
“Asyila, istriku yang cantik. Ayo bangun!” Abraham membelai dan seluruh wajah istri kecilnya termasuk bibir manis Sang istri berulang kali.
Merasakan ada bulu-bulu halus diwajahnya membuat Asyila terbangun.
“Kumis Mas tidak dicukur?” tanya Asyila tanpa membuka matanya dan memilih untuk pindah posisi menjadi diatas suaminya.
“Syila, ini sudah jam 2 pagi. Kita harus mandi dan segera sholat tahajjud. Kalau Syila begini yang ada kita akan melakukannya sekali,” ucap Abraham.
Asyila segera membuka matanya dan mencari pakaian miliknya yang ternyata ada diatas nakas.
“Mas, kalau begitu Asyila yang mandi duluan,” ucap Asyila.
“Mandi bersama saja biar lebih cepat,” balas Abraham dan merekapun masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama.
Beberapa jam kemudian.
Asyila menyambut kedatangan Abraham dan juga Ashraf yang baru saja pulang dari Masjid. Beberapa saat yang lalu, Ashraf sangat rewel karena dibangunkan oleh kedua orangtuanya. Akan tetapi, kerewelan Ashraf tidak berlangsung lama.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan juga Ashraf.
“Wa’alaikumsalam, kesayangan Bunda sudah pulang,” sahut Asyila dan mencium punggung tangan suaminya.
Ashraf tertawa kecil dan tak lupa mencium punggung Bundanya tersayang.
“Bunda!” panggil Ashraf.
“Iya sayang, ada apa?” tanya Asyila setengah membungkuk.
“Ayo kita lanjutkan mengobrol nya di dalam!” ajak Abraham membawa dua orang yang ia cintai ke ruang keluarga.
Disaat yang bersamaan, Dyah datang dan dengan semangat memanggil-manggil Paman dan Aunty-nya.
“Assalamu’alaikum! Paman Abraham, Aunty Asyila!”
Abraham dan Asyila saling menatap sembari bertanya-tanya siapakah orang yang bertamu di waktu yang begitu pagi.
“Paman Abraham! Aunty Asyila!” Dyah kembali memanggil sepasang suami istri tersebut agar segera membuka pintu dan menyambutnya yang pagi-pagi buta sudah datang ke perumahan Absyil.
“Dyah!” Abraham dan Asyila akhirnya tahu siapa yang terus saja memanggil mereka.
Ashraf pun segera berlari untuk menemui Dyah. Setidaknya teman bermainnya bertambah satu lagi.
“Sayang, jangan lari-lari,” ucap Abraham dan segera menyusul Ashraf yang terus berlari menuju pintu.
Abraham berlari menyusul Ashraf kemudian, membukakan pintu untuk keponakannya.
“Assalamu’alaikum Pamanku yang baik hati dan tidak sombong!” Dyah menyapa Abraham dengan penuh semangat.
“Kak Dyah gendong!” pinta Ashraf sambil merentangkan kedua tangannya.
Dyah menatap kesal dan akhirnya menuruti keinginan adiknya itu.
“Kak Dyah baru sampai dan kamu sudah minta gendong saja, menyebalkan,” omel Dyah.
Ashraf tak peduli dengan Omelan Dyah, yang terpenting Dyah mau menggendongnya.
“Eits... Itu apa Paman?” tanya Dyah samar-samar melihat kissmark di leher Abraham.
“Anak kecil tidak boleh banyak tanya,” celetuk Abraham dan melenggang pergi menuju kamar.
“Siapa juga yang anak kecil? Teman-teman Dyah di kantor terkadang membicarakan tanda seperti itu,” ucap Dyah bermonolog dan segera mencari Aunty-nya.
Asyila datang menghampiri Dyah dan sekilas mencubit kedua pipi Dyah yang menggemaskan.
“Kamu kenapa sepagi ini sudah datang? Mana tidak bilang-bilang,” tutur Asyila dan mengajak Dyah untuk segera duduk.
“Ya mau bagaimana lagi, Aunty. Ketika mengetahui Aunty dan Paman sudah kembali membuat Dyah ingin cepat-cepat kemari,” jawab Dyah jujur.
__ADS_1
“Lalu, siapa yang mengantarkan kamu kesini?”
“Kebetulan ada Mang Dadang lewat depan rumah, tukang ojek pangkalan. Jadinya, Dyah memintanya untuk mengantarkan Dyah kemari,” jelas Dyah.
“Karena kamu sudah disini, ayo bantu Aunty masak. Kamu belum makan 'kan?”
“Hehehe... Ya belum, Aunty. Habis sholat subuh langsung on the way ke perumahan Absyil!”
“Papa dan Mamamu tahu tidak?”
“Ya tentu saja sudah tahu, kalau belum pasti Dyah akan diomelin.”
Asyila meminta Ashraf untuk naik ke kamar dan bermain dengan Abraham. Sementara ia dan Dyah akan sibuk memasak di dapur.
“Itu pasti perbuatan Aunty ya?” tanya Dyah senyum-senyum
“Perbuatan apa?” tanya Asyila balik.
“Dyah samar-samar melihat leher Paman memar-memar, pasti itu perbuatan Aunty,” balas Dyah dan tertawa lepas.
Asyila langsung membungkam mulut Dyah dan meminta Dyah untuk berhenti tertawa.
“Memang itu perbuatan Aunty, sekarang jangan bahas itu lagi,” ucap Asyila sembari menahan malu karena Dyah menyadarinya, “Ngomong-ngomong kamu kenapa bisa tahu?” tanya Asyila.
“Dyah sekarang bukan gadis remaja lagi, Aunty. Di kantor, telinga Dyah hampir setiap saat panas kalau mendengar teman-teman yang sudah menikah membahas masalah seperti itu. Bukan. keinginan Dyah untuk mendengarkannya. Tetapi, mereka lah yang dengan semangat menceritakan hal yang sebenarnya sangat tidak patut untuk dibicarakan serta dibahas,” terang Dyah.
Dyah tersenyum lebar sembari memandangi wajah Dyah.
“Aunty kenapa melihat Dyah seperti itu?” tanya Dyah.
“Sekarang Dyah yang Aunty kenal dulu sudah benar-benar dewasa. Sudah bisa menentukan yang mana yang baik dan benar. Kedepannya, carilah suami yang bertanggung jawab dan paham agama!”
Dyah tiba-tiba teringat dengan Kevin yang beberapa hari yang lalu telah ia tolak. Ia pun memutuskan untuk menceritakan hal tersebut kepada Asyila.
“Aunty, ada hal yang ingin Dyah ceritakan,” ucap Dyah.
“Melihat dari ekspresi wajahmu sepertinya hal yang sangat penting. Kalau begitu bantu Aunty masak agar cepat selesai dan kamu bisa menceritakan apapun sepuas kamu!”
Beberapa jam kemudian.
Mereka berempat telah berkumpul dimeja makan untuk segera menikmati sarapan.
Abraham memimpin do'a sebelum makan dan merekapun bersama-sama menikmati sarapan.
“Kak Dyah suapin!” pinta Ashraf pada Dyah.
Dyah mencium sekilas pipi Ashraf dan Ashraf dengan cepat menghapus bekas ciuman Dyah.
“Bunda...” Ashraf bersiap-siap untuk menangis dan dengan sigap Asyila menenangkan putra kecilnya, Ashraf.
Ashraf paling tidak suka dicium secara tiba-tiba apalagi tanpa meminta izin kepadanya terlebih dahulu. Bagi Ashraf, yang boleh menciumnya adalah Ayah dan Bundanya.
Dyah segera meminta maaf dan membelai lembut rambut Ashraf.
“Jangan!” Ashraf menatap kesal Dyah sembari menata rambutnya sendiri.
Dyah tertawa kecil dan dengan perlahan menyuapi Ashraf.
“Makan yang banyak biar tambah semok,” ucap Dyah dan Ashraf sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Dyah.
Selepas sarapan, Abraham mengajak Ashraf untuk berkeliling perumahan Absyil.
Sementara Asyila dan Dyah memilih untuk tetap di rumah saja.
“Sekarang ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan!”
“Begini Aunty, sebenarnya Kevin menyukai Dyah,” ucap Dyah.
__ADS_1
Asyila terkejut dan meminta Dyah untuk menceritakan hal tersebut secara detail.
Dyah pun menceritakan bagaimana Kevin menyatakan cintanya dan bagaimana Dyah menolak perasaan Kevin saat itu juga.
Dyah mengatakan semuanya sampai ia pun menangis karena merasa bersalah dengan persahabatannya. Ia tidak pernah berpikir kalau diantara persahabatan tersimpan sebuah rasa yaitu salah satu dari mereka memiliki perasaan cinta.
“Apakah Dyah jahat, Aunty?” tanya Dyah sambil terus menangis.
Asyila langsung memeluk Dyah dan mengelus lembut punggung Dyah agar Dyah sedikit lebih tenang.
“Jangan berkata seperti itu. Aunty yakin Kevin pasti akan memahami maksudmu, sejujurnya aku berpikir bahwa kamu pun menyukainya. Ternyata kamu dari dulu menganggapnya hanya sebatas sahabat. Itu tidak masalah, Aunty yakin saat ini Allah sedang mempersiapkan jodoh untukmu dan jodoh untuk Kevin. Kalaupun kamu dan Kevin berjodoh, Allah yang akan mempertemukan kalian lagi dan yakinlah jodoh pasti bertemu bagaimanapun caranya,” jelas Asyila.
“Hiks... hiks... Terima kasih, Aunty. Sekarang perasaan Dyah yang mengganjal sudah benar-benar hilang. Terima kasih karena Aunty sudah bersedia mendengarkan apa saja yang Dyah katakan. Tidak hanya Paman dan adik-adik saja yang beruntung memiliki Aunty, Dyah pun sangat beruntung memiliki Aunty yang sangat baik serta perhatian,” terang Dyah dari hati yang paling dalam.
“Perkataanmu pagi-pagi begini sudah sangat manis,” celetuk Asyila.
“Ini bukanlah sekedar perkataan manis, Aunty. Berkat Aunty, Dyah merasa sangat lega!”
“Jangan katakan ini berkat Aunty. Tapi katakanlah ini berkat dari Allah Subhanahu wa ta'ala, karena telah memberikan kita sebuah perasaan untuk selalu mengingat Nya!”
“Aunty memang yang terbaik,” puji Dyah.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.33 WIB.
Akan tetapi, Abraham dan Ashraf belum juga kembali.
“Sekarang basuhlah wajahmu itu dengan air. Matamu sekarang sudah sangat sipit,” tutur Asyila.
Dyah cepat-cepat masuk ke dalam kamar untuk membasuh wajahnya dan sedikit memberikan sentuhan bedak agar Paman serta adiknya itu tak banyak bertanya dengan wajahnya yang terlihat habis menangis.
“Assalamu’alaikum,” ucap Abraham dan Ashraf yang baru saja tiba.
“Wa’alaikumsalam, Mas apa hari ini tidak kerja?” tanya Asyila.
“Maaf, Mas seharusnya memberitahukan kepada Asyila tadi malam. Akan tetapi, tadi malam kita...” Abraham menggantungkan ucapannya dan tersenyum ke arah istri kecilnya.
“Sssuutt...” Asyila menyentuh bibir suaminya agar Sang suami segera diam.
“Bunda, Kak Dyah mana?” tanya Ashraf.
“Kak Dyah ada dikamar,” jawab Asyila dan Ashraf pun berlari menuju kamar yang biasa digunakan oleh Dyah.
Kini hanya ada Abraham dan Asyila di ruang tamu.
“Mas tadi kenapa lama sekali?” tanya Asyila dan memeluk lengan suaminya dengan cukup erat.
“Tadi Mas sedang mengobrol dengan salah satu penghuni baru di perumahan Absyil,” jawab Abraham.
“Yang kalau tidak salah adalah tetangga Mas yang di Jakarta 'kan?”
“Iya, Insya Allah mereka nanti malam sore kemari hitung-hitung silahturahmi,” ucap Abraham.
Asyila mengangguk dan tiba-tiba mengajak suaminya untuk segera masuk ke kamar.
Tentu saja ajakan Asyila langsung disanggupi oleh Abraham dan merekapun masuk ke kamar dengan penuh semangat.
Mumpung ada Dyah, aku jadinya bisa berduaan dengan Syila. 💖
Dyah membiarkan Ashraf bermain-main di dalam kamarnya dan berharap agar Ashraf tidak kembali rewel.
“Kak Dyah!” panggil Ashraf yang tengah merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Ada apa, Ashraf?” tanya Dyah yang sedang menaburkan bedak ke wajahnya.
Ashraf turun dari tempat tidur dan menarik tangan Dyah agar segera ikut dengannya ke ruang keluarga. Sesampainya di ruang keluarga, Ashraf mengeluarkan mainannya dan mengajak Dyah untuk ikut bermain.
Karena tak ingin Ashraf kembali rewel, Dyah pun mengiyakan dan akhirnya merekapun main bersama.
__ADS_1
Benar kata Aunty. Jodoh pasti bertemu dan aku sangat percaya akan hal itu. Ya Allah, pertemukan lah hamba dengan pria yang benar-benar yang bertanggung jawab dan paham agama seperti yang Aunty katakan. Aamiin ya robbalalamin.
Abraham 💖 Asyila