
Sepulang dari pasar, Asyila langsung masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia pun merasa sangat kelelahan karena kondisi tubuhnya yang memang belum stabil.
“Assamu'alaikum,” ucap Asyila yang terdengar sangat lemah.
“Wa'alaikumsalam, kenapa pulang dari pasar terlihat tidak bersemangat? Bukankah Mas sebelumnya sudah bilang agar Asyila diam saja di rumah,” tutur yang terdengar sangat cerewet bagi Asyila.
“Lihat Asyila sekarang, apakah Asyila terlihat sangat lemah?” tanya Asyila dengan menampilkan senyum terbaiknya, “Tolong jangan terlalu mengkhawatirkan Asyila ya Mas, meskipun Asyila terlihat lemah bukan berarti Asyila lemah,” balas Asyila.
Abraham akhirnya mengalah, ia langsung mengiyakan apa yang dikatakan oleh istri kecilnya.
“Sini peluk Mas!” Abraham dengan cepat merentangkan kedua tangannya dan tanpa pikir panjang Asyila langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Kemudian, berisitirahat di pelukan suaminya.
“Mas, Asyila langsung tidur ya!”
Perlahan tapi pasti, akhirnya Asyila benar-benar tertidur dengan masih mengenakan pakaian yang ia kenakan ketika pergi ke pasar. Hanya hijabnya saja yang sudah ia lepas.
Abraham saat itu tidak tidur, ia malah sibuk membelai lembut bagian punggung istri kecilnya dengan penuh hati-hati.
Ya Allah, semoga sakit hamba segera Engkau angkat.
Beberapa saat kemudian.
Asyila terbangun ketika mendengar suara adzan, sudah waktunya bagi ia dan suami melaksanakan sholat Dzuhur.
“Selamat siang, istriku!” sapa Abraham ketika istri kecilnya baru bangun dari tidurnya.
Asyila membalas sapaan dari suaminya dan mencium bibir suaminya sekilas.
“Menyebalkan,” celetuk Abraham dan memonyongkan bibirnya agar Asyila kembali menciumi bibirnya.
Asyila terkekeh geli dan kembali menciumi bibir suaminya.
“Muaacchhh!”
“Mantap,” ucap Abraham dan memberikan kedipan genit kepada Sang istri.
Asyila memanyunkan bibirnya dan turun dari tempat tidur untuk berganti pakaian kemudian, mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Dzuhur bersama yang lainnya.
“Pelan-pelan Mas!” Asyila yang telah selesai berganti pakaian, langsung membantu suaminya pindah ke kursi roda.
Dengan sekuat tenaga, akhirnya Abraham berhasil duduk di kursi rodanya.
“Suamimu ini sudah mulai bosan dengan tempat tidur dan juga kursi roda, semoga saja kurang dari 3 bulan suamimu ini bisa berjalan normal,” ucap Abraham penuh harap.
Asyila tak ingin mengecewakan harapan suaminya, meskipun Asyila tahu bahwa hal tersebut sangatlah mustahil. Karena sebelumnya, dokter telah mengatakan bahwa normalnya seseorang untuk kembali berjalan yaitu, lebih dari 3 bulan karena memang tidak secepat yang dibayangkan oleh si penderita.
Usai mengambil air wudhu, Asyila bergegas membawa suaminya ke ruang sholat dan ternyata kedua orangtuanya serta dua buah hatinya bersama Sang suami sudah menunggu di ruang sholat.
“Ayah saja yang menjadi imam sholat!” pinta Abraham.
“Baiklah,” balas Herwan.
Usai melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah, mereka pun bersama-sama menikmati makan siang di ruang makan.
Ketika Asyila tengah mengambil nasi, ia tiba-tiba teringat pada Rahma yang belum juga memberi kabar. Seolah-olah, Rahma sengaja menghilang dari kehidupan mereka.
“Ada apa, Syila?” tanya Abraham sambil menyentuh tangan Asyila yang terlihat sedang melamun'kan sesuatu.
Asyila menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia tidak apa-apa.
“Ayo Arsyad, pimpin do'a sebelum makan!” perintah Abraham.
__ADS_1
“Baik, Ayah,” balas Arsyad dan mulai berdo'a.
****
Sore hari.
Asyila keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, beberapa menit yang lalu wanita muda itu mengalami mual-mual.
“Syila beristirahatlah di rumah, kita tidak perlu menghadiri acara pernikahan itu,” ucap Abraham yang sangat kasihan dengan kondisi istri kecilnya yang sudah beberapa hari keluar masuk kamar mandi.
Asyila menggelengkan kepalanya, tanda ia tak setuju dengan ucapan suaminya.
“Kita tetap harus pergi, Mas. Kita sudah diundang dan akan sangat aneh kalau kita tidak datang,” balas Asyila.
“Meskipun kita tidak datang, Amplopnya pasti datang,” sahut Abraham.
Asyila mendekat dan menyentuh tangan suaminya. Wanita muda yang tengah berbadan dua itu mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan kondisinya yang sekarang sudah pernah ia alami sebelumnya ketika mengandung Arsyad dan juga Ashraf.
“Kita pergi ya Mas!” pinta Asyila yang memang sudah sangat lama tidak menghadiri acara apapun selama beberapa bulan terakhir.
Abraham berpikir sejenak dan akhirnya mengiyakan permintaan dari istri tercintanya itu.
“Tapi, kalau Syila merasa tidak enak badan, Mas saat itu juga akan membawa Asyila pulang. Bagaimana?”
“Setuju!” seru Asyila.
Asyila tersenyum bahagia, ia pun langsung membuka almari pakaiannya dan memilih pakaian gamis berwarna cokelat muda dengan hijab yang senada.
“Mas, pakai yang ini ya?” tanya Asyila memperlihatkan pakaian suaminya yang tentu saja sepasang dengan pakaian yang ingin dipakai Asyila.
“Boleh,” jawab Abraham.
Asyila cepat-cepat mengganti pakaiannya, wanita muda itu terlihat sangat bahagia sampai-sampai Abraham keheranan dengan istri kecilnya. Dikarenakan, beberapa menit yang lalu Sang istri masih terlihat lemas dan sekarang malah berbanding terbalik.
Abraham tak menjawab, justru pria itu semakin tersenyum lebar.
“Mas, jangan membuat Asyila berpikir bahwa Mas sedang kerasukan ya!”
“Suamimu ini insya Allah kuat iman, bagaimana bisa kerasukan?” tanya Abraham terheran-heran.
Asyila terkekeh geli dan mencubit dada suaminya dengan genit.
“Aww!” Abraham terkejut mendapati dadanya dicubit, “Ayo kita olahraga dulu!” ajak Abraham sambil tersenyum mesum.
“Dasar mesum,” celetuk Asyila sambil tertawa kecil.
“Mesum dengan istri sendiri dihalalkan dan justru mendapatkan pahala,” terang Abraham dan seketika itu membuat Asyila tidak bisa berkata-kata lagi.
Abraham mencubit sekilas hidung mancung Asyila dan membuat Asyila kembali tertawa.
Beberapa saat kemudian.
Abraham dan Asyila telah bersiap-siap untuk pergi ke acara pernikahan tersebut.
“Sayang, Ayah dan Bunda pergi dulu. Kalian mau Ayah dan Bunda bawakan apa?” tanya Asyila setengah membungkuk ketika berbicara dengan kedua buah hatinya.
Arsyad dan Ashraf langsung menggelengkan kepala mereka dengan alasan mereka tidak ingin dibawakan apapun. Mereka sudah sangat kenyang karena baru saja makan sore bersama Nenek serta Kakek mereka.
Asyila memanyunkan bibirnya dan menyentuh pipi keduanya dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Kalau begitu, Bunda belikan susu bagaimana? Kebetulan susu kalian berdua tinggal sendiri.”
__ADS_1
“Mau Bunda!” seru keduanya.
“Ok, Bunda akan belikan kalian susu. Selama Ayah dan Bunda pergi, kalian tidak boleh kemana-mana dan bermainlah di dalam rumah saja, tidak boleh keluar dari rumah. Dan satu lagi, Bunda tidak ingin mendengar apapun mengenai kalian yang bertengkar, mengerti!”
“Mengerti!” seru mereka berdua.
Abraham dan Asyila pun pamit kemudian, bersama-sama masuk ke dalam mobil dibantu oleh Pak Udin.
Selama perjalanan, Abraham maupun Asyila saling berpegangan tangan dengan sangat erat. Seakan-akan tidak ingin dipisahkan oleh siapapun.
“Mas...” panggil Asyila lirih.
Abraham mengiyakan dan langsung menoleh ke arah istri kecilnya yang duduk tanpa jarak disampingnya.
“Terima kasih,” bisik Asyila dan sekilas mengecup telinga Abraham.
Abraham seketika itu menelan saliva nya dengan susah payah, kecupan Asyila membuat sesuatu yang lain bangkit dan saat itu juga membuat Abraham frustasi.
“Mas kenapa?” tanya Asyila melihat wajah suaminya yang terlihat sangat menegang.
Abraham dengan cepat menggelengkan kepalanya dan sedikit tak nyaman dengan posisi duduknya.
“Mas kebelet buang air kecil ya?” tanya Asyila dan Abraham kembali menggelengkan kepalanya.
“Sudah jangan dipikirkan, bukan apa-apa. Kalau sudah sampai rumah, Syila pasti tahu sendiri,” jawab Abraham dan tersenyum aneh.
Abraham menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan sangat hati-hati.
“Terserah Mas saja,” balas Asyila.
Sesampainya di acara pernikahan, Asyila turun lebih dulu dari mobil. Kemudian, barulah suaminya turun dari mobil dengan dibantu oleh Pak Udin.
“Pak Abraham, Nona Asyila!” Sepasang suami istri itu setengah terkejut mendapati banyak orang yang mengenal mereka dan juga menyapa mereka dengan sangat ramah.
Seakan-akan, mereka adalah raja dan ratu di pesta pernikahan itu.
“Mas, kenapa Asyila merasa semua orang berpusat kepada kita?” tanya Asyila lirih sambil mendorong kursi roda.
“Mas pun merasa begitu,” jawab Abraham.
Seorang pria yang usianya 20 tahun lebih tua dari Abraham datang dan langsung menjabat tangan Abraham. Pria itu adalah orang yang sebelumnya mengundang Abraham dan Asyila untuk hadir di pernikahan putra tunggalnya.
“Apa kabar, lama tidak bertemu. Wah, istrimu ternyata lebih cantik dari yang di foto. Pantas saja kamu sangat jarang keluar setelah menikah,” ucap Pak Broto memuji kecantikan Asyila.
Abraham tersenyum dan mengucapkan selamat atas pernikahan putra tunggal dari Pak Broto.
“Assalamu'alaikum, selamat malam! Hadirin yang berbahagia, saya selaku pembawa acara akan menyampaikan hal penting dan sangat-sangat penting. Untuk itu, saya harap kalian semua memberikan tepuk tangan yang sangat meriah untuk sepasang suami istri ini. Siapa lagi kalau bukan Tuan Abraham dan Nona Asyila!”
Semua orang sontak menoleh ke arah Abraham dan Asyila sembari bertepuk tangan sekeras mungkin.
“Apa ini Pak Broto?” tanya Abraham terheran-heran.
Pak Broto hanya tersenyum lebar dan mengambil alih membawa Abraham menuju panggung. Asyila yang masih belum mengerti hanya bisa mengikuti langkah kaki Pak Broto menuju panggung.
Sesampainya di panggung, ternyata Pak Broto mengadakan acara pernikahan sekaligus acara untuk Abraham dan Asyila yang saat itu tengah berbahagia.
“Selamat untuk Tuan Abraham dan Nona Asyila yang akan menantikan kehadiran calon buah hati ke-tiga,” terang pembawa acara dan semuanya pun datang menghampiri mereka naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat atas kehamilan Asyila yang ketiga.
Abraham dan Asyila saling menatap satu sama lain karena keduanya sangat terkejut dengan apa yang terjadi malam itu. Pak Broto memang tipikal orang yang suka memberikan kejutan, di samping itu, Pak Broto mengucapkan terima kasih untuk kerjasamanya dengan perusahaan yang dibangun oleh Abraham Mahesa.
Ia sadar, bahwa kesuksesannya sekarang berkat Allah dan juga Abraham.
__ADS_1
Bahkan, putra tunggal Pak Broto sama sekali tidak iri dengan apa yang dilakukan oleh Ayahnya untuk sepasang suami istri itu. Justru, ia sangat mendukung karena pesta pernikahannya dihadiri oleh orang penting seperti Abraham Mahesa.