
Asyila keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang setengah menggigil karena dinginnya air, sebenarnya Asyila sudah menggunakan air hangat. Akan tetapi, rasanya masih seperti air dingin baginya.
“Syila kalau kedinginan, sini Mas peluk biar hangat!” Abraham tersenyum dan bersiap-siap untuk memeluk istri kecilnya yang masih menggunakan jubah handuk.
“Peluk yang erat ya Mas!” pinta Asyila pada suaminya yang telah mengenakan pakaian.
“Tentu saja,” balas Abraham sambil memeluk tubuh istri kecilnya.
Ketika keduanya sedang berpelukan, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
“Bunda, ayo sahur!” Ashraf memanggil Bundanya untuk segera sahur.
Ashraf maupun yang lainnya tak tahu jika suami dari Asyila telah kembali ke rumah.
“Sebentar ya sayang, sebentar lagi Bunda akan menyusul!” seru Asyila dari dalam kamar.
“Baik, Bunda. Ashraf tunggu di meja makan ya!”
“Iya sayang!” seru Asyila.
Asyila bergegas mengenakan pakaiannya untuk segera menyusul keluarga yang lain untuk sahur bersama.
“Mas, yang lain pasti akan terkejut melihat Mas Abraham sudah ada di rumah,” tutur Asyila sambil mengenakan pakaiannya.
Abraham hanya diam dan malah menciumi tengkuk leher istri kecilnya berulang kali.
“Mas, kita harus segera sahur. Apakah yang tadi tidak cukup?” tanya Asyila yang telah selesai mengenakan pakaiannya.
“Kalau ditanyakan apakah tidak cukup? Tentu saja tidak lah cukup,” balas Abraham.
Asyila berbalik dan menyentuh bibir suaminya dengan jemari tangannya.
“Kalau begitu, besok lagi ya Mas Abraham. Sekarang kita harus ke ruang makan, yang lain pasti sedang menunggu kita!”
Abraham mengiyakan dan merangkul pinggang istri kecilnya untuk segera berkumpul bersama keluarga yang lain di ruang makan.
“Paman!” Dyah terkejut sekaligus senang melihat Pamannya yang telah kembali.
“Nak Abraham,” ucap Arumi dan juga Herwan yang tak tahu bahwa menantu kesayangan mereka telah kembali dari Jakarta.
“Nak Abraham kapan datang? Kenapa Ayah dan Ibu tidak tahu?” tanya Herwan terheran-heran.
Abraham mendekat dan mencium punggung tangan kedua mertuanya secara bergantian. Kemudian, Arsyad dan juga Ashraf bergantian mencium punggung tangan Ayah mereka tercinta.
“Maaf membuat Ayah, Ibu serta yang lain terkejut. Mas Abraham pulang larut malam dan tidak enak jika harus membangunkan yang lain,” jawab Asyila mewakili suaminya.
“Syukurlah kalau sudah pulang, istrimu ini hampir tiap malam selalu menunggumu, Nak Abraham,” ujar Arumi dengan melirik ke arah Asyila.
“Ibu, jangan berkata seperti itu,” sahut Asyila dengan malu-malu.
“Sudah-sudah, ayo kita sahur bersama,” tutur Herwan agar segera sahur bersama.
***
Siang hari.
Arumi, Asyila dan juga Dyah sedang asik berbincang-bincang di ruang keluarga, mereka bertiga tengah memperbincangkan mengenai lebaran idul Fitri.
“Dyah, kamu yakin lebaran disini?” tanya Arumi untuk memastikan kembali keinginan Dyah yang ingin sholat Ied di Jakarta.
“Nenek tidak perlu khawatir, Dyah sudah membicarakan hal ini sebelumnya kepada Mama dan juga Papa di Bandung. Lagipula, keluarga Mas Fahmi juga kebanyakan tinggal disini,” terang Dyah.
Asyila tersenyum manis melihat bagaimana Dyah berbicara.
“Oya, rencana Aunty setelah lebaran mau kemana? Apakah tetap disini?” tanya Dyah penasaran.
“Setelah lebaran, tentu saja kami akan kembali ke Bandung. Aunty ingin kembali membuka bisnis pakaian muslim, sekaligus membantu perekonomian tempat dimana Mbah Tedjo, Mbak Menik serta yang lain tinggal di daerah itu,” terang Asyila.
“Oh, tempat yang Aunty ceritakan itu,” sahut Dyah.
“Iya, Dyah sayang,” balas Asyila yang sebelumnya menceritakan tempat dimana Abraham membeli tanah untuk membangun tempat ibadah sekaligus membantu perekonomian daerah tersebut.
__ADS_1
Ashraf tiba-tiba muncul dan langsung duduk di pangkuan Bundanya.
“Bunda, tidak apa-apa ya?” tanya Ashraf memastikan bahwa Bundanya tidak keberatan karena harus memangku dirinya.
“Iya sayang, tidak apa-apa. Ashraf masih kuat puasanya?” tanya Asyila penasaran.
“Masih dong Bunda!” seru Ashraf dengan mengacungkan jempol tangannya.
“Anak pintar,” puji Asyila pada Ashraf, “Oya, sayang. Kak Arsyad dan Kak Bela mana?” tanya Asyila karena tak melihat Arsyad maupun Bela.
“Di halaman belakang, Bunda,” jawab Ashraf.
Ashraf saat itu juga turun dari pangkuan Bundanya dan berlari kecil menuju halaman belakang rumah untuk kembali bermain dengan Arsyad dan juga Bela.
“Pak Udin dan Pak Eko kenapa belum kembali juga ya? Apa mereka kesulitan mencari bahan untuk membuat kue serta roti untuk lebaran besok?” tanya Dyah yang sudah hampir 3 jam lamanya kedua pria itu belum juga kembali.
“Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai,” balas Asyila dengan tenang.
Baru saja Asyila selesai berbicara, Pak Udin dan juga Eko tiba-tiba datang menghampiri mereka dengan membawa 5 kantong plastik berukuran cukup besar.
“Maaf semuanya, kami lama karena ada sedikit masalah,” ucap Pak Udin.
“Oh, tidak apa-apa, Pak Udin. Kalau boleh tahu, masalahnya apa?” tanya Asyila penasaran.
“Itu, tadi ada yang kecelakaan dan kami pun terpaksa menghentikan laju mobil,” jawab Pak Udin.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun, apakah ada yang terluka?” tanya Asyila yang mulai panik.
“Alhamdulillah, tidak ada. Kalau begitu, kami taruh ini dulu di dapur,” ucap Pak Udin yang ingin meletakkan barang belanjaan mereka ke dapur.
“Sebelumnya terima kasih atas bantuan Pak Udin dan juga Pak Eko,” tutur Asyila sambil membuntuti kedua pria tersebut yang tengah berjalan menuju dapur.
Arumi dan juga Dyah pun ikut menyusul ke dapur.
Setelah semua barang belanjaan diletakkan di dapur, Pak Udin maupun Eko saat itu juga pamit untuk kembali berjaga-jaga diluar.
Asyila, Arumi dan juga Dyah tak lupa berterima kasih kepada dua pria tersebut yang telah membantu mereka untuk berbelanja di pasar.
“Syila sayang, kamu mau buat apa Nak?” tanya Arumi penasaran.
“Hhmm... Ibu sepertinya membuat nastar selai nanas saja,” jawab Arumi.
Dyah memanyunkan bibirnya sembari menyipitkan matanya dengan sedikit kesal.
“Tak ada yang mau bertanya apa yang akan Dyah buat?” tanya Dyah dengan ketus.
Asyila dan Arumi tertawa kecil melihat ekspresi wajah Dyah yang begitu menggemaskan.
“Dyah sayang, mau membuat apa?” tanya Asyila dengan sangat lembut.
Dyah tertawa malu-malu sebelum menjawab pertanyaan dari Aunty-nya.
“Hehe.. Hhmm.. Sepertinya Dyah membuat bolu saja, maksudnya bolu gulung,” jawab Dyah.
“Wah, itu juga bagus. Ayo tunggu apalagi? Kita mulai sekarang!” seru Asyila.
Ketiganya langsung mengambil bahan-bahan untuk membuat kue lebaran esok hari. Pekerjaan mereka tentu saja akan sangat berat sekaligus sibuk, untungnya bayi Akbar dan juga bayi Asyila tengah berada dibawah pengawasan Ayah mereka masing-masing.
“Asyila sayang, kalau ada yang sulit biar Ibu saja yang melakukannya,” tutur Arumi pada putrinya yang saat itu tengah menakar tepung.
“Ibu tenang saja, insya Allah Asyila bisa melakukannya. Asyila sudah sangat lama memimpikan hal ini,” balas Asyila yang terlihat senang dengan pekerjaannya.
“Baiklah, kalau begitu Ibu mau membuat selai nanas terlebih dahulu,” ujar Arumi.
Ketiganya sibuk dengan masing-masing pekerjaan mereka, dari kejauhan Abraham memperhatikan istri kecilnya dengan penuh kekaguman.
“Uhuk... Uhuk... Uhuk...” Dyah terbatuk-batuk dengan sengaja karena melihat Pamannya yang tengah memperhatikan Aunty kesayangan.
“Dyah, kamu kenapa? Ayo minum,” tutur Asyila sambil memberikan segelas air minum kepada Dyah.
“Aunty, ada penampakan. Lihat disana,” ucap Dyah sambil melirik ke arah Abraham yang tengah berdiri setengah mengintip.
__ADS_1
Asyila pun menoleh dan seketika itu geleng-geleng kepala mengetahui suaminya.
Abraham yang ketahuan pun hanya bisa tersenyum lebar.
Asyila dengan langkah malu-malu berjalan mendekat ke arah suaminya.
“Mas ngapain disini?” tanya Asyila.
“Sedang memperhatikan salah satu bidadari penghuni surga,” jawab Abraham.
Asyila terkejut dengan jawaban suaminya.
“Apakah Asyila pantas mendapatkan gelar bidadari surga?” tanya Asyila dengan tatapan serius.
Abraham yang semula tersenyum lebar, seketika itu berubah menjadi serius. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Asyila yang tertutup rapat oleh hijab.
“Inshaa Allah,” ujar Abraham dan kini tatapannya berubah menjadi tatapan penuh cinta.
Asyila tak bisa berkata-kata lagi mendengar perkataan suaminya, ia hanya bisa mengaminkan perkataan suaminya dari dalam hati.
“Mas, Asyila permisi dulu ya. Asyila harus melanjutkan pekerjaan Asyila untuk membuat kue kacang,” ucap Asyila.
“Semangat istriku,” sahut Abraham.
Dengan langkah malu-malu, Asyila pun pergi meninggalkan suaminya untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang tengah membuat kue kacang.
“Aunty dan Paman sedang membicarakan apa? Sepertinya sangat seru deh, ayo Aunty ceritakan!” pinta Dyah yang sangat penasaran dengan perbincangan sepasang suami istri tersebut.
“Ssuutt, ini rahasia antara Aunty dan juga Pamanmu,” balas Asyila.
“Iya deh, iya,” sahut Dyah.
Arumi tertawa kecil melihat kedua wanita yang berdiri tepat disampingnya.
Abraham pun memutuskan untuk kembali ke ruang tamu dengan perasaan yang begitu bahagia.
“Nak Abraham!” panggil Herwan pada Abraham yang baru saja mendaratkan bokongnya di sofa.
“Iya, Ayah. Ada apa?” tanya Abraham.
“Ayah mau pergi sebentar, kalau Ibumu bertanya bilang saja Ayah pergi ke tempat Pak Sholeh,” tutur Herwan yang bersiap-siap untuk pergi ke rumah salah satu saudaranya.
“Ayah pergi seorang diri?” tanya Abraham memastikan.
“Iya, Nak Abraham. Kalau menggunakan motor, paling tidak 15 menit sampai di rumah Pak Sholeh,” jawab Herwan.
“Apa tidak sebaiknya Ayah diantar saja oleh Pak Udin atau Eko, begitu?”
“Oh, kalau itu tidak perlu. Lagipula Ayah hanya sebentar saja,” balas Herwan.
Abraham akhirnya mengiyakan perkataan Ayah mertuanya dan tak butuh waktu lama, Herwan pun pergi meninggalkan Abraham serta Fahmi yang berada di ruang tamu.
Fahmi sedikit canggung dengan sosok Abraham, bagaimanapun Abraham begitu berwibawa dan membuat sosok Fahmi sedikit ciut.
“Ada apa, Fahmi? Kenapa melihatku dengan tatapan tegang seperti itu?” tanya Abraham penasaran.
“Oh, tidak ada apa-apa, Paman,” jawab Fahmi.
Abraham mengangguk kecil dan menoleh sekilas ke arah bayi mungilnya yang saat itu tengah tidur di kereta bayi.
“Bagaimana kedai mu?” tanya Abraham.
“Alhamdulillah, semuanya lancar. Terlebih lagi bulan puasa seperti ini, hampir semua kedai milik saya pendapatannya naik menjadi 2x lipat,” balas Fahmi.
“Alhamdulillah, rezeki itu datangnya dari Allah dan kita wajib bersyukur atas rezeki ini,” ujar Abraham dengan tersenyum lebar ke arah Fahmi.
Disaat yang bersamaan, selai nanas buatan Arumi hampir jadi dan harum dari selai nanas tersebut hampir membuat Dyah goyah karena sedang berpuasa.
“Ya ampun, pasti sangat enak kalau dimakan selagi hangat,” ucap Dyah yang sangat ingin menikmati selai nanas buatan Arumi.
“Dyah, ayo semangat puasanya,” tutur Arumi.
__ADS_1
Dyah tersenyum lebar dan sedikit menjauh dari selai nanas yang begitu menggoda.
“Iya deh, Dyah semangat,” sahut Dyah.