
Keesokan harinya, ana belum sadar membuat rama makin khawatir via pun terbangun dan melihat rama sangat gelisah.
"Ram, kamu kenapa?" tanya via dengan nada begitu pelan pada rama.
"Via, kenapa ana belum sadar juga sampai sekarang" tanya rama pada via dengan yang begitu frustasi.
"Biar aku memeriksanya dulu ya" jawab via, via pun memeriksa ana dengan teliti, setelah selesai memeriksa ana. via pun langsung memanggil rama.
"Rama, ana baik-baik saja mungkin ini hanya karena efek obat saja rama kamu jangan khawatir ya" ucap via penuh pengertian.
Rian pun bangun dan melihat rama dan via sedang mengobrol.
"Ram, apa ana belum sadar juga" tanya rian tiba-tiba dengan nada yang begitu hati-hati.
"Belum ian" jawab rama singkat.
Via pun berpamitan untuk keluar karena ingin membeli sarapan untuk dirinya dan juga rama dan rian.
"Kalian tunggu disini ya, aku mau beli sarapan dulu" ucap via, via pun meninggalkan rama dan rian diruang rawat ana.
Tiba-tiba suster datang, membawa sarapan pagi untuk ana.
"Selamat pagi tuan, saya mau mengantar sarapan pagi buat nona anatasya" ucap suster tersebut, suster pun menaruh makanan tersebut dimeja dekat tempat tidur pasien.
"Oh iya tuan, tadi saya keruangannya dokter silvia cuma dokter silvia sedang tidak ada diruangannya dan kata suster penjaga disana dokter silvia berjaga dikamar rawat nona ana, mohon nanti hasil tes minuman kemarin tolong disampaikan ke dokter silvia ya tuan" ucap suster tersebut, suster tersebut percaya untuk menitipkan hasil tes nya ke rama karena suster tersebut sudah bahwa rama adalah suami dari ana.
Suster pun memberikan amplop hasil tes minuman kemarin kepada rama, rama pun menerima amplop tersebut.
"Terimakasih ya sus, nanti saya akan kasihkan ini pada dokter silvia" ucap rama sambil menerima amplop tersebut.
Suster pun langsung pergi pergi meninggalkan ruangan ana, dan langsung menuju keruangan pasien lain untuk mengantarkan sarapan pagi buat para pasien rumah sakit tersebut.
Rama pun kembali duduk dan menaruh amplop tersebut diatas meja, setelah beberapa saat silvia pun datang membawa beberapa kantong kresek yang dipenuhi dengan makanan untuk mereka sarapan.
Pagi ini pun mereka bertiga sarapan bersama dirumah sakit sambil menjaga ana, hari ini pun silvia tidak mengambil pasien lain karena ingin fokus merawat ana. rumah sakit tempat silvia bekerja adalah rumah yang dibangun oleh kakeknya silvia sedangkan orang tua silvia sudah meninggal dari silvia masih sekolah dasar dan silvia dibesarkan oleh kakeknya saja, karena hanya kakeknya yang silvia punya namun untuk saat ini kakek silvia sedang berada diluar negeri untuk pergi berlibur sekalian menengok rumah yang ada disana, silvia ada cucu tunggal maka dari itu kakeknya sangat sayang pada silvia.
__ADS_1
Dirumah rama.
Mami sedang mondar-mandir tidak dan rehan tiba-tiba melintasi maminya yang sedang mondar-mandir seperti orang sedang tidak tenang karena memikirkan sesuatu.
"Mami, mami kenapa?" tanya rehan tiba-tiba.
"Mami khawatir kak rama dan kakak iparmu belum pulang mami sudah menelpon dari semalam tapi no kakak kamu tidak aktif sedangkan mami lihat ponsel kak iparmu tertinggal dikamar" ucap mami, dengan nada penuh rasa khawatir pada anak dan menantunya.
"Mami tenanglah, rehan akan coba menghubungi kak rama" ucap rehan, rehan pun mengambil ponselnya dari saku celananya dan langsung menekan nama kakaknya untuk segera menelponnya.
Namun sayang ternyata no ponsel rama masih belum aktif.
Mami pun makin merasa khawatir kepada anak dan menantunya, mami merasa tidak tenang dan perasaannya merasa tidak enak.
"Rehan, mami takut terjadi sesuatu pada kakak dan iparmu perasaan mami tidak enak sekali nak" ucap mami pada rehan, rehan pun berusaha menenangkan maminya.
"Mami tenang ya, kita berdoa mudah-mudahan kak rama dan kakak ipar selalu salam lindungan Allah" ucap rehan sambil memeluk maminya.
Dirumah sakit.
"Ram, kamu harus makan nanti kamu sakit" ucap via dengan penuh perhatian.
"Iya ram, benar kata via kamu harus makan" timpal rian, yang tidak marah biarpun via perhatian dengan rama.
"Bagaimana aku bisa makan sedangkan istriku sedang terbaring lemah" ucap rama dengan nada begitu lemas.
Rian dan via pun mengerti bagaimana perasaan rama saat ini.
"Via, ini suster menitipkan amplop hasil tes minuman kemarin kata suster tadi udah ke ruangan kamu tapi kamu tidak ada ruangannya" ucap rama, sambil memberikan amplop tersebut pada via.
Via pun menerima amplop tersebut.
"Aku bacakan isi dari hasil tes minuman kemarin, nanti setelah selesai maka jadi kamu harus selesaikan makanmu biarpun hanya sedikit kamu harus makan rama" ucap silvia dengan penuh ketegasan, akhirnya mau tidak mau rama pun memakan makanan yang ada dihadapannya.
"Rama, kamu juga harus kabari tante diana pasti tante sangat khawatir padamu apalagi kamu tidak pulang dari semalam" ucap via, mengingatkan rama.
__ADS_1
"Aku lupa sekali menelpon kerumah atau mengabari mami" ucap rama, sambil mengambil ponselnya yang ada didalam saku celananya.
Dan rama baru sadar ternyata batre diponsel habis, rama langsung mengecas ponselnya diruang rawat ana karena pihak rumah sakit sudah memberikan fasilitas lengkap untuk setiap ruangan termasuk alat untuk mengecas ponsel disetiap ruangan pasti ada.
"Aku cas ponsel dulu ya via, ternyata batre ponselku habis" ucap rama sambil bangkit dari tempat duduknya dan menuju ketempat untuk mengecas ponsel.
Setelah beberapa saat tiba-tiba ana dasar dan langsung memanggil nama rama dengan nada begitu lemas.
"Raaa..ma aku dimana?" ucap ana tiba-tiba, rama yang mendengar suara istrinya pun langsung berlari menuju ke istrinya dan meninggalkan ponselnya yang belum sempat dicas oleh dirinya.
"Ana, sayang iya ini aku rama suamimu" ucap rama, sambil memegang tangan istrinya dengan begitu erat.
"Aku dimana?" tanya ana yang masih sangat lemas.
"Kami dirumah sayang" jawab rama singkat.
Rian dan via pun menghampiri ana.
"Ana kamu sudah sadar?" tanya rian dan via bersamaan, ana pun hanya mengangguk kepalanya.
"Bayi kita sayang" ucap ana yang terputus karena rama langsung menjawabnya.
"Bayi kita baik-baik saja sayang, dokter via sudah menyelamatkannya" ucap rama sambil mencium kening ana.
Ana pun bernafas lega dan mengucapkan banyak terimakasih pada silvia.
"Dokter silvia, terimakasih sudah menolongku dan anak yang ada didalam kandunganku" ucap ana pada silvia.
Silvia pun mendekatkan dirinya pada ana.
"Ana itu semua kehendak yang diatas dan kekuatan kamu sebagai seorang ibu, karena kamu kuat allahamdulillah anak kamu juga kuat" ucap via dengan tersenyum manis pada ana.
Rama pun sudah merasa lega karena istrinya sudah sadar dan semuanya baik-baik saja.
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih ya buat ya sudah kasih like, komen, vote dan rate buat author. pokoknya karena dukungan kalian semuanya authornya jadi selalu semangat 🙏 🙏 pokoknya tanpa kalian author itu bukan apa-apa, penulis yang sukses itu karena semua pembaca yang begitu setia, sekali lagi terimakasih semuanya 🙏🙏😘😘