Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Buka Bersama Dengan Para Sahabat Abraham


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Abraham 1 jam yang lalu mendapatkan pesan dari sahabatnya, Edi.


Pesan tersebut berikan mengenai ajakan buka bersama disalah satu hotel terkenal di kota Jakarta. Karena momen seperti sangat jarang terjadi, Abraham pun mengiyakan dan tentu saja dirinya mengajak istri kecilnya tercinta untuk ikut buka puasa bersama.


“Mas, memangnya kita mau pergi kemana?” tanya Asyila penasaran sambil menyisir rambutnya yang panjang.


“Rahasia, pokoknya kita harus pergi,” balas Abraham yang ingin memberikan kejutan untuk istri kecilnya itu.


“Mas yakin hanya kita berdua saja? Anak-anak tidak diajak?” tanya Asyila memastikan.


“Acara ini hanya untuk orang dewasa, lagipula tidak baik juga kalau mereka ikut,” jawab Abraham apa adanya.


“Iya sudah, terserah Mas saja.”


“Mas pergi ke masjid dulu ya, setelah sholat ashar kita langsung pergi.”


“Baik, Mas Abraham.”


Asyila masih sibuk dengan rambut panjangnya yang basah, untuk mempercepat pengeringan Asyila akhirnya menggunakan hair dryer miliknya agar cepat kering.


Baru saja menyalakan hair dryer, bayi mungilnya tiba-tiba menangis.


“Iya sayang, sebentar,” ucap Asyila sambil mencabut colokan tersebut dan bergegas mendekati bayi mungilnya.


Hal seperti itu sudah sangat sering terjadi, kadangkala Asyila kebingungan karena harus meninggalkan pekerjaannya demi membuat buah hatinya tak menangis. Kadangkala suaminya yang mengambil alih untuk menenangkan bayi mereka, ya begitulah beratnya menjadi seorang Ibu. Akan tetapi, dibalik itu semua ada pahala yang menanti.


“Kesayangan Bunda ini semakin bulat saja, seperti kakak Ashraf,” tutur Asyila pada bayi mungilnya yang tengah sibuk menyusu.


Abraham mengajak Ayah mertuanya, Ashraf, para bodyguardnya serta kedua sopir pribadinya untuk segera melaksanakan sholat ashar di Masjid.


“Kalian semua berpuasa?” tanya Abraham pada para bodyguard nya.


“Insya Allah, Tuan Abraham!” seru mereka.


“Alhamdulillah, semoga Allah mengizinkan kita berpuasa penuh,” tutur Abraham.


***


Tibalah waktu bagi Abraham dan Asyila untuk pergi. Saat itu Ashraf ingin sekali ikut, tetapi Ayahnya dengan lembut menjelaskan bahwa anak kecil tidak boleh ikut.


“Ashraf mengerti, 'kan?” tanya Abraham sambil menyentuh kedua bahu Ashraf.


Ashraf perlahan mengangguk setuju dan berusaha untuk tidak menangis.


“Insya Allah, besok kita akan buka bersama diluar. Bersama Kakek dan Nenek juga,” tutur Abraham.


“Kak Bela juga ikut, Ayah?”


“Ya tentu saja ikut, kalau tidak ikut ya tidak seru!”


Ashraf bertepuk tangan dengan sangat gembira, meskipun sore itu dirinya tak ingin. Tak jadi masalah, karena besok mereka semua akan berbuka puasa bersama diluar.


“Ayah dan Bunda pergi dulu ya sayang, mungkin pulangnya agak malam dan Ayah harap Ashraf tidur tepat waktu. Ashraf mengerti!”


“Mengerti, Ayah,” jawabnya.


“Anak pintar, ya sudah kami pergi dulu. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!” seru Ashraf serta yang lainnya.


“Hati-hati Ayah dan Bunda,” ujar Ashraf sambil melambaikan tangannya pada kedua orangtuanya yang sudah naik ke dalam mobil.


Abraham dan Asyila membalas lambaian tangan putra kecil mereka.

__ADS_1


“Tin!” Pak Udin membunyikan klakson mobil sebelum pergi meninggalkan kediaman Tuannya.


Pak Udin bergegas mengemudikan mobil menuju salah hotel yang cukup terkenal di kota Jakarta.


“Mas, kita beneran buka bersama disana? Memangnya ada siapa saja Mas?” tanya Asyila penasaran.


“Ada Edi serta yang lainnya,” jawab Abraham.


“Lalu, Pak Dayat tidak ikut?” tanya Asyila.


“Tidak, Dayat masih harus banyak beristirahat.”


“Beristirahat? Maksudnya Mas, Pak Dayat belum keluar dari rumah sakit?”


“Oh kalau itu Alhamdulillah sudah, cuma memang tidak boleh melakukan aktivitas yang terlalu banyak,” jawab Abraham.


Asyila mengangguk kecil dan bersandar di kursi mobil sambil melihat-lihat ke arah luar jendela.


“Mas, bulan puasa seperti ini kenapa ya banyak sekali pengemis musiman?” tanya Asyila karena sepanjang perjalanan banyak sekali para pengemis yang berada dipinggir jalan raya.


“Ya begitulah kalau musiman, diantara mereka pun pasti ada yang tidak jujur dan jujur. Soal begituan biar Allah saja yang menangani mereka,” terang Abraham.


“Lihat deh Mas, yang sebelah kiri itu orangnya bersih. Tak terlihat sama sekali seperti pengemis,” tutur Asyila.


“Kita do'akan saja, semoga kedepannya mereka segera bertaubat dan berusaha mencari uang yang halal tanpa harus meminta-minta seperti itu,” balas Abraham.


“Iya, Mas. Asyila lebih kasihan lagi kalau mereka mengemis-ngemis sambil bawa anak, ya Allah hati Asyila sangat miris,” ujar Asyila sambil mengelus-elus dadanya.


“Allah maha mengetahui, semoga saja Allah memberikan kesadaran untuk mereka. Tugas kita sebagai manusia adalah membantu orang-orang yang membutuhkan, kalaupun mereka berbohong biarkan saja. Niat kita ada untuk bersedekah dan tentu saja sedekah tersebut akan kembali ke diri kita sendiri,” terang Abraham.


Asyila tersenyum dengan tatapan penuh kekaguman.


30 menit kemudian.


“Pak Udin, pakailah yang ini untuk berbuka puasa. Saya dan Asyila akan masuk ke dalam, saya akan menghubungi Pak Udin bila kami akan kembali!”


“Baik, Tuan Abraham!”


Abraham mengangguk kecil dan merangkul pinggang istri kecilnya untuk segera memasuki hotel tersebut.


“Tuan Abraham!” Edi dari kejauhan melambaikan tangannya dan berlari kecil menghampiri sepasang kekasih halal yang baru saja memasuki area hotel.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” sapa Abraham dan Asyila pada Edi yang sudah berada tepat dihadapan keduanya.


“Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar Tuan Abraham dan Nona Asyila?” tanya Edi menyapa sepasang suami istri dihadapannya itu.


“Alhamdulillah kami baik,” jawab keduanya.


“Karena anda berdua sudah datang, mari iku saya. Yang lainnya sudah menunggu!” ajak Edi dengan sangat sopan.


Abraham dan Asyila saling melempar senyum satu sama lain, sembari mengikuti langkah kaki Edi memasuki hotel.


“Semuanya! Lihatlah siapa yang datang ini,” tutur Edi dengan penuh semangat.


Mereka semua yang berada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Abraham dan juga Asyila. Mereka menyapa keduanya dengan sangat sopan serta ramah.


Abraham tersenyum tipis dan melebarkan senyumnya kepada istri kecilnya.


“Mas Abraham!” Salah satu polisi wanita mendekat untuk menyapa suami Asyila tersebut, “Sudah sangat lama kita tak bertemu, ternyata Mas makin keren saja,” ucap polisi wanita itu.


Abraham hanya menoleh sekilas ke arah wanita itu dengan tatapan datar.


“Luna, apakah kamu ingin membuat suasana menjadi canggung?” tanya Edi yang terlihat tak senang dengan apa yang dilakukan oleh wanita bernama Luna tersebut.


“Pak Edi, apa salahnya jika saya menyapa pria yang dulu pernah saya cintai. Meskipun, saya ditolak mentah-mentah,” balas Luna

__ADS_1


Asyila mengernyitkan keningnya setelah tahu bahwa wanita berprofesi sebagai polisi wanita itu dulu pernah menyukai suaminya dan ternyata ditolak.


“Luna, apakah kamu akan mengacaukan acara buka puasa bersama ini?” salah satu polisi wanita.


“Tidak, sama sekali tidak. Bagaimanapun aku hanya bercanda saja,” balas Luna.


Apa yang dikatakan oleh Luna, seketika itu membuat yang lainnya melirik ke arah Asyila untuk melihat respon serta tanggapan Asyila ketika berhadapan langsung dengan wanita yang dulu pernah menyukai suaminya.


“Hai, Mbak Luna cantik! Perkenalkan saya Asyila, istri Mas Abraham. Ngomong-ngomong hhmm.. Mbak Luna ditugaskan dimana? Karena sebelumnya saya tidak pernah melihat Mbak Luna?” tanya Asyila dengan sangat ramah dan justru memberikan senyum terbaiknya untuk wanita bernama Luna tersebut.


Luna seketika itu tertegun dengan keramah-tamahan istri dari pria yang dulu ia sukai.


“Ehem!!” Abraham berdehem dan seketika itu membuat Luna terkesiap.


“Asyila ditugaskan di salah satu provinsi di Sumatera,” jawabnya yang juga ikut tersenyum lebar.


Edi menghela napasnya dan meminta kepada semua orang yang hadir di acara tersebut untuk segera duduk karena sebentar lagi waktu berbuka puasa akan tiba.


“Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul. Mari kita duduk di kursi masing-masing!” pinta Edi.


Abraham merangkul pinggang istri kecilnya dan menuntun sang istri untuk segera duduk di kursi.


Tak sampai 3 menit, adzan Maghrib pun berkumandang. Kali ini, Edi lah yang memimpin Do'a berbuka puasa dan merekapun membatalkannya dengan segelas air minum dan beberapa buah kurma.


Kemudian, mereka memutuskan untuk melaksanakan sholat Maghrib di ruang khusus sholat.


Edi meminta sahabatnya yaitu Abraham untuk mengimami sholat Maghrib, tanpa pikir panjang lagi Abraham mengiyakan dan bergegas mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah.


Beberapa saat kemudian.


Usai melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah, merekapun kembali menuju meja makan untuk kembali melanjutkan acara berbuka puasa bersama.


“Kita makan sepiring berdua ya Syila,” ucap Abraham berbisik ditelinga istri kecilnya.


Asyila seketika itu menggelengkan kepalanya tanda tak setuju.


“Mas, kita saat ini berada di antara keramaian. Maksud Asyila, bagaimana jika meledek kita,” balas Asyila dengan berbisik.


Edi tertawa kecil melihat sepasang suami istri yang seperti pengantin baru.


“Haha... Haha.. Tuan Abraham dan Nona Asyila sedang membahas apa?” tanya Edi penasaran.


“Ini obrolan antara suami dan istri,” celetuk Abraham.


Abraham mengangkat sebelah alisnya dan mengisi piring miliknya dengan makanan sebanyak dua porsi.


“Anda yakin makan sebanyak itu?” tanya Edi terheran-heran, begitu juga yang lainnya.


“Ini untukku dan juga istriku,” balas Abraham dengan santainya.


Edi dan yang lainnya tersenyum lebar bahkan tak segan-segan menggoda keromantisan sepasang suami istri itu.


Asyila tersipu malu dengan ulah suaminya yang akhirnya membuat dirinya serta suaminya di goda habis-habisan.


Luna tersenyum melihat keduanya dan mendo'akan rumah tangga Abraham serta Asyila selamanya baik-baik saja.


Usai menikmati hidangan berbuka puasa bersama-sama, Edi mengajak Abraham serta yang lainnya untuk melihat pertunjukkan seni bela diri yang sebelumnya sudah Edi siapkan.


“Alasanmu membuat acara seperti ini untuk apa, Edi?” tanya Abraham penasaran.


“Entahlah, tiba-tiba saja terpikirkan untuk mementaskan seni bela diri ini,” jawab Edi apa adanya.


“Sepertinya mereka masih sekolah?” tanya Abraham ketika melihat wajah-wajah yang mengikuti pertunjukkan seni bela diri tersebut.


“Memang benar, mereka ada murid-murid SMA disalah satu sekolah di Jakarta yang memang pintar sekali dalam menguasai ilmu bela diri ini,” terang Edi yang sangat bangga dengan dirinya sendiri karena telah berhasil membuat Abraham kagum.

__ADS_1


__ADS_2