
“Paman dan Ashraf mau pergi kemana?” tanya Dyah yang saat itu tengah berdiri sambil menggendong buah hatinya yang tengah tertidur pulas.
“Kita mau kemana sayang?” tanya Abraham pada Ashraf agar Ashraf menjawab pertanyaan dari Dyah.
“Mau keluar, cari makanan,” jawab Ashraf sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
“Dyah juga mau kalau begitu, pokoknya belikan Dyah sate!” pinta Dyah yang terlihat seperti anak kecil.
Abraham geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakannya.
“Paman...” Dyah menatap tajam ke arah Pamannya agar segera mengiyakan keinginannya.
“Kamu ini ya dari dulu tidak pernah berubah. Ya sudah, Paman belikan. Kamu mau sate ayam apa kambing? Pakai kecap atau bumbu kacang?” tanya Abraham.
Dyah tak langsung menjawab, wanita muda itu malau tertawa melihat wajah Pamannya.
Abraham memiringkan bibirnya dan melenggang pergi meninggalkan Dyah.
“Paman! Jangan ngambek gitu dong. Ok, Dyah mau sate ayam bumbu kacang dan juga sate kambing bumbu kecap. Oya, sama sop buntut juga ya!” pinta Dyah.
“Astaghfirullahaladzim, kamu sanggup menghabiskan semuanya?” tanya Abraham terheran-heran.
“Paman lupa ya,” balas Dyah sambil menoleh ke arah putrinya, “Kan, sekarang Dyah juga harus menyusui Asyila. Jadinya, Dyah harus makan banyak,” imbuh Dyah yang terlihat begitu senang karena akan makan gratis.
“Baiklah-baiklah, Paman akan membelikannya. Sekarang Paman pergi dulu, Assalamu'alaikum!”
“Wa’alaikumsalam, terima kasih Paman kesayangan ku!”
Abraham berjalan keluar rumah untuk segera menemui sahabat dari buah hatinya.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan juga Ashraf secara kompak.
Hampir dua menit lamanya, salam dari Abraham maupun Ashraf belum juga dijawab.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham sekali lagi.
“Kahfi! Kahfi!” panggil Ashraf berharap Kahfi segera keluar dari rumah.
Pintu rumah pun terbuka dan ternyata Yogi lah yang membukanya.
“Wa’alaikumsalam, tumben kesini?” tanya Yogi.
“Aku datang kemari bukan ingin menemui mu,” jawab Abraham.
“Istriku?” tanya Yogi memastikan.
“Untuk apa aku mencari istrimu? Ini anakku ingin mengajak anakmu mencari makanan diluar. Dimana Kahfi sekarang?” tanya Abraham.
Yogi menyeringai lebar dan bergegas masuk ke dalam untuk memanggil buah hatinya yang baru saja mengenakan pakaian.
“Nak, itu diluar ada Ayah Abraham dan Ashraf. Sana temui mereka!”
Kahfi tersenyum lebar dan berlari secepat mungkin untuk menemui keduanya.
__ADS_1
“Abang ini bagaimana sih? Itu rambut Kahfi masih berantakan, sana sisir rambut Kahfi!” perintah Ema sambil memberikan sisir kepada Suaminya agar segera merapikan rambut putra kecil mereka.
Yogi berlari kecil menuju teras depan dan dengan hati-hati menyisir rambut Kahfi yang masih basah karena baru saja mandi.
“Memangnya kalian mau cari makan di mana?” tanya Yogi penasaran.
“Aku pun tidak tahu, apakah ingin juga ingin sesuatu? Aku akan membelikannya untukmu,” tutur Abraham menawarkan diri membelikan makanan keinginan sahabatnya.
“Wah, kebetulan sekali. Kalau begitu aku ingin kau memberikanku cumi bakar yang ukurannya super jumbo!” pinta Yogi.
“Baiklah, aku akan membelikannya untukmu dan juga untuk istrimu. Ayo anak-anak kita pergi sekarang!” ajak Abraham.
Sebelum meninggalkan sahabatnya, Abraham serta kedua bocah kecil itu mengucapkan salam terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Yogi sambil melambaikan tangannya ke arah Kahfi yang terlihat begitu bahagia.
Ketiganya masuk ke dalam mobil dan perlahan mobil itu pergi meninggalkan perumahan Absyil.
Di dalam mobil, Ashraf dan Kahfi terlihat sangat senang. Mereka terus berbicara mengenai makanan-makanan yang menurut mereka enak untuk disantap.
“Ashraf sama Kahfi mau makan apa? Mau dibawa pulang atau makan di tempat?” tanya Abraham.
“Makan di tempat!” seru mereka yang begitu kompak.
Abraham yang tengah mengemudi mobil, seketika itu tertawa mendengar jawaban kompak dari mereka berdua.
“Hhmm.. Apa ya?” tanya Ashraf sambil berpikir makanan apa yang akan ia santap.
Kahfi pun ikut berpikir keras dan semakin membuat Abraham penasaran dengan pilihan kedua bocah kecil yang duduk di kursi tengah.
Cukup lama mereka berpikir sampai akhirnya Abraham memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah masjid yang cukup besar.
“Anak-anak Ayah, kita sholat dulu disini ya. Sudah jam segini, waktunya untuk sholat dan setelah itu kita melanjutkan perjalanan kita. Kalian setuju!”
“Setuju!” seru mereka.
Abraham keluar dari mobil dan disusul oleh keduanya.
Baru saja keluar dari mobil, Abraham sudah menjadi pusat perhatian para wanita.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Abraham lirih dengan mengelus-elus dadanya sendiri. Kemudian, menggandeng tangan Ashraf dan Kahfi untuk segera mengambil air wudhu.
Ketika Abraham selesai mengambil air wudhu dan ingin masuk ke dalam masjid, tiba-tiba ada seorang pria berpakaian serba putih dengan janggut panjangnya yang sudah putih.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya sambil menepuk bahu Abraham.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Abraham dan tak lupa memberikan senyum ramahnya kepada pria tua dihadapannya.
“Semoga hidupmu selalu berbahagia, Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang indah untuk rumah tanggamu,” ucapnya dan melenggang pergi meninggalkan Abraham yang masih belum paham dengan perkataan dari pria tua itu.
“Ayah!” panggil Ashraf sambil menepuk punggung tangan Ayahnya yang sedang melamun.
__ADS_1
Abraham terkesiap dan tiba-tiba sosok pria tua yang baru saja berbicara kepadanya menghilang.
“Allahu Akbar,” ucap Abraham dan kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam masjid.
Setelah melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah di masjid, Abraham pun mengajak Ashraf dan Kahfi untuk melanjutkan perjalanan mereka mencari makanan.
Siapa pria tua itu? Kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja?
Abraham berusaha berpikir positif dan mengaminkan perkataan dari Pria tua itu.
“Ayah, ayo buka pintunya!” pinta Ashraf yang lagi-lagi menyadarkan Sang Ayah yang tengah melamun.
“Ya Allah, maaf ya Nak. Ayah tiba-tiba kehilangan konsentrasi,” balas Abraham dan segera membuka pintu untuk Ashraf dan juga Kahfi.
Abraham mulai menyalakan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan area parkir masjid.
“Ayah, Ashraf mau makan nasi goreng!” pinta Ashraf yang akhirnya memutuskan untuk menikmati nasi goreng, “Habis itu, pizza ya Ayah,” imbuh Ashraf lagi.
Abraham mengernyitkan keningnya dan ia pun menyetujui keinginan dari Ashraf.
“Kalau Kahfi mau apa?” tanya Abraham karena sejak tadi Kahfi banyak diam.
“Kahfi mau makan gurame goreng, Ayah,” jawab Kahfi yang tiba-tiba teringat dengan gurame goreng yang dimakannya beberapa hari yang lalu.
“Yang satu mau nasi goreng dan satunya lagi mau gurame goreng. Hmm.. Sebentar, Ayah pikirkan dulu jalur mana yang akan kita lewati,” tutur Abraham.
“Terima kasih, Ayah,” ucap Kahfi kepada Abraham.
“Iya sayang, sama-sama,” balas Abraham sambil terus mengendarai mobilnya.
Hampir 30 menit lamanya, akhirnya mereka sampai disebuah lokasi yang kebetulan antara penjual nasi goreng dan juga gurame goreng berdekatan.
“Alhamdulillah, ayo kita turun!”
“Horeee!” teriak Ashraf dan juga Kahfi kegirangan.
“Sssuutt, jangan berisik. Ayo turun!”
Keduanya kompak menutup mulut mereka rapat-rapat dan bergegas turun dari mobil.
“Ayo kita ke tempat nasi goreng itu dulu!” ajak Abraham.
Ketika baru saja tiba, penjual nasi goreng itu dengan semangat mempersilakan mereka bertiga untuk duduk.
“Mati duduk, mau pesan apa?” tanyanya dengan sangat ramah.
“Kami pesan nasi goreng 3 ya Pak, makan disini,” jawab Abraham.
Penjual nasi goreng itu tersenyum lebar, ia bersyukur karena Abraham datang dan membeli nasi goreng 3 porsi.
“Kalian duduk disini, Ayah akan ke tenda sebelah memesan gurame goreng!” perintah Abraham dan bergegas menuju tenda sebelah untuk memesan gurame goreng.
“Baik, Ayah!” seru mereka.
__ADS_1