Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya

Gadis Miskin Yang Dicintai CEO Kaya
236. Takdir yang indah.


__ADS_3

Keesokan harinya, Rama dan yang lainnya langsung pulang dari Villa keluarga tanpa berbelanja atau berjalan-jalan lebih dulu.


Karena Papi dan Maminya harus segera berangkat keluar negeri, untuk mengurus masalah perusahaannya disana.


Dimobil


"Apa tidak sebaiknya Rama saja Pi, yang berangkat keluar negeri untuk menyelesaikan masalah perusahaan disana?" kata Rama, yang menawarkan dirinya untuk mengatasi masalah diperusahan yang ditangani oleh Papinya.


"Tidak usah Nak, istrimu juga sedang hamil besar jadi biar Papi yang membereskan semuanya" jawab Papi Revan, karena tidak mau Rama meninggalkan Ana.


"Rehan, kamu nanti ikut Papi keluar negeri ya hanya 3-5 hari saja" pinta Papi.


Rehan menatap Ayu yang kini duduk disampingnya.


"Apakah kamu tidak apa-apa, Aku tinggal Yu?" tanya Rehan memastikan.


Ayu memegang tangan Rehan.


"Tidak apa-apa, pergilah Aku akan menunggumu" jawab Ayu.


"Iya Pi, Aku akan ikut dengan Papi" jawab Rehan.


"Rehan, tidak usah khawatirkan Ayu! Aku akan menjaganya" kata Rama, agar Rehan tidak khawatir dengan Ayu.


Rehan tersenyum pada Rama.


"Bukan masalah kawatir kak, masih pengantin baru pinginnya itu bikin adonan tiap malam" gumam Rehan.


"Sayang, sebelum aku pergi puasin dulu ya!" bisik Rehan ditelinga Ayu.


Ayu langsung mencubit lengan tangan suaminya dengan kencang.


"Aduh, sakit" rintih Rehan.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Akhirnya sampai dirumah.


Didalam rumah.


Rama dan Ana langsung masuk ke dalam kamar mereka.


"Rehan, kita berangkat nanti malam. jadi kamu istirahat dulu saja!" suruh Papi.


"Baiklah Pi" jawab Rehan.


"Akhirnya bisa garap Ayu dulu, sebelum berangkat keluar negeri" gumam Rehan.


Papi dan Mami langsung masuk ke dalam kamar mereka.


Rehan dan Ayu juga langsung masuk kedalam kamar mereka.


Dikamar Rehan dan Ayu.


Ayu merebahkan dirinya diatas ranjang tempat tidur, Rehan tiba-tiba menindih Ayu dengan tubuhnya.


"Kamu mau apa?" tanya Ayu.


Rehan mengedipkan satu matanya.


"Aku mau menggarapmu, sebelum Aku berangkat keluar negeri sayang" jawab Rehan.


"Tapi ini masih siang, bagaimana kalau ada orang yang mendengarnya?" tanya Ayu, karena takut desahan dan erangannya akan terdengar oleh mertuanya atau yang lainnya.

__ADS_1


"Cup" satu kecupan dibibir Ayu.


"Tidak usah kawatir, kamar ini kedap suara. Aku juga akan melakukannya pelan nanti" jawab Rehan, berusaha menyakinkan Ayu.


Tanpa menunggu persetujuan dari Ayu, Rehan langsung membuka kancing kemeja Ayu.


Rehan langsung membenamkan wajahnya ditengah-tengah gunung kembar Ayu, kini bibir Rehan sudah menelusuri setiap inchi tubuh istrinya dengan memberikan tanda merah.


Rehan kembali ******* bibir Ayu dengan kasar, membuat Ayu mendesah dan mengeluarkan erangannya.


"Eemmhh emmmcchh" desahan Ayu.


Rehan melepaskan ciumannya.


Setelah hampir setengah jam permainan Rehan.


"Rehan, Aku sudah tidak tahan" keluh Ayu.


"Tahan sebentar lagi, sayang" jawab Rehan.


Rehan kembali melanjutkan aksinya, ketika Rehan juga sama-sama sudah tidak tahan Akhirnya Rehan melepaskannya.


"Sayang, Aku Keluarin di dalam ya?" tanya Rehan meminta persetujuan pada istrinya.


Ayu menganggukan kepalanya.


Rehan, langsung membuka sl**angan Ayu dan langsung mengarahkan adik kecilnya ke bagian sensitif Ayu.


Kini Ayu memejamkan matanya merasakan ada benda tumpul yang begitu kuat, memasuki bagian sensitifnya. Rehan mulai mengeluar masukan miliknya.


"Ahhh ahhhcchhh" desahan Ayu dan Rehan secara bersamaan keluar dari mulut mereka.


"Tahan sayang, sebentar lagi" kata Rehan, dengan diiringi desahan penuh kenikmatan.


Akhirnya Rehan menumpahkan benih caintanya di dalam rahim Ayu. Rehan langsung mencabut miliknya, lalu menjatuhkan tubuhnya disamping Ayu.


"Punya masih agak sempit" kata Rehan.


Ayu langsung membenarkan posisinya, lalu langsung memeluk tubuh Rehan.


"Mungkin karena baru satu kali dan ini kedua kalinya" jawab Ayu.


"Maka, Aku akan sering-sering melakukannya sayang biar lebih tidak sempit lagi" goda Rehan.


Ayu mencium pipi Rehan.


"Sudahlah tidur, bukankah nanti malam kamu mau ikut Papi" kata Ayu, yang sudah mempererat pelukannya.


"Apa,Kamu tidak apa-apa? Aku tinggal untuk beberapa hari?" tanya Rehan memastikan.


"Tidak apa-apa, kan dirumah Ada kak Rama sama kakak ipar" jawab Ayu. agar Rehan tidak kawatir pada dirinya.


Skip..


Malam hari kemudian, Mami, Papi dan Rehan sudah siap untuk berangkat, kali ini mereka akan pergi ke bandara dengan diantar supir.


"Ana, Ayu, Mami dan Papi berangkat dulu ya. kalian jaga diri baik-baik" pamit Mami pada kedua menantunya.


"Iya Mi, Mami hati-hati ya!" jawab Ana dan Ayu, yang langsung menghambur ke pelukan Mami secara bersamaan.


Mami Diana memeluk kedua menantunya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Ram, jagain kedua memenantu Mami ya" pinta Mami, sambil melepaskan pelukan dari kedua menantunya.


"Kak, jagain Ayu jangan sampai lecet ya" pesan Rehan pada Rama.


"Iya Mami, Aku akan menjaga istri dan adik iparku dengan baik" jawab Rama, menyakinkan Maminya.


"Tenang saja, Dia tidak akan lecet Han" jawab Rama, dengan tatapan jailnya.


"Sudah-sudah, Ayo kita berangkat atau kita akan ketinggalan pesawat kita" ajak Papi.


"Kalian jaga diri baik-baik ya" pinta Papi, sebelum keluar dari rumah.


"Siap Papi!" jawab mereka bertiga dengan begitu kompak.


Rama, Ana dan Ayu mengantar Papi, Mami dan Rehan ke depan rumahnya. kini semuanya sudah masuk ke mobil. setelah supir melajukan mobilnya hingga tidak terlihat.


Rama, Ana dan Ayu langsung masuk kedalam rumah. kini mereka bertiga duduk diruang keluarga.


"Aku ke ruang kerja dulu" pamit Rama.


"Iya sayang" jawab Ana.


"Iya kak Rama" jawab Ayu.


Rama langsung menuju keruangan kerjanya sedangkan Ana dan Ayu mengobrol diruang keluarga.


"Ayu, ceritakan padaku bagaimana bulan madu!" kata Ana, yang merasa penasaran.


"Menyenangkan Ana, pingin pergi bulan madu lagi" jawab Ayu, dengan penuh bahagia.


"Sayangnya, Aku tidak pernah pergi bulan madu gara-gara selalu gagal" keluh Ana dalam hatinya.


"Kamu dulu pergi bulan madunya kemana?" tanya Ayu, ingin tau.


"Aku hanya menghabiskan waktu bulan maduku, dikamar saja" jawab Ana, dengan nada tidak terlalu senang.


"Apa kak Rama, tidak mengajakmu pergi bulan madu?" tanya Ayu lagi.


"Sering hanya selalu gagal" jawab Ana.


Ayu tersenyum pada Ana.


"Nanti setelah Anak pertama kalian lahir, pergilah bulan madu untuk membuat anak kedua kalian" kata Ayu, berusaha menghibur Ana.


Ana duduk disamping Ayu, kini Ana menyandarkan kepalanya di bahu Ayu.


"Nanti Aku pikirkan, pinginnya sih gitu tapi kasian kalau ninggalin Anak" jawab Ana.


"Ayu, tidak nyangka dari sahabat kita menjadi saudara ipar" kata Ana.


"Ini semua sudah takdir, Na" jawab Ayu.


Ayu dan Ana bersahabat dari dulu, mereka tidak menyangka kalau akhirnya mereka akan menjadi saudara ipar, seperti sekarang ini.


"Takdir yang indah" timpal Rama tiba-tiba.


"Kamu sudah selesai?" tanya Ana pada suaminya.


"Sudah, kalian belum tidur?" tanya Rama.


"Belum ngantuk" jawab Ana dan Ayu.

__ADS_1


Akhirnya mereka bertiga melanjutkan obrolannya.


Bersambung


__ADS_2