
Abraham melihat wajah istri kecilnya dengan sangat detail dan akhirnya Abraham melihat bagian pipi istri kecilnya yang sedikit membiru akibat bekas tamparan keras Salsa.
“Astaghfirullahaladzim, ini wajah Asyila kenapa membiru dan....” Abraham semakin terkejut melihat darah dibagian hijab istri kecilnya.
“Aakkhhh... Mas, tolong jangan ditekan. Kepala Asyila mengeluarkan darah karena lemparan batu bata dari Salsa,” terang Asyila mencoba menjauhkan tangan suaminya yang ingin menyentuh kepalanya.
Saat itu juga Abraham menangis dan menyalahkan dirinya sendiri yang tak becus menjaga Sang istri.
“Mas kenapa menangis? Asyila tidak apa-apa. Asyila kuat, seperti Mas Abraham,” tutur Asyila.
Setelah mengatakan kalimat tersebut, perlahan Asyila mulai kehilangan penglihatannya. Semuanya perlahan menjadi kabur dan akhirnya semuanya menjadi hitam gelap.
“Asyila... Syila sayang..” Abraham mencoba membangunkan istri kecilnya. Dan ternyata, Asyila sudah tak sadarkan diri.
Abraham panik dan disaat yang bersamaan, mobil polisi pun datang untuk meringkus orang-orang yang telah menculik Asyila atas laporan dari Suaminya, Abraham Mahesa.
Abraham mengangkat tubuh istri kecilnya untuk segera keluar dari ruangan tersebut dan bergegas membawa Sang istri pergi ke rumah sakit.
Eko yang baru tiba bergegas keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil.
“Kamu kemana saja? Cepat kita ke rumah sakit sekarang!” perintah Abraham.
Di dalam mobil, Abraham tak henti-hentinya meneteskan air mata sembari memohon kepada Allah untuk menyelamatkan istri kecilnya.
Abraham tak ingin kembali merasakan kehilangan sosok istri kecilnya dalam hidupnya.
Terlebih lagi, mereka memiliki anak-anak yang masih kecil.
“Eko, lebih cepat!” perintah Abraham.
“Baik, Tuan Abraham,” balas Eko yang tak kalah panik.
****
Dyah semakin panik dan bingung harus bagaimana, karena stok ASI yang berada di dalam kulkas tinggal sedikit.
“Ya Allah, apakah sesuatu hal buruk sedang terjadi kepada Aunty Asyila? Ya Allah, kenapa musibah tak henti-hentinya datang kepada keluarga Paman?” tanya Dyah yang sedari tadi menunggu kabar baik dari Pamannya.
“Mbak Dyah kenapa masih disini? Kenapa tidak tidur? Biar Mas Akbar Mbok Num yang jaga,” tutur Mbok Num.
“Mbok Num sebaiknya beristirahat, Dyah masih bisa kok menjaga adik Akbar,” sahut Dyah yang semakin khawatir dengan terus memeriksa ponselnya barangkali ada pesan dari Pamannya.
“Mbak Dyah tidak perlu sungkan dengan Mbok Num. Biar Mbok Num saja ya yang menjaga Mas Akbar!” pinta Mbok Num.
“Baiklah, Mbok Num. Maaf merepotkan Mbok Num.”
“Ya ampun, Mbak Dyah. Mbak Dyah sama sekali tidak merepotkan Mbok Num, justru Mbok senang kalau ditugaskan menjaga Mas Akbar,” jawab Mbok Num.
Mbok Num sendiri sama sekali tidak tahu bahwa Asyila sedang dalam bahaya, di rumah hanya Dyah saja yang mengetahui bahwa Aunty-nya tengah diculik oleh wanita bernama Salsabila alias Ratih.
“Hallo, Assalamualaikum. Paman, apakah Aunty sudah ketemu?” tanya Dyah.
Abraham saat itu juga memberitahukan pada Dyah bahwa mereka sudah berada di rumah sakit karena Asyila tak sadarkan diri.
“Ya Allah...” Dyah menangis sejadi-jadinya mengetahui bahwa Aunty-nya sedang tidak baik-baik saja.
Panggilan pun berakhir dan Dyah terus saja menangis.
__ADS_1
Mbok Num yang sedang menggendong bayi Akbar, terkejut mendengar suara tangisan Dyah di ruang tamu.
“Mbak Dyah kenapa menangis?” tanya Mbok Num panik.
Dyah saat itu tidak fokus dengan pertanyaan Mbok Num, dikarenakan dirinya sedang berusaha menghubungi suaminya untuk segera datang ke rumah Pamannya, Abraham.
“Mbak Dyah!” panggil Mbok Num sekali lagi sembari menepuk bahu Dyah.
“Mbok Num, bisakah menjaga Adik Akbar? Malam ini Dyah akan pergi ke rumah sakit,” tutur Dyah dengan panik.
“Apa tidak sebaiknya menunggu Tuan Abraham dan Nona Asyila?” tanya Mbok Num.
“Masalahnya, Aunty Asyila sedang di rumah sakit. Aunty yang sedang sakit, Mbok Num,” terang Dyah.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun, Nona Asyila kenapa bisa masuk rumah sakit?” tanya Mbok Num yang kini benar-benar khawatir.
“Tok!! Tok!! Tok!!” Suara ketukan pintu dari luar.
“Assalamu’alaikum, Dyah ini Mas!”
Dyah berlari untuk segera membukakan pintu.
“Mas, ayo kita ke rumah sakit sekarang!”
“Baiklah. Lalu, bagaimana dengan putri kita?” tanya Fahmi.
“Asyila tetap kita ajak, Mas. Ayo Mas, ayo!” ajak Dyah yang ingin cepat-cepat tiba di rumah sakit.
Dyah meminta Mbok Num untuk menjaga Bayi Akbar dan juga Bela selagi mereka pergi ke rumah sakit.
Mbok Num pun mengiyakan dengan perasaan khawatir karena tak ingin jika Asyila, yang sudah seperti Cucunya sendiri kenapa-kenapa.
“Sabar, Dyah. Mas juga sedang berusaha untuk menghindari macet,” balas Fahmi yang terus mengendarai mobilnya.
Di rumah sakit.
Abraham terlihat tak bisa diam menunggu kabar dari dokter mengenai istri kecilnya. Abraham berharap bahwa Sang istri baik-baik saja dan tidak mengalami luka yang cukup serius.
Eko yang sedang duduk di jejeran kursi tunggu, ikut khawatir karena sudah lebih dari 1 jam dokter belum juga keluar dari ruangan tersebut.
“Tuan Abraham, Istri tuan baik-baik saja. Akan tetapi, butuh waktu untuk istri Tuan sembuh. Karena luka di kepala cukup serius dan kami menjahit kulit kepala Nona Asyila sebanyak 5 jahitan,” terang dokter wanita yang menangani Asyila.
“Apakah istri saya bisa pulang, Dok? Maksud saya, apakah istri saya bisa dirawat di rumah saja? Karena saya tahu, pasti Syila akan meminta untuk pulang,” tutur Abraham.
“Kalau ingin begitu juga tidak apa-apa, yang paling penting istri Tuan tidak boleh banyak bergerak,” balas Dokter tersebut dan setelah itu pamit untuk memeriksa kondisi pasien yang lain.
Setelah dokter itu pergi, Abraham cepat-cepat masuk ke dalam ruangan istri kecilnya untuk melihat keadaan dari Sang istri tercinta.
“Mas, Asyila kenapa bisa di rumah sakit?” tanya Asyila dengan suara yang sangat lirih dan nyaris tak di dengar oleh Abraham.
“Syila yang tenang ya, saat ini kita berada di rumah sakit karena Asyila pingsan dan harus menerima jahitan dikepala,” jawab Abraham.
“Mas, kita pulang sekarang ya. Asyila tidak mau di rumah sakit,” pinta Asyila.
Abraham terdiam sejenak dan melepaskan jaket miliknya untuk menutupi kepala istri kecilnya karena hijab yang Asyila kenakan sebelumnya tak layak untuk dipakai kembali.
“Syila yakin mau pulang malam ini? Kenapa tidak menunggu besok pagi saja?”
__ADS_1
“Mas, kita ada bayi di rumah dan yang pasti Asyila tidak bisa tinggal di rumah sakit. Sementara, buah hati kita di rumah. Tolong Mas, kabulkan permintaan Asyila!” pinta Asyila.
“Baiklah, dugaan Mas memang benar. Asyila pasti akan memaksa pulang,” terang Abraham.
****
Dyah dan Fahmi akhirnya tiba di rumah sakit. Saat mereka baru saja memasuki area parkir, mereka terkejut melihat Paman sedang memapah istri kecilnya, Asyila.
“Mas Fahmi, bukankah itu Paman dan Aunty?” tanya Dyah memastikan.
“Iya, benar. Itu memang Paman dan Aunty.”
“Ayo Mas kita turun!” ajak Dyah.
“Sini, biar Asyila Mas yang gendong,” ucap Fahmi dan mengambil alih untuk mengendong Asyila kecil.
Dyah berlari mendekat pada sepasang suami istri yang sudah memasuki mobil.
“Paman, bagaimana keadaan Aunty?” tanya Dyah sembari menahan pintu mobil agar tidak ditutup oleh Pamannya, Abraham.
“Dyah, aku baik-baik saja dan ini Aunty ingin pulang ke rumah,” sahut Asyila.
“Ya Allah, syukurlah,” balas Dyah bernapas lega.
“Dyah, ayo pulang. Kami pun ingin segera pulang,” tutur Abraham.
Saat itu juga Dyah melangkah mundur agar Pamannya bisa segera menutup pintu mobil.
Mobil pun perlahan meninggalkan area rumah sakit.
“Lihatlah, Paman dan Aunty sudah keluar dari rumah sakit. Ayo kita pulang!”
“Baik, Mas,” sahut Dyah dan merekapun bergegas untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju Perumahan Absyil, Asyila tak berbicara sedikitpun. Mungkin karena sakit di kepala serta tubuhnya yang pegal-pegal, sehingga untuk berbicara pun sulit sekali untuk Asyila.
“Syila, apa terasa sangat sakit?” tanya Abraham penasaran.
“Sakit sekali, Mas. Akan tetapi, Asyila berusaha untuk menahan rasa sakit ini. Yang paling penting, bayi kita tidak kekurangan ASI sedikitpun,” terang Asyila yang lebih mementingkan ASI untuk bayi mungilnya daripada dirinya harus dirawat di rumah sakit.
“Meskipun begitu, Asyila harus mengutamakan kesehatan. Bagaimanapun, Akbar juga ingin Bundanya baik-baik saja.”
“Mas jangan khawatir ya, Asyila baik-baik saja. Apalagi kalau sudah sampai di rumah,” sahut Asyila.
“Asyila memang Bunda yang baik untuk anak-anak kita, terima kasih karena telah banyak berkorban untuk anak-anak dan juga Suamimu ini.”
“Tidak hanya Asyila, Mas juga banyak berkorban untuk keluarga kita. Terima kasih, Mas. Bolehkah Asyila tidur dengan bersandar di bahu Mas Abraham?”
“Syila kenapa bertanya? Bahu ini juga milik Asyila,” sahut Abraham.
Di rumah, Mbok Num terlihat tak tenang. Meskipun bayi Akbar tengah terlelap, wanita paruh baya itu sangat khawatir dan berharap bahwa wanita muda sebaik Asyila dalam kondisi baik serta tak kekurangan suatu apapun.
“Mbak Bela kenapa bangun?” tanya Mbok Num ketika melihat Bela yang baru datang menghampiri dirinya.
“Mbok, apa Aunty dan Paman belum juga kembali?” tanya Bela.
“Belum, Mbak Bela. Kita do'akan saja ya semoga Nona Asyila baik-baik saja,” balas Mbok Num.
__ADS_1
Bela memutuskan untuk duduk di sofa ruang keluarga dan mengangkat tangannya ke atas memohon kepada Allah agar Allah bisa menjaga Abraham serta Asyila.