Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Jakarta Banjir


__ADS_3

Hujan deras bersamaan dengan angin kencang menyelimuti Ibukota Jakarta. Bahkan tak sedikit jalan raya yang akhirnya banjir karena tak mampu menampung banyaknya air hujan.


Asyila terlihat sangat gusar dan berjalan kesana-kemari karena khawatir dengan suaminya yang tengah keluar rumah.


“Syila sayang, masuklah ke kamar. Udara malam ini sangatlah dingin,” tutur Arumi yang melihat betapa gelisah putri kesayangannya yang tengah menantu idamannya itu.


“Asyila tunggu disini saja ya Ibu, bagaimanapun Asyila sangat khawatir karena Mas Abraham pergi seorang diri tanpa ditemani Pak Udin,” balas Asyila yang tak bisa diam dengan terus kesana-kemari dan sesekali menoleh ke arah luar rumah untuk melihat apakah suaminya sudah tidak apa belum.


“Iya sayang, Ibu tahu. Akan tetapi, kamu juga harus jaga kesehatan. Coba periksalah bayi Akbar di kamar, takutnya kalau bayi Akbar terbangun dan kita tidak tahu!” perintah Arumi.


“Baik, Ibu,” balas Asyila dan cepat-cepat pergi ke kamarnya untuk melihat bayi mungil kesayangannya itu.


Saat Asyila memasuki kamar, untungnya bayi mungilnya masih terlelap. Tanpa pikir panjang lagi, Asyila kembali menunggu suaminya di ruang tamu.


“Mas Abraham, pulanglah Mas. Jangan membuat Asyila khawatir,” ucap Asyila bermonolog sembari terus melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Setibanya di ruang tamu, rupanya Arumi sudah tidak ada lagi. Asyila pun menghela napasnya dan mencoba untuk duduk dengan tenang.


Belum sampai 1 menit, Asyila beranjak dari duduknya dan kembali berjalan kesana-kemari mengelilingi ruang tamu.


“Apa aku telepon saja Mas Abraham?” tanya Asyila bermonolog dan seketika itu juga mengambil ponsel pintarnya yang berada di atas meja dan segera menghubungi suaminya tersebut.


“Angkat, Mas! Angkat, Mas!” pinta Asyila berharap suaminya menerima sambungan telepon darinya.


Sekali, dua kali, tiga kali. Dan entah berapa kali Asyila mencoba menghubungi suaminya, tetapi suaminya tidak mengangkat telepon darinya.


“Tidak biasanya Mas Abraham begini, kenapa perasaanku tiba-tiba tidak tenang seperti ini? Ya Allah, janganlah Engkau kembali memberikan ujian untuk keluarga kami. Tolong ya Allah, tolonglah kami,” ucap Asyila sembari mengangkat tangannya ke atas meminta pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Disaat yang bersamaan, Abraham sedang mengemudikan mobilnya dan saat itu banjir cukup tinggi. Sehingga, ia harus hati-hati dalam mengendarai mobilnya. Dipikiran Abraham saat itu adalah bagaimana caranya ia kembali secepat mungkin agar orang rumah tak khawatir, terlebih lagi istri kecilnya yang pasti sangat khawatir dan tengah menunggu dirinya untuk segera tiba di rumah.


Abraham melihat ke arah sekitar dan memang sangat banyak para pengendara yang terjebak banjir. Bahkan, ada beberapa yang mesin mobilnya mati karena terlalu banyak terkena air.


Abraham terus melajukan mobilnya dan saat ia hampir berhasil melewati banjir, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menabraknya.


Brak!!!!


Mobil Abraham bergeser ke arah kiri sekitar 2 meter sementara mobil yang menabraknya saat itu mengeluarkan asap dari mobil.


Abraham panik dan mengendarai mobilnya sedikit lebih maju, kemudian ia turun untuk membantu penghuni di dalam mobil tersebut.


Sekitar 5 orang turut ikut dalam membantu mengeluarkan si pemilik mobil tersebut.


“Sepertinya Bapak ini pingsan, yang punya motor ayo pindahkan bapak ini ke tempat yang lebih aman!” pinta salah satu pria yang ikut membantu.


Abraham mencoba menghubungi polisi terdekat agar segera datang ke lokasi untuk menangani kasus tersebut.


Abraham akhirnya bisa menghubungi polisi dan polisi akan secepatnya datang.


Setelah menghubungi polisi, Abraham nampak sangat terkejut ketika melihat panggilan dari istri kecilnya yang tak ia jawab.


“Astaghfirullahaladzim, Asyila di rumah pasti sangat khawatir,” ujar Abraham dan tanpa pikir panjang lagi dirinya segera menghubungi istri kecilnya yang pasti sangat khawatir di rumah.


Disisi lain.


Asyila termenung di ruang tamu dengan terus memandangi ponselnya. Asyila sangat berharap semuanya menghubungi dirinya saat itu juga dan harapan Asyila pun akhirnya terkabulkan saat itu juga.


“Assalamu’alaikum,” ucap Asyila pada suaminya, “Mas Abraham sekarang dimana? Pulanglah Mas, Asyila sangat khawatir disini,” tutur Asyila yang sangat khawatir dan akhirnya air matanya pun menetes membasahi pipinya.


“Syila yang tenang ya, sebentar lagi suamimu ini akan tiba dirumah. Tolong jangan terlalu mengkhawatirkan suamimu ini!” pinta Abraham dari balik telepon.


“Selama Mas Abraham belum pulang, tentu saja Asyila pasti sangat mengkhawatirkan keselamatan Mas Abraham. Apalagi saat ini sedang banjir,” balas Asyila.


“Syila sayang, maafkan Mas ya. Mas harus mengakhiri obrolan kita, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati ya Mas Abraham!”

__ADS_1


Asyila meletakkan ponselnya ke atas meja, kemudian ia menyeka air matanya yang mengalir deras.


“Kamu kenapa sayang? Kok menangis seperti ini?” tanya Arumi yang baru tiba di ruang tamu.


“Asyila tidak apa-apa, Ibu. Sebentar lagi Mas Abraham akan kembali,” jawab Asyila.


“Lihatlah, Ibu juga bilang apa. Kalau Nak Abraham itu akan pulang, kamu tidak perlu khawatir sayang. Sekarang tenangkan diri kamu di dalam kamar sekalian lihat cucu Ibu!”


Asyila mengiyakan dan bergegas kembali ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, rupanya bayi Akbar bangun dari tidurnya.


“Kesayangan Bunda ternyata bangun,” tutur Asyila dan memindahkan bayi mungilnya ke tempat tidur.


Asyila memeriksa popok Bayinya yang ternyata sudah penuh.


“Pasti sangat tidak nyaman ya sayang?” tanya Asyila pada bayi mungilnya.


Wanita muda itu mengganti popok bayi mungilnya yang sudah penuh dan menggantinya dengan yang baru.


“Ugh... Ughh...” Bayi Akbar menggerakkan bibirnya berulang kali seakan-akan tengah mencari ASI.


“Haus sayang? Bentar ya sayang. Bunda selesaikan ini dulu, habis itu Akbar menyusu,” ujar Asyila yang tengah membantu mengenakan bayi mungilnya popok.


Setelah itu, Asyila membaringkan tubuhnya tepat disamping buah hatinya untuk segera menyusui bayi mungil tersebut.


Perlahan Asyila memejamkan matanya dan sebisa mungkin ia membuka matanya untuk tak tidur. Akan tetapi, akhirnya ia tertidur karena sedari subuh dirinya tak tidur.


1 jam kemudian.


Abraham pun tiba setelah mengalami Insiden tak terduga, mobil bagian kanannya mengalami penyok yang cukup parah dan untungnya orang yang tak sengaja menabrak mobilnya baik-baik saja.


Abraham tak meminta ganti masalah bagian kanan mobilnya yang penyok, bagaimanapun yang terpenting adalah dirinya selamat.


Saat itu Herwan lah yang membukakan pintu untuk Abraham yang baru saja tiba.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Nak Abraham kemana saja?” tanya Herwan pada menantu kesayangannya.


“Maaf, Ayah. Dijalan banjirnya sangat parah dan tadi ada Insiden tak terduga sedikit, untungnya Abraham tidak apa-apa,” jawab Abraham apa adanya.


“Insiden tak terduga yang bagaimana, Nak Abraham? Coba jelaskan pada Ayah!” pinta Herwan yang tak mengerti dengan perkataan menantunya itu.


“Iya, Ayah. Tadi, saat Abraham sedang perjalanan pulang tiba-tiba ada mobil dari arah kanan yang tiba-tiba menabrak mobil yang tengah dikendarai oleh Abraham. Nah, mobil yang menabrak Abraham itu tiba-tiba mengeluarkan asap yang cukup banyak, Abraham pun turun dari mobil dan ada beberapa orang juga yang ikut menolong mengeluarkan pemilik mobil yang ternyata sudah pingsan di dalam mobil,” terang Abraham sejujur-jujurnya.


“Lalu, apakah Nak Abraham terluka?” tanya Herwan panik.


“Ayah tenang saja, Abraham tidak terluka sama sekali. Hanya saja, mobil bagian kanan Abraham mengalami penyok yang cukup parah,” jawab Abraham yang tidak ingin Ayah mertua mengkhawatirkan dirinya.


“Kalau hanya mobil tak menjadi masalah, yang penting Nak Abraham tidak kenapa-kenapa. Sekarang pergilah ke kamar, Asyila pasti sangat senang melihat Nak Abraham yang telah kembali!”


“Baik, Ayah. Abraham permisi mau ke kamar!”


Herwan mengangguk kecil dan melangkah kakinya menuju teras depan. Dari depan teras, Herwan memperhatikan mobil milik menantunya yang memang penyok cukup parah.


“Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah melindungi menantu kami,” tutur Herwan dan kembali masuk ke dalam rumah.


Saat Abraham baru saja memasuki kamar, saat itu juga Asyila terbangun dari tidurnya dan cepat-cepat menghampiri suaminya.


“Mas Abraham, akhirnya Mas pula juga,” tutur Asyila yang tengah memeluk erat tubuh suaminya.


“Syila tidak perlu khawatir, sekarang Mas sudah pulang,” balas Abraham yang juga membalas pelukan dari istri kecilnya.


“Kenapa pakaian Mas Abraham basah? Bukankah Mas berada di dalam mobil?” tanya Asyila.


Abraham pun akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya. Abraham tak mungkin menyembunyikan hal tersebut, apalagi mobil penyok miliknya tak dapat ia sembunyikan fakta mengapa mobil miliknya bisa penyok.

__ADS_1


Asyila semakin mempererat pelukannya setelah tahu apa yang telah dialami oleh suaminya.


“Syukurlah kalau Mas tidak apa-apa, lain kali Mas harus ditemani oleh Pak Udin agar kejadian seperti ini tak terulang lagi,” ujar Asyila yang tak ingin suaminya kenapa-kenapa.


“Iya Syila sayang, Mas mandi dulu ya. Takutnya masuk angin,” ucap Abraham.


Asyila saat itu juga melepaskan pelukannya dan sedikit mendorong suaminya masuk ke dalam kamar mandi agar segera membersihkan diri.


Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Asyila pun cepat-cepat menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh suaminya. Kemudian, ia keluar dari kamar untuk membuatkan teh jahe merah agar tubuh suaminya menjadi hangat.


“Syila, apakah Nak Abraham sudah berada di dalam kamar?” tanya Arumi memastikan.


“Alhamdulillah, sudah Ibu. Ini Asyila ingin membuat teh jahe merah untuk Mas Abraham!”


“Baguslah, Ibu pergi ke kamar kalau begitu,” ujar Arumi dan melenggang pergi meninggalkan Asyila seorang diri di dapur.


Abraham telah selesai membersihkan diri dan ia tidak menemukan sosok istri kecilnya di kamar mereka.


“Dimana Asyila, bukankah tadi berada di kamar?” tanya Abraham bermonolog.


Saat Abraham ingin mengenakan piyama yang sebelumnya disiapkan oleh istri kecilnya, tiba-tiba Asyila datang dengan membawa sebuah cangkir yang entah apa itu.


“Mas, Asyila telah membuatkan teh jahe merah untuk Mas. Tolong diminum ya Mas!” pinta Asyila pada suaminya.


“Terima kasih, istriku. Mas akan meminumnya sebentar lagi, sekarang Mas akan mengenakan piyama terlebih dahulu,” ujar Abraham.


Asyila tersenyum manis dan meletakkan cangkir tersebut ke atas nakas. Kemudian, ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi membelakangi suaminya yang tengah mengenakan pakaian.


“Mas yakin tidak kenapa-kenapa? Apa perlu kita ke rumah sakit?” tanya Asyila yang sedikit merasa khawatir.


“Tentu saja yakin, lagipula Mas yang merasakan bagaimana kondisi tubuh Mas,” jawab Abraham dan perlahan naik ke tempat tidur. Kemudian, memeluk punggung istri kecilnya dengan posisi miring.


“Mas, sebelum tidur minumlah teh jahe merah buatan Asyila agar tubuh Mas menjadi hangat dan tidak masuk angin!” pinta Asyila.


Abraham mengiyakan dan ia pun beranjak dari tempat tidur untuk segera menikmati teh jahe merah buatan istri kecilnya.


Asyila berbalik arah menghadap ke arah suaminya.


“Bagaimana? Apakah Mas suka?” tanya Asyila penasaran.


“Alhamdulillah, suka. Teh nya tidak terlalu berasa dan rasa jahe merah nya lebih berasa,” jawab Abraham yang sangat suka dengan teh jahe merah buatan Asyila.


“Iya, Mas. Karena Asyila tahu Mas tidak suka dengan teh. Oleh karena itu, Asyila hanya mencampurkan tehnya hanya sedikit, sekarang bagaimana sensasinya? Apakah hangat di dalam tubuh?” tanya Asyila penasaran.


Abraham tersenyum dan mencium kening Asyila dengan cukup lama. Kemudian, ia mengucapkan terima kasih dengan tatapan penuh cinta.


Asyila tersipu malu mendengar ucapan terima kasih serta kecupan mesra di keningnya.


“Mas sangat suka melihat wajah malu-malu Asyila,” ucap Abraham menggoda istri kecilnya.


Asyila pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena Sang suami selalu saja menggoda dirinya.


“Jangan seperti itu, Mas juga harus melihat wajah Asyila. Syila!” panggil Abraham agar istri kecilnya mau memperlihatkan wajah malu Asyila.


“Apa?” tanya Asyila yang masih menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Sudah beberapa malam kita tidak melewati malam berdua kita, ayo malam ini kita harus melakukannya. Kita harus mengumpulkan pahala untuk kita berdua, ayo istriku!” ajak Abraham.


Asyila perlahan menjauhkan telapak tangannya dan mengangguk kecil dengan malu-malu.


“Ayo kita ambil wudhu dan sholat dulu!” ajak Abraham dengan penuh semangat.


Asyila terkekeh geli dan keduanya pun bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat sunah dua raka'at sebelum melakukan hubungan suami-istri.


Like ❤️

__ADS_1


__ADS_2