'akan wanita bercadar yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Asyila duduk sembari terus memandangi wajah suaminya, ia sekali Asyila memeluk dan menciumi suaminya itu.
Asyila akan pergi 1 jam lagi, untuk memastikan suami serta Edi baik-baik saja.
Cukup lama Asyila menunggu, hingga akhirnya ponsel milik Edi berbunyi dan ternyata pesan tersebut dari Dayat. Dayat memberitahukan bahwa 10 menit lagi, mereka akan tiba di tempat tersebut.
Saat itu juga Asyila beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk segera pergi meninggalkan Sang suami dan juga Edi secepat mungkin.
Asyila berlari keluar dari melewati para penjahat yang masih terlelap karena pengaruh obat yang diberikan oleh Asyila.
Ia berlari menuju motor suaminya dan melesat pergi secepat mungkin meninggalkan daerah tersebut.
“Maafkan Asyila, Mas. Asyila terpaksa pergi meninggalkan Mas Abraham, akan sangat berbahaya bila Asyila sampai ketahuan. Mungkin Mas akan marah besar terhadap Asyila dan melarang keras Asyila untuk terlibat dalam misi Mas Abraham,” terang Asyila dan memutuskan untuk melewati jalan lain, karena Asyila tidak ingin lagi melewati jembatan gantung yang menyeramkan tersebut.
Disaat yang bersamaan, Arumi dan juga Herwan belum bisa tidur. Mereka masih menunggu kepulangan Asyila yang sudah lebih dari dua jam belum juga tiba di Perumahan Absyil.
“Mas, kenapa putri kita belum juga kembali? Ibu jadi khawatir, mana Asyila pergi menggunakan motor,” ucap Arumi yang terus wara-wiri tak jelas.
“Ibu sebaiknya duduk dulu, kita tunggu saja. Insya Allah, putri kita baik-baik saja. Ayo sini duduk!” pinta Herwan pada istrinya.
Arumi menghela napasnya dan malah melenggang pergi menuju ruang tamu. Herwan pun beranjak dari duduknya dan berjalan menyusul istrinya yang malah menuju ke ruang tamu.
“Mas, sebaiknya kita tunggu disini saja. Kalau Asyila pulang, kita pasti tahu,” ujar Arumi dan duduk sembari menoleh ke arah jendela.
Asyila terus mengendarai motornya dan tiba-tiba ia ingat, kalau tidak mungkin baginya pulang dengan tangan kosong. Ia pun memutuskan untuk membeli sesuatu, agar bisa menjadikan alasan mengapa ia pulang terlambat.
Wanita muda itu mengendarai motornya sembari menoleh ke arah kiri dan kanan barangkali ada sesuatu yang bisa ia beli. Perhatian Asyila pun tertuju pada sebuah tenda biru yang menjual sate ayam dan juga sate kambing.
Motor pun berhenti tepat di samping tenda biru yang menjual sate ayam dan juga sate kambing.
Asyila terkejut menyadari bahwa ia masih berpakaian serba hitam. Untungnya, di dekat tenda biru itu terdapat sebuah toilet umum. Asyila menghela napasnya, sepertinya Allah menunjukkan kebaikan untuk Asyila yang baik hati.
Ia berlari kecil menuju toilet dan bergegas mengganti pakaiannya. Sekitar 5 menit, Asyila keluar dengan tampilan seperti biasanya. Gamis berwarna cokelat muda dengan hijab yang senada, ia juga mengganti sepatunya dengan sandal dan tak lupa kaos kaki yang terus menutupi kakinya yang kecil.
“Beli apa, Neng?” tanya pria sembari mengipasi sate yang tengah di bakarnya.
“Sate ayam 1 porsi dan sate kambing 1 porsi. Bumbu kacang ya Pak!” pinta Asyila.
“Baik, Neng. Tunggu sebentar ya,” sahut pedagang sate tersebut.
“Baik, Pak! Siap!” seru Asyila sembari mendaratkan bokongnya di kursi panjang bersama dengan yang lain, yang saat itu tengah mengantri.
Asyila mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Ibunya kalau ia sedang mengantri membeli sate.
Disaat yang bersamaan, Herwan mendengar ponsel istri berbunyi. Saat itu juga, Herwan berjalan menuju ruang keluarga untuk memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
“Ibu! Ibu, sini sebentar!” panggil Herwan pada istrinya yang saat itu tengah duduk menanti kedatangan putri mereka di ruang tamu.
Mendengar namanya di panggil, Arumi saat itu juga bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri suaminya tersebut.
“Ada apa, Mas?” tanya Arumi yang agak sedikit kesal dengan suaminya.
“Lihatlah dan baca pesan ini, saat ini Asyila sedang mengantri membeli sate,” terang Herwan dan memberikan ponsel tersebut pada istrinya, Arumi.
Arumi mengernyit keningnya dan mulai membaca pesan singkat dari putri kesayangannya. Saat itu juga, Arumi bernapas lega karena mengetahui putrinya baik-baik saja.
“Iya, Mas. Mungkin juga, Asyila saat ini sedang mengantri,” sahut Arumi yang kembali tenang.
Akbar bangun dari tidurnya dan ternyata Bundanya belum pulang. Bocah kecil itu pun, turun dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk menunggu Bundanya di ruang keluarga sembari menonton televisi.
“Akbar kok sudah bangun?” tanya Herwan pada cucunya yang tiba-tiba saja datang ke ruang keluarga.
“Kakek, Bunda belum pulang ya?” tanya Akbar dan mendaratkan bokongnya di samping Sang Nenek, Arumi.
Akbar bersandar di pelukan Neneknya yang begitu hangat.
“Bunda sekarang sedang membeli sate, Akbar mau sate?” tanya Herwan pada cucunya yang menggemaskan.
“Mau Kakek, Akbar mau sate ayam,” terang Akbar dan perlahan memejamkan matanya di peluk Nenek tercintanya itu.
__ADS_1
Arumi mencium pucuk kepala cucunya dan dengan hati-hati mengubah posisi tidur Akbar menjadi berbaring di sofa.
“Mas, Ibu mau ke belakang dulu. Mau membuat teh untuk Asyila, pasti putri kita kedinginan ketika mengendarai motor,” tutur Arumi. “Seharusnya tadi, Asyila tidak pergi seorang diri. Bila perlu, Mas Herwan yang menemani putri kita,” imbuh Arumi.
“Ibu tidak usah banyak berpikir, lagipula putri kita bukan anak kecil lagi. Insya Allah, Asyila baik-baik saja. Sebentar lagi, Asyila juga akan sampai,” balas Herwan pada istrinya.
Disaat yang bersamaan, Asyila masih menunggu gilirannya. Ia duduk sembari terus memikirkan suaminya, ia mencoba menghubungi Sang suami dan ternyata yang menerima sambungan telepon tersebut adalah Dayat.
“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila dengan suara terbata-bata.
“Wa’alaikumsalam, maaf Nona Asyila, ini saya Dayat,” jawab Dayat.
“Pak Dayat, Mas Abraham mana? Kenapa Pak Dayat yang menerima telepon ini?” tanya Asyila yang sedikit bisa bernapas lega, karena akhirnya Dayat serta yang lain sudah tiba untuk membantu menyelamatkan suaminya.
“Nona Asyila, tidak perlu khawatir. Tuan Abraham baik-baik saja, hanya saja saat itu Tuan Abraham sedang berada di rumah sakit,” terang Dayat pada Asyila.
“Pak Dayat, tolong beritahu saya rumah sakit mana?” tanya Asyila yang ingin sekali melihat suaminya. Akan tetapi, tidak untuk malam itu.
Dayat pun memberitahukan lokasi rumah sakit dimana Abraham serta Edi di rawat. Ternyata, rumah sakit itu letaknya tak jauh dari Perumahan Absyil. Mungkin sekitar 40 menit saja bila dari Perumahan Absyil menuju Rumah Sakit tersebut.
“Baik, Pak Dayat. Sekali lagi terima kasih, besok pagi saya akan pergi ke rumah sakit,” tutur Asyila.
“Nona Asyila, jangan berterima kasih kepada saya. Akan tetapi, berterima kasihlah kepada Allah dan wanita bercadar itu, karena berkatnya Pak Abraham dan sahabat kami Edi lolos dari maut,” terang Dayat.
Sambungan telepon pun berakhir dan saat itu juga Asyila meneteskan air matanya. Asyila begitu lega, meskipun ia tahu bahwa suaminya saat ini sedang dalam kondisi yang tak memungkinkan.
Sate pesanan Asyila pun telah siap dan pedagang sate itu berjalan menghampiri Asyila.
“Neng, kenapa menangis? Ini satenya sudah jadi,” ucapnya pada Asyila yang memang tengah menangis.
Asyila segera menyeka air matanya dan menerima kresek yang berisi dua porsi sate.
“Putus cinta ya Neng?” tanya pria itu yang semakin penasaran.
“Tidak, Pak. Ini uangnya,” ujar Asyila dan melenggang pergi.
“Neng, mau kemana? Masih ada kembali 40 ribu,” ujar pedagang sate tersebut.
“Ambil saja, Pak. Sebelumnya terima kasih satenya, saya permisi dulu,” balas Asyila dan bergegas naik ke atas motor untuk segera pulang menuju Perumahan Absyil.
Asyila berharap, bahwa setibanya di rumah kedua orangtuanya tak banyak bertanya. Ia bahkan, sama sekali tak pergi ke gerai muslimah cabang yang lain. Yang baru setahun, gerai muslimah Asyila tersebut berdiri.
Asyila akhirnya tiba di Perumahan Absyil dan saat itu ia bergegas untuk tiba di rumah. Perlahan, ia memasukkan motor Sang suami ke dalam garasi dan saat dirinya ingin melangkah menuju pintu, rupanya Arumi dan juga Herwan telah menyambut kedatangan Asyila.
“Assalamu’alaikum, Ayah! Ibu!” Asyila tersenyum manis depan Ayah dan Ibunya.
“Wa’alaikumsalam, akhirnya kamu pulang juga sayang,” balas Arumi dan saat itu juga memeluk Asyila agar rasa khawatirnya bisa cepat hilang.
Arumi merangkul pundak putrinya dan membawa putrinya itu masuk ke dalam.
“Akbar sudah tidur, Ibu?” tanya Asyila pada Ibunya saat itu tengah menuntunnya berjalan menuju ruang keluarga.
“Lihatlah, itu Akbar!” Arumi menunjuk ke arah Akbar yang tengah terlelap.
Asyila berjalan mendekat Akbar dan tak lupa menaruh sate yang ia beli di atas meja.
Dikecupnya pipi Akbar, sampai akhirnya Akbar terbangun.
“Bunda sudah pulang ternyata,” ujarnya dan tersenyum lebar ke arah Bundanya.
“Iya sayang, Akbar mau makan sate sama Bunda?” tanya Asyila.
“Mau, Bunda. Sate Ayam,” sahut Akbar.
“Kalau begitu, Bunda ke kamar dulu ya sayang m Bunda mau ganti baju, setelah itu kita makan sate bersama-sama,” ujar Asyila.
Akbar menyentuh pipi Bundanya dengan tatapan sedih, “Bunda kenapa menangis? Mata Bunda bengkak?” tanya Akbar.
Arumi dan Herwan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Akbar. Mereka pun kompak menoleh ke arah mata Asyila.
“Iya, Asyila. Kenapa kamu menangis? Ada apa?” tanya Arumi yang sebelumnya tidak menyadari bahwa putrinya itu Habi menangis.
“Ayan dan Ibu jangan khawatir, Asyila menangis gara-gara tadi melihat ada ibu-ibu tua di pinggir jalan, makanya Asyila begini,” jawab Asyila yang terpaksa berbohong.
Kemudian, Asyila bergegas pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian serta membasuh wajahnya agar nampak segar.
“Asyila kita ini, gampang sekali kasihan dengan orang lain,” ujar Arumi sembari memperhatikan punggung putrinya yang semakin menjauh dari ruang keluarga.
__ADS_1
Di dalam kamar, Asyila menangis dengan posisi terduduk sembari bersandar di dinding. Ia menangis dan ingin sekali datang memeluk erat tubuh suaminya. Akan tetapi, Asyila tidak bisa pergi malam itu. Karena, Asyila tidak ingin membuat Ayah, Ibu dan juga putra kecilnya sedih.
Biarkanlah, kesedihan dan rasa sakit ini Asyila simpan sendiri dan akan mengajak orangtuanya dan juga Akbar menemui Sang suami, ketika keadaan Suaminya itu ketika sudah membaik.
Ia perlahan bangkit dan melepaskan pakaiannya. Kemudian, masuk ke dalam kamar mandi dengan handuk yang terbalut sempurna di tubuhnya.
Beberapa saat kemudian.
Asyila keluar dari kamarnya dengan mengenakan piyama kesukaannya, ia tersenyum semanis mungkin untuk menghilangkan kesedihan dihatinya.
“Asyila, Ibu tadi membuatkan teh dan untungnya masih hangat. Soalnya, tadi Ibu membuatnya dalam keadaan panas. Diminum ya sayang, Ibu takut kalau Asyila masuk angin dan ketika Nak Abraham pulang nanti, pasti Nak Abraham sedih kalau tahu istrinya sakit gara-gara keluar membeli sate,” ujar Arumi dan memberikan segelas teh hangat agar segera diminum oleh Putrinya.
“Terima kasih, Ibu,” balas Asyila dan meneguk teh hangat tersebut sampai habis.
Asyila meletakkan kembali gelas yang sudah kosong tersebut dan meminta Ayah, Ibu dan juga putra kecilnya untuk segera menikmati sate yang ia beli.
Merekapun berdo'a sebelum menikmati sate tersebut.
“Ayah mau sate kambing,” ujar Herwan dan mengambil satu tusuk sate kambing tersebut.
“Ibu, apakah Dyah tidak kesini?” tanya Asyila pada Arumi.
“Tidak, Asyila. Mungkin, besok pagi mereka kesini,” jawab Arumi dan mengambil sate Ayam yang begitu menggoda selera.
“Bunda, sate ini enak sekali. Bunda beli dimana? Kapan-kapan kita makan bersama Ayah ya Bunda!” pinta Akbar dan dengan semangat melahap sate Ayam tersebut.
“Akbar tidak perlu khawatir, kalau Ayah sudah pulang, kita akan makan sate bersama-sama,” jawab Asyila dan mengecup lembut kening putra kecilnya, Akbar.
Maafkan Bunda ya sayang, saat ini Ayahmu sedang berada di rumah sakit. Bunda memutuskan untuk tidak memberitahukan Akbar ataupun yang lainnya, sekali lagi maafkan Bunda ya sayang. Semoga Akbar bisa bersabar menunggu sampai Ayah Abraham bisa sembuh seperti sedia kala.
Arumi memperhatikan ekspresi wajah putrinya, sepertinya ada sesuatu hal yang sedang disembunyikan oleh putri tunggal Kesayangannya itu.
“Asyila, apa ada hal yang sedang Asyila sembunyikan?” tanya Arumi dengan sangat serius.
“Tidak ada, Ibu. Hanya saja, punggung Asyila sedikit sakit, mungkin kurang minum air,” jawab Asyila.
“Iya Syila, sepertinya begitu. Besok, setelah bangun tidur jangan lupa minum segelas air biar punggung Asyila tidak sakit, Asyila mengerti!”
“Iya, Ibu. Asyila mengerti, Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan Asyila. Asyila akan sangat sedih kalau membuat Ibu semakin banyak pikiran,” ujar Asyila pada Ibunya.
Usai menikmati sate, Akbar kembali mengantuk. Ia pun meminta Bundanya untuk segera masuk ke dalam kamar dan menemaninya tidur.
Asyila mengiyakan dan ketika ingin membereskan meja, Arumi melarang putrinya dan meminta Asyila untuk segera masuk ke dalam kamar menemani Akbar tidur. Asyila akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ibunya dan bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar.
“Bunda, Bunda sudah bilang sama Ayah, kalau pulang ke rumah harus membawa durian?” tanya Akbar untuk memastikan kembali bahwa Bundanya tidak lupa dengan keinginannya itu.
“Akbar sayang, Akbar tidak perlu khawatir. Bunda sudah membicarakan hal ini dengan Ayah. Setelah pekerjaan Ayah selesai disana, Ayah akan membawa banyak durian untuk Akbar,” terang Asyila.
Akbar tersenyum lebar dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi, untuk mengambil air wudhu.
“Bunda, Akbar sudah selesai mengambil air wudhu. Bunda juga ya,” pungkas Akbar dan cepat-cepat naik ke atas tempat tidur.
Asyila tertawa kecil dan begitu gemas dengan tingkah lucu dari Akbar Mahesa. Setelah cukup lama memperhatikan Akbar yang sudah di tempat tidur, Asyila pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Akbar membuka matanya ketika Bundanya baru saja keluar dari kamar mandi.
“Bunda, ayo cepat kesini. Bobok sama Akbar!” panggil Akbar sembari mengerakkan tangannya agar Bundanya itu segera naik ke tempat tidur.
“Iya sayang, Akbar bobok cepat ya, besok Bunda mau mengajak Akbar sholat tahajjud,” tutur Asyila.
Akbar memanyunkan bibirnya dan beberapa detik kemudian, ia mengangguk penuh semangat.
“Bangunin Akbar ya Bunda!”
“Siap, asal Akbar bangun ya. Kalau tidak, Bunda akan menggigit tangan Akbar, auuurggrr!”
Akbar tertawa lepas ketika mendengar suara Bundanya yang berubah menjadi harimau galak.
Asyila dan Akbar terus saja bersenda gurau di dalam kamar. Akbar bahkan tertawa terus-menerus karena ulah dari Bundanya.
Apa yang Asyila lakukan saat itu, adalah untuk mengurangi beban pikiran dihatinya. Mungkin, dengan cara seperti itu kesedihan di hatinya sedikit berkurang.
“Bunda, sudah Bunda!” pinta Akbar yang sudah lelah tertawa karena ulah dari Bundanya tercinta.
“Akbar capek ya?” tanya Asyila dengan senyum manisnya.
“Iya, Bunda. Akbar capek, perut Akbar sakit karena tertawa terus,” jawab Akbar yang memang suka sekali berkata dengan jujur.
__ADS_1
“Maafkan Bunda ya sayang, kalau begitu ayo kita tidur sekarang!” ajak Asyila dan mengecup lembut pipi putra kecilnya bersama Sang suami tercinta.