
Perumahan Absyil.
Merekapun bergegas turun untuk segera masuk ke dalam. Gadis kecil itu terlihat masih sangat ketakutan, meskipun Asyila sudah berusaha menenangkan Bela.
Asyila membawa Bela masuk ke dalam kamar milik Arsyad dan juga Ashraf. Di dalam kamar itu, Asyila kembali mencoba menenangkan Bela agar tak takut lagi.
“Bela sayang, lihat mata Aunty!” pinta Asyila.
Bela yang sedari tadi menundukkan kepala, perlahan mendongakkan kepalanya untuk melihat kedua mata indah milik Asyila.
“Mulai saat ini, Bela tidak akan pernah lagi mendapatkan pukulan atau siksaan yang dilakukan oleh orang tua Bela. Bela harus percaya kepada Allah dan juga kami, bisakah Bela mempercayainya?” tanya Asyila dengan tatapan serius.
Bela perlahan mengangguk kecil dengan tatapan penuh keyakinan dengan wanita cantik dihadapannya.
“Alhamdulillah, sekarang peluk Aunty!” pinta Asyila dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Bela tersenyum lebar dan memeluk Asyila seketika itu juga.
Asyila menangis terharu dan berjanji untuk membuat Bela bahagia.
Beberapa jam kemudian.
Asyila tersenyum manis ketika melihat Bela yang masih terlelap, Asyila merasa sangat lega karena kedua orang tua Bela sudah tidak bisa berbuat kejam kepada gadis kecil berumur 12 tahun tersebut.
“Aunty, sudah jam segini. Dyah harus pulang,” ucap Dyah lirih karena tak ingin membuat Bela terbangun.
Asyila tak langsung menjawab ucapan Dyah, malah Asyila menuntun Dyah untuk segera keluar dari kamar yang saat itu tengah digunakan oleh Bela untuk tidur.
“Dyah, boleh Aunty meminta satu permintaan dari kamu?” tanya Asyila yang keduanya sudah berada di luar kamar tidur.
“Tentu saja,” jawab Dyah yang tak berpikir terlebih dulu.
“Yakin?” tanya Asyila dan dengan cepat Dyah mengiyakan, “Karena kamu setuju, kalau begitu malam ini kamu, Fahmi dan cucu Aunty tidurlah di rumah ini. Malam ini saja!” pinta Asyila memohon.
“Ya ampun Aunty, tidak perlu sampai seperti itu. Bagaimanapun, Dyah sangat senang karena malam ini bisa tidur disini. Ya sudah, Dyah langsung pulang ya Aunty biar cepat kesini,” tutur Dyah dan memberikan Bayi Akbar kepada Asyila.
Setelah memberikan bayi tersebut ke gendongan Aunty tersayangnya, Dyah pun pamit dan cepat-cepat pulang agar pekerjaan di rumahnya selesai, sehingga dirinya dan keluarga kecilnya bisa segera menginap di rumah tersebut.
Ketika Dyah sudah benar-benar pergi, Asyila memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Mas di kamar ternyata, Asyila kira di ruang tamu,” tutur Asyila yang baru saja memasuki kamar dan melihat Sang suami sedang membaca buku di tempat tidur.
Abraham seketika itu menoleh ke arah istri kecilnya dan menutup kembali buku yang sedang ia baca.
__ADS_1
“Mas, bagaimana kalau untuk sementara waktu Bela tinggal disini?” tanya Asyila sembari meletakkan bayi mungilnya di tempat tidur.
“Boleh, justru Mas juga berpikiran seperti itu,” balas Abraham yang memang ingin memberikan Bela kenyamanan di rumahnya tersebut.
“Terima kasih, Mas. Asyila senang sekali,” tutur Asyila yang kini sudah berada di samping suaminya.
“Jangan mengucapkan terima kasih, seakan-akan Mas tidak sepihak dengan Syila,” balas Abraham dan menarik tubuh istri kecilnya ke dalam pelukannya.
“Mas, bisakah kita menjadi orang tua pengganti untuk Bela?” tanya Asyila serius.
“Maksud Syila?” tanya Abraham yang belum mengerti maksud istri kecilnya.
“Saat ini Bela begitu ketakutan, Mas. Kalau kita bisa menjadi orang tua pengganti untuk Bela, insya Allah Bela akan bisa kembali ceria seperti anak-anak yang lainnya. Asyila ingin Bela merasakan yang namanya bahagia,” terang Asyila.
Asyila terus berbicara sedetail mungkin perihal masalah Bela dan bagaimana Bela bisa hidup seperti anak-anak pada umumnya.
Abraham tersenyum dan dengan senang hati menyetujui keinginan istri kecilnya.
“Muaacchh... Muaaccchhh!” Asyila dengan semangat mencium pipi suaminya berulang kali.
“Syila senang?” tanya Abraham.
“Sangat senang, Mas. Asyila akan berusaha menjadi Ibu pengganti yang baik untuk Bela,” balas Asyila.
“Hehe... Iya Mas, kita berdua akan berusaha dan terus berusaha menjadi orang tua pengganti untuk Bela,” jelas Asyila.
Malam hari.
Asyila, Bela dan Dyah tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Sementara Abraham dan Fahmi sibuk berbincang-bincang di ruang tamu dengan menggendong bayi mereka masing-masing.
Malam itu, Bela terlihat sangat bahagia karena ia mendapatkan banyak baju baru dari Asyila serta Dyah.
“Bela suka dengan baju yang Kak Dyah belikan?” tanya Dyah.
“Suka, semua yang Aunty dan Kak Dyah belikan bagus-bagus. Bela belum pernah memiliki baju sebagus ini. Harganya pasti sangat mahal,” ucap Bela dengan tatapan polos.
“Bela ini bicara apa,” sahut Asyila sembari membelai lembut rambut pendek Bela.
Bela hanya tertawa kecil sembari memeluk baju baru miliknya.
“Bela, besok guru yang Aunty bicarakan nanti sore akan mengajar. Bela harus sudah siap ya, Insya Allah Ibu Ana orangnya baik dan yang pasti akan sabar dalam mengajari Bela membaca iqro,” terang Asyila dengan tatapan penuh kasih sayang.
“Bela tidak akan dipukuli lagi?” tanya Bela memastikan karena ia tidak ingin lagi mendapatkan siksaan seperti yang dilakukan oleh keduanya orangtuanya.
__ADS_1
Asyila dan Dyah seketika itu menatap wajah Bela dengan begitu sedih.
“Bela sayang, Bela kenapa berpikiran seperti itu? Aunty tidak akan mengizinkan siapapun orang untuk melakukan hal seperti itu terhadap Bela. Disini, kami semua saya Bela,” ucap Asyila yang kini tengah mendekap erat tubuh kurus Bela.
“Apa yang Aunty katakan benar, Bela. Kita semuanya sayang dan akan selalu melindungi Bela,” ujar Dyah yang juga mendekap erat tubuh Bela.
Bela hanya bisa menangis terharu, gadis kecil itu bingung harus mengucapkan apa karena Keluarga Abraham benar-benar membuatnya nyaman di rumah itu.
“Kok malah menangis? Mana senyumnya? Aunty dan Kak Dyah mau lihat senyum cantik Bela!” pinta Asyila.
Gadis kecil itu buru-buru menyeka air matanya dan perlahan memperlihatkan senyumnya ke arah Asyila dan juga Dyah secara bergantian.
“Nah, kalau senyum begitu Bela semakin tambah cantik,” puji Dyah.
Abraham datang menghampiri istri kecilnya dan memberikan Bayi mungil mereka ke dalam gendongan Asyila.
“Bayi kita dari tadi tidak mau tidur dan sedikit rewel,” terang Abraham.
Asyila tersenyum dan menciumi kedua pipi buah hatinya secara bergantian.
“Kesayangan Ayah dan Bunda kenapa belum mau tidur?” tanya Asyila dan memutuskan untuk menidurkan buah hatinya di dalam kamar.
Asyila pun pamit dan bergegas menuju kamar karena Bayi Akbar tiba-tiba rewel.
Kini, hanya ada Bela dan Dyah yang berada di ruang keluarga.
Keduanya saat itu terlihat sangat fokus menonton televisi.
“Kak Dyah, itu makanan apa?” tanya Bela ketika melihat ada iklan yang menawarkan pizza.
“Oh, yang tadi itu namanya pizza. Bela sudah pernah mencobanya?” tanya Dyah penasaran.
“Enak?” tanya Bela penasaran.
“Kalau Kak Dyah sebenarnya tidak terlalu suka sama Pizza, tapi kalau Bela mau mencobanya Insya Allah Kak Dyah belikan,” terang Dyah.
Bela tersenyum sembari membayangkan bagaimana enaknya pizza yang ada di iklan tersebut.
Kasihan sekali Bela ini, kedua orang jahat itu memang pantas mendekam di penjara.
Hampir 1 jam lamanya, mereka berdua menonton televisi dan tiba-tiba Bela beranjak dari duduknya karena merasa mengantuk.
Tak bisa menahan kantuknya, Bela pun memutuskan untuk segera tidur begitupun dengan Dyah yang juga bergegas masuk ke dalam kamar untuk segera berisitirahat.
__ADS_1