
Pagi hari.
Asyila dengan penuh semangat berlari mendekati pantai, akhirnya ia bisa merasakan suasana pagi tanpa harus takut dengan kasus pembunuhan beberapa hari yang lalu.
“Selamat pagi dunia!” sapa Asyila dengan berteriak ke arah pantai.
“Bunda!” Ashraf berlari dengan penuh semangat ke arah bundanya yang lebih dulu menginjakkan kaki dipinggir pantai.
“Sayang!” seru Asyila sambil merentangkan kedua tangannya dan dengan cepat Ashraf melompat ke pelukan bundanya.
“Bunda, ayo main air!” ajak Ashraf yang sudah tak tahan ingin merasakan air laut yang begitu jernih.
Dari kejauhan, Abraham memanggil istri dan buah hatinya agar menunggunya yang juga ingin menikmati air laut.
“Kalian curang,” ucap berpura-pura ngambek.
Ashraf tertawa digendongan bundanya, bagaimana bisa pria se-tua Ayahnya ngambek.
“Udah tua kok ngambek?” tanya Ashraf begitu polosnya.
Abraham terkejut sambil menyentuh dadanya.
“Syila, bagaimana anak kita melukai perasaan Ayahnya?” tanya abrahah yang kini berpura-pura menangis.
“Ayah, jangan nangis, Maaf.” Ashraf terdengar begitu tulus ketika meminta maaf, karena ia telah membuat ayahnya sedih.
Abraham kembali berpura-pura menghapus air matanya dan mengambil alih menggendong buah hatinya bersama sang istri.
“Ayah sudah tidak nangis lagi, Ashraf sekarang jangan sering-sering minta gendong bunda ya!” pinta Abraham.
“Kenapa Ayah?” tanya Ashraf kebingungan karena sebelumnya Abraham tidak pernah mengatakan hal tersebut.
“Karena sebentar lagi Ashraf punya adik,” bisik Abraham.
Ashraf terkejut dan betapa senangnya ia ketika mendengar bahwa ia akan memiliki seorang adik.
”Yeye... yeyeye!” Ashraf sangat senang sampai-sampai ia menggoyangkan pinggulnya, sama seperti yang biasa dilakukan oleh Dyah ketika sedang bahagia.
“Mas tadi bisik-bisik apa sama Ashraf?” tanya Asyila penasaran.
“Ini urusan kami berdua,” jawab Abraham dan mengangkat tubuh Ashraf menuju air laut.
Ashraf berteriak kegirangan, air laut di pagi hari benar-benar dingin.
Ema keluar dari kamar bersama Kahfi untuk mengajak Asyila serta Ashraf menikmati air laut. Ketika ingin mengetuk pintu, Kahfi dengan cepat menarik tangan Ema karena melihat Ashraf serta kedua orang tua Ashraf bermain air laut.
“Cepat Mama!” ajak Kahfi.
“Iya sayang,” jawab Ema.
Ema tiba-tiba tersungkur karena tak sengaja tersandung batu. Yogi yang melihatnya langsung berlari untuk menolong istrinya.
“Adik kalau mau tidur jangan di pasir begini,” ucap Yogi sambil menahan tawanya.
Ema menatap jengah suaminya, “Ya habisnya pasir lebih empuk dari pada Abang,” balas Ema dan kembali berlari bersama Kahfi mendekati air laut.
Abraham dan Asyila kompak menggelengkan kepalanya mereka ketika melihat Ema dan Yogi dari kejauhan.
“Dasar cewek, dibantu salah, tidak dibantu salah juga,” ucap Yogi kebingungan dan berlari membuntuti istri serta buah hatinya.
Abraham dan Asyila kembali melanjutkan permainan mereka yaitu memukul air laut sejauh mungkin. Sementara Ashraf agak menepi karena tubuhnya yang kecil serta membuat kedua matanya perih terkena asinnya air laut.
“Abang!” panggil Ema sembari melirik ke arah Abraham dan Asyila.
__ADS_1
Yogi yang peka dengan lirikan istrinya, langsung mengiyakan dan merekapun melakukan permainan memukul air.
“Yeaah.. Asyila menang,” ucap Asyila semangat.
Abraham sengaja mengalah, ia ingin istri kecilnya bahagia.
“Sayang, sini!” panggil Asyila pada Ashraf.
Asyila menoleh dan dengan hati-hati ia menghampiri bundanya.
Deg!
Ashraf terkejut ketika merasa ada sesuatu yang bergerak dan menempel dikakinya.
Sampai-sampai Ashraf tak berani berteriak, ia hanya menangis dalam diamnya.
Abraham dan Asyila saling memandang satu sama lain ketika melihat Ashraf menangis tanpa mengeluarkan suara tangisan sedikitpun.
“Sayang...” Asyila mendekat dan Ashraf pun merem*s tangan Asyila dengan sangat kuat, “Kenapa sayang?” tanya Asyila dan menggendong tubuh Ashraf.
Abraham dan lainnya terperangah melihat kaki Ashraf yang sudah ditempel oleh gurita dengan ukuran yang cukup besar.
“Aaaaaa...” Ema menjerit karena geli melihat gurita.
Asyila cepat-cepat menoleh ke arah kaki Ashraf dan dengan sigap melepaskan gurita yang menempel dikaki putra kecilnya.
“Mas tolong!” pinta Asyila sedikit kesal dengan suaminya yang tidak langsung mendekat.
“Maaf, Mas tadi masih terkejut dengan gurita dikaki Ashraf,” balas Abraham dan melepaskan gurita itu.
Ketika Abraham hendak membuangnya, Yogi langsung mencegah niat Abraham dan memberitahukan jika gurita sangat enak jika dimasak.
Asyila mengangguk setuju, bagaimanapun itu adalah rezeki dari Allah melalui buah hatinya.
“Ya sudah kalau begitu, kita akan menikmatinya!” seru Abraham.
“Sudah sayang, tidak apa-apa,” ucap asyila.
“Ayo semuanya!” ajak Abraham agar segera meninggalkan pantai dan segera memasak gurita yang ukurannya cukup besar.
****
Mereka pun tengah berkumpul di depan penginapan sembari membakar gurita yang sudah mereka cuci bersih. Mereka bahkan telah membersihkan diri dan bersiap-siap menyantap gurita bakar rasa BBQ.
“Bunda..” Kahfi menghampiri asyila dan memberikan sepotong roti.
“Terima kasih sayang,” ucap asyila sambil menerimanya, “Kahfi pokoknya nanti makan yang banyak ya!”
“Siap bunda!” seru Kahfi dan kembali duduk bersama Ema.
Ketika sedang asik berbincang-bincang sambil menunggu gurita bakar masak, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Yuni, Mela dan Heni.
“Assalamu’alaikum,” ucap mereka bertiga kompak terengah-engah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Abraham dan lainnya.
“Kalian datang kemari? Apa ada hal yang sangat penting?” tanya Asyila.
Ema menatap mereka datar dan berdiri tepat dihadapan Yogi sehingga menghalangi pandangan Yogi. Yogi pasrah dan memutuskan menutup kedua matanya sampai ketiga wanita itu pergi. Cemburu Ema benar-benar merugikan Yogi, bagaimana tidak? Ema bahkan tidak memberikan jatah padanya karena kedatangan ke-tiga wanita itu.
“Kami baru saja menyadari bahwa sebenarnya pernikahan kami dan Mas Arif hanyalah kebohongan belaka. Ternyata surat-surat pernikahan kami dan buku nikah kami semuanya palsu,” ucap Mela yang nampak sangat terkejut.
“Apakah kalian memiliki anak?” tanya Asyila.
__ADS_1
Mereka semua dengan kompak menjawab tidak, ketika ditanya alasannya, mereka menjawab bahwa selama ini mereka KB atas perintah dari Arif.
Asyila menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, ia bahkan hampir saja terjatuh karena sangat syok berat dan untungnya Abraham segera menangkap tubuhnya.
“Lihat mereka, Mas! Asyila mau pria yang bernama Arif dan Darwin dihukum yang seberat-beratnya,” ucap Asyila yang terlihat sangat marah.
Abraham memahami kemarahan istri kecilnya, bagaimana bisa ada manusia hina seperti Arif dan Darwin yang begitu kejam.
Atau mungkin, di dunia ini masih ada orang-orang yang lebih kejam dari Arif dan Darwin?
Kalaupun ada, semoga Allah segera menghukum mereka.
Abraham meminta Ema untuk menenangkan istri kecilnya, sementara Abraham mencoba menghubungi pihak kantor polisi untuk mengadukan apa yang dikatakan oleh istri-istri Arif.
Setelah cukup lama berbincang-bincang ditelepon, Abraham meminta lawan bicaranya untuk memberikan ponselnya ke Arif. Kemudian, meminta Arif untuk segera menjatuhkan talak untuk mereka.
“Apakah kalian siap membuka lembaran baru dengan menjadi janda?” tanya Abraham serius.
Ketiganya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan, mereka memang sudah memiliki niatan dan bertekad untuk meminta cerai dari suami mereka.
”Kalian ingin mendengarnya lewat telepon atau bertemu lagi?” tanya Abraham.
“Kami ingin lewat telepon saja, untuk kembali bertemu lagi rasanya tidak mungkin. Kami sudah terlanjur sakit hati,” ucap Yuni.
Abraham membesarkan volume suara agar ketiganya mendengar apa yang dikatakan Arif. Arif pun menjatuhkan talak tiga kepada mereka.
“Alhamdulillah!” Yuni, Mela dan Heni langsung bersujud kepada Allah dengan penuh kebahagiaan.
Asyila membantu mereka untuk bangkit begitu pula dengan Ema yang juga membantu mereka untuk bangkit.
“Sekarang kalian sudah terbebas, pulanglah ke kampung halaman kalian dan hiduplah dengan baik,” ucap Asyila.
“Terima kasih atas kebaikan kalian, terima kasih untuk Tuan Abraham dan Tuan Yogi. Terima juga untuk Nona Asyila dan Nona Ema,” ucap mereka bergantian.
Ashraf menarik tangan Ayahnya karena gurita yang sedang dibakar tercium bau hangus.
“Huh... Terima kasih sayang,” ucap Abraham lega.
Yuni, Mela dan Heni pun pamit untuk bersiap-siap kembali ke kampung halaman mereka. Ketiganya sangat senang karena Abraham telah memberikan mereka uang yang cukup untuk pulang ke kampung halaman.
“Sebentar!” Asyila menghentikan langkah mereka yang ingin pergi.
Ketiganya langsung menoleh ke arah Asyila yang menghentikan langkah kaki mereka.
“Tunggu sebentar, ada yang ingin aku berikan kepada kalian,” ucap Asyila dan bergegas berlari masuk ke dalam penginapan.
Ashraf dan Kahfi yang tak mengerti dengan pembicaraan para orang tua, memutuskan untuk bermain bersama di tikar yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Ema.
Mereka berdua pun bermain mobil-mobilan dengan begitu ceria.
Asyila berlari kecil dan menghampiri ketiga, “Ini untuk kalian, semoga bermanfaat,” ucap Asyila.
Sekali lagi, mereka mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Asyila.
“Tunggu sebentar,” ucap Ema dan berlari secepat mungkin masuk ke penginapannya.
Beberapa menit kemudian.
“Ini untuk kalian, meskipun tidak banyak semoga bermanfaat. Maaf kalau aku membuat kalian tak nyaman,” ucap Ema.
“Terima kasih, Nona Ema. Semoga kebaikan kalian semua dibalas oleh Allah. Kami selamanya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian,” jelas Yuni.
Mereka pun akhirnya berpisah, Abraham serta yang lainnya berdo'a untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka. Sebelum pergi, Asyila telah memberikan nomor teleponnya dan meminta mereka untuk menghubungi Asyila jika sudah tiba dikampung halaman mereka.
__ADS_1
Terima kasih banyak atas like, komen dan semangat kalian. Semoga Allah membalas kebaikan kalian! Aamiin ya Allah..
🍃🍃 Abraham 💖 Asyila