
beberapa bulan kemudian.
Usaha kue kacang dan juga gerai muslimah miliknya sudah banyak dikenal oleh masyarakat. Bahkan, Asyila tidak perlu melakukan promosi karena para pelanggan sudah banyak yang berdatangan ke rumah untuk membeli produk jualannya itu.
“Selamat siang, Nona Asyila. Kue kacangnya sangat enak, banyak yang pesan sama saya,” ucap salah salah customer Asyila.
“Selamat siang juga Mbak. Alhamdulillah, saya juga ikut senang. Panggil saya Mbak atau Ibu saja, tolong jangan memanggil saya dengan sebutan Nona!” pinta Asyila yang memang tak suka dengan panggilan tersebut.
“Teteh geulis, bagaimana?” tanya wanita itu.
Asyila tertawa kecil dan mengiyakan saja daripada harus dipanggil dengan sebutan Nona Asyila.
“Teteh geulis, pesanan saya itu melonjak drastis. Saya sangat senang, semoga setiap hari jualan saya makan lancar sehingga bisa order terus-menerus pada teteh geulis,” ungkapnya.
“Alhamdulillah, saya senang sekali. Semoga rezeki kita ini berkah ya Mbak,” tutur Asyila.
Asyila pun pamit ke dalam sementara wanita itu tengah sibuk melihat-lihat produk pakaian muslimah milik Asyila.
Asyila masuk ke dalam rumah untuk melihat bayi mungilnya yang berada di ruang keluarga bersama dengan suami tercinta.
“Akbar rewel tidak Mas?” tanya Asyila karena hampir 2 jam Asyila berada di dalam gerai tokonya.
Sekitar 1 bulan yang lalu, Abraham merenovasi ruangan yang biasa digunakan oleh istri kecilnya untuk menjahit pakaian menjadi ruangan seperti toko pada umumnya. Semenjak ruang tersebut menjadi tempat bisnis Asyila, produk pakaian muslimah Asyila semakin dikenal oleh penghuni perumahan Absyi hingga keluar daerah. Karena selain harganya yang murah, motif serta kualitasnya tidak perlu diragukan lagi.
“Alhamdulillah, bayi kita sama sekali tidak rewel. Oya, Mas lupa memberitahukan Asyila kalau istri dari rekan kerja Mas, memesan gamis tulip yang kemarin sebanyak 3 kodi,” terang Abraham.
“Alhamdulillah, Masya Allah Asyila sangat senang sekali. Semakin hari pakaian Asyila semakin laris, Mas. Kalau begini terus, Asyila pasti akan sangat sibuk,” tutur Asyila.
Sekarang, orang yang Asyila pekerjakan untuk menjahit pakaian sudah ada 5 orang, sehingga Asyila tidak perlu lagi turun tangan untuk menjahit pakaian dan hanya sesekali memeriksa jahitan sudah rapi atau belum.
“Oya, gamis tulip apakah sudah ready?” tanya Abraham.
“Memangnya istri teman kerja Mas antah ingin mengambil hari apa? Kemungkinan lusa barangnya sudah ready,” terang Asyila.
“Syukurlah, sebenarnya diambil hari Kamis,” ujar Abraham.
“Mas, Asyila ke belakang dulu ya. Mau menyiapkan makan siang untuk para pekerja,” tutur Asyila yang menyiapkan sendiri masakan untuk para pekerja yaitu 3 orang pembuat kue kacang dan 5 orang penjahit pakaian.
Disaat yang bersamaan, Ema sedang berada di rumah seorang diri dan sudah beberapa hari terakhir dirinya merasa tidak enak badan. Ema bahkan sulit untuk makan karena setiap makanan yang masuk ke dalam mulutnya selalu ia muntahkan kembali.
“Abang Yogi dan Kahfi kenapa belum pulang? Bukankah sudah dari jam 8 tadi keluarnya dan ini sudah jam 1 siang,” tutur Ema yang baru saja dari dalam kamar mandi.
Ema berjalan perlahan menuju almari pakaiannya. Lalu, ia mengambil salah satu hijab miliknya dan mengenakannya. Setelah itu, ia berjalan keluar dari kamar untuk pergi menemui sahabatnya, Asyila.
Ema terus melangkahkan kakinya dan akhirnya sampai juga di depan pintu rumah keluarga kecil dari sahabatnya.
Asyila yang saat itu tengah berbincang-bincang dengan para karyawatinya, terkejut melihat Ema datang dengan wajah memucat.
“Ema, kamu sedang sakit? Ayo aku bantu kamu masuk ke dalam,” tutur Asyila memapah Ema dan menuntun Ema ke ruang keluarga.
Abraham yang saat itu tengah duduk di sofa, langsung pindah ke sofa lain agar Ema bisa segera duduk.
“Ema kenapa, Syila?” tanya Abraham menyadari bahwa Ema sedang tidak baik-baik saja.
“Asyila juga tidak tahu, Mas. Ema tiba-tiba datang dengan wajah pucat seperti ini,” terang Asyila menoleh ke arah suaminya.
Ema ingin mengatakan sesuatu, akan tetapi tiba-tiba ia pingsan tak sadarkan diri.
“Ema kamu kenapa?” tanya Asyila dengan berteriak karena terkejut dengan Ema yang tiba-tiba pingsan.
Asyila dengan hati-hati membetulkan posisi Ema agar berbaring di sofa. Sementara Abraham, langsung menghubungi salah satu dokter kenalannya untuk segera datang ke perumahan Absyil memeriksa kondisi Ema.
“Mas, Ema kenapa ya tiba-tiba pingsan begini? Coba hubungi Pak Yogi!” pinta Asyila.
Abraham hampir saja melupakan Yogi, suami dari Ema.
Abraham menghubungi nomor telepon Yogi, akan tetapi nomor tersebut berada di luar jangkauan alias tidak aktif.
“Nomor Yogi tidak aktif,” ucap Abraham.
“Mas, Asyila takut Ema kenapa-kenapa. Tidak biasanya Ema sakit seperti ini,” tutur Asyila dengan terus menyentuh tangan sahabatnya.
Beberapa menit kemudian.
Ema perlahan membuka matanya dan ternyata Asyila masih setia berada disisi Ema.
“Ya Allah, syukurlah kamu sudah sadar. Ini ada teh, minumlah,” ucap Asyila dan dengan perhatian membantu Ema untuk minum teh hangat tersebut.
Setelah Ema minum setengah gelas teh, Asyila pun mengajak Ema beristirahat di dalam kamar sekaligus menunggu dokter yang beberapa saat lalu telah dihubungi oleh Abraham untuk memeriksakan kondisi Ema.
__ADS_1
“Terima kasih, Asyila,” ucap Ema yang telah berbaring di tempat tidur.
“Ema, kenapa kamu bisa sakit seperti ini?” tanya Asyila yang sangat khawatir.
“Aku juga tidak tahu, Asyila. Sudah beberapa hari ini aku tidak nafsu makan dan sering mual,” jawab Ema lirih.
“Apa kamu memilih penyakit asam lambung atau semacamnya?”
“Sepertinya tidak,” balas Ema dan perlahan memejamkan matanya karena tiba-tiba pusing kembali menyerangnya.
Abraham mengetuk pintu kamar dan mengatakan bahwa dokter yang ia panggil sebelumnya telah tiba.
Asyila saat itu bergegas membukakan pintu untuk dokter wanita tersebut.
Kini, di dalam kamar tersebut terdapat tiga orang. Yaitu, Asyila, Ema dan dokter wanita bernama Intan.
“Dengan Mbak siapa?” tanya dokter itu kepada Ema.
“Ema,” jawab Ema lirih.
“Tolong ceritakan keluhan Mbak Ema apa?” tanya dokter itu sembari memeriksa denyut nadi Ema.
Dokter tersebut tiba-tiba tersenyum dan meminta izin untuk menyentuh perut Ema. Ema mengiyakan dengan perlahan.
“Apakah Mbak Ema sering mengalami mual? Atau sulit menelan makanan?”
“Kok dokter bisa tahu?” tanya Ema yang belum memberitahukan keluhannya.
Dokter wanita itu tersenyum sembari menatap Ema dan Asyila secara bergantian.
“Dok, kenapa malah senyum? Sebenarnya ada apa dengan sahabat saya?” tanya Asyila yang agak gereget dengan dokter tersebut.
“Selamat, Mbak Ema saat ini tengah hamil,” ungkap dokter wanita bernama Intan.
Ema terperangah mendengar bahwa dirinya kini tengah berbadan dua setelah penantian yang cukup lama.
“Alhamdulillah, akhirnya Do'a mu dikabulkan oleh Allah. Selamat Ema!” Asyila mendekat dan menyentuh tangan sahabatnya untuk memberikan selamat atas kehamilan tersebut.
Ema tak bisa berkata-kata lagi. Ia benar-benar sangat bahagia seakan-akan itu adalah mimpi yang sangat indah.
“Ema, kamu hamil,” terang Asyila sembari menyentuh wajah Ema.
Ketika Ema hampir putus asa, Allah datang dan menitipkan malaikat kecil ke dalam perutnya.
Dokter itupun menangis terharu melihat Asyila dan juga Ema yang begitu bersyukur atas kehamilan tersebut.
Dokter itu keluar dan ternyata Abraham masih setia menunggu di depan pintu kamar.
“Ema kenapa?” tanya Abraham tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
“Mbak Ema positif hamil,” terang Dokter Intan dan memberikan resep obat untuk Ema agar mengurangi rasa mual dan kelelahan.
Abraham menerima resep tersebut dan mentransfer uang ke dalam rekening dokter Intan.
Dokter itu berterima kasih dan melenggang pergi meninggalkan rumah tersebut.
Abraham mengucap syukur, bagaimana Ema dan Yogi memang telah mendambakan adik untuk Kahfi.
Asyila keluar dari kamar dan seketika itu memeluk suaminya.
“Mas!” teriak Asyila dengan sangat gembira. “Ema akhirnya hamil, sebentar lagi Kahfi punya adik,” sambung Asyila.
Abraham sangat senang karena kehamilan Ema membawa kebahagiaan untuk istri kecilnya.
Setelah memeluk suaminya, Asyila kembali masuk ke dalam kamar untuk menemani Ema yang berada di dalam kamar.
“Ema, kamu mau minum atau makan apa? Biar aku yang buat atau kamu ingin makan makanan dari luar? Biar aku pesankan,” ucap Asyila yang begitu perhatian dengan sahabatnya.
Ema perlahan beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh sahabatnya.
“Asyila, terima kasih banyak. Berkat Do'a mu serta keluargamu aku akhirnya hamil. Abang Yogi pasti sangat senang mengetahui bahwa aku akhirnya hamil anak kedua,” ungkap Ema.
“Tentu saja, Pak Yogi pasti sangat senang. Sekali lagi selamat ya Ema, aku sangat senang dan benar-benar bahagia,” terang Asyila.
Disaat yang bersamaan, Yogi tiba di rumah setelah mengalami ban bocor. Ia mengetuk pintu berulang kali, akan tetapi tidak ada respon dari dalam rumah.
“Papa, Mama pasti di rumah Bunda Asyila dan Ayah Abraham,” ucap Kahfi karena biasanya Ema datang ke samping rumah.
“Ayo sayang, kita susul Mama. Ponsel Papa mati, jadinya tidak bisa menghubungi Mama,” ucap Yogi dan mengajak putra kecilnya untuk mengunjungi rumah sahabatnya.
__ADS_1
Yogi dan Kahfi tiba tepat di depan pintu rumah Abraham.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Yogi dan juga Kahfi kompak.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, kau dari mana saja? Cepat temui Ema, Ema pingsan di dalam,” ucap Abraham dengan wajah panik.
Saat itu juga Yogi berlari ke dalam untuk melihat istrinya.
“Abraham, dimana istriku?” tanya Yogi panik seperti orang yang kebakaran jenggot.
Abraham tertawa kecil melihat reaksi Yogi yang begitu panik.
“Kau ini, sahabat lagi panik begini, bukannya sedih malah tertawa,” ucap Yogi.
“Masuklah ke dalam, istrimu ada di dalam dan sedang berbaring!” Abraham tersenyum dan menunjuk ke arah kamar yang sedang ditempati oleh Ema.
Yogi menggandeng tangan Kahfi dan berlari kecil memasuki kamar tersebut.
“Ema sayang, kamu kenapa?” tanya Yogi dan melihat wajah istrinya yang sudah memucat.
Asyila yang berada di dalam kamar itu, memutuskan untuk keluar dan memberi keluarga kecil itu privasi.
“Abang...” Melihat wajah suaminya, Ema malah menangis dan membuat Yogi semakin panik.
“Adik kenapa? Apanya yang sakit? Kita ke rumah sakit ya!”
Ema menggelengkan kepalanya tanda bahwa dirinya tak mau pergi ke rumah sakit.
“Abang, sebentar lagi Kahfi akan dipanggil Kakak,” tutur Ema yang tak langsung mengatakan bahwa dirinya tengah berbadan dua.
“Kakak? Maksudnya?” tanya Yogi yang belum paham dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
“Kak Kahfi!” panggil Ema dan Kahfi pun perlahan mendekat pada Mamanya.
Ema tersenyum dan mengelus-elus perutnya.
Deg!!!!!
Saat itu juga Yogi paham maksud dari perkataan istrinya. Ia bersujud kepada Allah dan kemudian, memeluk serta menciumi seluruh wajah istrinya.
“Ya Allah, benarkah semua ini?” tanya Yogi dan perlahan mencium perut istrinya yang tertutup kain.
Kahfi terheran-heran dan malah menjadi takut melihat kedua orangtuanya menangis bersamaan.
“Kahfi, kemari!” panggil Yogi pada Kahfi yang malah melangkah mundur.
Kahfi perlahan melangkahkan kakinya mendekati kedua orangtuanya.
“Kahfi sebentar lagi punya adik,” ungkap Yogi. “Sekarang, adik Kahfi sedang tidur di perut Mama,” imbuh Yogi pada putra kecilnya.
Kahfi akhirnya ikut menangis, ia menangis terharu karena sebentar lagi dirinya memiliki adik bayi.
“Kahfi senang, Nak?” tanya Ema.
“Senang sekali, Mama. Pasti adik Kahfi lucu seperti adiknya Ashraf,” jawab Kahfi.
Ema tersenyum bahagia dan meminta suaminya untuk membawanya pulang ke rumah mereka.
Yogi mengiyakan dan untuk pertama kalinya Yogi menggendong tubuh Ema.
“Abang, jangan gendong Ema. Malu tahu,” ucap Ema yang sedang berada di gendongan suaminya.
Yogi diam tak merespon dan malah meminta Kahfi untuk segera membukakan pintu.
Yogi perlahan melangkah keluar sementara Ema memutuskan untuk memejamkan matanya.
Abraham serta Asyila terkejut melihat bagaimana kerennya Yogi menggendong Ema.
“Mas, kok Asyila yang jadinya salah tingkah,” ucap Asyila yang kini menyembunyikan wajahnya di dada Abraham.
Yogi pamit dan melenggang pergi meninggalkan kediaman keluarga kecil sahabatnya.
Apa yang dilakukan Yogi, juga disaksikan oleh para pelanggan Asyila.
Yogi sama sekali tak mempedulikan pandangan tersebut, terpenting baginya untuk segera pulang ke rumah.
Abraham baru ingat bahwa catatan resep obat dokter milik Ema berada ditangannya. Ia pun mengirim catatan resep obat tersebut lewat aplikasi WhatsApp.
“Abang, kenapa harus menggendong Ema seperti itu? Ema malu,” ucap Ema yang sudah berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
“Sudah tidak apa-apa, sekarang Abang yang akan mengurus adik,” ucap Yogi dan mencharger ponsel miliknya yang kehabisan tenaga.