
“Bunda!” Arsyad dan Ashraf kompak berlari mendekati Bunda mereka.
Tubuh Arumi gemetar hebat melihat putri kesayangannya yang selama ini ia rindukan ada dihadapannya dengan sangat jelas.
“Semuanya, ini wanita yang selama ini kita rindukan dan sekarang sudah kembali bersama dengan kita,” terang Abraham dan mengecup kening Sang istri di depan para keluarga.
“Asyila? Benarkah ini Asyila? Ya Allah, ini putri Ibu?” Arumi mendekat dan seketika itu menangis histeris.
“Hiks.. hiks... Iya Ibu. Ini putri Ibu dan Ayah,” balas Asyila yang saat itu tak bisa membendung air matanya yang sudah meronta-ronta untuk segera menetes.
Dyah menjerit keras karena saking bahagianya mengetahui bahwa Aunty-nya masih hidup.
“Aunty! Aunty Asyila!” teriak Dyah.
Dyah menangis terharu dan berulang kali meminta maaf atas apa yang telah terjadi.
“Ya Allah, terima kasih. Aunty tolong maafkan atas kesalahan Dyah selama ini. Ya Allah, Dyah merasa ingin seperti mukjizat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” terang Dyah dan tak henti-hentinya menangis terharu.
Temmy maupun Yeni pun mendekat dan mereka tak bisa berkata-kata lagi. Mereka sangat tercengang melihat istri dari Abraham Mahesa itu.
“Hiks.. hiks... Mas, Aunty Asyila telah kembali,” ucap Dyah kepada suaminya yang saat itu juga tengah menangis.
Fahmi mengangguk mengiyakan dan terlihat jelas bahwa Fahmi masih tak menyangka dengan apa yang ia lihat.
“Mbak Yeni dan Abang Temmy kenapa melihat Asyila seperti itu? Ini Asyila telah kembali,” ujar Asyila sambil menyeka air matanya yang terus mengucur deras.
Yeni mendekat dan dengan lembut menyentuh pipi Asyila.
“Ya Allah, ini benar Asyila,” tutur Yeni.
Kembalinya Asyila membuat yang lainnya sangat bahagia. Mereka pun merasa sangat lega dan meminta maaf kepada Asyila secara langsung mengenai kematiannya.
“Mbak dan Abang mu ini benar-benar sedih ketika tahu bahwa kamu meninggal dunia. Kemarin, Dyah dan Fahmi datang ke rumah. Mereka tiba-tiba menangis dan memberitahukan semuanya. Akan tetapi, rasa sedih yang Mbak rasakan akhirnya hilang ketika melihat Asyila sudah kembali ke rumah ini dengan keadaan yang sangat sehat,” ungkap Yeni.
Asyila tersenyum lebar dan meminta semuanya untuk tak lagi mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
“Ayah, Ibu, Dyah, Fahmi, Mbak Yeni dan Abang Temmy,” ucap Asyila menyebutkan nama mereka semua agar terdengar lebih sopan sekaligus menghargai keluarganya itu, “Sekarang kami sudah aman disini dan tolong jangan menangis lagi!” pinta Asyila.
Yeni mengambil alih menggendong bayi Akbar yang usianya baru 1 bulan.
“Apakah ini keponakan baru kami?” tanya Yeni menatap kagum bayi yang sedang berada di gendongannya.
“Iya, Mbak. Namanya Akbar Mahesa,” jawab Asyila.
Dengan cepat, bayi mungil itu dikerumuni oleh para keluarga yang lainnya. Mereka menatap bayi Akbar dengan tatapan penuh kebahagiaan.
“Sangat mirip dengan Ayahnya,” tutur Arumi.
“Iya, Ibu Arumi,” sahut Yeni.
“Akbar, kenalkan ini Kak Dyah, Kak Fahmi, Nenek Arumi, Kakek Herwan, Mama Yeni, Papa Temmy dan terakhir Asyila. Putri dari Kak Fahmi dan Kak Dyah,” terang Abraham panjang lebar.
Beberapa saat kemudian.
Para wanita sedang berada di dalam kamar, menemani Asyila dan bayi mungilnya. Sementara para pria, termasuk Arsyad dan Ashraf berada di ruang tamu memilih berbincang-bincang.
Arumi, Yeni dan Dyah masih saja melihat Asyila dengan tatapan tak percaya dengan kembalinya Asyila beserta bayi mungilnya, Akbar.
“Kami masih tak percaya dengan apa yang kami lihat, Sayang. Apa yang sebenarnya terjadi kepada kamu, sampai-sampai kamu tidak segera pulang?” tanya Arumi penasaran dan pertanyaan itu mewakili rasa penasaran Dyah serta Yeni.
“Banyak hikmah yang bisa Asyila petik dari kejadian yang telah Asyila dan juga bayi Akbar alami. Kalau saja Asyila tidak mengalami hal seperti itu, mungkin Asyila tidak bisa berada diantara mereka yang kesusahan,” terang Asyila.
“Kesusahan? Maksudnya Aunty Asyila?” tanya Dyah yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya yang sangat tinggi.
“Selama Aunty tidak pulang, Aunty berada di Salatiga Jawa tengah. Disana ada sebuah desa terpencil yang bisa dikatakan pendidikannya sangat kurang dan entah kenapa, Aunty merasa ada sebuah panggilan untuk mengajar anak-anak TK. Kebetulan juga, Pak Antok yang menolong Aunty adalah seorang guru TK dan dari sanalah kisah hidup Aunty dimulai,” ungkap Asyila sambil tersenyum bahagia.
“Aunty sungguh senang disana?” tanya Dyah memastikan.
“Bisa dikatakan sangat senang, karena disana Aunty tidak hanya mengajar anak-anak TK. Tetapi, banyak hal yang Aunty lakukan disana dan beruntungnya, kehamilan Aunty terasa sangat menyenangkan,” jawab Asyila.
“Lalu, kenapa Aunty tidak langsung pulang kemari?” tanya Dyah kembali.
__ADS_1
Asyila perlahan menggelengkan kepalanya.
“Sebelumnya, maaf karena selama ini Asyila tidak pulang,” tutur Asyila sambil menoleh ke arah Arumi dan juga Yeni, “Asyila tidak bermaksud seperti itu. Akan tetapi, keadaan disana bisa dikatakan sangatlah miris. Banyak para kepala keluarga yang pengangguran dan hanya mengandalkan sawah mereka yang tidak setiap hari bisa menghasilkan uang. Pokoknya, kalau Asyila ceritakan lebih detail Asyila pasti tidak akan sanggup,” jawab Asyila dan kembali berlinang air mata ketika mengingat kesusahan yang dialami oleh masyarakat tersebut.
Arumi bergeser mendekati putri kesayangannya.
“Kalau Syila belum sanggup cerita ya tidak apa-apa. Intinya kami senang karena Syila telah kembali, kalau tidak akan banyak wanita yang mencoba mengejar Nak Abraham. Terlebih lagi Salsa yang ternyata adalah wanita sakit jiwa,” ucap Arumi dan seketika itu menutup mulutnya rapat-rapat karena ia keceplosan berbicara.
“Salsa? Siapa wanita itu, Ibu?” tanya Asyila terkejut.
“Sayang, untuk masalah wanita itu biar Nak Abraham saja yang menceritakan semuanya. Sekarang, Asyila harus beristirahat. Besok, kita akan sangat sibuk,” ucap Arumi.
“Ini masih jam 2 Ibu, lagipula Asyila baik-baik saja,” balas Asyila yang masih ingin bersama mereka bertiga.
“Asyila, yang dikatakan Ibu Arumi ada benarnya. Kamu harus beristirahat,” sahut Yeni.
Mereka bertiga pun akhirnya meninggalkan Asyila dikamar bersama dengan bayi mungilnya.
Arumi menghela napasnya setelah keluar dari kamar putrinya. Lalu, air matanya tiba-tiba kembali menetes.
“Nenek kenapa?” tanya Dyah.
“Sekarang Nenek tidak khawatir lagi, kedepannya hidup kita akan kembali berwarna setelah kembalinya Asyila,” ungkap Arumi.
“Hiks.. hiks... Nenek benar sekali. Sekarang, perasaan Dyah kembali bersemangat,” sahut Dyah sembari menyeka air matanya.
Yeni memeluk putrinya dengan perasaan yang begitu damai.
“Sekarang, putri Mama jangan bersedih. Kan, Aunty Asyila sudah kembali. Ayo tunjukkan senyumnya!” pinta Yeni agar putrinya mau tersenyum.
Dyah tertawa kecil dan melebarkan senyumnya sampai-sampai kedua matanya menyipit.
“Nah, itu baru namanya Dyah. Ayo kita turun!”
Ketiganya perlahan turun untuk kembali bergabung dengan para pria yang berada di ruang tamu.
__ADS_1
“Mas, sini Asyila biar Dyah yang gendong,” ucap Dyah dan mulai menggendong bayinya yang berumur 5 bulan itu.
Abraham ❤️ Asyila