
Malam hari.
Asyila terlihat begitu sedih, entah apa yang tengah dipikirkannya.
Bahkan, sedari tadi dirinya tidak makan sesuap nasi pun.
“Astaghfirullahaladzim.” Asyila terkejut bukan main ketika menyadari bahwa ASI miliknya keluar sangat sedikit.
Wanita muda itu akhirnya tersadar karena apa yang dia lakukan akan sangat berpengaruh terhadap ASI-nya.
“Sayang, maafkan Bunda ya sayang. Ok, Bunda akan makan dan minum vitamin pelancar ASI untuk Akbar,” tutur Asyila dengan penuh rasa bersalah.
Asyila dengan hati-hati berjalan keluar kamar dan memutuskan untuk segera mengisi perutnya dengan makanan agar ASI miliknya dapat memproduksi lebih banyak lagi.
“Kesayangannya Bunda disini dulu ya Nak,” tutur Asyila meletakkan bayi mungil di kereta bayi sementara dirinya akan makan malam.
Disaat yang bersamaan, Abraham, Edi serta tim yang lainnya sedang berada di dalam hutan.
Untuk kesekian kalinya, mereka harus menghadapi hal-hal yang tentu saja membahayakan keselamatan.
Kedatangan mereka ke dalam hutan adalah untuk menangkap buronan pengedar obat-obatan terlarang sekaligus menangkap orang-orang yang telah menyebabkan Dayat mengalami koma.
“Sial*n, kenapa harus turun hujan segala,” ucap Edi mengumpat yang sangat kesal karena tiba-tiba langit turun hujan.
“Jaga ucapan mu, Edi,” tutur Abraham mengingatkan Edi untuk tidak berbicara sembarangan.
“Maaf, saya terlalu kesal dan tak sabar ingin menangkap mereka semua. Merekalah penyebab sahabat kita koma,” ujar Edi yang terlihat sangat kesal atas apa yang telah terjadi kepada sahabatnya, Dayat.
“Hal yang harus kita lakukan sekarang berlindung dan juga waspada karena bisa jadi mereka tiba-tiba muncul ketika kita sedang lengah. Bagaimanapun juga, aku sangat berharap kita semua bisa menangkap mereka dan memberikan hukuman seadil-adilnya bagi mereka.”
Edi tersenyum dengan jiwa kepemimpinan yang ada pada diri seorang Abraham Mahesa.
“Edi, kenapa malah melamun? Ayo kita kesana dan jangan banyak cahaya agar tak memancing para musuh untuk datang kemari. Ada beberapa tim yang juga belum kembali, kita tunggu sampai semua tim berkumpul!” perintah Abraham.
“Baik,” jawab mereka kompak.
Hujan semakin deras bercampur dengan angin kencang dan semakin membuat suasana di dalam hutan tersebut menjadi semakin seram.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Yunus ketika sebuah ranting pohon tiba-tiba jatuh tepat disampingnya dan untung saja tidak sampai mengenai tubuhnya.
“Kamu tidak apa-apa, Yunus?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah Allah masih melindungi saya, Tuan Abraham,” balas Yunus yang begitu bersyukur karena dirinya tidak apa-apa.
“Sepertinya tempat ini cukup berbahaya, mengingat pohon-pohon disekitar kita tidak sekuat pohon yang lainnya. Ayo kita pindah!” perintah Abraham yang tidak ingin jika sesuatu hal buruk terjadi kepada mereka.
Merekapun dengan cepat berpindah ke tempat yang menurut mereka lumayan aman untuk berlindung dari guyuran hujan deras serta angin kencang.
Ketika mereka sedang berjalan menuju ke arah lain, kedua tim yang mereka tunggu akhirnya ada dihadapan mereka.
“Alhamdulillah,” ucap Abraham, Edi, Yunus serta yang lainnya ketika melihat dua tim yang mereka nantikan akhirnya datang juga.
“Tuan Abraham, sepertinya kita harus pergi sekarang dari hutan ini,” ucap Randy yang terlihat sangat panik.
Abraham mengernyitkan keningnya mendengar ucapan dari Randy yang tiba-tiba meminta mereka untuk segera pergi dari hutan tersebut.
“Randy, apa maksudmu?” tanya Edi yang terlihat tak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Randy.
“Begini, kami tadi melihat bahwa buronan yang kita kejar memiliki senjata api yang cukup banyak. Bahkan, mereka memiliki bom yang sewaktu-waktu bisa mencelakai kita,” terang Randy.
“Apa? Kali ini aku takut kalau sampai ada salah satu dari kita mendapatkan luka parah. Akan tetapi, kita tidak bisa mundur. Kita sudah berada disini dan bagaimanapun kedatangan kita kemari adalah untuk menangkap mereka semua,” terang Abraham.
“Apa yang dikatakan oleh Tuan Abraham ada benarnya, Randy. Bagaimanapun kita harus menangkap mereka, bukankah sebelumnya kita pernah mengalami diposisi seperti ini?”
__ADS_1
Randy pun mengiyakan dan memutuskan melanjutkan aksi mereka untuk menangkap para buronan. Meskipun, Randy sendiri takut jika hal buruk terjadi kepada dirinya serta anggota tim yang lainnya.
Hampir setengah jam lamanya, akhirnya hujan pun berhenti dan tanpa pikir panjang lagi mereka bergegas untuk menangkap para buronan tersebut.
Kali ini yang memimpin jalan adalah tim Randy, dikarenakan merekalah yang tahu posisi dimana buronan pengedar obat-obatan terlarang berada.
“Tuan Abraham, lihatlah mereka disebelah sana!” Randy menunjuk ke arah dimana banyaknya para tenda yang di dalamnya tentu saja berisi para buronan.
Abraham mengangguk mengerti dan meminta untuk setiap tim waspada agar sesuatu hal buruk tak terjadi kepada mereka.
“Sekarang, matikan cahaya tersebut. Akan lebih aman bila semua cahaya kita matikan,” tutur Abraham.
Setelah semua cahaya dimatikan, Abraham serta lima orang lainnya termasuk Edi berjalan mendekat ke arah tenda.
Sementara yang lainnya, diperintahkan untuk memantau dari kejauhan dan jika keadaan sudah sangat membahayakan, barulah mereka keluar untuk mengepung para buronan tersebut.
“Kalian sedang apa? Cepatlah tidur. Ingat! Besok pagi kita harus sudah keluar dari hutan ini dan kita akan pergi menjauh dari pulau Jawa!”
Abraham serta lima yang lainnya mendengar dengan jelas percakapan dari dalam tenda tersebut.
“Aakkhhh!” Wawan yang berada diantara Abraham dan Edi tiba-tiba berteriak ketika betisnya tanpa sengaja terkena ranting kayu yang cukup tajam.
Teriakkan Wawan seketika itu membuat para buronan keluar secara bersamaan.
Deg!
Edi tak bisa menyalahkan Wawan, meskipun Wawan telah menggagalkan rencana mereka.
“Kalian? Oh, jadi kalian datang kemari untuk mencari mati ya,” ucap salah satu buronan yang tak lain adalah Roy, si ketua.
Roy tanpa pikir panjang memerintahkan para bawahannya untuk mengarahkan senjata mereka ke arah Abraham serta yang lainnya.
Melihat Abraham serta yang lainnya dalam keadaan berbahaya, para tim pun akhirnya keluar.
Roy mengangkat sebelah alisnya dan tertawa terbahak-bahak, seakan-akan para polisi yang berada disekitarnya bukanlah apa-apa.
Abraham memberi isyarat agar para tim segera menurunkan senjata mereka.
Edi akhirnya menuruti isyarat tersebut dan meletakkan senjata di tanah, kemudian diikuti oleh yang lainnya.
Lagi-lagi Roy tertawa terbahak-bahak, terlihat jelas bahwa pemimpin buronan tersebut sangat senang melihat lawannya dengan mudah menyerah begitu saja tanpa ada perlawanan sedikitpun.
“Hahaha... Hahaha... Ternyata nyali kalian hanya segini saja,” ucap Roy dan tiba-tiba ia melepaskan pelurunya tepat di kaki Abraham.
“Aakkkhhh!” Abraham berteriak kesakitan dan jatuh begitu saja di tanah yang tentunya masih basah akibat hujan deras beberapa saat yang lalu.
“Tuan Abraham!” Edi, Randy serta yang lainnya berteriak dan mencoba mendekat ke arah Abraham.
“Berhenti!” teriak Roy dan seketika itu juga mereka berhenti.
Roy tersenyum menyeringai dan berjalan mendekat ke arah Abraham yang sudah tergeletak tak berdaya.
“Ternyata apa yang ku dengar tentang kehebatan mu adalah palsu. Pria seperti dirimu langsung jatuh begitu saja hanya dengan satu kali tembakan saja,” tutur Roy yang menghina kehebatan seorang Abraham.
Abraham hanya diam dan ketika Roy ingin melayangkan bogem mentah di wajah Abraham, tiba-tiba Abraham bangkit dan seketika itu menodongkan pisau ke arah leher Roy.
“Bos!” teriak para bawahan Roy yang sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Abraham.
“Berani kalian maju, aku tak segan-segan membuat pria ini mengeluarkan darah segar di lehernya,” ucap Abraham yang terlihat begitu marah.
Ternyata kesakitan yang Abraham rasakan hanyalah tipuannya saja.
Edi pun seketika itu memerintahkan kepada yang lainnya untuk kembali mengambil senjata mereka.
__ADS_1
Roy terlihat tak berdaya, ia mengumpat dirinya sendiri yang sangat bodoh karena mengira bahwa Abraham begitu lemah. Ternyata, dirinya yang lemah karena dengan mudahnya percaya bahwa seorang Abraham Mahesa begitu lemah.
“Kamu kira aku akan mati begitu saja? Sudah banyak hal berbahaya yang datang kepadaku dan sudah banyak juga yang telah aku lewati,” tutur Abraham yang terus saja menempelkan pisau tersebut di leher Roy.
Dor!!!
Tiba-tiba ada suara tembakan yang cukup keras dan disaat itu juga Edi jatuh ke tanah.
Abraham terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
“Kalian rupanya tak ada takutnya sama sekali, baiklah kalau itu pilihan kalian!” Abraham berteriak.
“Aakkkkhhh!” Roy berteriak kesakitan dan disaat itu pula lengannya mengeluarkan darah karena pisau tajam milik Abraham.
Tidak hanya sampai disitu saja, Abraham bahkan menendang perut Roy berulang kali.
“Lihatlah baik-baik!” perintah Abraham dan terus memukul Roy dengan membabi buta.
Roy berteriak kesakitan dan disela-sela ia berteriak kesakitan, ia memerintahkan kepada bawahannya untuk segera meletakkan senjata api mereka saat itu juga.
Para bawahan Roy akhirnya menuruti perintah dari Roy dengan sangat terpaksa.
“Kalian, cepatlah ambil senjata mereka dan jangan sampai ada yang tersisa!” perintah Abraham.
Randy dan lainnya pun berlari secepat mungkin untuk mengambil senjata api tersebut.
Setelah semua senjata berhasil diamankan, para tim pun memborgol mereka semua dan sama sekali tak ada perlawanan.
Boooommm!
Ledakan tiba-tiba muncul begitu keras, untungnya tak ada satupun dari mereka yang terluka.
Boooommm!!!
Lagi-lagi ledakan itu muncul dan kini ada beberapa anggota tim yang terkena ledakan tersebut.
Malam itu benar-benar sangat menegangkan, membuat Abraham takut jika para anggota tim mengalami hal yang tidak diinginkan.
“Ayo cepat, ikut kami!” Abraham berusaha menarik tubuh Roy agar segera ikut bersamanya.
Para tim yang tak cedera pun saling bahu-membahu menolong tim yang terluka.
“Tuan Abraham, kita tak ada waktu kalau terus berjalan seperti ini. Bagaimana kalau kita menggunakan kendaraan mereka saja,” tutur Hery.
Sebenarnya itu adalah ide yang sangat bagus Hery. Akan tetapi, kita tidak tahu apa yang ada di dalam mobil mereka. Bisa jadi mereka meletakkan bom-bom itu di dalam mobil, terlebih lagi ini malam dan bukanlah siang.
Aku harap kamu mengerti apa yang aku maksud,” tutur Abraham yang sangat mengkhawatirkan keselamatan para tim.
Hery tersadar dan hampir saja ia membuat para tim dalam posisi yang sangat berbahaya.
“Maafkan saya Tuan Abraham,” ujar Hery.
“Sudah tidak perlu meminta maaf, ayo kita teruskan perjalanan kita. Semoga tidak ada halangan dan rintangan untuk kita sampai ke mobil!”
Disisi lain.
Asyila sama sekali tak bisa tidur, pikirannya menjadi sangat tidak tenang karena sampai sekarang suaminya belum juga menghubungi dirinya.
“Sudah jam segini, bukankah sebelumnya Mas Abraham berjanji akan segera menghubungi ku. Ya Allah, tolong lindungilah Mas Abraham dimana pun Mas Abraham berada,” tutur Asyila sembari menengadahkan tangannya memohon perlindungan dari Allah.
“Oek... Oek... Oek...” Bayi Akbar tiba-tiba terbangun dan menangis sekencang-kencangnya.
Perasaan Asyila semakin takut dan mencoba untuk tetap tenang agar bayi mungilnya ikut tenang.
__ADS_1
“Sayang, ini Bunda. Jangan menangis ya sayang, Akbar haus ya? Sini minum ASI.”