Abraham Dan Asyila 2

Abraham Dan Asyila 2
Ular


__ADS_3

“Sraaakk!” Asyila merobek hijab miliknya dan segera mengikat kaki Herwan yang baru saja digigit ular untuk menghentikan penyebaran bisa racun.


Dyah berlari secepat mungkin keluar gerbang rumah untuk meminta bantuan siapapun yang ia lihat. Ia berteriak seperti orang kerasukan dengan air mata yang terus mengalir deras.


“Tolong!!!! Siapapun tolong Kakek Herwan!” Dyah berteriak sekeras mungkin dan tak peduli jika nantinya ia kehilangan suara.


“Tolong!!!!! Siapapun tolong kami!” teriak Dyah.


Orang-orang yang sedang lewat dengan kendaraan mereka seketika itu berhenti untuk membantu Dyah yang terlihat membutuhkan bantuan. Bahkan, beberapa pejalan kaki berbondong-bondong menghampiri Dyah.


“Tolong!!” Dyah menarik tangan beberapa pria menuju halaman rumah.


“Ya Allah, ini kenapa?” tanya salah satu dari mereka yang terlihat masih muda yang terlihat seperti orang yang habis pulang dari masjid.


“Tolong antarkan Ayah saya ke rumah sakit!” pinta Asyila dengan terus menangis.


Arsyad dan Ashraf pun ikut menangis ketika melihat semua orang panik.


Beberapa pria mengangkat tubuh Herwan dan segera membawanya masuk ke dalam mobil milik salah satu dari mereka.


“Asyila, kamu diam saja di rumah bersama Arsyad dan Ashraf. Biar Ibu, Dyah dan Pak Udin yang ke rumah sakit!” perintah Arumi.


Asyila yang ingin ikut ke rumah sakit akhirnya mengurungkan niatnya dan mengikuti perintah dari Ibunya, Arumi.


“Tolong segera kabari Asyila jika Ibu sudah sampai rumah sakit!” pinta Asyila.


Merekapun pergi membawa Herwan ke rumah sakit. Asyila hanya bisa memandangi Ayahnya dari kejauhan dan akhirnya mereka benar-benar pergi dengan menggunakan mobil.


“Huwaaaa.... Huwaaaa!” Arsyad dan Ashraf terus saja menangis. Mereka benar-benar ketakutan melihat Kakek mereka digotong oleh banyak orang.


Asyila sangat sedih dan juga ketakutan, berusaha menutupi semuanya dan mencoba menenangkan kedua putra kecilnya.


“Sayang, kalian tidak boleh menangis!” perintah Asyila dan memeluk kedua putra kecilnya.


“Bunda... Kakek kenapa?” tanya Arsyad ketakutan.


“Kalian jangan menangis ya sayang, do'akan saja Kakek kalian baik-baik saja,” balas Asyila yang masih memeluk kedua putra kecilnya.


Dari kejauhan, Asyila melihat seekor ular masuk ke dalam rumah. Ia berteriak dan segera membawa kedua putranya keluar dari gerbang rumah.


“Ya Allah, tolonglah kami!” pinta Asyila yang tak kalah panik dan takut.


Arsyad dan Ashraf belum juga berhenti menangis. Mereka benar-benar ketakutan melihat Sang Bunda panik.


“Aku harus menghubungi Mas Abraham sekarang,” ucap Asyila dan dengan tangan gemetaran, ia mengambil ponsel di saku bajunya.

__ADS_1


Bruk!


Ponsel pintar miliknya terlepas dan jatuh ke ke tanah. Dengan cepat Asyila mengambilnya dan mulai menghubungi Sang suami.


“Bunda, Arsyad takut,” ucap Arsyad.


“Ashraf juga Bunda,” sahut Ashraf.


Asyila kehilangan fokusnya terhadap dua putra kecilnya. Yang hanya ada dipikirannya adalah menghubungi sang suami secepat mungkin.


“Assalamu’alaikum. Mas tolong pulang sekarang! Kami ketakutan dan Ayah sedang berada di rumah sakit karena digigit ular, tolong Mas!” Asyila memohon kepada Suaminya agar segera kembali dan langsung mematikan sambungan telepon karena kedua putra kecilnya tak juga berhenti menangis.


Disaat yang bersamaan, seorang wanita paruh baya mendekati Asyila dan menawarkan tempat untuk Asyila serta kedua putra kecilnya berisitirahat. Wanita itu adalah tetangga depan rumah Sang suami, ia tahu bahwa Herwan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Hal tersebut karena salah satu pria yang membawa Herwan adalah suaminya.


“Nona Asyila ke rumah saya dulu, kasihan Arsyad dan Ashraf,” ucap mengajak Asyila untuk singgah ke rumahnya.


Asyila menoleh ke arah keduanya putra kecilnya dan mengangguk setuju.


“Terima kasih, Bu,” ucap Asyila dan menggandeng tangan Arsyad dan Ashraf.


Sesampainya di kediaman Ibu Titik, Asyila dan kedua putra kecilnya disuguhkan teh serta beberapa cemilan.


Arsyad mengangguk dengan kecil dan diikuti oleh adiknya, Ashraf.


Perlahan mereka mulai menyesuaikan diri dan tak butuh waktu lama, Ashraf tertidur karena kelelahan menangis.


Asyila perlahan mulai tenang dan Titik mulai mengajak Asyila berbincang-bincang.


“Nona Asyila, tunggu disini dulu. Saya akan ke kamar,” ucap Ibu Titik dan segera melenggang meninggalkan ruang tamu.


Sekitar 2 menit, Ibu Titik kembali dengan membawa sebuah hijab berwarna hitam dan tak berbasa-basi, ia memberikan hijab jumbo tersebut kepada Asyila.


“Pakailah ini, Nona Asyila. Meskipun tidak baru, tapi saya hanya memakainya sekali saja,” ucap Ibu Titik jujur.


Asyila mengucapkan terima kasih dan segera mengganti hijabnya yang robek dengan hijab jumbo pemberian Ibu Titik.


Ketika Asyila menoleh ke arah luar rumah, ia baru sadar bahwa ia melihat seekor ular masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, ia memilih untuk bungkam sebelum sang suami kembali, dikarenakan Asyila tidak ingin kedua putra kecilnya kembali panik dan mungkin akan semakin panik lagi.


Disisi lain.


Abraham tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dikarenakan jalan raya sore itu sangatlah ramai.


“Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Abraham berpikir keras dengan apa yang dialami oleh Ayah mertuanya.

__ADS_1


Abraham memutuskan menghubungi sahabatnya, ia mengirim pesan suara agar Dayat ataupun yang lainnya yang sedang bertugas bisa membantunya memecahkan masalah dan segera datang ke rumahnya.


Perasaan Abraham saat itu benar-benar takut, ia takut jika hal-hal yang tak berani ia pikirkan terjadi.


Ya Allah, tolonglah kami. Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.


Setelah perjalanan yang cukup menyita waktu karena jalan raya yang cukup macet, akhirnya Abraham sampai juga. Ketika ia ingin melewati gerbang rumah, Asyila tiba-tiba datang dan menghentikannya.


Asyila menitipkan kedua putra kecilnya kepada Ibu Titik sementara waktu, sampai ular di kediaman Sang suami dapat tertangkap dan benar-benar aman.


“Mas... Mas...” Asyila mengetuk pintu mobil agar sang suami segera turun.


Abraham membuka pintu mobil dan segera mendekap sang istri yang sangat ketakutan dan gemetar.


“Mas....” Asyila menangis di dekapan Abraham dan tak peduli jika ada orang yang melihatnya termasuk Ibu Titik yang rumahnya berhadapan dengan rumah Abraham.


“Ada apa? Apa yang sudah terjadi? Dan, dimana kedua putra kita?” tanya Abraham.


“Mas, di da-dalam ru-rumah ada ular,” ucap Asyila terbata-bata.


“Ular? Di dalam rumah? Apakah itu ular yang menggigit Ayah?”


Asyila dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Bukan, Mas. Sepertinya di rumah tidak hanya satu ekor saja, melainkan beberapa ekor. Ular-ular itu secepatnya harus tangkap agar tidak membahayakan kita dan orang-orang sekitar,” jawab Asyila yang juga tidak ingin jika para tetangga atau orang lain celaka karena ular kobra tersebut.


“Syila tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa selama Allah bersama kita. Kita harus yakin kalau Ayah bisa sembuh dari gigitan ular,” ucap Abraham berusaha menenangkan hati sang istri, “Dimana kedua putra kita?” tanya Abraham lagi.


“Mereka ada di rumah Ibu Titik, Arsyad dan Ashraf juga sudah tidur di dalam kamar. Ibu Titik memperlakukan kami dengan sangat baik, bahkan suami Ibu Titik juga turut membantu membawa Ayah ke rumah sakit,” jelas Asyila.


“Alhamdulillah, Ibu Titik dan Pak Narto memang sangat baik,” ucap Abraham.


Dari depan teras rumah, Ibu Titik memanggil Abraham dan Asyila agar segera masuk ke rumahnya. Meskipun Asyila tidak menceritakan masalah ular yang masuk ke dalam rumah, tetapi tetap saja Ibu Titik ingin sepasang suami istri itu berisitirahat di rumahnya.


“Iya Bu, sebentar lagi kami akan kesana,” balas Asyila dan Ibu Titik pun mengangguk. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah dengan senyum ramahnya.


Abraham kembali mendekap tubuh sang istri dan meminta agar Asyila tenang.


“Tenanglah, istriku. Sebentar lagi polisi datang dan mobil pemadam kebakaran datang untuk menangkap ular-ular kobra yang berkeliaran di rumah. Sekarang kita ke rumah Ibu Titik, setelah itu kita pergi ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Ayah!”


“Baik, Mas,” balas Asyila.


Ya Allah, tolong selamatkan kami terlebih Ayah yang sedang berjuang keras.


Abraham ❤️ Asyila


Author : Mohon maaf lahir dan batin untuk pembaca online ku! Maaf jika selama ini author banyak salah, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Semoga tahun depan kita bisa berjumpa lagi dengan bulan yang penuh berkah!!!🙏🙏🙏 Amiiin Allahumma amin

__ADS_1


__ADS_2