
Beberapa hari kemudian.
Ashraf sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan kembali ke rumah. Hal itu tentu saja membuat Asyila senang serta lega.
Meskipun begitu, sampai saat ini Asyila belum mengunjungi suami serta putra pertama mereka. Dan itu membuat Asyila sedih disaat yang bersamaan.
“Dyah, tolong jaga Ashraf ya! Aunty mau membeli susu dulu,” ucap Asyila.
“Susu? Memangnya Ashraf mau susu ya Aunty?” tanya Dyah karena yang ia tahu Ashraf sedari tadi tidur.
“Bukan, ini untuk Aunty sendiri. Entah kenapa Aunty tiba-tiba ingin minum susu dingin,” jawab Asyila yang memang sangat ingin menikmati susu dingin.
“Aunty, beliin ya!” pinta Dyah sambil memasang wajah melas.
Asyila mengangguk kecil dan bergegas keluar dari ruang rawat putra kecilnya.
Selama perjalanan, Asyila selalu memikirkan keadaan suami serta putra pertama mereka. Sampai saat ini, Asyila hanya bisa melihat Abraham dan Arsyad melalui panggilan telepon.
“Mas, cepatlah sadar,” ucap Asyila bermonolog.
Sejak mengalami kecelakaan beruntun sampai saat ini, Abraham belum juga siuman. Entah sampai kapan suaminya akan siuman, mungkin hanya Allah yang tahu.
Asyila telah sampai disebuah minimarket depan rumah sakit. Ia pun cepat-cepat mengambil susu dari dalam almari pendingin dan mengambil 5 kotak sekaligus dengan berbagai varian rasa.
“Ashraf sangat suka dengan rasa cokelat, kalau begitu aku ambil lagi saja,” ucap Asyila dan kembali mengambil susu rasa cokelat yang tidak dingin 5 kotak ukuran kecil.
Setelah itu, Asyila membayar biaya susu yang ia beli dan bergegas menuju ruang rawat buah hatinya.
“Asyila!” panggil seorang pria dari kejauhan.
Asyila menoleh dan ia pun terkejut ketika melihat pria yang memanggilnya adalah Romi.
“Astaga, ternyata ini benar kamu. Bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Romi.
“Alhamdulillah, aku baik,” jawab Asyila.
Romi mengernyitkan keningnya ketika melihat wajah Asyila yang memucat seakan-akan tengah mengalami kesulitan.
“Apakah suamimu tidak memperlakukanmu dengan baik?” tanya Romi yang mengira bahwa Abraham tidak memperlakukan Asyila dengan baik seperti yang ia harapkan.
Asyila menggelengkan kepalanya, “Alhamdulillah suamiku sangat baik,” jawab Asyila menepis dugaan Romi.
__ADS_1
“Tidak perlu menyembunyikan perlakuan buruk suamimu, kepadaku. Pasti kamu tidak bahagia karena suamimu jauh lebih tua, benar 'kan?”
“Sebenarnya itu pertanyaan atau tuduhan untuk suamiku? Tolong, jaga ucapan kamu, Romi. Aku seperti ini dikarenakan aku sedang mengalami ujian dari Allah dan seharusnya kamu bertanya dulu kenapa aku begini dan bukannya malah menuduh Mas Abraham yang tidak-tidak. Sekali lagi aku tegaskan, suamiku memperlakukan aku dengan baik dan sangat bertanggung jawab. Percuma saja aku menjelaskan panjang lebar kepadamu,” ucap Asyila yang sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Romi.
Asyila merasa sangat sensitif jika ada yang mempertanyakan bagaimana suaminya memperlakukan dirinya.
Romi tertegun dan ia merasa bersalah karena telah membuat wanita dihadapannya kesal.
“Jangan pernah memanggilku lagi kalau hanya ingin mencari keributan, aku sudah sangat pusing dan kamu malah menambahnya,” ketus Asyila dan berlari kecil meninggalkan Romi.
Romi menunduk sedih, ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Asyila benar-benar kesal kepadanya.
“Tidak seharusnya aku bertanya mengenai cara Pak Abraham memperlakukan Asyila. Bisa jadi wajah pucat Asyila disebabkan ia kurang istirahat atau mungkin...”
Romi menoleh ke arah rumah sakit dan ia pun berpikir bahwa mungkin salah satu keluarga Asyila sedang dirawat. Tanpa pikir panjang, Romi berlari memasuki rumah sakit untuk mengejar Asyila dan meminta maaf.
Asyila terus berlari kecil sampai akhirnya ia tiba di ruang rawat buah hatinya. Asyila kemudian meletakkan bungkusan plastik yang didalamnya berisi susu yang ia beli di minimarket.
“Aunty, apakah tadi itu Romi?” tanya Dyah yang ternyata memperhatikan Asyila dan Romi dari atas.
Asyila mengangguk dan air matanya kembali menetes. Ia benar-benar kesal dengan pertanyaan Romi yang seakan-akan menuduh suaminya tidak memperlakukan istrinya dengan baik.
“Aunty kenapa menangis? Apakah Romi mengatakan sesuatu yang aneh?” tanya Dyah khawatir.
Disaat yang bersamaan, ada suara ketukan pintu dan Dyah pun cepat-cepat membukanya.
“Kamu? Ngapain kamu kesini?” tanya Dyah yang tak senang dengan kedatangan Romi, “Apa kamu kira Aunty ku tidak bahagia?” tanya Dyah yang terlihat sangat kesal dan seperti ini menghajar habis wajah Romi dengan kedua tangannya.
“Asyila...” panggil Romi pada Asyila agar Asyila mau menoleh padanya.
Asyila sama sekali tidak menoleh ataupun menggeser posisi tubuhnya. Ia tidak ingin melihat wajah Romi yang terlihat sangat meremehkan suaminya.
“Maaf, seharusnya aku tidak bertanya dan tidak berpikiran seperti itu, Asyila. Aku mohon maafkan aku atas ucapan ku tadi!” pinta Romi dan menyadari bahwa ada bocah kecil yang tengah terbaring dengan selang infus di tangan bocah kecil itu.
Romi akhirnya tahu bahwa wajah pucat serta kesedihan Asyila dikarenakan buah hatinya sedang sakit.
“Apakah dia anak keduamu, Asyila?” tanya Romi dan ingin mendekati Ashraf.
“Berhenti!” perintah Dyah pada Romi.
Romi pun menghentikan langkahnya dan kembali berdiri di dekat pintu masuk.
__ADS_1
“Aku beritahu pada kamu Romi, sebenarnya tidak hanya Ashraf saja yang sakit. Arsyad dan Paman Abraham pun sekarang sedang berada di rumah sakit. Aku tidak tahu sebenarnya alasanmu meremehkan tanggung jawab Paman....”
“Hentikan Dyah!” perintah Asyila agar Dyah segera tutup mulut.
Asyila berbalik badan dan meminta Romi untuk pergi secepat mungkin dari hadapannya. Asyila tidak bisa bersikap lembut kepada pria yang jelas-jelas meragukan sikap suaminya.
“Asyila, tolong maafkan aku. Aku benar-benar menyesal,” ucap Romi agar Asyila mau memaafkan dirinya.
“Butuh waktu untukku memaafkan kamu, Romi. Akan tetapi, aku sama sekali tidak dendam padamu. Tolong pergilah sekarang, saat ini aku sangat membutuhkan ketenangan. Aku tidak ingin kesedihanku semakin bertambah,” tegas Asyila.
Romi akhirnya mengalah, ia akhirnya pergi dengan perasaan bersalah. Ia seharusnya tidak mempertanyakan hal yang sangat sensitif bagi seorang istri.
“Kamu terlalu bodoh, Romi. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti tadi,” ucap Romi menyalahkan dirinya sendiri dan pergi dengan penuh penyesalan.
Asyila kembali menangis, perasaannya saat itu benar-benar sensitif. Ia pun tiba-tiba sangat merindukan suaminya dan ingin memeluk tubuh suaminya seketika itu juga.
“Aunty, tolong jangan menangis,” ucap Dyah meminta agar Asyila segera berhenti menangis.
“Aku sangat merindukan Pamanmu, Dyah. Aku sangat merindukannya.. hiks... hiks... Biasanya saat aku sedih, Pamanmu yang langsung maju untuk menenangkan ku. Sekarang? Bahkan untuk mendengar suaranya pun tidak bisa. Sekarang, apa yang harus aku lakukan Dyah? Apa?” tanya Asyila sambil memukul dadanya sendiri.
Asyila terduduk dilantai dengan terus menangis, sekarang yang hanya bisa ia lakukan adalah meluapkan semua kekesalannya dengan cara menangis.
“Tidak ada yang mengerti aku sebaik Pamanmu. Aku merasa kesepian Dyah, aku merasa sendirian di dunia ini. Rasanya aku ingin sekali membagi tubuhku menjadi tiga bagian, agar aku bisa menemani Pamanmu dan kedua adikmu,” ungkap Asyila dengan suara serak khas orang menangis.
“Maaf, Aunty,” ucap Dyah lirih.
Ashraf terbangun dari tidurnya dan memanggil Bundanya. Asyila yang mendengar suara buah hatinya langsung terkesiap dan segera menghapus air matanya.
“Iya sayang, ini Bunda,” tutur Asyila dengan menampilkan senyum terbaiknya.
“Bunda jangan menangis,” tutur Ashraf yang bersiap-siap untuk menangis.
“Kesayangan Bunda jangan menangis, tadi Bunda hanya pura-pura menangis. Kalau Ashraf cepat sembuh, Bunda janji tidak akan menangis lagi,” ucap Asyila.
Ashraf langsung menampilkan senyumnya dan tangan kecilnya menyentuh pipi Bundanya.
“Bunda, Ayah mana?” tanya Ashraf yang memang sering menanyakan keberadaan Ayahnya ketika ia terbangun dari tidurnya.
Lagi-lagi Asyila harus berbohong kepada buah hatinya, ia tidak sanggup mengatakan yang sejujurnya kepada Ashraf.
“Kerja ya Bunda?” tanya Ashraf yang sudah tahu bahwa Bundanya akan mengatakan bahwa Sang Ayah sedang bekerja.
__ADS_1
“Iya sayang, kalau sudah selesai bekerja pasti Ayah langsung kemari menemui Ashraf,” jawab Asyila yang dalam hatinya menangis karena terus-menerus membohongi buah hatinya.