
Setelah Rahma selesai menyusui bayi mungil tersebut. Asyila mengajak Rahma untuk pulang ke rumah, dengan berat hati Rahma pun kembali meletakkan bayi itu di ranjang kecil.
“Mbak Rahma baik-baik saja?” tanya Asyila memastikan.
“Aku baik-baik saja, terima kasih Asyila,” jawab Rahma dan menangis di pelukan Asyila.
Rahma sangat senang, meskipun hanya menyusui bayi yang bukan miliknya. Setidaknya, ia bisa menjadi Ibu dalam waktu singkat.
“Ibu Sumirah, kami permisi dulu. Insya Allah lain kali kami akan berkunjung kembali,” tutur Asyila.
“Kapanpun kalian datang, Ibu pasti akan menerima kalian. Sekali lagi terima kasih,” balas Ibu Sumirah.
Asyila pun pamit pulang meninggalkan panti asuhan tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Abraham, Rahma sudah tak terlihat sedih lagi. Samar-samar Asyila bisa melihat senyum Rahma meskipun tidak terlihat jelas.
“Mbak Rahma nanti mau saya masakin apa?” tanya Asyila.
“Kamu tidak perlu repot-repot memasak untuk aku, apapun yang kamu masak aku akan memakannya. Atau begini saja, jadikan saya pembantu dirumah mu saja,” ucap Rahma yang sadar diri bahwa ia tidak mungkin tinggal dikediaman Asyila dengan numpang gratis.
“Mbak Rahma kenapa bicara seperti itu? Saya membantu Mbak Rahma bukan karena ingin menjadikan Mbak Rahma pembantu, justru saya membantu dan membawa Mbak Rahma pulang ke rumah, agar Mbak Rahma bisa lebih tenang,” terang Asyila tulus dari hati yang paling dalam.
“Masya Allah, kamu bukan hanya baik. Akan tetapi, kamu juga berjiwa malaikat,” puji Rahma dengan tatapan takjub.
“Mbak Rahma jangan berbicara seperti itu, lagipula saya ini 100% manusia bukan malaikat, Mbak Rahma. Sudah kewajiban antar sesama manusia untuk saling membantu satu sama lain,” jelas Asyila yang tidak ingin disamakan seperti malaikat.
Rahma menemukan hal baru dari diri Asyila, meskipun Asyila lebih mudah lima tahun dari dirinya, namun sikap Asyila terlihat sangat dewasa. Rahma bahkan malu dengan wanita muda yang duduk disampingnya, ia merasa sangat minder berada di dekat Asyila.
Suami Asyila pasti sangat beruntung memiliki istri sebaik dan sepintar Asyila.
Asyila kembali mendapatkan telepon dari suaminya dan dengan cepat Asyila menerima sambungan telepon tersebut.
“Assalamu'alaikum, Mas Abraham,” ucap Asyila.
“Wa'alaikumsalam, Syila sekarang dimana? Mas kangen,” terang Abraham.
Asyila tertawa mendengar perkataan suaminya itu yang tiba-tiba mengatakan sedang merindukan dirinya.
“Sebentar lagi Asyila sampai, Mas. Mas ini tumben bicara seperti itu?” tanya Asyila penasaran.
Percakapan Abraham dan Asyila terus saja berlanjut, sampai akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan rumah Abraham.
“Asyila sudah sampai, Mas. Nanti kita lanjutkan mengobrol nya, assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam,” balas Abraham.
Asyila kembali menaruh ponselnya di tas dan mengajak Rahma keluar dari mobil. Rahma mengangguk kecil dan keluar dari mobil dengan ragu-ragu. Saat menginjakkan kakinya di halaman rumah tersebut, Rahma pun tersadar bahwa ia sangat miskin dan Asyila adalah si kaya berhati mulia.
“Mbak Rahma kenapa diam saja? Ayo masuk!” ajak Asyila dan dengan senyum ramahnya Asyila menggandeng tangan Rahma, menuntun wanita itu masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba, muncul dua anak kecil yang langsung memeluk Asyila.
“Mereka siapa?” tanya Rahma penasaran.
__ADS_1
“Mereka adalah Arsyad dan Ashraf, anak saya,” terang Asyila.
Rahma tercengang, ia tak mengira jika Asyila sudah memiliki buah hati. Sebelumnya, Rahma mengira bahwa Asyila dan Abraham adalah pengantin baru.
“Kalian sudah datang,” ucap Arumi.
“Assalamu'alaikum, Ibu,” sapa Asyila dan tak lupa mencium punggung tangan Arumi.
Rahma tersenyum lebar dan ikut mencium punggung tangan Arumi.
“Mbak Rahma, ini Ibu saya,” tutur Asyila memperkenalkan Arumi.
“Hallo, saya Rahma,” ujar Rahma memperkenalkan dirinya.
“Asyila sudah banyak bercerita tentang Nak Rahma, mari masuk ke dalam. Ibu sudah memasak banyak makanan, pokoknya Nak Rahma harus makan yang banyak dan tidak perlu sungkan. Anggap saja rumah sendiri,” ucap Arumi.
Rahma merasakan kehangatan keluarga itu, ternyata tidak hanya Asyila yang baik. Keluarga itu pun baik dan sangat sangat baik, Rahma merasakan seperti memiliki keluarga baru yang sangat menyayangi dirinya.
“Bunda, itu siapa?” tanya Arsyad sambil menoleh ke arah Rahma.
“Ini teman Bunda, sayang. Sekarang Arsyad dan Ashraf panggil teman Bunda dengan sebutan Tante Rahma ya!” perintah Asyila.
Arsyad dan Ashraf mengiyakan apa yang diperintahkan oleh Bunda mereka. Dengan kompak mereka memanggil Rahma dengan sebutan Tante.
“Mbak Rahma makanlah duluan, tolong Ibu temani Mbak Rahma!” pinta Asyila.
Arumi mengiyakan dan mengajak Rahma bergegas menuju ruang makan bersama kedua cucunya.
Asyila mempercepat langkahnya menuju kamar dan tak lupa ia mengetuk pintu serta memberikan salam sebelum masuk ke dalam kamar.
“Wa'alaikumsalam, kenapa membuat Mas harus menunggu lama?” tanya Abraham dan menarik tubuh istri kecilnya ke atas tubuhnya.
Asyila memanyunkan bibirnya dan mencubit kecil pinggang suaminya.
“Awww.” Abraham meringis kesakitan, seakan-akan cubitan istri kecilnya sangatlah sakit.
“Asyila mencubitnya tidak pakai tenaga, Mas. Apa Asyila harus benar-benar memakai tenaga?” tanya Asyila yang kembali ingin mencubit pinggang suaminya.
“Daripada dicubit, kenapa tidak mencium bibir Mas saja?” tanya Abraham.
Asyila menarik bibir suaminya dan tatapan kesal.
“Kalau itu memangnya maunya Mas, dasar mesum,” celetuk Asyila sebal.
“Mesum dengan istri sendiri masa' tidak boleh?” tanya Abraham dan membuat Asyila bingung harus menjawab apa.
Asyila menghela napasnya dan mencium bibir suaminya sekilas.
“Yang lama!” pinta Abraham.
Asyila kembali menghela napasnya dan akhirnya menciumi bibir suaminya dengan cukup lama. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi? Tentu saja mereka berdua saling berciuman dan menumpahkan isi hati mereka lewat ciuman bibir tersebut.
“Bunda!” panggil Ashraf tanpa berniat untuk masuk ke dalam kamar orang tuanya.
__ADS_1
Asyila seketika itu juga terkesiap, ia ingat bahwa pintu kamar belum sempat ia kunci.
“Sebentar ya Mas,” tutur Asyila sambil beranjak dari tubuh suaminya dan bergegas menghampiri Ashraf.
Asyila membuka pintu dan berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan sang buah hati.
“Iya sayang, Ashraf mau apa?” tanya Asyila sambil menyentuh pipi buah hatinya.
“Bunda, nanti temani Ashraf main monopoli ya!” pinta Ashraf.
Asyila tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya tanda ia setuju dengan permintaan buah hatinya.
“Terima kasih, Bunda,” ucap Ashraf dan mencium pipi Bundanya sekilas. Kemudian, bocah kecil itu berlari menuju ruang makan.
Asyila menghela napasnya dan bergegas masuk ke dalam kamar. Tak lupa ia mengunci pintu kamar agar Arsyad maupun Ashraf tidak sembarang masuk ke dalam kamar.
“Mas, mbak Rahma untuk beberapa hari ini tinggal di rumah boleh?” tanya Asyila untuk memastikan bahwa suaminya benar-benar setuju.
“Sebelumnya Mas sudah mengizinkan wanita itu tinggal disini. Apa Syila ragu dengan persetujuan Mas sebelumnya?” tanya Abraham penasaran.
“Bukan begitu Mas, intinya Asyila mengucapkan terima kasih karena Mas menyetujui permintaan Asyila. Oya Mas, besok pagi Asyila harus pergi karena ada urusan di kantor,” terang Asyila.
Sebenarnya urusan kantor bukanlah urusan Asyila, akan tetapi Abraham tidak bisa terus-menerus meminta Yogi untuk bolak-balik Jakarta - Bandung.
“Maaf ya istriku, Mas lagi-lagi merepotkan Syila,” ucap Asyila.
“Apanya yang merepotkan? Justru Syila senang karena bisa diandalkan,” balas Asyila sambil melepaskan hijab dan juga pakaiannya.
Abraham terus saja memandangi wajah serta tubuh istri kecilnya yang tengah berganti pakaian.
“Mas jangan mesum seperti itu, cepatlah berbalik!” pinta Asyila malu-malu.
“Kenapa harus malu? Mas 'kan, sudah melihat semuanya,” balas Abraham dengan sangat santai.
Asyila refleks melemparkan hijab yang berada ditangannya ke arah Sang suami.
“Dasar mesum,” celetuk Asyila.
Abraham terkekeh geli, ia sangat senang menggoda sang istri.
Di ruang makan.
Rahma makan dengan sangat lahap, ditambah Arumi begitu perhatian dengannya dan juga dua bocah kecil yang terus saja tersenyum kearahnya.
“Makanlah dengan hati-hati,” ucap Arumi sambil menyentuh bahu Rahma.
Rahma mengangguk kecil sambil mengunyah makanan, ia memang sudah sangat lama merasakan makanan enak seperti itu. Sebelumnya, ia tidak pernah makan enak karena suami serta iparnya yang terus saja menghabiskan hartanya.
Jika dipikir-pikir, ia termasuk wanita sangat bodoh menikahi pria seperti suaminya itu.
Usai menikmati makanan yang sangat nikmat, Rahma pun mencuci piring.
“Nak Rahma sebaiknya duduk saja, biar Ibu yang mencuci piring,” ucap Arumi.
__ADS_1
“Tolong jangan seperti ini, Ibu. Biarkan saya melakukannya,” balas Rahma.
Arumi akhirnya membiarkan Rahma untuk mencuci piring, melihat Rahma yang seperti itu membuat Arumi sedih. Rahma masih sangat muda dan usianya tidak jauh dari putri kesayangannya, akan tetapi hidupnya bisa dikatakan sangat berat. Arumi kemudian berdo'a dan meminta kedepannya hidup Rahma akan baik-baik saja.