Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Harus Menjadi Istri Sekaligus Ibu Yang Kuat


__ADS_3

Malam hari.


Asyila duduk melamun didekat buah hatinya, ia hanya berharap agar semuanya segera membaik. Bagaimana jadinya, jika, suaminya disana dalam kondisi kritis?


Itulah yang selalu Asyila pikirkan. Disaat Sang suami membutuhkan istri disampingnya, Asyila tidak bisa.


“Aunty...” Dyah mendekat dan mencoba untuk mengajak Asyila berbicara agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


“Kamu kenapa belum makan?” tanya Asyila yang tersadar bahwa Dyah belum makan sedari tadi.


“Dyah akan makan kalau Aunty juga makan,” jawab Dyah yang sebenarnya perutnya sudah sangat lapar. Akan tetapi, Dyah harus menahannya agar Asyila mau ikut makan juga.


“Kamu makanlah dulu, Aunty akan makan nanti,” ucap Asyila lirih.


“Tidak. Kalau Aunty makan nanti, ya Dyah akan makan nanti,” balas Dyah.


Asyila tidak bisa mengabaikan Dyah, bagaimanapun jika Dyah sakit, Asyila lah yang akan merasa bersalah. Dengan kepintaran Dyah, akhirnya Asyila mau makan.


“Ya sudah, ayo kita makan.”


Yessss.... Akhirnya Aunty mau makan. Pokoknya selama aku disini, aku harus memastikan Aunty makan. Paman! Cepatlah sembuh ya disana. Kasihan Aunty disini.


Dyah tersenyum manis dan mulai membuka nasi bungkus yang ia pesan 2 jam yang lalu.


Asyila tak bisa menikmati makanannya, setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya mendadak menjadi hambar. Ia benar-benar tidak nafsu makan dan berusaha menelan makanannya agar Dyah tidak sakit.


“Aku sudah selesai,” ucap Asyila dan mengikat nasi bungkus itu.


“Kenapa makan hanya setengah Aunty?” tanya Dyah.


“Aku sudah kenyang, habiskan makananmu!” perintah Asyila.


“Aunty, kalau makan tidak boleh disisakan. Allah tidak suka,” ucap Dyah.


Asyila langsung tersadar dan kembali mengunyah makanannya.


Dyah dalam hatinya memuji dirinya sendiri, ia senang akhirnya Aunty-nya mau kembali makan nasi bungkam yang ia beli.


Suara ponsel Asyila berbunyi, Dyah yang sudah selesai makan cepat-cepat mengambil ponsel Aunty-nya.


“Hallo, Assalamu'alaikum,” ucap Dyah pada Arumi.


“Wa’alaikumsalam, apakah ini Dyah?” tanya Arumi yang hafal dengan suara Dyah.

__ADS_1


“Benar, Nenek,” jawab Dyah.


Asyila yang sedang makan cepat-cepat menghabiskan makanannya untuk mendengar kabar suaminya dari Sang Ibu.


“Biar Aunty yang bicara,” ucap Asyila dan Dyah pun memberikan ponsel tersebut kepada Asyila.


“Nak, ini Ibu. Bagaimana keadaan Ashraf disana?” tanya Arumi.


“Alhamdulillah, Ashraf mulai membaik,” jawab Asyila.


“Begini sayang, sebenarnya Ema melarang Ibu memberitahukan kamu bagaimana keadaan Nak Abraham saat ini. Tapi, Ibu tidak bisa diam begitu saja. Sebenarnya...”


“Ada apa Bu? Tolong jangan membuat Asyila takut,” ucap Asyila panik.


“Suamimu sampai sekarang belum juga sadar, sementara Nak Yogi Alhamdulillah baik-baik saja. Hanya beberapa bagian tubuh mengalami cedera,” terang Arumi.


“Mas Abraham kenapa sampai sekarang belum sadar Ibu? Ibu, tolong beritahu Asyila keadaan Mas Abraham sekarang dengan sejujur-jujurnya!” pinta Asyila.


“Kaki kiri suamimu patah dan kemungkinan untuk beberapa bulan ke depan hanya bisa menggunakan kursi roda. Untuk sekarang hanya itu yang bisa Ibu beritahukan kepada kamu, Ibu tutup dulu Assalamu'alaikum.”


Kaki Asyila seketika itu lemas, untungnya ada Dyah yang siap menahan tubuh Asyila.


“Paman pasti baik-baik saja, Aunty. Kalau Paman tahu Aunty menangis, pasti Paman akan sedih. Aunty harus kuat, kasihan adik-adik,” ucap Dyah.


“Kamu benar, Dyah. Sebagai istri dan juga Ibu haruslah kuat. Aunty tidak boleh lemah,” ucap Asyila berusaha untuk tetap tegar serta kuat.


Dyah sangat senang, akhirnya Aunty-nya yang kuat dan penuh semangat kembali lagi.


“Semangat, Aunty!” teriak Dyah memberi semangat.


Ponsel Asyila kembali berbunyi dan ternyata itu adalah pesan singkat dari sahabatnya, Ema. Asyila mulai membaca dan keterangan dari Ema sama persis dengan yang dikatakan oleh Ibunya.


Dunia seakan-akan telah runtuh karena ujian hidupnya kali ini sangatlah berat. Akan tetapi, Asyila memilih untuk terlihat baik-baik saja diluar dan sedih di dalam.


“Dyah, semoga saja dibalik ini semua ada sesuatu yang indah,” ucap Asyila lirih.


“Aamiin ya Allah.”


Asyila melirik ke arah Ashraf dan perlahan bangkit untuk membasuh wajahnya dengan air.


Dyah terus saja memperhatikan langkah kecil Aunty-nya yang terlihat tak berdaya. Dyah tiba-tiba merindukan suasana ramai di perumahan Absyil.


“Mungkin, beberapa hari ke depan aku tidak akan bisa melihat senyum ceria Aunty, ocehan Paman Abraham, mendengar cerita Arsyad selama disekolah dan kenakalan Ashraf,” ucap Dyah bermonolog.

__ADS_1


Semangat Aunty kesayangan Dyah. Aunty adalah idola Dyah sampai saat ini hingga nanti.


Asyila keluar dari kamar mandi, ternyata ia bukan hanya membasuh muka. Ia pun sekalian berwudhu agar tubuhnya sedikit segar.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 09.25 WIB. Dyah pun mengajak Asyila untuk bergegas tidur, Dyah tahu bahwa sejak pagi Aunty-nya belum tidur dikarenakan pikiran istri kecil Pamannya sedang tak karuan.


Disisi lain.


Ema sedang duduk sembari meratapi nasib sahabatnya. Meskipun saat itu, Yogi pun terlibat dalam kecelakaan beruntun dan mobil rusak parah. Akan tetapi, itu tidak seberapa dibandingkan dengan penderitaan Asyila.


Ema tidak berani membayangkan jika dirinya berada diposisi Asyila, mungkin Ema akan menjadi gila dan bertindak bodoh.


Asyila bukan wanita sembarangan, ia adalah wanita yang kuat.


Meskipun begitu, tetap saja wanita pada dasarnya lemah jika telah menyangkut soal keluarga.


“Hiks... hiks.... Saat ini pasti Asyila sedang rapuh dan juga sedih. Kenapa cobaan selalu datang kepada orang baik seperti Asyila dan juga Pak Abraham? Tolong jangan berikan mereka cobaan seperti ini Ya Allah!” pinta Ema yang terlihat sangat kesal sembari terus menangis.


Ema duduk meringkuk bersandar pada dinding di dalam ruang rawat suaminya, Yogi.


Di dalam ruangan itu hanya ada Ema dan Yogi yang sedang tertidur. Sementara Kahfi sedang berada di rumah Icha, Ibu dari Ema.


Wati masuk ruangan dan terkejut melihat menantunya menangis histeris.


“Ema, kamu kenapa?” tanya Wati panik.


Ema mendongak dan memeluk tubuh Ibu mertuanya.


“Ibu, apakah Pak Abraham akan baik-baik saja? Ema sangat kasihan dengan Asyila. Tidak hanya Pak Abraham yang saat ini terluka, kedua anaknya pun sedang tidak baik-baik saja. Arsyad sekarang berada di rumah sakit karena sakit tipes dan Ashraf pun saat ini sakit demam berdarah. Hiks... hiks.... Ema sangat kasihan dengan Asyila, Ibu. Pasti sekarang Asyila sangat sedih,” jelas Ema yang tak malu menangis sejadi-jadinya di pelukan Ibu mertuanya.


Wati yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ema, akhirnya ikut sedih. Wati adalah seorang Ibu dan ia pun pernah berada diposisi Asyila. Akan tetapi, tidak separah yang dialami oleh Asyila.


“Tenang ya Nak! Sahabatmu, Asyila pasti sangat sedih. Akan tetapi, Asyila bukan wanita yang lemah. Meskipun tidak sering bertemu dengan sahabatmu, Ibu tahu bahwa sahabatmu adalah wanita yang kuat. Bahkan, lebih kuat daripada menantu Ibu ini,” ucap Wati dan melepaskan pelukan Ema.


Wati tersenyum dan menghapus air mata menantunya dengan penuh kasih sayang. Bisa dikatakan, Wati sangat menyayangi menantunya itu.


“Sekarang yang dibutuhkan oleh sahabatmu adalah do'a. Ayo kita do'akan agar keluarganya cepat diberikan kesembuhan!” ajak Wati.


Ema mengangguk dengan semangat, apa yang dikatakan oleh Ibu mertuanya sangatlah benar. Keduanya pun melaksanakan sholat sunah dan meminta kesembuhan untuk Abraham, Arsyad dan juga Ashraf.


Usai memanjatkan do'a untuk keluarga Asyila, kedua pun bergegas untuk beristirahat.


Terima kasih atas like dan komen kalian 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2