
Keesokan paginya.
Abraham, Arumi, Herwan dan juga Ema akan pergi ke kantor polisi untuk melihat bagaimana hukum berjalan agar Salsa alias Ratih mendekam di dalam penjara untuk selamanya.
Sementara yang lainnya tetap berada di rumah dan tidak ikut pergi ke kantor polisi.
“Paman, pokoknya Dyah mau wanita itu dipenjara seumur hidup!” pinta Dyah yang kedua kantung matanya terlihat sembab karena seringnya menangis.
“Kamu tenang saja, Paman dan yang lainnya tak membiarkan wanita itu bebas atas apa yang telah dilakukannya,” balas Abraham.
Eko berlari kecil masuk ke dalam rumah dan memberitahukan bahwa mobil sudah siap untuk melakukan perjalanan.
Abraham pun mengiyakan dan meminta Eko untuk menunggunya di dalam mobil.
Ema tiba dan tak lupa mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum,” ucap Ema di depan pintu.
“Wa’alaikumsalam, masuklah!” Arumi dengan senyum ramahnya mempersilakan Ema untuk masuk.
Ema mengangguk dengan sangat sopan dan segera masuk ke dalam.
“Kamu tidak ikut?” tanya Ema pada Dyah yang saat itu masih mengenakan piyama.
“Tidak. Kalau aku ikut, yang ada aku malah membuat keributan. Setiap melihat wajah wanita jahat itu, aku ingin sekali membunuhnya,” terang Dyah yang sangat sulit menahan amarahnya ketika berhadapan langsung dengan wanita yang menjadi penyebab kematian Aunty-nya tercinta.
“Jangan lagi memikirkan wanita itu. Dyah sekarang fokus merawat cucu Paman. Dan 1 lagi, sampai kapanpun Aunty mu tidak akan pernah tergantikan. Karena dihati Paman hanya ada 1 nama. Yaitu, Asyila,” tegas Abraham yang begitu mencintai istrinya dan tak peduli jika kedepannya banyak wanita yang mencoba mendekatinya.
Dyah mengangguk kecil dan tersenyum lega mendengar perkataan Pamannya.
“Fahmi, kamu jangan kemana-mana dan tetaplah di rumah. Paman dan lainnya akan ke kantor polisi, insya Allah secepatnya kami akan pulang,” tutur Abraham.
Abraham mengernyitkan keningnya dan menoleh ke arah Arumi.
“Bu, Ashraf mana?” tanya Abraham karena tak melihat buah hatinya.
“Nak Abraham tenang saja, Ashraf saat ini lagi di rumah sebelah. Lagi main bersama Kahfi,” jawab Arumi.
“Terima kasih,” ucap Abraham pada Ema.
“Pak Abraham tidak perlu berterima kasih. Justru, saya senang karena Kahfi ada teman bermain,” balas Ema.
“Ayo berangkat!” ajak Arumi.
Merekapun bergegas keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil untuk segera melakukan perjalanan ke kantor polisi, tempat dimana Salsa alias Ratih tengah ditahan.
Disepanjang perjalanan, Arumi dan Herwan saling menggenggam tangan tangan sama lain. Terlihat jelas bahwa keduanya sangat gelisah, mereka berharap agar wanita yang telah membunuh putri mereka dapat dihukum dengan seadil-adilnya.
Melihat wajah Ibu dari sahabatnya yang begitu gusar, Ema pun mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
“Ibu tidak perlu mengkhawatirkan mengenai jalannya hukum. Insya Allah wanita palsu itu akan membayar semua kejahatannya. Insya Allah,” ucap Ema dan memeluk lengan Arumi.
Arumi meneteskan air matanya, apa yang saat ini dilakukan oleh Ema sama persis dengan apa yang dulu sering dilakukan oleh putri kesayangannya.
Abraham duduk di kursi bersebelahan dengan Eko yang tengah mengemudi mobil. Terlihat jelas bahwa Abraham sedang melamun dan tengah memikirkan sesuatu hal yang menurutnya sangat penting untuk dipikirkan.
“Tuan Muda Abraham,” panggil Eko agar majikannya tak terus-menerus melamun.
Abraham terkesiap dan malah memberikan senyum kearah Eko.
Beberapa jam kemudian.
Mereka akhirnya sampai di kantor polisi tempat dimana Salsa alias Ratih di tahan. Akan tetapi, ketika Abraham baru saja turun dari mobil, Dayat tiba-tiba menghampiri Abraham dengan begitu panik.
“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti melihat hantu saja?” tanya Abraham.
“Wanita itu...”
“Iya, ada apa memangnya?” tanya Abraham penasaran.
“Maaf,” ucap Dayat dan menarik tangan Abraham untuk segera ikut masuk.
Abraham mengernyitkan keningnya dan terus mengikuti langkah kaki Dayat yang terus membawanya masuk ke dalam.
Dari kejauhan, samar-samar Abraham mendengar suara wanita tertawa dan tawanya terdengar begitu aneh.
“Kenapa dengannya?” tanya Abraham menoleh ke arah Dayat.
“Semalam, kami menguji tes kejiwaannya karena dari kemarin selalu saja tertawa dan kemudian tiba-tiba menangis. Kami bahkan mendatangkan dokter khusus yang menangani orang-orang dengan gangguan kejiwaan dan ternyata hasilnya ini,” terang Dayat sambil memberikan beberapa lembar kertas dari beberapa dokter yang menangani Salsa alias Ratih dan hasilnya begitu mengejutkan.
Mata Abraham terbelalak lebar seketika itu juga. Ternyata, wanita yang telah membunuh istrinya dulunya adalah seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan.
“Kami pun tak kalah terkejut dan rupanya 2 tahun yang lalu, Salsa pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa di salah satu rumah sakit jiwa di solo,” terang Dayat.
“Dengan kata lain, wanita keji itu tidak bisa dimasukkan ke dalam penjara dan justru mendekam di rumah sakit jiwa?” tanya Abraham memastikan.
“Yups, anda benar,” jawab Dayat apa adanya.
Arumi, Herwan dan juga Ema pun datang menghampiri Abraham yang lebih dulu menemui Salsa.
“Nak Abraham, kenapa dengan wanita itu?” tanya Arumi ketika melihat tingkah Salsa seperti orang yang tengah kerasukan.
“Hahaha.. haha.. Kalian benar-benar keterlaluan! Bagaimana bisa wanita cantik seperti ku berada di tempat ini! Lepaskan aku, lepaskan aku sekarang juga!” teriak Salsa dari dalam jeruji besi dan di detik berikutnya ia kembali tertawa, seakan-akan ada hal yang sangat lucu untuk ditertawakan.
“Lalu, bagaimana bisa dia datang untuk membunuh istriku?” tanya Abraham yang sangat kecewa dengan keadaan saat itu.
Abraham begitu marah dan rasanya ingin sekali membunuh Salsa saat itu juga. Akan tetapi, Abraham tidak bisa karena hal tersebut sangat dilarang. Dan sangat tidak mungkin jika Abraham sampai melayangkan nyawa seorang wanita.
“Beberapa tahun yang lalu, Salsa melihat foto anda dan saat itu juga dia tertarik. Akan tetapi, Salsa sangat kecewa karena mengetahui bahwa anda dan Nona Asyila telah menikah. Informasi yang kami dapat, Salsa sudah menderita gangguan kejiwaan ketika usianya 17 tahun,” terang Dayat.
__ADS_1
“Apa!!!” Arumi dan Ema kompak berteriak karena sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dayat.
“Oya, sebentar lagi orang tua angkat dari Salsa atau Ratih ini akan datang untuk melihat putri mereka. Dan satu lagi, mereka bukan orang tua kandung alias orang tua angkat,” terang Dayat sekali lagi.
Arumi sangat syok dan hampir saja pingsan karena tak bisa menerima kebenaran yang ada. Ternyata, wanita yang membunuh putrinya adalah wanita gila yang keluar masuk rumah sakit jiwa.
“Bisa dikatakan, dia sangat terobsesi dengan anda,” ucap Dayat pada Abraham.
Otak Abraham rasanya sangat kusut seperti benang kusut yang tak ada ujungnya.
Secara hukum, Salsa tidak akan bisa dipenjarakan dan malah mendapat perawatan dari rumah sakit jiwa.
Beberapa saat kemudian.
Orang yang ditunggu-tunggu oleh Abraham serta yang lainnya akhirnya datang.
Terlihat jelas, bahwa orang tua angkat Salsa alias Ratih adalah orang berada.
“Dimana putri kami?” tanya seorang wanita yang berpakaian begitu mencolok mata, seperti sosialita kaya raya.
“Saya tidak ingin berlama-lama disini, sekarang saya sudah berhadapan langsung dengan wanita keji yang membunuh ibu dari anak-anak saya. Tolong beritahu kondisi Salsa yang sebenar-benarnya!” pinta Abraham pada wanita dihadapannya.
“Maafkan kami sebagai orang tua yang tidak becus dalam mendidik anak. Akan tetapi, kami sudah berusaha dan setiap kemauan dari Ratih kami penuhi. Bahkan, ketika Ratih mau keluar negeri pun kami turuti. Meskipun begitu, Ratih tetaplah pasien dengan gangguan kejiwaan. Segala macam cara sudah kami lakukan dan hasilnya nihil,” ungkapnya yang sama sekali tidak menutup-nutupi penyakit putri angkatnya.
“Kami kira Ratih sudah sembuh karena sebelumnya ia mengatakan telah menemukan belahan jiwanya dan ternyata, dia malah membunuh wanita yang tak bersalah. Atas nama putri kami, kami meminta maaf,” ucapnya.
“Apakah anda tahu, bahwa putri anda yang kejam itu telah mengubah wajahnya menjadi seperti wajah istri saya?” tanya Abraham.
Arumi dan Ema hanya bisa menangis dengan saling berpelukan. Mereka bingung harus mengatakan apa, karena jiwa merekapun terguncang mengetahui bahwa Salsa alias Ratih adalah wanita yang tidak waras.
“Tidak mungkin, putri saya sangat menyukai wajahnya. Tidak mungkin kalau dia sampai operasi plastik,” ucapnya lagi.
Untuk membuktikannya, Dayat membawa wanita itu untuk menemui putri angkatnya.
“Ratih, apa yang kamu lakukan dengan wajahmu?” tanya wanita itu kepada putri angkatnya.
“Hiks... Hiks... Mami! Cepat lepaskan Salsa, cepat lepaskan Salsa dari tempat ini!”
“Salsa? Nama kamu itu Ratih dan bukan Salsa.”
Keduanya terus saja berdebat sampai tiba-tiba Salsa melakukan hal gila.
Salsa alias Ratih mendorong tubuh Ibu angkatnya dan dengan brutal membenturkan kepala Ibu angkatnya ke dinding berulang kali.
Seketika itu, suasana di ruangan tersebut begitu heboh karena ulah dari wanita yang nama aslinya adalah Ratih dan bukan Salsa. Dayat serta yang lainnya mencoba membawa keluar wanita tersebut agar segera menjauh dari Salsa yang sudah tak waras itu.
Agar suasananya tak menjadi runyam, Dayat pun meminta dua polisi wanita untuk mengirim Salsa alias Ratih ke rumah sakit jiwa.
Melihat putri angkatnya yang akan dikirim ke rumah sakit jiwa, keduanya sama sekali tak menghalangi-halangi justru mereka senang karena tak ingin hal buruk kembali terjadi.
__ADS_1