
Tengah malam Abraham dikejutkan oleh suara teriakkan seorang wanita. Ia pun terbangun dan cepat-cepat keluar dari kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, ternyata diluar tidak hanya ada Abraham saja.
Yogi serta penghuni penginapan yang lain keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada teriakkan dari seorang wanita.
Bahkan, hampir semuanya yang keluar adalah para pria. Tentu saja pakaian mereka saat itu tidaklah lengkap, ada yang memakai celana pendek saja, ada yang mengenakan celana pendek serta baju dalam dan ada pula yang bertelanjang dada, termasuk Abraham dan Yogi.
“Astaghfirullah!” Abraham terkejut sembari menutupi tubuh atas dengan tangan sebisanya. Kemudian, cepat-cepat masuk ke kamar untuk segera mengenakan pakaian.
Asyila terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara berisik yabg disebabkan oleh suaminya.
“Mas mau kemana?” tanya Asyila ketika melihat suaminya akan keluar kamar.
“Syila diam disini dan tidak boleh keluar, jangan lupa pintunya dikunci!” perintah Abraham dan segera keluar kamar.
Diluar mereka semuanya masih bertanya-tanya dengan suara teriakkan dari seorang wanita. Sampa akhirnya salah satu pengunjung yang juga menyewa penginapan berteriak ketika melihat ada ada berceceran di pasir.
Abraham berlari bersama yang lainnya menuju sumber suara yang baru saja berteriak. Yogi berlari secepat mungkin mengikuti Abraham dari belakang.
Mereka semua terkejut dan sangat-sangat terkejut ketika melihat seorang wanita yang sudah terkapar bersimbah darah dibagian perut dan lehernya.
Yogi yang tak tahan segera berbalik badan dan langsung lemas. Ia sebenarnya tidak tahan dan kuat melihat darah, ditambah ia melihat seorang wanita yang telah bermandikan oleh darah segar.
“Yogi!” Abraham dengan cepat menahan tubuh Yogi yang benar-benar lemas.
Kondisi Yogi seketika itu lemas sekaligus mual-mual. Untungnya saja, ada Abraham yang menjaga Yogi agar tidak jatuh dan perlahan membawa Yogi ke penginapannya.
“Assalamu’alaikum, Ema!’’ panggil Abraham.
Ema terbangun dan langsung mengambil hijabnya ketika mendengar suara Abraham yang memanggilnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ema, “Astaghfirullah, Abang kenapa?” tanya Ema panik.
Abraham menuntun Yogi masuk dan memerintahkan agar Ema tidak keluar dari penginapan.
Meskipun di luar ada suara keributan sekalipun, Ema harus tetap berada di dalam dan tak boleh keluar.
“Apakah kamu mengerti apa yang saya katakan?” tanya Abraham.
“Mengerti, Pak Abraham,” jawab Ema yang terlihat khawatir pada suaminya.
Abraham cepat-cepat keluar untuk kembali melihat wanita yang telah berlumuran darah segar.
“Jangan ada yang mendekat!” perintah Abraham pada orang-orang yang tengah mengerumuni wanita tersebut.
Semuanya mundur dan membiarkan Abraham yang mendekati si wanita itu.
“Tolong jangan ada yang mengambil gambar, video atau sejenisnya!” pinta Abraham.
__ADS_1
Mereka yang mendengar permintaan Abraham perlahan menurunkan ponsel mereka yang mengarah ke wanita tersebut. Kemudian, mereka tersadar dan segera menyimpan ponsel mereka kembali.
Abraham memeriksa denyut nadi wanita itu dan ternyata memang sudah tidak bernyawa.
“Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un,” ucap Abraham.
Karena sudah seperti itu, Abraham cepat-cepat menghubungi polisi untuk menyelidiki kasus pembunuhan wanita itu. Kemudian, meminta para wanita yang hadir menyaksikan mayat tersebut untuk segera kembali ke penginapan. Sementara pria yang lainnya tetap berada diluar rumah penginapan sampai polisi tiba.
Semua pria bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita itu dan siapa yang dengan tega membunuhnya.
Ramai, tentu saja sangat ramai, mereka nampak sangat terkejut dengan mayat wanita yang tergeletak dibawah dekat pondok kecil.
Ternyata, hampir satu jam lamanya polisi belum juga datang. Membuat yang lainnya semakin panik karena pihak berwajib belum juga menangani masalah wanita yang telah meninggal tersebut.
Didalam kamar, Asyila merasa tak nyaman karena suaminya belum juga kembali. Asyila ingin sekali keluar dari kamar. Akan tetapi, Abraham telah memerintahkannya untuk diam dikamar dan tak boleh keluar.
“Sudah jam segini, sebenarnya Mas sedang apa diluar?” tanya Asyila bermonolog dan memutuskan untuk melaksanakan sholat tahajjud seorang diri.
Asyila turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Ia akhirnya terpaksa sholat tahajjud seorang diri.
Sirine polisi berbunyi, tanda bahwa mereka telah datang.
Merekapun pun dan mencari pria bernama Abraham yang beberapa saat lalu melapor bahwa telah menemukan seorang mayat wanita bersimbah darah.
“Tuan Abraham?” tanya salah satu polisi sambil mengedarkan pandangannya.
Pertama-tama ia terbangun ketika mendengar suara teriakkan begitu pula yang lainnya yang saat ini berkumpul.
“Siapa dari kalian yang pertama kali menemukan mayat wanita ini?” tanya polisi.
Pria yang pertama kali melihat si wanita dengan cepat berjalan mendekati polisi dan mengatakan dengan sebenar-benarnya.
Polisi dengan serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh saksi yang pertama kali melihat mayat wanita itu. Kemudian, polisi tersebut meminta yang lainnya untuk bubar agar bisa memeriksa lebih lanjut lagi si mayat wanita tersebut.
Mayat itu pun kemudian dibawa masuk ke dalam mobil ambulans untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait dengan pembunuhan tersebut. Untuk sementara waktu, polisi menduga bahwa si wanita tersebut adalah korban pembunuhan dan berharap pelaku pembunuhan itu segera ditangkap.
“Terima kasih atas laporannya, kalau begitu kami permisi. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, tolong segera hubungi kami!" pinta Sang polisi.
Abraham dan lainnya mengiyakan apa yang dikatakan oleh polisi. Kemudian, merekapun bubar untuk kembali ke penginapan mereka masing-masing.
“Tok... tok...!”
“Syila!” panggil Abraham sembari mengetuk pintu.
Asyila yang memang tidak tidur langsung membuka pintu dan mempersilakan suaminya masuk. Kemudian, Asyila memeluk suaminya dan bertanya kepada suaminya alasan tidak kunjung kembali.
“Mas, tolong jangan menyembunyikan apapun dari Asyila,” ucap Asyila karena Sang suami tidak menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
__ADS_1
Abraham akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang teriakkan dan penemuan mayat seorang wanita yang sudah berlumuran darah.
“Ya Allah, Mas. Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un.” Asyila mempererat pelukannya dan menangis ketakutan.
Sungguh malang sekali nasib wanita tersebut, entah siapa orang kejam berhati iblis, berwujud manusia itu.
Bagaimana bisa, ada manusia berkelakuan seperti binatang.
“Mas, apakah kita semua benar-benar aman? Bagaimana jika, pelaku pembunuhan itu ada disekitar kita?” tanya Asyila yang tak tenang.
“Untuk malam ini dan beberapa hari ke depan kita tidak boleh keluar secara terpisah. Asyila jangan terlalu memikirkan hal-hal seperti itu, yang terpenting kita harus saling berjaga-jaga,” terang Abraham.
“Tetap saja, Asyila merasa takut Mas. Asyila sangat takut kalau kejadian seperti ini terulang lagi.”
“Mas pastikan, hal seperti ini tidak akan terulang lagi. Selama ada Mas disini, tidak akan ada seorangpun yang bisa melakukan hal seperti ini lagi,” balas Abraham.
Keesokan harinya.
Pantai yang sebelumnya ramai mendadak sepi, para pengunjung satu-persatu mulai meninggalkan penginapan karena takut hal-hal yang tidak diinginkan kembali terjadi.
Ema yang telah mengetahui hal tersebut begitu ketakutan, sampai-sampai ia tidak berani keluar dari kamarnya dan meminta Yogi untuk selalu menemaninya di dalam kamar.
“Mas, kalau seperti ini lebih baik kita kembali saja,” ucap Asyila.
Abraham merasa sedih, rencana untuk menikmati bulan madu mereka sekarang berubah menjadi ketakutan.
“Syila, bagaimana kalau Asyila, Ema dan anak-anak kembali ke rumah?” tanya Abraham.
“Lalu, bagaimana dengan Mas dan Pak Yogi?” tanya Asyila yang terlihat tak senang dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
“Mas dan Yogi akan tetap disini. Atau begini saja, bagaimana kalau Mas saja yang tetap tinggal disini untuk beberapa hari ke depan sampai pelaku pembunuhan ditangkap?”
Asyila dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia tidak setuju jika suaminya tetap berada di tempat itu seorang diri.
“Tidak bisa, kalau Mas maunya seperti itu Asyila juga akan berada disini,” tegas Asyila.
Abraham mencium kening istri kecilnya dan menarik tubuh istri kecilnya ke atas pangkuannya.
“Kalau begitu, Syila tetaplah disini dan tetaplah didalam kamar sampai semuanya terungkap. Firasat Mas mengatakan kalau pelaku pembunuhan itu sebentar lagi menunjukkan dirinya dan dengan mudah Mas akan menangkapnya,” tutur Abraham.
Asyila yang awalnya ketakutan kini malah pasang badan jika pelaku pembunuhan itu berniat jahat pada suaminya.
“Kalau begitu, Asyila juga akan menangkap pelaku pembunuhan itu, Mas!”
Abraham tertawa kecil dan menganggap apa yang dikatakan oleh istri kecilnya hanya gurauan saja.
“Sudah, jangan memikirkan yang tidak-tidak. Sekarang bantu Mas membersihkan punggung Mas!” pinta Abraham dan menggeret istri kecilnya masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Abraham 💖 Asyila