
Abraham duduk tepat disamping Edi, kursi tersebut sengaja dibiarkan kosong agar Abraham bisa duduk bersebelahan dengannya.
Abraham duduk dan mendengarkan dengan sangat serius apa yang sedang dibahas oleh Edi dan rekan tim yang lain.
Begitulah Abraham, ia akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh mereka dengan sangat serius dan ketika dimintai pendapat, Abraham tak sungkan mengutarakan pendapat serta pemikirannya untuk menangkap para penjahat.
Beberapa jam kemudian.
Waktu sudah sangat larut, merekapun memutuskan untuk beristirahat karena besok mereka harus bangun lebih awal untuk sahur bersama.
****
Jakarta.
Asyila duduk di kursi teras depan bersama dengan Arumi dan juga Dyah. 1 jam yang lalu, kedua orang tua Dyah memutuskan untuk kembali ke Bandung karena mereka berdua harus kembali bekerja, ya begitulah hidup untuk memenuhi kebutuhan.
“Dyah tidak ada rencana mau bekerja lagi?” tanya Arumi penasaran.
Dyah menoleh ke arah Arumi yang baru saja memberinya pertanyaan.
“Sebenarnya Dyah ada keinginan untuk bekerja, Nek. Akan tetapi, Dyah sekarang telah menjadi ibu rumah tangga dan seorang Ibu untuk putri kami. Hmm... Mas Fahmi juga meminta Dyah untuk tetap di rumah, ya mungkin karena Mas Fahmi sudah bisa menghasilkan uang yang cukup bahkan lebih untuk kami,” ungkap Dyah.
“Kalau suamimu sudah berbicara seperti itu, maka harus menurutinya. Surga Allah juga ada pada suami, selama itu baik maka ikuti saja perintah dari suamimu, insya Allah kita sebagai seorang istri akan mendapatkan pahala sekaligus surga bagi istri-istri yang taat akan perintah suami,” balas Arumi.
Dyah mengiyakan dan kembali menoleh pada bayinya yang tengah terlelap dalam pangkuannya.
“Dyah, Mas mau pergi dulu ya ke rumah Mas,” tutur Fahmi yang ingin melihat-lihat rumahnya sendiri yang jaraknya tak jauh dari kediaman Abraham Mahesa.
“Dyah ikut ya Mas?” tanya Dyah yang ingin ikut.
“Dyah disini saja, lagipula Mas hanya sebentar,” balas Fahmi.
“Mas Fahmi sungguh hanya sebentar?” tanya Dyah memastikan.
Asyila dan Arumi saling tukar pandang melihat sepasang suami istri yang sedang berbincang.
Arumi pun memberi isyarat mata kepada Asyila untuk segera masuk ke dalam rumah dan memberikan sepasang suami istri itu berbincang-bincang terlebih dahulu.
Asyila dan Arumi berjalan masuk ke dalam rumah, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga sembari melihat bagaimana anak-anak tengah bermain tebak-tebakan lucu.
Melihat Bundanya yang sudah berada di ruang keluarga dan sedang duduk bersantai, Ashraf pun mendekat dengan maksud menanyakan kepulangan Ayahnya.
“Bunda, Ayah kapan pulang? Ashraf kangen.” Ashraf memandangi wajah Bundanya dengan tatapan penuh harap.
“Ashraf sayang, bukankah Bunda sudah sering meminta Ashraf untuk berdo'a? Apakah hari ini Ashraf sudah berdo'a agar Ayah cepat pulang?” tanya Asyila dan menyentuh lembut pipi kiri putra keduanya dengan Sang suami.
“Sudah, Bunda,” jawab Ashraf.
“Alhamdulillah, sekarang tugas Ashraf adalah bersabar. Ashraf harus bisa sabar untuk menunggu kedatangan ayah.”
“Baik, Bunda,” balas Ashraf dengan perasaan sedikit kecewa.
Arsyad memanggil adiknya untuk segera mendekat dan kembali bermain dengan dirinya dan juga Bela. Ashraf mengiyakan panggilan Arsyad dan tanpa pikir panjang lagi, Ashraf kembali bergabung melanjutkan permainan mereka yang sempat tertunda.
“Asyila sayang, sabar ya. Mereka juga seperti itu karena sangat merindukan Ayah mereka,” tutur Arumi agar putri kesayangannya bisa lebih bersabar lagi bila mendapatkan pertanyaan mengenai kapan Abraham pulang.
“Asyila akan berusaha bersabar, Ibu,” balas Asyila.
“Bagus, itu baru namanya istri dari Nak Abraham Mahesa, menantu kesayangan Ayah dan Ibu,” puji Arumi.
“Ayah dari empat anak,” sahut Asyila dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Dyah tiba-tiba datang dan dengan wajah sedikit masam. Akan tetapi, ia langsung tersenyum ketika melihat Asyila maupun Arumi di ruang keluarga dan tengah menatapnya.
“Apakah Nak Fahmi sudah pergi?” tanya Arumi pada Dyah yang duduk tepat disebelah putri kesayangannya, Asyila.
“Sudah, Nek,” balas Dyah dengan menampilkan senyumnya.
“Sudah jangan sedih begitu,” tutur Arumi mencoba menghibur Dyah.
“Nenek tenang saja, Dyah tidak sedih hanya sedikit sebal saja. Oya, Paman kapan ya pulang?” tanya Dyah yang tiba-tiba merindukan Pamannya.
“Nenek juga tidak tahu, bahkan istri Pamanmu saja tidak tahu kapan Pamanmu itu pulang,” terang Arumi.
Disaat yang bersamaan, terdengar suara pintu di ketuk.
Arumi seketika itu beranjak dari duduk untuk memeriksa siapa yang datang.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap seorang wanita yang tentu saja dikenal oleh Arumi.
Arumi terkejut melihat Rahma datang.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ya Allah nak Rahma!”
Arumi berlari kecil dan memeluk putri angkatnya.
“Nak Rahma datang kesini sama siapa? Mana nak Kevin?” tanya Arumi dan menoleh ke arah luar untuk melihat suami dari Rahma.
Dyah dan Asyila pun menyusul Arumi untuk melihat siapa yang datang.
“Mbak Rahma,” ucap Asyila dengan terus berjalan mendekat ke arah Rahma.
Asyila menoleh ke arah luar untuk melihat Kevin, akan tetapi Kevin tak ada.
“Bo-boleh saya masuk ke dalam?” tanya Rahma.
“Ya Allah, Ibu sampai lupa untuk mempersilakan nak Rahma masuk. Ayo nak Rahma, silakan masuk!”
Rahma pun masuk ke dalam dan mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu.
Dyah mengernyitkan keningnya ketika melihat ekspresi wajah Rahma yang terlihat tak tenang bercampur rasa sedih. Entah kenapa, Dyah seketika itu memiliki firasat kalau hubungan Rahma dengan Kevin sedang tidak baik-baik saja.
“Mbak Rahma puasa?” tanya Asyila barangkali wanita dihadapannya tengah datang bulan, sehingga Asyila bisa memberikan air untuk Rahma.
“Insya Allah, saya puasa, Nona Asyila,” balas Rahma.
Arumi yang semula duduk di samping Asyila, memutuskan untuk duduk di samping putri angkatnya itu.
“Nak Rahma, apakah ada masalah? Ibu bisa melihat kalau Nak Rahma sedang sedih,” tutur Arumi.
Sebagai seorang Ibu, Arumi bisa memahami kesedihan dari putrinya.
Oleh karena itu, Arumi sangat ingin tahu alasan mengapa Rahma datang seorang diri tanpa ditemani oleh Kevin.
Rahma tiba-tiba menangis dan memeluk erat tubuh Arumi, wanita yang ia anggap seperti Ibunya sendiri.
“Menangislah, Nak Rahma. Keluarkan semua kesedihanmu dengan tangisan,” ujar Arumi sambil menepuk lembut punggung Rahma.
Asyila dan Dyah saling tukar pandang melihat Rahma yang tengah menangis.
Beberapa menit kemudian.
Rahma menyeka air matanya dan mulai menata hatinya agar bisa lebih tenang.
__ADS_1
“Se-sebenarnya kedatangan saya kesini adalah untuk pamit,” terang Rahma.
Arumi mengernyitkan keningnya mendengar keterangan dari Rahma.
“Pamit untuk apa, Nak Rahma? Seakan-akan Nak Rahma ingin pergi jauh saja,” ucap Arumi.
“Iya, Ibu Arumi. Rahma ingin pergi jauh, Rahma ingin bekerja di Arab Saudi menjadi asisten rumah tangga,” terang Rahma.
“Tunggu, maksud Mbak Rahma apa ya? Bukankah Mbak Rahma sudah menikah. Lalu, kenapa harus pergi bekerja di Arab Saudi? Kevin uangnya banyak dan insya Allah bisa mencukupi kebutuhan Mbak Rahma,” ujar Dyah panjang lebar yang masih belum mengerti alasan mengapa Rahma bisa ingin pergi bekerja di luar negeri.
Rahma tersenyum lebar, menyembunyikan kesedihan dihatinya.
Akan tetapi, Rahma tak ingin menyembunyikan fakta yang sebenarnya mengenai hubungan rumah tangannya bersama dengan Kevin yang bisa terbilang masih hitungan hari.
“Sebenarnya saya dan Mas Kevin telah resmi bercerai,” ungkap Rahma.
“Apa!!!” Arumi, Asyila dan juga Dyah terkejut mengetahui bahwa Rahma serta Kevin telah resmi bercerai.
“Astaghfirullahaladzim, Nak Rahma tidak boleh bercanda berlebihan seperti ini,” tutur Arumi yang masih berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Rahma ada gurauan saja.
“Rahma sama sekali tidak bercanda, Ibu. Untuk apa Rahma mempermainkan perasaan Ibu, Nona Asyila dan juga Mbak Dyah. Apa yang saya ucapkan tadi, itu adalah fakta dan kalau memang tidak percaya, kalian bisa datang ke pengadilan agama untuk melihat status pernikahan kami yang sudah sah bercerai Dimata hukum serta agama,” ungkap Rahma.
Arumi, Asyila maupun Dyah tak bisa berkata-kata lagi. Mereka sangat terkejut mengetahui fakta yang ada.
“Kalian tidak perlu sedih, apalagi mengasihi saya. Bagaimanapun, saya sudah ikhlas dan perpisahan kami ini sama sekali tidak ada pihak ketiga. Akan tetapi, ada hal yang tidak bisa saya beritahukan alasannya kepada Ibu, Nona Asyila, Mbak Dyah ataupun yang lainnya. Cukup saya, Mas Kevin dan Allah yang tahu,” ungkap Rahma.
Rahma merasa lega telah memberitahukan hubungannya dengan Kevin. Bukan bermaksud apa-apa, akan tetapi dengan Rahma mengatakan hal seperti itu. Kedepannya, keluarga angkatnya tidak lagi terkejut setelah mengetahui fakta yang ada.
“Saya tahu, tidak semua hubungan rumah tangga berjalan mulus seperti yang diinginkan. Contohnya keluarga yang baru beberapa hari atau beberapa Minggu saya jalani ini saja sudah kandas, mungkin rezeki saya (jodoh) belum datang tepat waktu. Mungkin Allah sedang menyiapkan kado terbaik untuk saya dikemudian hari, oleh karena itu saya memutuskan untuk bekerja di Arab Saudi,” terang Rahma.
“Mbak Rahma, boleh saya memeluk Mbak Rahma?” tanya Asyila yang berusaha untuk tidak menangis karena tak ingin membuat Rahma semakin sedih dengan perceraiannya.
Dengan senang hati, Rahma mengiyakan.
Asyila beranjak dari duduknya dan memberikan bayi mungilnya kepada Sang Ibu. Kemudian, ia memeluk erat tubuh Rahma yang sudah Asyila anggap seperti kakak perempuan.
Ya Allah, kuatkan lah Mbak Rahma. Mbak Rahma adalah orang yang sangat baik, berikanlah dia kebahagiaan dan juga kedamaian dihatinya ya Allah. Jangan biarkan orang dzalim mendekat padanya.
Asyila berdo'a di dalam hatinya agar kedepannya hidup Rahma menjadi lebih berwarna.
Bagaimanapun, Asyila juga seorang wanita dan Asyila mengerti bagaimana sedihnya Rahma dengan yang namanya perceraian.
Rahma melepaskan pelukan Asyila dan pamit untuk pergi karena ia harus segera sampai ke bandara.
“Maaf semuanya, saya harus segera pergi ke bandara,” terang Rahma.
“Ya Allah, Nak Rahma. Kenapa secepat ini? Bukankah sebentar lagi lebaran?” tanya Arumi yang terlihat sangat berat untuk membiarkan Rahma pergi.
“Rahma tahu itu, Ibu. Akan tetapi, Rahma tidak bisa jika harus berada disini,” balas Rahma dengan menundukkan kepalanya.
“Baiklah kalau itu yang diinginkan oleh Nak Rahma, kami hanya bisa membantu dengan mendo'akan kebaikan Nak Rahma disana,” ujar Arumi.
Asyila kembali memeluk Rahma dan membisikkan sesuatu yang hanya mereka berdua serta Allah yang tahu.
Setelah itu, Rahma pun pamit dengan diantarkan oleh Pak Udin, atas perintah dari Asyila.
Rahma tersenyum lebar dan melambaikan tangan ke arah Arumi, Asyila dan juga Dyah pada saat mobil yang ia tumpangi perlahan pergi meninggalkan area rumah.
Baru saja mobil keluar dari gerbang, Arumi tiba-tiba pingsan dan untungnya bayi Akbar tak mengalami cidera sedikitpun.
Asyila mengambil bayi mungilnya dan meminta salah satu bodyguard dari suaminya untuk membawa Ibunya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1